Menengok Budaya Membaca Buku di Amerika


Foto: montourfallslibrary.org

Foto: montourfallslibrary.org

Budaya literasi di dunia barat, khususnya Amerika, bisa dikatakan lebih baik dari Indonesia saat ini. Dalam satu tahun, rata-rata warga Amerika berusia 18 tahun ke atas menghabiskan 11 – 20 buku dalam setahun. Bahkan, 25 persen warga Negeri Paman Sam menghabiskan lebih dari 21 buku setahun.

Budaya baca yang tinggi ini memang saya lihat ketika melakukan perjalanan ke Amerika pada Januari dan Februari 2013 lalu. Setibanya di Kota Washington DC, saya berkesempatan mengunjungi beberapa toko buku di kota tersebut. Dua di antaranya adalah Book A Million dan Barnes and Noble.

Masing-masing toko buku ini merancang ruang bacanya senyaman mungkin. Lantainya dilapisi dengan karpet empuk, suhu ruangan diatur agar selalu hangat, dan ruang baca pun dibuat cukup luas. Kenyamanan ini membuat orang betah berlama-lama di toko buku.

Mereka yang berkunjung ke sini pun tidak harus membeli buku. Seringkali mereka mampir hanya untuk membaca buku saja. Mereka bebas memilih buku dan membacanya di lantai yang seempuk kasur. Bahkan, bila ada yang hendak menyalinnya, toko buku ini membebaskannya.

Saya beberapa kali memergoki orang-orang yang tengah menuliskan sebagian isi buku yang mereka baca ke notebook mereka, tanpa membelinya. Ketika beberapa pramusaji lewat dan melihatnya pun, pengunjung ini tidak ditegur. Dengan kata lain, hal ini legal dilakukan.

Buku-buku yang dijual di sini pun umumnya terbuka dan tidak dibungkus oleh plastik sedikit. Sehingga pengunjung bisa bebas membacanya.

Ketika saya berada di Kansas City, Missouri, saya mendapatkan orang tua asuh. Ketika sarapan pagi di pusat perkotaan, salah satu tempat yang mereka kunjungi adalah toko buku. Di sana, kami menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku yang dipajang dan majalah-majalah terbaru. Kami melakukannya bukan hanya 10 atau 20 menit, tetapi hingga satu jam. Menurut saya, untuk aktivitas yang diniatkan untuk “singgah”, waktu tersebut cukup lama.

Di Amerika, toko buku tidak hanya sebatas tempat untuk menjual buku. Di sini juga tersedia kafe kecil semacam Starbuck. Setelah menemukan buku yang menarik, sebagian dari mereka menikmatinya sambil minum kopi atau memakan kue kering.

Untuk ukuran Amerika, harga di Starbuck cukup murah. Mirip seperti warung kopi di Indonesia. Bila untuk makan dengan porsi standar dan sederhana di Amerika membutuhkan uang sekitar $10, harga makanan di Starbuck umumnya hanya $2. Sangat kecil untuk ukuran orang Amerika.

Dan yang paling membuat saya terkesan adalah cara toko buku melayani pengunjungnya. Sangat ramah. Mereka berbicara dengan sopan dan senyuman. Ketika menanyakan buku yang dicari, mereka berusaha untuk memberikan informasi yang saya butuhkan dengan lengkap.

Apabila stok buku di lokasinya sedang kosong, mereka dengan senang hati menawarkan untuk memesankannya ke toko buku di jaringannya. Pengunjung hanya perlu meninggalkan nomor ponsel atau teleponnya. Pihak toko akan menghubunginya bila buku yang dipesan tiba.

Meskipun ramah, jangan sekali-kali menyela mereka ketika sedang melayani pengunjung. Pada dasarnya, para pramusaji ini melayani pengunjung seorang demi seorang, dan hal ini sangat ketat sekali. Sang pramusaji tidak segan-segan memperingatkan bahwa dirinya tengah sibuk dan belum bisa melayani pengunjung lainnya. “Saya sedang melayani pengunjung, silahkan menunggu hingga saya selesai,” begitulah biasanya mereka memperingatkan.

Pun ketika saya sedang dilayani dan ada pengunjung lainnya yang hendak bertanya, sang pramusaji pun menyuruh sang pengunjung setelah saya untuk menunggu sebentar. Ketika mendapatkan peringatan untuk menunggu pun, pengunjung bukannya marah, tetapi meminta maaf kemudian menunggu.

Untuk harga buku, saya kira di Amerika cukup murah bagi warga negaranya. Untuk buku dengan ksetebalan hingga 200 lembar, harganya berkisar $15 hingga $40. Bila sekali makan standar dan sederhana di Amerika menghabiskan $10, berarti harga buku di Amerika sekitar 2 hingga 4 kali lipat harga makanan.

Harga buku juga tergantung dari topik dan jenis bukunya. Untuk buku non-fiksi, biasanya lebih malah daripada buku fiksi. Sedangkan untuk topik-topik yang semakin teknis dan detail, harganya juga lebih mahal dibandingkan buku-buku umum dan populer.

Belum lagi bila bukunya berbentuk elektronik. Biasanya harganya bisa lebih murah 50-80 persen dari harga buku berbentuk fisiknya. Tak heran bila budaya membaca buku di Amerika cukup tinggi. Selain tokonya nyaman, juga harga bukunya cukup murah bagi warga Amerika kebanyakan.

Foto: latimesblogs.latimes.com

Meskipun haganya murah, tetapi kebanyakan kualitas buku tidak bisa dianggap sepele. Karena literasi dan menulis sudah menjadi budaya, tidak sulit bagi banyak orang untuk menulis dan membuat bukunya sendiri. Hal ini juga ditunjang dengan jumlah buku yang telah mereka baca. Tak heran bila akhirnya sebagian warga Amerika mumpuni untuk menulis buku yang bermutu.

Tingginya minat baca warga Amerika juga ditunjang perpustakaan di setiap kotanya. Ketika di Kansas City, Missouri, saya diajak mengunjungi perpustakaan kota tersebut. Sayangnya, saya mengunjungi di saat yang tidak tepat. Kami berkunjung ke perpustakaan pada hari Minggu pagi. Sedangkan perpustakaan baru buka setelah jam makan siang pada hari itu. Sehingga saya tidak sempat mencicipi perpustakaan di Amerika.

Namun, cerita dari seorang teman yang sudah tinggal lama di Amerika bisa memberikan sedikit gambaran.

Teman saya dan keluarganya tinggal di Amerika sejak kuliah S2 beberapa belas tahun silam. Salah satu aktivitas favorit mereka adalah berkunjung ke perpustakaan kotanya. Di tempat ini, anggota perpustakaan bisa meminjam buku sebanyak yang mereka mau. Dengan kata lain, tidak ada batasan jumlah buku yang bisa dipinjam.

Setiap berkunjung ke perpustakaan, teman saya dan keluarga bisa membawa belasan hingga puluhan buku. Biasanya, buku-buku ini habis mereka baca usai seminggu. Kemudian mereka akan kembali lagi ke perpustakaan dan meminjam belasan hingga puluhan buku lainnya. Aktivitas ini rutin mereka lakukan hingga belasan tahun lamanya.

Hal yang sama juga dilakukan oleh banyak orang di Amerika. Mereka sudah berkunjung ke perpustakaan dan membudayakan membaca buku. Hasilnya, sebuah budaya yang membuat mereka menjadi bangsa yang mendominasi dunia.

Bagaimana dengan Indonesia?

Berdasarkan survei UNESCO, indeks membaca masyarakat Indonesia masih sangat rendah, hanya 0,001. Artinya, hanya 1 dari seribu orang masyarakat Indonesia yang membaca buku. Kondisi ini salah satunya disinyalir akibat akses masyarakat terhadap buku-buku bermutu masih sulit karena rendahnya tingkat ekonomi masyarakat.

Keadaan ini hendaknya jadi cerminan kita yang melek literasi untuk memperjuangkan akses buku untuk masyarakat. Kondisi di Amerika juga bisa menjadi rujukan dalam hal ini, tentunya dengan bentuk yang lebih Indonesiawi. Sebagai contoh, membangun perpustakaan yang nyaman dan membuat orang ingin selalu datang berkunjung. Atau bisa juga menyediakan cicilan buku dengan harga yang terjangkau untuk masyarakat.

Apa pun itu, perbuatan kita menentukan kondisi bangsa ke depan. Hanya mengutuk dan mengeluh bukanlah solusi. Langkah kecil kita semua saat ini, mudah-mudahan menjadi besar dan berarti di masa yang akan datang. Yang seharusnya kita lakukan saat ini adalah memulai. Jangan tunggu esok, tapi mulai detik ini juga.***

Tulisan ini diterbitkan di buletin Warabuku Edisi IV April-Mei 2013.

2 thoughts on “Menengok Budaya Membaca Buku di Amerika

  1. Robert Elkristiana berkata:

    Bangsa kita, termasuk saya adalah orang yang sulit mengeluarkan uang 20.000 untuk sebuah buku, dibanding membeli lima gelas Juice Alpukat, atau dua cangkir Kopi Hitam.
    Ini tangtangan bagi saya, tulisan ini sungguh memotivasi untuk menjadi pembaca buku.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s