Berhenti Menuding dan Mulai Berbuat


Foto: Blogspot.com

Di koran Kompas 10 September 2013 lalu, saya menemukan 2 tulisan yang berbeda tetapi bagi saya berkaitan satu sama lain. Satu tulisan adalah Opini berjudul Tiga Jari Menunjuk Kita hasil buah pikiran Herry Tjahjono, terapis budaya perusahaan.

Dalam tulisan ini, Herry menyoroti budaya menuding di Indonesia yang merupakan cerminan perilaku kehidupan anti tanggung jawab. Artinya, ketika kehidupan menuntut tanggung jawab seseorang, ia cenderung menolaknya. Bahkan, seolah-olah tidak pernah puas untuk mencari “kambing hitam” setiap menghadapi sebuah masalah.

Herry sendiri melihat akar budaya menuding ini adalah pendidikan dari mulai masa kanak-kanak hingga dewasa. Misalnya saja ketika seorang anak terjatuh. Orang tua akan mengalihkan tanggung jawab anak pada batu, lantai, atau pengasuhnya. Demikian proses ini terus berlanjut hingga dewasa.

Seringkali, orang tua juga mengambil alih tanggung jawab anak. Meskipun orang tua tampak seperti pahlawan, tetapi di sisi lain anak belajar berdiri meringkuk di belakang orang tuanya. Selanjutnya, ketika sang anak mulai dewasa, dia mulai belajar dari lingkungan dan pemimpinnya. “Demikianlah proses pendidikan budaya menuding berlangsung terus menerus, melalui lingkaran budaya tuding yang tak pernah diputus mata rantainya,” tulis Herry.

Sedangkan tulisan kedua merupakan feature berkisah tentang Andi Malewa, mahasiswa asal Makassar yang pernah menimba ilmu di Universitas Pancasila. Menariknya, Andi mendirikan sebuah rumah baca di salah satu titik ekstrem kawasan Metropolitan, yaitu Terminal Depok. Terminal ini identik dengan kawasan kumuh yang kerap dijadikan tempat mabuk-mabukan.

Hebatnya, setelah 4 tahun Andi “bergaul” di terminal dan mendirikan rumah baca bernama Rumah Baca Paguyuban Terminal (Panter), dia berhasil merubah kebiasaan masyarakat kalangan bawah di sana. Pengamen yang senang baca buku di sela-sela aktivitasnya, supir bus yang gila baca buku agama dan sejarah, dan kernet bus lulusan kelas III SD yang kemudian belajar membaca. Usaha Andi ini bukan saja mencerdaskan warga terminal, tetapi juga merubah kebiasaan mereka yang doyan dangdut dan mabuk menjadi gemar membaca buku.

Padahal, Andi mengelola perpustakaan tersebut dengan semangat sukarelawan. Dari semangat sukarelawan ini, dia berhasil mengumpulkan 3 ribu koleksi buku melalui Twitter yang berakun @rumahbacapanter. Selain itu, dia pun dibantu oleh 5 orang lainnya yang sama-sama lulusan sarjana.

Bagi saya, kedua tulisan ini secara tidak langsung mengajak untuk menghentikan budaya saling menuding dan mencari kambing hitam. Mulailah bertanggung jawab dengan masalah yang kita hadapi. Dari beragam masalah yang menimpa Indonesia, sadar-tidak sadar, kita ikut berkontribusi di dalamnya. Kita jugalah penyebab dan pembesar masalah yang kini kita hadapi.

Oleh karena itu, marilah kita mulai bertanggung jawab. Bagaimana pun, bangsa yang besar merupakan bangsa yang siap dan mampu bertanggung jawab. Seperti yang disampaikan oleh Winston Churchill, “The price of greatness is responsibility.”

Mulai juga lah untuk membuat perubahan untuk bangsa ini. Bila tidak mampu mengubahnya dalam skala besar, ubahlah dari skala kecil semampu kita, seperti yang Andi lakukan dengan Rumah Baca Paguyuban Terminal.

Tidak perlu menghujat, tidak perlu menyalahkan, tidak perlu sok benar dan pintar. Namun, berbuatlah yang terbaik sekecil yang kita mampu. Mudah-mudahan bila dilakukan secara konsisten dan masif, insyAllah bisa merubah nasib bangsa dan negara ini. Semoga…

One thought on “Berhenti Menuding dan Mulai Berbuat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s