Tribute to Supir Angkot: “Mamang Angkot Ngereyeuh”


Foto: abdoelnotes.wordpress.com

Foto: abdoelnotes.wordpress.com

Dalam temaram antara Maghrib dan Isya, angkot Cicaheum – Ledeng itu melaju dari Geger Kalong menuju Cicaheum. Tapak tilas guyuran hujan lebat sore itu, jelas terlihat di setiap sudut kota Bandung. Jalanan yang lenggang membuat angkot itu mampu menambatkan lajunya hingga kecepatan 60 Kilometer per jam. Membawa saya dan 3 penumpang lainnya ke tempat hati kami akan tertambat.

Melintasi jalan Sumur Bandung, pikiran saya langsung tertuju ke Salman ITB. “Tampaknya saya akan mampir sejenak,” imbuh saya. Tiba-tiba niat itu terbesit, tanpa ada petir atau pun angin topan. “Yah, mampir,” teguh saya di dalam hati.

Rute Geger Kalong – Ganesha bukanlah jalanan yang asing bagi saya. Dulu, dulu sekali, sekitar akhir 2011, saya masih kerap melintasi rute ini sepulang ngapel. Waktunya, tidak perlu malam Minggu. Saya bisa melakukannya kapan saja, bahkan malam Jumat sekalipun.

Kenangan itu membawa saya kepada isi saku. Pikiran ini melayang pada ongkos angkot yang akan saya berikan kepada supir. Dulu, dulu sekali, ketika masih sering ke bilangan UPI Bandung, saya biasa memberikan 3 ribu Rupiah kepada supir angkot Cicaheum – Ledeng yang mengantarkan saya pulang ngapel. Kalau lagi baik dan ada rezeki, saya kerap memberikan 4-5 ribu Rupiah. Bila sedang bokek, tak jarang 2 ribu Rupiah dan langsung kabur. Buahnya tak hanya klakson angkot, tetapi juga teriakan dan makian dari supirnya.

Sekarang saya juga akan memberikan ongkos angkot rata-rata dari Gegerkalong ke Ganesha. Biayanya, cukup 3 ribu Rupiah. “Tunggu! Tiga ribu Rupiah?!” sontak pikiran saya menginterupsi. “Dulu itu 1,5 tahun yang lalu, dan masih 3 ribu Rupiah?!” pikir saya lagi meyakinkan interupsi itu.

Yah, sejak saya terakhir ngapel hingga saya menikah dan punya anak berumur 8 bulan, ongkos angkot tidak berubah. Dengan kata lain, tidak ada penambahan taraf ekonomi supir angkot. Masih mending bila pengguna jasa angkot bertambah. Namun, fakta yang terjadi adalah sebaliknya. Semakin banyak saja orang yang menggunakan kendaraan pribadi daripada menggunakan sarana transportasi publik.

Saya jadi ingat percakapan dengan supir angkot, dulu waktu awal-awal saya punya istri. Umumnya, setoran supir angkot ini berkisar 100 – 150 ribu Rupiah. Setoran ini di luar bahan bakar dan penghasilan untuk anak dan istri. Bila sedang beruntung, para Supir angkot ini bisa membawa hingga 100 ribu Rupiah per harinya ke rumah. Bila tidak, mereka harus menalangi dari sakunya pribadi.

Itu dulu, entah saat ini. Tentunya dalam setahun terakhir, mereka melalui hari-hari yang tidak mudah. Harga-harga bahan pangan mulai beranjak naik, bahkan ada yang melonjak “nakal” semisal Bawang dan Cabai. Belum lagi dengan urusan sandang dan papan yang tak mau ketinggalan dengan Bawang dan Cabai, ingin ikut “nakal” juga.

Sialnya, dalam 1,5 tahun terakhir ini pendapatan mereka cenderung bertahan, bahkan turun. Organisasi berwenang tidak pernah menaikan tarif angkot sama sekali dalam jangka waktu tersebut. Bila pun para supir “kreatif” menaikan tarif angkotnya secara sepihak, penumpang akan protes. Bila mengikuti aturan yang ada, juga repot. Bisa-bisa dapur di rumah tidak akan pernah berasap.

Meskipun begitu, saya salut dengan para supir angkot ini. Mereka bukanlah orang yang gampang menyerah dan putus asa. Mereka tetap setia melakoni profesinya dan melayani konsumen setianya. Kesetiaan ini tergambar dari seorang supir angkot jurusan St. Hall – Gedebage Bandung yang pernah saya tumpangi. Dalam Bahasa Sunda, dia bilang, “Mun aya nya aya, mun henteu nya dikereyeuh. Lila-lila oge aya (Dalam Bahasa Indonesia: Kalau ada [penumpang] yah ada [uang], kalau tidak juga yah diusahakan sedikit demi sedikit. Lama-lama juga ada [uangnya]).”

Dan saya (semoga juga Anda) mencoba menjadi konsumen setia para supir angkot ini. Selalu membiasakan untuk menyampaikan Terima Kasih dan berbagi rezeki barang seribu-duaribu Rupiah. Memang, biaya untuk transportasi jadi lebih mahal 50 persen. Namun, saya selalu ingat celetukan teman saya, “Rezeki mah moal ka mana jeung moal katuker(Bahasa Indonesia: Rezeki itu tidak akan hilang dan tidak akan tertukar).”

Lebih ekstrim lagi, adik ipar saya pernah berkomentar dengan gamblangnya, “Saya mah mendingan ngasih uang lebih ke supir angkot daripada ke pengemis. Pengemis itu usahanya apa? Ngak jelas. Kalau supir angkot, mereka sudah berusaha keras dan banting tulang dalam mencari rezeki. Mereka lebih terhormat.”

Sebenarnya, bila kita secara masif menjadi “Kosumen Setia” angkot, kehidupan mereka akan lebih terjamin dan memiliki tingkat ekonomi yang baik. Karena ekonominya baik, mereka akan punya uang lebih untuk merawat kendaraannya. Karena ekonominya baik, mereka akan mengemudi dengan santun dan menjaga keselamatan penumpangnya. Karena ekonominya baik, mereka akan lebih ramah melayani “konsumen Setia”-nya. Karena ekonomi mereka baik, semoga membangun iklim transportasi publik yang baik pula untuk Indonesia.***

One thought on “Tribute to Supir Angkot: “Mamang Angkot Ngereyeuh”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s