Memulai Budaya Memilah Sampah di Rumah


Semenjak pindah ke rumah di Suka Asih, saya dan istri menerapkan konsep Rumah Tangga Ramah Lingkungan (RTRL). Kami mulai membudayakan pemilahan sampah yang kami hasilkan, lebih spesifiknya lagi sampah rumah tangga seperti plastik, kertas, dan sisa makanan. Sampah-sampah ini kami pisahkan menjadi 4 kelompok, yaitu: Plastik, Kertas, Organik, dan Buangan.

Termasuk ke dalam kelompok organik adalah sampah dapur sisa kami memasak, seperti potongan sayuran dan buah-buahan serta tulang-belulang. Sampah ini kemudian kami olah menjadi pupuk kompos. Caranya, sampah-sampah organik yang sudah terkumpul kami masukan ke dalam pot. Setelah 3/4 pot terisi sampah organik, barulah kami tutupi atasnya dengan tanah.

Agar tanah tersebut lebih bernilai-guna, biasanya biji buah-buahan dan sisa akar sayur-sayuran kami tebarkan di atasnya. Diharapkan, biji dan akar ini bisa tumbuh besar dan berbuah. Sehingga kami bisa menghemat pengeluaran untuk membeli buah dan sayur. Namun, penghematan ini belum terbukti lantaran biji-biji yang kami tanam baru saja bertunas dan belum satu pun yang tumbuh serta berbuah.

Mengapa menggunakan pot dan tidak langsung dikubur di dalam tanah saja? Alasannya kami menempati rumah kontrakan. Adapun semua lahan pekarangan di rumah kami saat ini ditutupi oleh semen dan paving block. Karena tidak diperkenankan untuk merubah satu sentimeter pun bangunan rumah ini oleh sang pemilik, jadilah kami menggunakan pot sebagai media untuk mengkompos sampah organik.

Biasanya, sampah organik ini kami taruh di pot pekarangan rumah sebelum mencapai kuota penguburan. Anehnya, setiap sore atau malam saat kami akan membuang sampah organik, pot ini sudah dalam keadaan terguling. Setelah kami amati dengan seksama, ternyata ada tamu yang memanfaatkan sisa makanan ini, yaitu: kelinci.

Yah, tetangga kami memiliki kelinci yang pada siang hari berjalan-jalan ke rumah tetangga. Kelinci ini kerap main ke pekarangan rumah kami. Tak hanya bermain, kelinci ini juga ikut buang air besar dan memakan sampah organik kami.

Melihat fenomena ini, akhirnya kami pun membagi lagi sampah organik yang kami hasilkan, yaitu: organik bersih dan organik kotor. Organik bersih adalah potongan sayur dan buah yang tidak terpakai dan belum tercemar zat lainnya. Sampah jenis ini kami sodorkan untuk makan kelinci. Hasilnya, mereka memakannya dan sebagian besarnya habis. Barulah bagian yang “tidak laku” ini kami masukan ke pot untuk selanjutnya diproses menjadi kompos.

Adapun kotoran kelinci yang tersebar di pekarangan, kami kumpulkan satu per satu. Kotoran-kotoran ini kemudian kami masukan juga ke dalam pot sebagai komposisi kompos. Karena kabarnya kotoran kelinci baik untuk tanah dan membawa gizi yang cukup baik bagi tanaman. Sehingga diharapkan tanaman bisa lebih cepat tumbuh dan sehat.

Mengubur sampah organik. (Foto: Fathonah F)

Sayangnya, saya dan istri tidak sepakat untuk memelihara kelinci saat ini. Pasalnya, bulu kelinci kurang baik bagi pernafasan manusia, khususnya anak. Selain itu, ruang terbuka hijau kami juga kurang luas sehingga dikhawatirkan tidak mampu mereduksi dampak negatif keberadaan kelinci. Dua hal inilah yang membuat kami belum sepakat untuk memelihara kelinci.

Sedangkan sampah organik kotor adalah sampah organik yang sudah tercemar zat lain atau sudah membusuk. Misalnya saja nasi basi, sayur basi, sisa penggorengan, dan sisa sayuran yang membusuk di tempat cuci piring. Sampah jenis ini langsung kami masukan ke dalam pot. Biasanya, mereka yang berminat pada sampah jenis ini adalah semut. Kami bahagia saja melihatnya. Selain mereka menjadi sehat, juga sebagiannya jadi tak berminat masuk dapur karena makanan sudah tersedia di dekat rumahnya.

Sampah lainnya adalah sampah kertas dan plastik. Sesuai namanya, sampah ini terdiri dari barang-barang tak terpakai berupa kertas dan plastik. Bila ada barang yang terbuat dari kertas dan plastik, sebisa mungkin kami pisahkan. Misalnya saja Kertas Nasi. Barang ini merupakan kertas yang dilapisi oleh selapis tipis plastik. Umumnya, digunakan untuk membungkus makanan di Warteg atau makanan lokal di pasar-pasar perkotaan. Sebelum dibuang, sampah ini harus dipisahkan terlebih dahulu antara plastik dan kertasnya. Setelah itu, barulah dikelompokkan menurut bahannya.

Sampah kertas dan plastik kami kirimkan ke bandar pengumpul sampah. Sebagai gantinya, bandar akan memberi sejumlah uang berdasarkan jenis sampah dan beratnya. Selepas itu, mereka akan memilah sampah yang bisa didaur ulang untuk kemudian dikirimkan ke pabrik pencacah dan memprosesnya menjadi barang jadi, seperti kertas atau plastik kembali.

Meskipun begitu, tidak semua sampah kertas dan plastik bisa dimanfaatkan kembali. Ada beberapa jenis yang pastinya akan ditolak oleh bandar pengumpul sampah. Untuk jenis kertas, tisu tidak masuk hitungan. Sampah jenis ini tidak bisa didaur ulang. Untuk itu, pintar-pintarlah menggunakan handuk, lap tangan, atau sejenisnya untuk menyeka cairan atau kotoran. Pasalnya, kebiasaan ini bisa mengurangi penggunaan tisu.

Sedangkan untuk plastik, salah satu yang ditolak bandar adalah plastik kemasan makanan bersablon. Dengan kata lain, hanya plastik kemasan makanan bening saja yang diterima oleh bandar pengumpul sampah. Sedangkan untuk jenis plastik lainnya, seperti botol minuman mineral, botol sampo, ember, dan tutup botol, diterima dengan berbagai variasi harga dan berat.

Gambar: boroughwestmifflin.com

Sampah kertas dan plastik ini jadi tanggung jawab istri saya. Pasalnya, dia sedang merintis bisnis Bank Sampah. Sehingga penting untuk dia mulai memahami jenis-jenis sampah kertas dan plastik yang bisa didaur ulang. Bila ada teman-teman yang memiliki sampah plastik dan kertas serta kebingungan memprosesnya, silahkan hubungi istri saya saja. Syarat dan ketentuan berlaku. Hehe.

Terakhir adalah sampah Buangan. Kami menyebutnya demikian karena sampah jenis ini benar-benar tidak bisa dipergunakan  atau diolah lagi. Tujuan sampah buangan adalah Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Umumnya sampah jenis ini adalah sampah plastik dan kertas yang tidak diterima bandar pengumpul sampah seperti yang sudah saya sampaikan di paragraf sebelumnya. Kami mengumpulkan sampah jenis ini di tempat sampah untuk diangkut oleh petugas sampah.

Dari aktivitas memilah sampah ini, saya perhatikan lebih dari setengah sampah yang kami hasilkan mampu dimanfaatkan kembali. Dengan kata lain, kami bisa mengurangi beban sampah di TPA. Bayangkan bila aktivitas memilah sampah ini dilakukan oleh warga Bandung. Berapa banyak sampah yang bisa dimanfaatkan kembali? Berapa besar perputaran ekonomi di kota Bandung hanya dari sampah saja? Berapa besar nilai ekologi dari sampah organik yang kembali ditanam atau dikubur?

Meskipun begitu, nilai ekonomi sampah bukan pembenaran untuk menghasilkan lebih banyak sampah. Setelah tahap ini berjalan dengan baik, tahap selanjutnya adalah mengurangi produksi sampah rumah tangga, khususnya sampah kertas dan plastik serta sampah buangan.

Bagaimana dengan teman-teman? Punya pengalaman juga dalam mengelola sampah di rumahnya? Silahkan berbagi di komentar tulisan ini.***

6 thoughts on “Memulai Budaya Memilah Sampah di Rumah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s