Belajar Berjuang dari Si Kecil


Foto: cdn.sheknows.com

Pernah suatu ketika saya bersama seorang kawan pergi ke resepsi pernikahan seorang kawan lainnya. Waktu itu, saya masih membujang, sama seperti kawan saya ini. Kami berdua berangkat dari bilangan ITB menggunakan motor. Sedangkan lokasi resepsi pernikahan di bilangan Sekeloa, Bandung.

Ketika itu, kami berdua tidak mengetahui persis lokasi resepsi pernikahan. Yang kami tahu, lokasinya di belakang Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Padjadjaran (UNPAD) di Sekeloa, Bandung. Khawatir kehabisan makanan, kami pun tidak ragu menuju lokasi. Mengenai lokasi persisnya, cari-cari saja di sana. “Siapa tahu beruntung dan langsung ketemu,” pikir kami.

Setibanya di FKG UNPAD, ternyata kami tidak beruntung. Kami tidak menemukan tanda-tanda lokasi resepsi pernikahan kawan kami. Saya pun akhirnya memutuskan untuk mengitari gang-gang sempit di sekitar FKG UNPAD. Tidak hanya sekali, saya berulang kali melewati gang-gang sempit tersebut.

“Tampaknya kita nyasar. Kita pulang saja, yuk,” usul kawan saya. Saya berusaha meyakinkan dia untuk kembali mencari gang-gang lain yang belum kami telusuri. Dan begitulah seterusnya. Teman saya mengusulkan untuk pulang, sedangkan saya berusaha meyakinkan untuk mencari ke gang lainnya.

Akhirnya, setelah 45 menit berkeliling, kami tidak jua mampu menemukan lokasi resepsi pernikahan kawan kami. Ketika saya mengarahkan motor untuk kembali ke ITB, kemudian telepon genggam saya berdering. Ketika saya angkat, ternyata dari seorang kawan lainnya yang telah tiba dan menunggui kami di lokasi resepsi pernikahan. Akhirnya, kami berhasil menemukan lokasi resepsi pernikahan kawan kami dengan dipandu oleh kawan yang telah tiba lebih dulu tersebut.

Kawan yang menyasar bersama-sama saya kemudian berseloroh, “Kamu seperti anak kecil. Terus berusaha walaupun gagal menemukan lokasi (resepsi pernikahan)-nya.” Saya sendiri tak paham maksud kawan saya tersebut. Apakah itu sebuah sanjungan atau celaan? Namun, kawan saya menjelaskan bahwa sikap tersebut positif. Meskipun gagal, papar kawan saya, saya tetap berusaha untuk mencari.

“Pun anak kecil. Meskipun mereka gagal melakukan sesuatu hal, mereka akan tetap berusaha untuk melakukannya hingga berhasil,” papar kawan saya. Saya pribadi ketika itu tidak begitu mengerti perihal kesimpulan kawan saya tersebut. Hingga akhirnya kini, ketika saya sudah mempunyai anak, saya mengerti jua.

Saat ini, si kecil sudah berusia 5 bulan. Seperti kebanyakan balita seusianya, anak saya ada dalam fase belajar tengkurap. Namun tidak itu saja. Si kecil sudah mulai “memaksakan” dirinya untuk bergerak maju ke depan. Dia mulai mencoba bertumpu menggunakan kedua tangan dan kakinya. Kakinya yang kecil itu, dia hentak-hentakan ke belakang agar mampu bergerak maju ke depan. Meskipun begitu, bukannya bergerak maju ke depan, si kecil malah bergerak mundur ke belakang. Tangan dan kakinya belum cukup mampu melakukan gerakan maju ke depan.

Di tengah-tengah usahanya tersebut, tak jarang dia berteriak, bahkan hingga menangis. Hal ini merupakan ungkapan kekesalannya lantaran belum juga bisa bergerak maju. Usahanya ini selalu berujung tangisan keras lantaran si kecil gagal menggapai sesuatu yang diinginkannya, yaitu: bergerak maju ke depan. Bila sudah terjadi seperti ini, kami terpaksa mengangkatnya dan menggendongnya serta menepuk-nepuk punggungnya agar si kecil tenang dan menghentikan tangisnya.

Meskipun begitu, dia tidak pernah sekali pun patah semangat. Setelah dirinya tenang, kami baringkan kembali ke tempat tidur. Pantang menyerah, dia pun tengkurap kembali dan mencoba untuk bergerak maju ke depan. Bila gagal, selalu saja diakhiri dengan tangisan lantaran kesal keinginannya tidak tercapai. Si kecil terus melakukan hal ini setiap hari, hingga energinya habis dan mengantuk lalu tidur.

Melihat peristiwa ini, akhirnya saya mengerti ungkapan kawan saya yang menggambarkan begitu pantang menyerahnya perjuangan seorang anak kecil. Perjuangan yang tak kenal lelah dan tak kenal gagal untuk meraih sesuatu. Perjuangan untuk terus berusaha hingga mampu dan mahir. Perjuangan yang sebenarnya merupakan sifat alami seorang anak manusia. Perjuangan yang kita warisi dalam diri kita masing-masing hingga saat ini.

Lalu, mengapa ketika telah dewasa kita lebih gampang menyerah dan putus asa? Jawabannya, silahkan cari sendiri dalam diri masing-masing. Satu hal yang pasti, mari kita kembali belajar berjuang. Setidaknya belajar berjuang dari si kecil.***

One thought on “Belajar Berjuang dari Si Kecil

  1. Vicky Laurentina berkata:

    Si kecil berusaha belajar berjalan karena dia merasa dia tidak akan mendapatkan apa yang dia inginkan jika dia tidak segera berjalan.
    Orang dewasa berhenti berusaha karena dia merasa sudah puas dengan apa yang dia dapatkan sekarang tanpa berusaha lebih jauh lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s