Ketika Dunia Memasuki Era Collaborative Travelling…


Foto: tnooz.com

Pada akhir abad 20 silam, wisatawan adalah status bergengsi. Bagaimana tidak? Untuk menjadi seorang pelancong, Anda harus punya uang banyak. Terlebih lagi bila berpergian ke luar negeri. Bukan hanya ongkos pesawat yang selangit, tetapi juga biaya dokumen perjalanan dan akomodasi yang tentunya bukan hal murah ketika itu.

Tak heran bila jumlah wisatawan saat itu sangat sedikit. Terlebih lagi wisatawan berlabel “Mancanegara”. Tentu bukan orang sembarangan. Bila bukan dari negara maju yang berkunjung ke negara berkembang seperti Indonesia, sudah pasti wisatawan ini adalah orang yang memiliki kekayaan hingga 7 turunan.

Namun, gengsi ini lambat laun mulai memudar. Dan salah satu penyebab memudarnya gengsi ini adalah internet, lebih umumnya teknologi digital. Mengapa tidak? Internet mengubah cara manusia berwisata di Indonesia, bahkan di dunia.

Lebih spesifik lagi, pangkal perubahan ini adalah budaya Konsumsi Kolaboratif (Collaborative Consumption). Budaya ini terbentuk akibat menjamurnya media sosial yang memungkinkan orang-orang yang memiliki minat yang sama untuk saling berjejaring. Collaborative Consumption sendiri merujuk pada aksi untuk saling berbagi (sharing), bertukar (bartering and swapping), atau memakai kembali (reusing) barang dan jasa.

Konsumsi Kolaboratif merupakan ciri khas abad 21 yang ditandai dengan 3 hal, yaitu: reputasi (reputation), komunitas (community), dan akses berbagi (shared access). Orang-orang di dalamnya memegang 4 prinsip utama, yaitu: kepercayaan antar orang asing (trust between strangers), percaya pada kebersamaan (belief in the commons), kapasitas terbatas (idling capacity), dan massa yang kritis (critical mass). Hal ini berbeda dengan budaya abad 20 yang menekankan pada Konsumsi Berlebihan (Hyper Consumption) dengan ciri: kredit (credit), periklanan (advertising), dan kepemilikan individu (individual ownership).

Budaya Konsumsi Kolaboratif berimplikasi juga pada dunia wisata dalam bentuk Wisata Kolaboratif (Collaborative Travelling). Wisata jenis ini mensyaratkan wisatawannya untuk berkolaborasi dalam melakukan perjalanan wisata, mulai dari merencanakan perjalanan hingga melakukan perjalanan wisata.

Misalnya saja dalam menentukan destinasi wisata. Kini, orang dengan mudah mencarinya melalui mesin pencari atau bertanya di media sosial seperti Facebook dan Twitter. Atau juga bisa mengunjungi situs-situs yang mengulas berbagai tempat wisata di dunia seperti Zoover dan TripAdvisor.

Melalui media seperti ini, pengguna akan menemukan rekomendasi beserta deretan foto-foto tempat wisata yang akan sangat membantunya menemukan tujuan tempat wisata yang diinginkan dan sesuai dengan besaran “kantong”. Dengan kata lain, merencanakan sebuah perjalanan wisata kini semakin mudah dan murah.

Belum lagi urusan transportasi dan akomodasi. Internet memungkinkan calon wisatawan memburu tiket-tiket murah yang saat ini mulai lumrah berjejal di dunia maya. Tidak tanggung-tanggung, tiketnya pun bisa menyentuh harga di bawah 100 ribu Rupiah. Bila sudah bertemu dengan tiket murah seperti ini, tanpa pikir panjang, biasanya orang-orang akan langsung membelinya. Urusan biaya akomodasi dan konsumsi dipikirkan belakangan, yang penting tiket murah sudah ditangan.

Bila ingin lebih menantang, berwisatalah menggunakan jalur darat untuk berpindah dari satu destinasi wisata ke destinasi wisata lainnya, bahkan dari satu negara ke negara lain. Jalur darat ini bisa menggunakan transportasi massal seperti bus atau kereta api, atau bisa juga mencari tumpangan. Dalam hal ini, internet mempermudah seorang wisatawan mendapatkan informasi ihwal angkutan yang tepat, aman, dan murah.

Untuk urusan berbagi transportasi seperti ini, beberapa situs menyediakan sarana yang menghubungkan orang-orang yang sedang menuju destinasi wisata yang sama. Beberapa situs lainnya juga menghubungkan orang-orang yang memiliki mobil “nganggur” dengan mereka yang membutuhkan pinjaman mobil dengan harga terjangkau. Beberapa situs ini antara lain Zipcar, Deways, dan RelayRides.

Demikian juga dengan akomodasi. Kini internet membantu wisatawan menemukan tempat menginap yang sesuai dengan keuangan dan kenyamanan. Mulai dari yang kelasnya gratisan seperti masjid hingga hotel kelas Melati. Bahkan, kini tersedia juga penawaran untuk tinggal bersama penduduk lokal, seperti yang ditawarkan oleh Airbnb, Vayable, Gidsy, dan TripXP.

Ketika waktu berpetualang tiba, seorang wisatawan tidak perlu khawatir tersesat. Melalui gawai (gadget) yang dilengkapi internet memudahkan setiap orang menjelajahi setiap sudut kota tujuannya. Bila tersesat, tinggal dengan mudahnya menentukan lokasinya saat itu dan tujuan yang ingin dicapai. Dalam beberapa detik, gawainya akan langsung menuntunnya ke “jalan yang benar”. Andaikan pun tidak terjangkau oleh aplikasi pemetaan, internet juga memungkinkan seseorang menemukan orang-orang di sekitarnya yang mampu menunjukkan ke lokasi tujuan.

Meskipun berjuluk kolaborasi yang berlandaskan budaya berbagi, tetapi nilai bisnis berwisata kolaboratif cukup besar. Rachel Botsman, pengarang buku dengan tema Konsumsi Kolaboratif mengatakan bahwa nilai bisnis wisata kolaboratif mencapai 26 milyar dollar Amerika. Bahkan, Jaime Contreras dalam artikelnya di MIT Sloan Expert memprediksikan pontesi pasarnya hingga 110 milyar dollar Amerika.

Kini, pemerintah Indonesia sendiri tengah rajin mempromosikan potensi wisatanya ke masyarakat dunia. Dari tahun ke tahun, jumlah wisatawan mancanegara ke Indonesia menunjukkan peningkatan. BPS sendiri mencatat kenaikan wisatawan mancanegara sebesar 7,2 persen pada bulan Januari-Juni 2013 menjadi 4,15 juta orang. Padahal, pada periode yang sama tahun sebelumnya, hanya berkisar 3,87 juta orang. Jumlah ini belum termasuk wisatawan domestik yang menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.

Sayangnya, pemerintah Indonesia masih belum mampu melihat potensi ekonomi dari sudut pandang Konsumsi Kolaboratif. Fasilitas wisata cenderung dibangun terpusat dengan standar barat berupa hotel atau penginapan yang serba modern. Padahal, fasilitas wisata seperti akomodasi, konsumsi, dan transportasi yang bercirikan lokal lebih banyak diminati oleh wisatawan dalam era Konsumsi Kolaboratif ini.

Untuk itu, abad 21 ini mengundang tantangan bagi pemerintah Indonesia untuk mulai merubah paradigmanya ke era kolaboratif. Berkolaborasi bersama masyarakat untuk membangun infrastruktur, ekonomi, juga manusia Indonesia. Sehingga tidak hanya mampu menggali potensi wisata dan ekonominya, juga potensi manusia dan budayanya.***

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s