Petuah Entrepreneurship dari “Dewa Petir” Salman ITB


Foto: Blogger.com

Foto: Blogger.com

Sabtu beberapa waktu lalu, secara tidak sengaja, saya terdampar di kelas kursus entrepreneur yang diampu oleh istri saya di Salman ITB. Sesuai namanya, kelas ini memang ditujukan untuk mencetak para wirausahawan muda dari kalangan mahasiswa. Program ini sendiri kewenangannya berada di bawah Divisi Kemahasiswaan dan Kaderisasi (DMK) Salman ITB.

Hadir sebagai pembuka kegiatan adalah mas Syarif Hidayat, ketua YPM Salman ITB. Saya menyebutnya sebagai “Dewa Petir”. Pasalnya, gelar doktornya memang diraih di bidang perpetiran dari University of Tokyo, Jepang. Terkait hal ini, saya jadi ingat seorang pengurus YPM Salman ITB lainnya. Beliau pernah melemparkan candaan bahwa Salman ITB itu satu-satunya masjid di dunia yang mempunyai Dewa Petir. Hahaha.

Selain berprofesi sebagai dosen di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, mas Syarif juga membangun dan memiliki perusahaan. Sayangnya, saya tidak berhasil melacak nama perusahaan dan bidangnya. Ada beberapa kemungkinan. Kemungkinan yang paling mendekati, nama beliau terlalu umum untuk dilacak di internet. Sehingga saya tidak mampu menemukan nama terkait perusahaan miliknya. Meskipun begitu, petuahnya terkait kewirausahaan patut dijadikan pelajaran bagi mereka yang menjalankannya.

Dalam sambutan pembukaannya tersebut, mas Syarif menyimpulkan bahwa wirausahawan atau entrepeneur harus membangun 3C + D dalam dirinya. Beliau memulainya dengan D, yaitu Dream alias mimpi.

“Yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah mimpi. Karena mimpi hanyalah milik manusia semata,” begitu pesan pertamanya. Lebih spesifik lagi, mimpi merupakan tanda bagi orang-orang yang bebas dan punya cita-cita.

Mas Syarif juga berpesan untuk tidak menjadi “narapidana” yang hidupnya terkungkung oleh rutinitas. “Seorang ‘narapidana’ akan menunggu akhir pekan untuk berlibur. Seorang ‘narapidana’ akan menunggu akhir bulan untuk mendapatkan uang. Dan seorang ‘narapidana’ akan menunggu akhir tahun untuk mengambil cuti dan berlibur bersama keluarga,” paparnya.

Untuk itu, seorang entrepreneur harus mempunyai mimpi yang besar dan tinggi. “Gantungkanlah mimpi itu setinggi langit, kemudian capailah dengan langkah-langkah yang realistis. Itu baru seorang entrepreneur,” imbuhnya lagi.

Selain “D”, mas Syarif juga mensyaratkan 3C yang harus dimiliki oleh seorang entrepreneur. C pertama adalah Commitment. Urusan komitmen ini bukan hanya dalam konteks interaksi dengan klien. Seorang entrepreneur juga harus menjaga komitmennya dengan pekerjaan dan bidang yang digelutinya. Dia harus berkomitmen untuk mempelajari bidangnya sebaik mungkin dan melakoninya dengan sungguh-sungguh.

C kedua adalah Competency. Kompetensi ini merujuk pada kemampuan terkait bidangnya. Sebagai contoh, bila kita seorang entrepreneur di bidang peternakan bebek, haruslah mengetahui bebek yang baik, cara mengembangbiakkan bebek, dan cara memasarkannya. “Meskipun kita hanyalah pemilik peternakan bebek, tetap kita harus memiliki pengetahuan seputar berternak bebek,” tandasnya.

C ketiga adalah Capital. Capital di sini tidak hanya masalah cara menghasilkan uang yang banyak, tetapi juga mental terhadap Capital. Dengan kata lain, seorang entrepreneur harus memiliki kemampuan untuk memanfaatkan dana yang ada semaksimal mungkin. “Jangan sedikit ada uang, kemudian dihambur-hamburkan untuk membeli barang konsumtif. Nah, ini adalah kebiasaan yang buruk,” ungkap Syarif.

Lebih lanjut, mas Syarif menyampaikan bahwa dalam mengelola dana, hendaknya mencontoh saudara-saudara Tionghoa kita. Pasalnya, mereka berusaha memutarkan dana yang ada sebaik mungkin sehingga bisa menjadi besar. “Bagi mereka, tak mengapa punya rumah sederhana, tetapi dana yang mereka miliki jangan sampai diam. Mereka selalu berusaha untuk memutarnya,” tutupnya.***

Iklan

One thought on “Petuah Entrepreneurship dari “Dewa Petir” Salman ITB

  1. I'm The Chakiman berkata:

    Sehabis baca tulisan di blog ini konsep 3C + D dari dewa petir bisa saya sebarluaskan ke teman-teman juga bisa jadi bekal diri saya pribadi. Kebanyakan yang terjadi di Indonesia budaya konsumtif ketika baru saja sukses memang selalu terjadi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s