GLOCAL for Better INDONESIA


Foto: allfamous.com

Think Globally, Act Locally (GLOCAL) merupakan ajakan untuk melakukan aksi lokal dalam koridor isu global. Konsep ini umumnya dikampanyekan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat di bidang lingkungan hidup dan konservasi. Mereka mengkampanyekan kepada masyarakat untuk menekan pemanasan global (global warming) melalui aktivitas-aktivitas kecil yang dapat mereka lakukan seperti menanam lebih banyak tanaman dan pohon di halaman rumah dan  memprioritaskan menggunakan sarana transportasi publik dibandingkan kendaraan pribadi.

Cara-cara kecil ini tentunya lebih efektif dari pada menuntut pemerintah menghentikan laju penebangan hutan atau mengurangi aktivitas industri yang memicu meningkatnya gas rumah kaca. Bagaimana pun juga, menyelesaikan masalah lebih mudah mulai dari diri sendiri dibandingkan menuntut orang lain harus melakukan sesuatu yang benar dan tepat sesuai pandangan kita.

Dalam setiap pelatihan jurnalisme, saya selalu memperkenalkan konsep GLOCAL ini. Di zaman yang serba terkoneksi melalui internet ini, pengguna justru lebih tertarik dengan informasi yang memiliki karakteristik lokal dan spesifik. Lebih khusus lagi, informasi yang hyper local dan hyper spesific. Bahkan, seorang kawan berani menyimpulkan bahwa kesuksesan media di abad informasi ini ditentukan oleh 2 hal, yaitu: konten dan lokalitas. “Content is King, Locality is Queen,” begitu selorohnya.

Sebagai contohnya perilaku masyarakat dalam mencari produk. Dulu, calon pembeli memanfaatkan iklan di surat kabar yang cenderung menyeluruh (global) untuk mencari produk yang dibutuhkannya. Iklan berbagai jenis mulai dari penjualan mobil, motor, rumah hingga lowongan kerja, ada semua di surat kabar. Sehingga agak sulit untuk mencari produk tertentu dengan harga yang sesuai dengan kantong.

Dengan adanya internet, memungkinkan masyarakat mencari informasi yang lebih spesifik. Bila ingin mencari mobil, pembeli akan mudah mencari merk tertentu dengan harga tertentu. Bahkan, pembeli akan lebih mudah menemukan penjual mobil yang sekota dengannya. Pencarian ini dia lakukan bukan di surat kabar lagi, tapi langsung ke situs-situs yang spesifik seperti situs jual-beli kendaraan.

Foto: ikebayoran.com

Kembali lagi ke jurnalisme. Kini jurnalis harus mampu melihat isu-isu global dalam konteks lokal. Contohnya pada isu kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Bila BBM naik, selalu saja yang menjadi sasaran cerita para jurnalis adalah ketidakbecusan pemerintah dalam mengelola subsidi BBM atau ketidakmampuan Indonesia untuk memproduksi BBM di negeri sendiri. Namun, pernah kah terpikirkan objek berita lain yang lebih spesifik dan lokal?

Misalnya saja kang Budhiana Kartawijaya, wartawan senior Pikiran Rakyat yang pernah menjadi Pemimpin Redaksi di media tersebut. Dia kerap mencontohkan korelasi antara kenaikan harga BBM dengan ukuran gorengan yang kerap mengecil. Fenomena ini selalu terjadi hampir setiap kenaikan harga BBM.

Contoh pendekatan GLOCAL lainnya adalah ketika isu kenaikan harga bawang dan cabai beberapa waktu lalu. Di tengah isu tersebut, akan lebih seksi bila kita mampu menyuguhkan cerita sekelompok masyarakat yang bertanam bawang dan cabai di halaman rumahnya untuk memenuhi kebutuhan rumah tangganya.

Berkaitan dengan konsep GLOCAL ini. Beberapa hari yang lalu, saya tidak sengaja mendengarkan paparan seorang pejabat di lingkungan Pemerintah Kota Bandung. Beliau menyampaikan bahwa kondisi Indonesia yang tengah terpuruk saat ini, tidak lepas dari peran serta rakyat Indonesia. Saat ini, kecenderungan rakyat Indonesia lebih banyak berpikir dan bertindak besar di luar kapasitasnya. Sehingga banyak hal kecil dan penting di sekitarnya jadi terabaikan. Sehingga berimplikasi pada ketahanan nasional bangsa ini.

Sekilas tampak ngawur. Namun, bila direnungkan lebih dalam, pandangan tersebut ada benarnya juga. Masyarakat Indonesia sudah tidak terbiasa memandang dunia ini dalam konteks GLOCAL. Mereka cenderung berpandangan dan mencoba beraksi GLOBAL. Karena seringkali terlampau besar bagi dirinya sendiri, pandangan dan aksi GLOBAL ini tidak pernah membuahkan hasil yang signifikan.

Contohnya saja dalam melihat persoalan perkotaan. Internet memancing keluar pandangan GLOBAL sebagian masyarakat Indonesia yang melihat bahwa mengurus pemerintahan itu semudah membalikkan tempe dalam penggorengan. Dengan gampangnya mereka menggariskan bahwa seorang pemimpin di kotanya harus melakukan solusi-solusi yang dia pandang benar untuk menyelesaikan sejumlah persoalan. Padahal, kenyataannya di lapangan tidak semudah berstatus di Facebook.

Foto: Facebook.com/ikhlasulamal

Perihal ini, pagi ini saya tertawa terkekeh-kekeh melihat celetukan Walikota Bandung Ridwan Kamil di akun Twitternya perihal kondisi jalan di Bandung. Ada seorang warga yang mengeluh di Twitter Ridwan Kamil karena jalan di depan rumahnya mulus. Pasalnya, dia ingin agar jalan mulus tersebut dihiasi “Polisi Tidur” banyak agar kecepatan kendaraan bisa dikendalikan. “Bolong salah, mulus salah. jd mau gmn?” tulis Ridwan Kamil yang tampak mulai kebingungan mengurus rakyatnya. Masyarakat hanya bisa menuntut dan berpandangan bahwa pemerintah adalah satu-satunya pihak yang bisa menyelesaikan persoalan. Padahal, di era saling terhubung seperti saat ini, justru partisipasi setiap orang merupakan kunci untuk membangun.

GLOCAL sendiri mensyaratkan aksi individu yang sesuai dengan kapasitasnya dan dari lingkungan terkecil di sekitarnya. Penerapannya di masyarakat Indonesia bisa kita lihat salah satunya dalam kerja bakti di lingkungan RW.

Kerja bakti umumnya ditujukan untuk menyelesaikan masalah di tingkat RW seperti kebersihan lingkungan atau perbaikan fasilitas publik yang rusak. Ketika waktu kerja bakti tiba, masyarakat berbondong-bondong datang dengan membawa segala peralatan dan kebutuhan yang mereka miliki. Mereka pun membagi tugas sesuai dengan kapasitasnya masing-masing.

Mereka yang memiliki wawasan kelistrikan membenahi penerangan jalan. Mereka yang terbiasa dengan pertukangan, mengecat trotoar dan merenovasi fasilitas publik yang rusak. Mereka yang berkemampuan umum, membantu membersihkan got dan memotong rumput. Ibu-ibu yang lihai memasak, membuka dapur umum dengan bahan makanan berasal dari sumbangan warga.

Semua orang bekerja dengan kapasitas dan kemampuannya masing-masing. Sehingga masalah lingkungan di tingkat RW pun bisa selesai dengan cepat. Bayangkan bila masing-masing orang hanya pandai mengajukan solusi tanpa berpartisipasi dalam kerja bakti. Petugas RW tentunya kerepotan menyelesaikan masalah lingkungan dengan cepat dan hasil yang memuaskan. Bayangkan juga bila warga hanya mampu mengeluh fasilitas fublik yang rusak dan lingkungannya yang kotor serta hanya menyalahkan petugas RW. Mungkin tidak pernah ada perubahan yang signifikan.

Mulai dari hal terkecil, mulai dari diri sendiri, dan mulai saat ini. Inilah esensi GLOCAL yang seharusnya mampu kita maknai lebih baik di era serba terkoneksi seperti sekarang ini. Tujuannya satu: demi Indonesia yang lebih baik lagi.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s