Ketika Google Akan Menutup Reader …


RIP Google Reader (Foto: mashable.com)

Pekan lalu, Google mengumumkan rencana yang terbilang mengejutkan. Dalam blog resminya, perusahaan mesin pencari tersebut akan menutup layanan Google Reader pada 1 Juli 2013 mendatang. Padahal, layanan ini termasuk aplikasi pembaca RSS (RSS Reader) paling populer di internet saat ini.

Google sendiri menyampaikan 2 alasan sederhana yang melatarbelakangi keputusan ini. Pertama, penggunaan Google Reader yang semakin menurun dari tahun ke tahun. Sedangkan alasan kedua, Google sebagai perusahaan perlu mengalirkan energinya untuk mengembangkan produk yang lebih sedikit. “Kami pikir fokus seperti ini bisa membuat pengalaman pengguna menjadi lebih baik lagi,” ungkap Alan Green, software engineer yang mewakili Google.

Sontak saja, keputusan ini mengundang banyak komentar sekaligus ungkapan kekecewaan terhadap perusahaan mesin pencari terbesar di dunia tersebut. “Bila Google Reader mati, saya tidak akan mempercayai lagi Google,” komentar William Liu bernada mengancam di halaman petisi Keepgooglereader.com. Mashable sendiri memilih 2 komentar paling atas terkait keputusan Google ini. “Ini terasa seperti saya kehilangan seorang teman yang setia,” ungkap Kasemtanakul, salah satu komentator yang dipilih Mashable.

RSS sendiri merupakan kepanjangan dari Real Simple Syndication. Teknologi ini berfungsi untuk mengunduh konten dari berbagai situs web yang alamatnya telah dimasukan sebelumnya oleh pengguna. Umumnya, tidak semua konten ditampilkan. Hal ini sesuai dengan kebijakan pengelola situs web masing-masing. Untuk situs berita, biasanya hanya menyediakan paragraf pertama berita. Bila ingin mengetahui berita selengkapnya, pengguna harus masuk ke situs web berita tersebut. Meskipun begitu, cara ini sangat memudahkan penggunanya untuk membaca banyak konten baru dari banyak situs web.

Meskipun begitu, para pecinta Google Reader ini tidak hanya tinggal diam. Mereka mencoba meyakinkan pihak Google untuk mempertahankan produk Google Reader. Salah satunya dengan membuat petisi di halaman Keepgooglereader.com dan Change.org. Bahkan, mereka juga mengirimkan petisi ke Gedung Putih.

Pada halaman Keepgooglereader.com, terkumpul lebih dari 34 ribu tanda tangan. Sedangkan pada Change.org sudah terkumpul 126 ribu lebih tanda tangan. Di situs ini, peningkatan jumlah pendukung petisi tersebut cukup masif. Pada 15 Maret 2013, dalam waktu kurang dari satu hari, petisi untuk menyelamatkan Google Reader ini sudah mencapai 100 ribu orang. Situs ini sendiri membutuhkan sedikitnya 150 ribu tanda tangan. Itu berarti, butuh sekitar 23 ribu lebih tanda tangan lagi sebelum dikirimkan ke pihak Google.

Sedangkan petisi yang dialamatkan ke Gedung Putih kandas begitu saja. Pihak Gedung Putih menghapus petisi tersebut dengan alasan melanggar ketentuan partisipasi petisi mereka. Pasalnya, petisi tersebut mengandung “iklan atau panggilan untuk mendukung atau membeli barang atau jasa komersial” dan “petisi tersebut tidak dialamatkan kepada pemerintah Federal sekarang, atau kebijakannya, atau aksi potensialnya”.

Google Reader sendiri merupakan aplikasi pembaca RSS yang dibangun Google pada awal 2005 silam. Aplikasi ini banyak disukai pengguna lantaran mampu menyajikan konten terbaru dari ratusan situs web tanpa mengunjunginya. “Google Reader mampu memecahkan ketidak-efisiensian dalam mengunjungi ratusan situs web,” tulis Michael Surtees, perancang produk di kota New York, di halaman Mashable.com.

Bahkan, Surtees dengan berani menyebutkan bahwa aplikasi Pembaca RSS lainnya tidak akan mampu mengisi kekosongan Google Reader. “Aplikasi RSS lainnya tidak akan mampu berkembang, dan saya ragu aplikasi tersebut tidak akan lebih baik (dari Google Reader),” selorohnya.

Pengguna Google Reader sendiri umumnya adalah orang-orang yang kerap memperhatikan banyak berita dalam kurun waktu tertentu, seperti jurnalis atau orang yang selalu ingin bersentuhan dengan dunia melalui berita. Khusus jurnalis, “Google Reader merupakan bagian dari alur kerja kami,” ungkap Christina Warren, jurnalis Mashable.

Selain berdampak pada pengguna, Christina juga menyebutkan bahwa penghentian layanan Google Reader akan berdampak pada lusinan aplikasi pihak ketiga (third-party apps). Pasalnya, mereka menggunakan Google Reader untuk berlangganan dan sinkronisasi informasi. Aplikasi-aplikasi tersebut antara lain Feed Demon, Net News Wire, Reeder, dan Pulp.

Melalui aplikasi ini juga, Google Reader bisa disinkronisasi melalui API ke perangkat bergerak seperti Android, iPhone, BlackBerry, dan ponsel cerdas lainnya. Meskipun tampilannya tidak sama dengan tampilan Google Reader di situs web, tetapi aplikasi ini membantu pengguna Google Reader tetap terkoneksi dengan berita yang telah mereka susun di Google Reader.

Aplikasi third-party sendiri menuai banyak keuntungan dari keberadaan Google Reader yang disediakan secara cuma-cuma ini. Salah satunya adalah keberadaan server. Mereka tidak perlu memiliki server karena semua informasi yang dibutuhkan pengguna diambil dari Google Reader. “Memelihara server (untuk kebutuhan Pembaca RSS) tidaklah murah,” tulis Mashable. Dan tampaknya inilah salah satu tantangan yang harus dihadapi oleh pihak aplikasi third-party selepas hilangnya Google Reader kelak. Meskipun begitu, saya pribadi belum menemukan keterangan dari pihak aplikasi third-party ini terkait rencanan penutupan Google Reader.

Saya sendiri merupakan pengguna Google Reader sejak sekitar 2009 silam. Sama seperti yang dipaparkan di atas, saya menggunakan Google Reader untuk berlangganan pembaruan terbaru dari berbagai situs berita dan blog yang saya butuhkan dan saya suka.

Bila melihat tampilannya secara sekilas, Google Reader tampak sama secara layout dengan aplikasi Pembaca RSS lainnya. Perbedaannya, terletak pada fitur yang ditawarkan.

Aplikasi Pembaca RSS sendiri ada 2 jenis. Pertama yang dipasang di server. Untuk membacanya, pengguna tinggal masuk ke situs yang dimaksud. Sedangkan jenis kedua yang dipasang di perangkat komputer, notebook, atau gadget kita. Ini pun terdiri dari 2 jenis pula. Jenis pertama yang melakukan sinkronisasi konten dengan Pembaca RSS di server, sedangkan jenis kedua yang menarik konten dari berbagai situs yang alamatnya sudah dimasukkan sebelumnya.

Google Reader sendiri termasuk pada jenis pertama, yaitu aplikasi Pembaca RSS yang terpasang di server. Tawaran yang menjadikannya menarik adalah layanan ini gratis tanpa dipungut biaya apa pun. Hal ini cukup berbeda dengan aplikasi serupa yang ditawarkan pihak lain. Selain harus memasang aplikasi Pembaca RSS di server secara mandiri, sebagian penggunanya juga harus membayar sejumlah uang.

Kelebihan lainnya, tersedia banyak aplikasi third-party yang memungkinkan Google Reader diakses melalui berbagai perangkat lainnya secara offline, seperti pada komputer, laptop, dan ponsel cerdas. Tentu saja ini memudahkan pengguna untuk selalu terkoneksi dengan konten-konten terbaru dari situs yang disukainya.

RIP Google Reader. (Foto: screenshots.en.sftcdn.net)

RIP Google Reader. (Foto: screenshots.en.sftcdn.net)

Aplikasi Pembaca RSS yang terpasang di perangkat pengguna oleh sebagian orang juga dinilai tidak efektif. Karena untuk memperbaharui konten terbaru, pengguna harus mengatur aplikasi tersebut untuk menyedot dalam jangka waktu tertentu. Semakin sering waktu pembaharuan kontennya, semakin perangkat kita terbebani dengan aplikasi tersebut. Belum lagi koneksi internet harus selalu tersedia setiap saat. Sehingga aplikasi ini juga berpotensi membebani koneksi internet.

Hal ini berbeda dengan Google Reader. Ketika seorang pengelola situs web mempublikasikan konten terbarunya, maka Google Reader akan langsung memunculkan notifikasi kepada penggunannya.Bahkan, bisa langsung tersedia di perangkat pengguna. Salah satu keuntungannya, kinerja perangkat dan koneksi internet pengguna lebih ringan. Fitur inilah yang tidak dimiliki oleh aplikasi Pembaca RSS yang mensyaratkan instalasi di perangkat pengguna.

Saya sendiri sangat menyayangkan hal ini. Meskipun Google menyediakan layanan untuk mengeskpor pengaturan akun pengguna, tetap saja dunia akan berbeda tanpa Google Reader. Satu hal yang pasti, saya pribadi menginginkan layanan ini tetap ada. Semoga Google bersedia untuk merubah pikirannya dan membuat Google Reader tetap hidup. Bila tidak, mungkin saya akan merindukannya.***

2 thoughts on “Ketika Google Akan Menutup Reader …

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s