Berpacu dengan Waktu di Seattle


Cuaca mendung sepanjang tahun menjadi ciri khas dari Seattle. Tampak gedung-gedung pencakar langit di kota ini tertutupi kabut pada pagi hari. (Foto: Yudha PS)

Kota kelima sekaligus kota terakhir yang saya kunjungi di Amerika adalah Seattle di negara bagian Washington. Washington yang saya maksud merupakan negara bagian yang terletak di wilayah Pantai Barat Amerika. Wilayah ini berbeda dengan Washington DC yang berada di Pantai Timur Amerika. Keduanya terpisah jarak setara Sabang – Merauke di Indonesia. Selain itu, Washington adalah sebuah negara bagian, sedangkan Washington DC adalah sebuah kota berukuran 10 x 10 Kilometer persegi yang menjadi ibu kota Amerika.

Persinggahan saya di Seattle pun tidak lama, hanya 3 hari, bahkan kurang. Padahal, saya senang sekali dengan kota ini. Hal pertama yang saya sukai dari kota ini adalah cuacanya, selalu mendung sepanjang tahun. Saya sempat melihat kaos yang menggambarkan tentang Seattle. Kaos tersebut terdiri dari 12 kotak yang disusun secara persegi panjang dengan 3 kotak mendatar dan 4 kotak menurun.

Di masing-masing kotak tersebut tertulis bulan dari Januari hingga Desember. Judul kaos tersebut adalah “Seattle Weather”. Dan lucunya, keduabelas kotak tersebut bergambar awan disertai garis-garis vertikal yang melambangkan hujan, persis seperti simbol hujan pada berita prakiraan cuaca. Kaos tersebut menggambarkan bahwa cuaca Seattle selalu berawan dan hujan sepanjang tahun.

Suhunya pada musim dingin pun relatif hangat, yaitu 7 derajat Celcius. Dengan suhu segitu, saya bisa bertahan di luar ruangan dengan hanya mengenakan kaos berlengan pendek tanpa jaket selama sekitar 1 jam. Selepas itu, saya mulai kedinginan. Bagi saya, ini sebuah prestasi tersendiri karena saya mulai mampu beradaptasi dengan cuaca musim dingin di Amerika, khususnya di Seattle.

Berbeda dengan kota lainnya di Amerika yang kami tiba pada sekitar sore hari, di Seattle kami tiba pada malam hari, sekitar jam 8 malam. Hal ini lantaran kami diberi jatah pesawat yang berangkat pada jam 5 sore waktu Kansas City. Perjalanan Kansas City – Seattle sendiri memakan waktu sekitar 4 jam. Ada pun perbedaan waktu di Seattle lebih lambat 2 jam dari Kansas City. Sehingga, kami baru mendarat di bandara Seatttle sekitar jam 7 malam. Perjalanan menuju hotel sekitar 30 menit, dan masuk kamar sekitar jam 8 malam.

Karena kami tiba malam, kami tidak bisa menikmati Seattle hari itu, Rabu, 13 Februari 2013. Ketika mencari panganan untuk mengisi perut pun, susahnya setengah mati. Semua restoran yang ada di sekitar hotel kami sudah tutup sejak jam 7.30 malam. Padahal kami tinggal di pusat kota dan pusat perbelanjaan lainnya masih aktif menerima pembeli. Tampaknya penduduk Seattle jarang keluar makan malam selepas jam 7 malam.

Space Needle, salah satu landmark Seattle. (Foto: Yudha PS)

Dua hari lainnya, yaitu pada 14 dan 15 Februari 2013, kami habiskan waktu untuk berdiskusi dengan beberapa tokoh dan organisasi di Seattle. Pada dua hari itu pula, saya menghabiskan sore dengan menjelajahi Seattle dengan berjalan kaki.

Salah satu lokasi yang saya kunjungi adalah Space Needle, sebuah menara yang kini menjadi landmark Seattle. Menara yang dibangun pada 1962 ini berbentuk seperti piring terbang. Lokasi tempat Space Needle berdiri saat ini berjuluk Seattle Center.

Dari atas menara, pengunjung bisa melihat seantero kota Seattle dari ketinggian. Untuk menjangkaunya, pengunjung dikenakan karcis seharga $20,00, dan langsung menuju ke puncak menara menggunakan elevator. Saya sendiri memilih untuk tidak mencicipi keindahan Seattle dari atas menara Space Needle. Harga karcis tersebut saya kira terlalu mahal. Mungkin lain waktu. Saya berpikir positif saja, bahwa lain kali saya bisa berkunjung ke Seattle kembali. Hehe

Di Space Needle, saya hanya menikmati tokonya yang terletak di lantai dasar menara. Pengelola menawarkan berbagai cinderamata dengan beragam harga. Mulai dari miniatur menara, gantungan kunci, kartu pos, stiker, hingga berupa topi dan kaos. Harganya pun cukup beragam, mulai dari barang-barang kecil seharga $3 hingga kaos seharga $20, bahkan lebih.

Tak jauh dari Space Needle, tersedia juga monorail. Seattle Center Monorail julukannya, dibangun pada 1961 dan menghubungkan antara Seattle Center dan Westlake Center, sebuah pusat perbelanjaan di pusat kota. Jaraknya pun cukup pendek, hanya sekitar 2 Kilometer. Menaikinya, penumpang harus merogoh kocek $2,50 sekali jalan. Bila ingin bolak-balik dengan rute yang sama, penumpang cukup membayar $4,50.

Lokasi lain yang saya kunjungi adalah Pike Place Market atau yang sering dijuluki juga sebagai Pike Public Market. Lokasinya berada di antara 1st Street dan Pike Street. Pasar ini sebenarnya tak ubahnya seperti pasar tradisional di Indonesia. Pedagang yang beraneka ragam menjajakan berbagai dagangannya di toko dan kiosnya masing-masing. Mulai dari sayuran, daging, ikan, hingga bunga, tas, dan pakaian tersedia di sini.

Untuk kios, ukurannya pun cukup kecil, sekitar 2 x 2 meter persegi. Kios-kios ini berjajar di sepanjang lorong Public Market, benar-benar sama persis dengan pasar tradisional di Indonesia. Bedanya, Pike Public Market lebih tertata dan lebih rapih dibandingkan banyak pasar tradisional di Indonesia. Sedangkan untuk toko, ukurannya lebih besar dari pada kios.

Pike Public Market, Seattle. (Foto: Yudha PS)

Perbedaan lainnya, fasilitas kios hanya berupa meja berukuran 2 x 1 meter persegi untuk menempatkan barang dagangannya. Sedangkan fasilitas toko lebih lengkap. Biasanya berupa ruangan berdinding yang bisa diisi sesuka hati oleh penyewanya.

Pike Place Market merupakan salah satu lokasi yang menjadi landmark Seattle. Di lokasi ini pula, Starbuck merintis toko pertamanya pada 1971. Toko pertama Starbuck ini masih beroperasi hingga sekarang dan terletak di sebelah selatan Pike Place Market, sesuai dengan lokasinya sejak permulaan berdiri.

Meskipun Pike Place Market tampak seperti pasar tradisional di Indonesia, tetapi harga barang-barang yang dijualnya seringkali lebih mahal dibandingkan toko-toko di luar pasar di Seattle. Umumnya, barang-barang yang lebih mahal ini berupa pakaian dan alat pakai lainnya, seperti tas, sepatu, dan topi.

Tampaknya wajar saja, mengingat kebanyakan barang-barang ini merupakan hasil buatan tangan mereka sendiri. Contohnya saja tas dari kulit. Sebuah tas kecil saja dilabeli harga $20,00. Uniknya, tas-tas ini tanpa merk dan merupakan buatan tangan si penjualnya langsung. Padahal, bila dibuat secara massal dan berbasiskan pabrik, harganya mungkin bisa setengahnya, bahkan hanya sepertiganya, atau yang paling ekstrim hanya seperempatnya saja.

Selain kedua tempat tersebut, saya juga mengunjungi toko buku Barnes and Noble yang letaknya hanya 2 blok dari hotel. Toko buku ini jadi tempat favorit saya untuk mencari buku-buku pesanan teman-teman di Indonesia, juga buku-buku yang ingin saya miliki.

Sayangnya, selama penjelajahan saya di toko buku Barnes and Noble di 5 kota di Amerika, tidak semua buku bisa saya dapatkan. Dari 10 buku yang saya ingin beli, hanya sekitar 3 yang bisa saya dapatkan. Ternyata, produk mereka lebih variatif di ranah online. Untuk membeli online pun, kekurangan saya cuman satu: tidak memiliki kartu kredit. Hal ini tentunya mengurangi peluang saya untuk mendapatkan buku-buku yang saya inginkan.

Di toko fisiknya sendiri, Barnes and Noble lebih banyak menyajikan buku-buku populer. Sekitar setengahnya merupakan buku-buku bergenre fiksi seperti novel. Buku yang saya ingin beli sendiri memang genrenya tidak cukup populer, yaitu media dan jurnalisme. Bila ada yang menyediakan bagian media dan jurnalisme pun, umumnya mereka memajang buku-buku populer ilmu komunikasi. Meskipun begitu, saya tetap senang dengan toko buku Barnes and Noble. Bagi saya, pelayanan mereka sungguh luar biasa. Melayani dengan senyum, berusaha menyajikan yang terbaik, dan sebisa mungkin membantu pengunjung hingga tuntas.

Seorang anak tengah memberi makan Burung Camar di Dermaga Seattle. (Foto: Yudha PS)

Perbedaan lainnya dari Seattle dibandingkan kota-kota lainnya yang saya kunjungi di Amerika adalah laut. Sebelah barat Seattle benar-benar berbatasan dengan laut. Namun jangan harap menemukan pantai di sini. Karena semua perbatasan antara daratan dan lautan merupakan dermaga. Meskipun begitu, dermaga ini mampu menawarkan tempat rekreasi yang menarik serta pemandangan yang indah.

Di sepanjang dermaga di Seattle, kita bisa menemukan berbagai bangunan yang menawarkan bermacam pelayanan yang menarik hati. Mulai dari restoran dengan panganan laut yang nikmat, toko cinderamata yang menawarkan barang-barang khas Seattle, hotel yang langsung berbatasan dengan laut, hingga museum dan akuarium yang koleksinya bervariasi dan banyak.

Dermaga Seattle juga menawarkan ruang terbuka untuk menikmati laut kapan pun pengunjung inginkan. Ruang terbuka ini berbentuk taman yang menjorok langsung ke laut. Bila kita lihat jauh ke sebelah barat, terdapat pegunungan berselimut salju abadi berjejer dari selatan ke utara. Deretan pegunungan ini disebut Pegunungan Olympic, dan semenanjungnya bernama Semenanjung Olympic dan Semenanjung Kitsap.

Saya menyempatkan mengunjungi Dermaga Seattle pada pagi dan sore hari. Pada pagi hari, kita bisa memberi makan gerombolan Burung Camar sebesar ayam kampung dewasa yang terbang rendah di sekitar restoran. Umumnya, para pengunjung restoran melemparkan sisa makanannya ke burung-burung ini yang langsung mereka sambar dengan cepat. Pengunjung pun tak perlu takut akan dipatuk atau dilukai oleh burung-burung Camar ini. Hanya saja, pengunjung harus berhati-hati kalau-kalau kotoran burung-burung ini jatuh tepat di tubuh atau pakaian mereka.

Sedangkan pada sore hari, pengunjung bisa menikmati matahari terbenam di Dermaga Seattle. Bila cuaca sedang cerah, bulatan matahari akan tenggelam tepat di sela-sela Pegunungan Olympic. Cahaya senja kemerahan yang jatuh di tepat di atas salju abadi Pegunungan Olympic membuatnya seperti gunung-gunung yang berhamparankan emas dan salju.

Setelah 2 hari saya mencicipi Seattle, pada Sabtu siang, 16 Februari 2013, saya harus pulang ke Indonesia. Waktu 2 hari memang tidak cukup untuk mengeksplorasi kota ini. Padahal, ada beberapa museum yang ingin sekali saya kunjungi di Seattle. Meskipun begitu, saya tetap kagum dengan kota ini. Mungkin lain waktu saja saya akan menyempatkan diri mengeksplorasi lebih banyak kota ini. Berpikir positif saja, siapa tahu memang Tuhan mengizinkan saya untuk kembali lagi ke Seattle lain waktu. Semoga.***

Kapal Fery menyeberang Selat Puget setelah terlebih dahulu mengangkut penumpang dari Pelabuhan Seattle. Latar belakang kapal dalam foto ini merupakan Gunung Olympic dengan salju abadinya. (Foto: Yudha PS)

Kapal Fery menyeberang Selat Puget setelah terlebih dahulu mengangkut penumpang dari Pelabuhan Seattle. Latar belakang kapal dalam foto ini merupakan Gunung Olympic dengan salju abadinya. (Foto: Yudha PS)

Cahaya sinar matahari memperindah suasana sore di Pike Public Market. (Foto: Yudha PS)

Cahaya sinar matahari memperindah suasana sore di Pike Public Market. (Foto: Yudha PS)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s