Hanya Sepenggal Kisah Hidup


Foto: www.walsallchristiancentre.com

Foto: walsallchristiancentre.com

Salah satu ketakutan saya ketika pulang dari Amerika adalah ketidakpastian aktivitas yang akan saya jalani. Bila di sana saya punya jadwal aktivitas yang jelas sekaligus tidak khawatir dengan uang saku. Namun, di sini, semua itu tidak terjadi. Jujur, saat ini saya tidak memiliki aktivitas sama sekali. Kasarnya, saya pengangguran. Benar-benar menganggur, seperti pengangguran lainnya: punya banyak waktu luang, tidak punya mesin penghasil uang, dan kerjaannya hanya mondar-mandir tak karuan.

Dan pangkal semua itu menurut saya adalah ketiadaan visi hidup saya sebagai manusia. Yah, visi hidup itu tertinggal di pekerjaan saya sebelumnya. Salahnya saya, menaruh semua visi hidup saya untuk pekerjaan sebelumnya dan pernah menisbahkan hidup saya untuk pekerjaan saya sebelumnya. Hasilnya, ketika tidak berada di sana lagi, saya hilang. I’m lost! Seperti orang yang hilang di tengah hutan tanpa tahu harus ke mana dia melangkah.

Bila kita punya visi hidup, kita bisa melakukan banyak hal dengan mudah. Namun, ketika kita kehilangannya, sesuatu yang mudah ketika kita memiliki visi hidup, merupakan sesuatu yang benar-benar sulit dilakukan. Meskipun sesuatu yang mudah itu hanyalah membalikkan tempe di penggorengan, tanpa visi hidup, membalikkan tempe di penggorengan adalah sesuatu yang sulit dilakukan.

Saya jadi tahu bagaimana perasaan Steve Jobs ketika dikeluarkan dari Apple pada 1985 lalu. Saya lihat, Steve Jobs merupakan sosok yang menaruh visi hidupnya di Apple Inc. Ketika dia terpaksa keluar dari perusahaan berlogo buah apel digigit tersebut, hidup Steve seolah-olah hancur. Dia berusaha membangun perusahaan komputer seperti Apple, tetapi tidak cukup berhasil.

Nama Steve kembali bersinar ketika secara halus dia mengkudeta Apple dan menjadi CEO perusahaan yang dibuatnya itu. Dia seolah-olah kembali menemukan kembali visi hidupnya. Ketika itu terjadi, dengan mudah Steve membuat berbagai terobosan teknologi di perusahaan tersebut. Hal inilah yang mengantarkan Apple dan dirinya ke puncak prestasi gemilang di era gaya hidup digital. Steve dinobatkan sebagai The Best Inventor in The World, dan Apple pernah menjadi perusahaan terbaik dengan nilai saham tertinggi beberapa waktu silam.

Saya tahu saya bukan Steve Jobs, dan saya tahu dia jauh lebih hebat dari saya. Saya hanya sedang menghibur diri, bahwa seorang Steve tidak akan pernah kembali menemukan visi hidupnya bila dia tidak berusaha untuk bangkit. Dan itulah yang kini sedang saya coba.

Beberapa minggu setelah pulang dari negeri Paman Sam, saya berusaha mengaudit kapabilitas saya sebagai pribadi, membangun visi hidup yang baru, dan merancang langkah-langkah konkret yang akan saya jalani selanjutnya.

Berkaitan dengan kapabilitas, tampaknya saya akan mengakhiri profesi sebagai jurnalis. Setidaknya, ada 3 alasan yang membuat saya memutuskan hal ini. Pertama, usia dan tingkat pendidikan saya tidak mencukupi untuk melamar menjadi jurnalis di media massa mana pun, setidaknya untuk media-media yang selaras dengan latar belakang ideologi jurnalisme yang saya anut. Kalau media-media lain yang kacangan banyak. Namun, bagi saya, malah menyiksa diri bila bekerja di media yang tidak sesuai dengan ideologi jurnalisme saya.

Foto: www.pbs.org

Foto: pbs.org

Alasan kedua, saya tidak cukup mumpuni bila harus membuat media dari awal. Karena, untuk membuat media, tidak hanya mengandalkan konsistensi konten, tetapi juga model bisnis yang tepat. Dalam hal ini, konsistensi konten mungkin saya mampu. Namun bila sudah harus berhadapan dengan model bisnis, saya angkat tangan. Dari dulu, saya paling tidak bisa “dagang”. Selalu tidak tega bila harus mensyaratkan sejumlah uang untuk mengerjakan sesuatu yang orang butuhkan. Bahkan, seringkali berakhir tidak baik. Sehingga saya memilih untuk menggratiskan saja jasa saya kepada orang-orang yang membutuhkannya.

Dan alasan ketiga, belakangan saya baru sadar bahwa aktivitas saya selama ini cenderung menjurus ke bidang media literacy. Saya senang melatih orang membuat media, menjadi konsultan mereka, dan senang memperhatikan media. Meskipun bagi saya membuat media dan menjadi jurnalis memang mengasyikan, tetapi kesempatan yang tersedia menurut saya lebih cenderung ke arah aktivitas media literacy.

Untuk itulah, saya akhirnya memutuskan untuk mulai mendalami media literacy. Hal ini memang belum keputusan akhir. Saya masih menimbang-nimbang. Namun, sedikit demi sedikit saya mulai mengarahkan fokus saya ke bidang ini. Misalnya saja, memperbanyak memberikan pelatihan berkaitan dengan media literacy serta menambah bacaan saya tentang media literacy.

Saya pun saat ini mulai membangun visi hidup yang baru, yaitu: mensosialisasikan media literacy ke banyak orang sekaligus membangun kesadaran mereka untuk bermedia dengan tujuan pemberdayaan masyarakat. Sampai saat ini, tujuan hidup ini yang paling sreg dengan saya.

Dan agar tidak sampai kehilangan visi hidup lagi, saya berusaha memfokuskan visi hidup ini ke diri saya. Andaikan pun membuat lembaga, sebisa mungkin sepenuhnya di bawah kuasa saya. Sehingga kecil kemungkinannya untuk visi hidup saya tertinggal di lembaga tersebut. Bila tertinggal, biarlah tertinggal mati, dan bukan tertinggal karena saya terpaksa hengkang. Karena, kehilangan visi hidup itu seperti zombie: tidak mati, tetapi juga tidak hidup. Sangat menyiksa.

Selanjutnya adalah membangun langkah-langkah yang konkret. Sampai saat ini, ada 3 langkah konkret yang sedang dan akan saya lakukan. Pertama adalah membuat buku tentang langkah-langkah membangun citizen media. Karena, media literacy salah satu aspeknya adalah membangun media sendiri. Adapun untuk mengkaji dan membuat buku tentang media literacy, ilmu saya belum cukup sampai ke sana. Sehingga, saya memutuskan untuk mencicilnya dari aspek terkecil yang saya bisa, yaitu: membangun citizen media.

Buku ini dikerjakan oleh saya dan 3 orang rekan lainnya yang merupakan tim saya di pekerjaan sebelumnya. Mereka hengkang menyusul kehengkangan saya dari pekerjaan sebelumnya. Uniknya, saya dan dua orang lainnya di tim penulisan buku ini merupakan orang-orang yang memiliki latar belakang pendidikan Teknologi Informasi dan Komputer (TIK). Seperti merasa ditunjukkan jalan oleh Tuhan bahwa fokus saya tidak jauh-jauh dari media, khususnya media baru. Setidaknya saat ini.

Langkah kedua, adalah membangun lembaga yang fokus terhadap kajian dan kampanye media literacy. Lembaga ini akan kami tentukan setelah buku tentang citizen media selesai ditulis. Karena, kami menilai bahwa buku adalah langkah awal yang baik untuk memulai sebuah lembaga. Buku adalah media sosialisasi dan pengenalan yang efektif, khususnya untuk mereka yang akan fokus terhadap suatu isu.

Terkait lembaga ini, kami merencanakan untuk membuat pelatihan citizen media untuk berbagai komunitas di berbagai lapisan masyarakat di berbagai daerah. Selain itu, kami juga merencanakan untuk mulai melakukan roadshow ke sekolah-sekolah perihal media literacy. Detailnya, tunggu saja pengumuman dari saya selanjutnya. Setidaknya, saya akan minta donasi ke teman-teman semua untuk menjalankan program-program lembaga saya yang baru. Hehe.

Sedangkan langkah ketiga, saya dan teman-teman juga akan membuat sebuah media yang tujuannya untuk portofolio lembaga sekaligus wadah riset dan pengembangan terkait media literacy. Karena media literacy mencakup banyak media, maka kami juga akan membuat beberapa media kunci yang terkait dengan bidang garapan kami.

Beberapa media yang akan kami buat adalah situs web, radio, dan televisi. Karena kami aktivis bermodal kecil-kecilan, semuanya akan kami buat berbasis internet. Sehingga mampu menghemat anggaran serta memperluas cakupan konsumennya.

Foto: poetkitty.com

Foto: poetkitty.com

Untuk situs web, saya belum tahu apakah media ini akan juga dibuat? Bila dibuat, genrenya seperti apa? Karena, untuk situs web, kami merasa sudah cukup memiliki pengalaman –meskipun sebenarnya masih sangat minim sekali. Namun, karena kami sudah pernah berhasil membimbing beberapa situs web, tampaknya portofolio serta penelitian dan pengembangan akan diarahkan ke situs web yang sudah ada saja.

Sedangkan untuk radio, tampaknya akan coba saya buat. Karena, beberapa teman eks-pengelola radio tempat saya bekerja dulu, akan berkumpul pekan ini untuk membahas terkait passion mereka di ranah penyiaran. Mereka mengungkapkan ingin membuat kembali radio dan mengelolanya seperti beberapa tahun silam. Melihat dan menganalisis sebuah radio digital di Bandung, tampaknya saya merasa mampu untuk membuat yang serupa. Hanya saja, butuh sekitar 5 juta Rupiah untuk modal awal peralatan. Semoga bisa. Mohon doanya, kawans.

Adapun untuk media berupa televisi, belum saya rencanakan waktu pembuatannya. Mungkin dalam jangka 1-2 tahun ke depan. Itu pun berbasis internet dengan mengandalkan YouTube. Doakan saja, semoga rezekinya ada.

Nah, untuk pendanaan, sebenarnya saya tidak punya ide terkait hal ini. Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, saya sangat goblok sekali untuk urusan dagang. Namun, model bisnis yang memungkinkan adalah pendanaan melalui donasi. Selain itu, saya tidak punya ide lagi selain berharap bahwa Tuhan mau mengucurkan sejumlah uang yang cukup banyak untuk saya menjalankan visi hidup ini. Tidak realistis? Menurut saya, ini yang paling realistis: mengembalikan segalanya kepada Tuhan. Bila ini jalan hidup yang Dia gariskan, saya yakin Tuhan akan mencukupi kebutuhan saya.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s