Orang Tua Asuh di Kansas City


Kansas City Panoramic View (Foto: Wikipedia.org)

Kota keempat yang kami kunjungi adalah Kansas City, Missouri. Namun, jangan bayangkan kota ini ramai seperti kota-kota lainnya di Amerika. Dari kelima kota yang kami kunjungi di Amerika, kota ini terbilang kota kecil. Penduduk di kotanya hanya berkisar 400 ribu orang. Sedangkan di kawasan metropolitannya hanya 2 juta orang. Padahal, luas wilayahnya cukup besar, mencapai 800 ribu Kilometer persegi.

Salah satu agenda yang menarik di Kansas City adalah kesempatan mendapatkan orang tua asuh dan tinggal bersama mereka selama 24 jam. Saya berkesempatan tinggal bersama Steve Fuller dan Henna Fuller. Keduanya pasangan suami istri yang gemar bepergian ke berbagai kota di dunia, termasuk Indonesia. Steve sendiri penyuka kesenian kuno dari berbagai kota di Asia. Di rumahnya, terpajang berbagai ukiran dan kain tenun khas Indonesia. Wajar saja. Mereka pernah mengunjungi berbagai kota di Indonesia, dari Sabang hingga Merauke.

Saya dijemput oleh Steve di hotel sekitar satu jam setelah saya mendarat di Kansas City. Dia langsung memacu kendaraannya ke rumah kayunya di pinggiran hutan. “Di Amerika, kamu harus membayar lebih mahal untuk membuat rumah dari batu dibandingkan dari kayu,” paparnya.

Rumah Steve sendiri bukan di tengah kota, melainkan di daerah pinggiran kota. Menurutnya, hal ini banyak dilakukan masyarakat Kansas City menimbang banyaknya angka kejahatan di daerah kota. “Daerah pinggiran baik untuk pertumbuhan anak-anak dan jauh dari kejahatan,” tandasnya.

Hanya butuh waktu sekitar 20 menit untuk kami tiba di rumah Steve. Jalanan Kansas City yang lenggang, lebar, dan mulus, membantu hal itu tercipta. Di rumah, saya langsung diperkenalkan dengan Henna, istri Steve. Usai rehat sejenak dan menyimpan barang-barang, Steve langsung mengajak saya ke Museum Seni Nelson-Atkins di bilangan kota Kansas City.

Steve yang sedang mengamati lukisan kuno China koleksi museum seni Nelson-Artkinson. (Foto: Yudha PS)

Steve yang sedang mengamati lukisan kuno China koleksi museum seni Nelson-Artkinson. (Foto: Yudha PS)

Mendengar kata “seni”, sebenarnya saya tidak terlalu tertarik awalnya. Pasalnya, di dalam benak saya, museum ini pasti hanya menyajikan seni kontemporer yang tidak pernah saya mengerti hingga saat ini. Ternyata saya salah. Justru, di museum ini, tersaji banyak karya seni kuno dari berbagai penjuru dunia.

Begitu kami membuka pintu masuk, karya seni dari negeri Tirai Bambu langsung menyambut. Ternyata, museum ini sedang merayakan tahun baru China. Para penjaga museum, berpakaian a la kalangan kerajaan abad silam di China. Belum cukup dengan itu, mereka juga memajang sebuah lukisan berukuran 3/4 lapangan bulu tangkis tepat di ruangan pintu masuk. Meskipun baru dibuat saat ini, tetapi lukisannya bertajuk negeri China abad silam. Rangkaian pegunungan lengkap dengan pepohonan dan beberapa rumah, digambar menggunakan kuas dan tinta berwarna hitam.

Steve langsung mengajak saya ke lantai dua, tempat banyak karya seni kuno tersimpan. Kami berdua kemudian terkesima dengan umur berbagai karya seni kuno yang lebih dari 500 tahun. “Lihat! Lihat! (Benda ini) umurnya 500 tahun!” ucap Steve setengah berteriak kepada saya, menandaskan kekagumannya.

Umumnya, benda-benda koleksi museum adalah bagian dari risalah masa lalu. Di bagian negeri China misalnya. Terdapat berbagai pakaian kerajaan dan patung-patung dewa-dewi yang umurnya sudah ratusan tahun. Satu benda yang bagi saya menakjubkan adalah gambar dewa-dewi negeri tirai bambu di dinding museum. Pasalnya, dinding itu berusia seribu tahun. Saya hanya tidak habis pikir cara memindahkan dinding-dinding tersebut ke Amerika. Padahal, hubungan diplomasi antara China dengan Amerika terbilang kurang baik. Tentu saja, pemindahan dinding bersejarah seperti itu tidak mudah.

Koleksi lainnya hadir juga dari India, Asia-Tenggara, Asia-Selatan, dan Timur Tengah. Umumnya, koleksinya berupa arca-arca peninggalan kebudayaan Hindu dan Budha di daerah tersebut.

Ada satu hal yang menarik terkait arca yang berasal dari Timur Tengah, khususnya Afghanistan. Budha dalam arca tersebut diukir dalam sosok orang Timur-Tengah: berbadan besar, berdada bidang, berhidung mancung, dan bermata sayu. Bila melihatnya, benar-benar seperti orang keturunan Arab.

Selain arca, terdapat juga ukiran penghias dinding dan langit-langit yang terbuat dari kayu. Ternyata, benda ini berusia hampir seribu tahun yang diambil dari sebuah kuil di daerah Timur Tengah. Syukur masih bisa diselamatkan. Bila tidak, sudah habis oleh kawanan kelompok Islam radikal.

Tidak hanya karya seni kuno, museum ini juga menampilkan lukisan-lukisan dari pelukis-pelukis ternama Eropa. Bila melihat dari jarak sekitar 2 – 3 meter, lukisan-lukisan tersebut benar-benar hidup dan tampak seperti asli. Sang pelukis benar-benar mampu memberikan “daya hidup” kepada karya-karyanya.

Menjelang jam 17 sore, kami semua beranjak pulang ke rumah. Malamnya, Steve dan Henna mengajak saya menikmati makan malam di sebuah restoran Thailand di dekat pusat kota di Kansas City. Steve juga turut mengundang teman-temannya: John dan Spencer.

John sendiri adalah seorang pengacara. Mereka berdua kawan semasa kuliah dulu. Rumahnya sekitar 50 mil dari tempat tinggal Steve. Sedangkan Spencer merupakan seorang pemuda lulusan MIT yang kini bekerja di sebuah lembaga pendanaan usaha kecil di India.

Kami menghabiskan waktu malam itu dengan berbicang-bincang tentang Indonesia, khususnya masyarakat Islamnya. Dari media yang dibacanya, mereka berkesimpulan bahwa Islam di Indonesia hampir sama dengan Islam di Timur Tengah yang bercorak garis keras. Cukup repot juga saya menjawab pertanyaan mereka. Namun, akhirnya mereka mengerti juga berkenaan keunikan masyarakat Islam di Indonesia.

Oleh Steve, saya juga dikenalkan dengan Anne. Awalnya, Anne berprofesi sebagai arsitektur. Bahkan, dia pula yang merancang rumah Steve. Namun, beberapa waktu silam, Anne memutuskan untuk menjadi seorang seniman. Malam itu, saya diajak untuk mengunjungi galerinya. Uniknya, galerinya ini buka mulai jam 5 sore hingga larut malam.

Pertunjukkan Jazz di Blue Room. (Foto: Yudha PS)

Pertunjukkan Jazz di Blue Room. (Foto: Yudha PS)

Anne bertanya soal selera musik saya. “Jazz,” ungkap saya sembari tidak yakin. “Kalau begitu, apakah kamu berkunjung ke museum Jazz di DC dan New York?” tanyanya lagi. Dia tampaknya kecewa mendengarkan jawaban “tidak” dari mulut saya. Meskipun begitu, dia mencarikan klub malam khusus untuk Jazz malam itu.

Kami semua akhirnya beranjak ke Blue Room, sebuah klub malam khusus untuk Jazz. Namun, klub ini bukan sembarang klub malam. Klub ini adalah pemilik museum Jazz di kota tersebut. Bagaimana pun, musik Jazz termasuk yang berkembang di Kansas City.

Kansas City sendiri posisinya di peta merupakan kota yang berada di tengah-tengah benua Amerika. Secara budaya, dulunya Kansas City merupakan perbatasan antara wilayah utara yang didominasi orang putih dan wilayah selatan yang didominasi orang hitam. Juga perbatasan antara wilayah barat dan timur.

Pada 1930, kota ini menjadi pusat bagi berkembangnya musik Jazz di Amerika. Banyak nama-nama terkenal musisi Jazz hadir dari kota ini. Pada masa itu, musik Jazz merupakan sarana untuk berkumpul dan menumpahkan kreasi, kreativitas, dan aspirasi. Melalui musik Jazz, mereka memperjuangkan hak-hak kaum hitam yang masih dipandang sebelah mata saat itu.

Di Blue Room, saya menghabiskan waktu hingga tengah malam. Menyaksikan penampilan Jazz dari musisi-musisi lokal. Satu hal yang menarik, ketika waktu istirahat tiba, sang musisi menyapa para penonton satu per satu. Kenal tidak kenal, sang vokalis menanyakan kabar dan berkenalan dengan penonton. Bagaimana pun, meskipun mereka musisi, mereka tetap bertingkah laku sebagai manusia, bukan selebritis.

Keesokan harinya, usai makan siang, saya dikembalikan ke hotel. Saya diantar oleh Steve dan Henna. Beberapa kali Steve seperti menyesal hanya bertemu saya selama 24 jam. “Tampaknya (waktu) 24 jam tidak cukup untuk kita saling mengenal. Saya berharap mengajak kamu berjalan-jalan lebih lama. Namun, saya harus memenuhi janji mengantarkanmu kembali siang ini,” Steve sedikit mengeluh. “I’m very lucky meet with you, Yudha,” ucapnya, berpisah.

Mungkin 24 jam bukan waktu yang cukup untuk kami menghabiskan waktu bercerita tentang Indonesia dan Amerika. Namun, semoga ini menjadi awal kita untuk saling mengenal, berbagi, dan saling mengunjungi satu waktu nanti. Terima kasih, Steve. Terima kasih, Henna.

Selepas itu, tidak banyak hal yang saya lakukan di Kansas City. Seperti yang saya ungkapkan di awal tulisan, kota ini sepi. Di siang hari, jumlah mobil yang melintas dalam satu menit di jalanan tengah kota masih bisa dihitung dengan jari tangan. Sedangkan pada malam hari, suasananya lebih sepi. Mobil yang melintas dalam 15 menit di jalanan tengah kota masih bisa dihitung dengan jari tangan.

Karena tengah kota adalah areal perkantoran, tidak banyak orang yang beraktivitas di sini. Ketika waktu kantor usai, penghuni tengah kota langsung bubar jalan menuju rumahnya masing-masing. Tampaknya, dalam 10 atau 15 tahun mendatang, kota ini benar-benar mati lantaran ditinggal penduduknya.

Pusat perbelanjaan pun banyak dibangun di daerah pinggiran kota. Salah satunya adalah Country Club Plaza. Wilayah ini merupakan kumpulan toko-toko dan pusat perbelanjaan yang cukup terkenal di Kansas City. Beberapa toko terkenal yang membuka lapaknya di sini adalah Apple Store dan Barnes and Noble. Steven dan Henna pun mengajak saya untuk sarapan dan mengunjungi toko buku di wilayah ini.

Terkait sepinya kota, selidik punya selidik, ternyata pemerintahan Kansas City tidak mampu mengelola kotanya dengan baik. Dari informasi off the record yang saya terima, pemerintahan masa silam di kota ini terjanggal kasus korupsi. Saya pribadi tidak menemukan kasus korupsi yang dimaksud, sehingga tidak bisa mengemukakannya dengan baik di sini.

Di kota ini juga, banyak Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang berjuang untuk membangun masyarakat Kansas City. Maklum, di kota ini banyak kantung-kantung imigran yang notabenenya secara ekonomi levelnya menengah ke bawah. Karena pemerintah kota tidak cukup mampu menangani pemasalahan di dalamnya, LSM ini pula yang banyak berperan guna menyelesaikan masalah sosial masyarakat menengah ke bawah Kansas City.

Untuk urusan museum, kota ini punya banyak pilihan. Selain museum seni Nelson-Atkins dan museum Jazz, ada juga museum World War I Museum, Negro Leagues Baseball Museum, Kemper Museum of Contemporary Art, Arabia Stemboat Museum, Airline Royal Museum, dan Harris-Kearney House Museum.

Namun, karena letaknya terlalu jauh dari hotel, saya tidak sempat mengunjungi museum-museum lainnya. Sebenarnya, bila diukur, jaraknya sama jauhnya dengan beberapa museum yang saya kunjungi di Washington DC. Namun, karena kota ini tampak terlalu sepi, sehingga membuat saya kurang bersemangat menjelajahinya dengan berjalan kaki.

Kansas City sendiri terletak di tengah-tengah negara Amerika. Kota ini terletak di bagian utara 2 negara bagian yang berbeda, yaitu Kansas dan Missouri. Pembatasnya adalah sebuah sungai besar di antara kedua kota tersebut. Saya sendiri berada di Kansas City bagian Missouri.

Sunset di salah satu gedung di Kansas City, Missouri. (Foto: Yudha PS)

Sunset di salah satu gedung di Kansas City, Missouri. (Foto: Yudha PS)

Kansas City, lebih umumnya lagi Missouri dan Kansas, memiliki kontur geografis yang landai. Jauh di sebelah selatan Kansas City merupakan daerah langganan tornado. Daerah tersebut memang terkenal dengan Sabuk Tornado. Pada saat terjadi bencana tornado di Amerika, saya sendiri sedang berada di Kansas City. Meskipun tidak dilewati oleh tornado, tetapi dampaknya sangat terasa di Kansas City. Angin yang berhembus sangat kencang. Saking kencangnya, angin bisa membuat orang yang sedang berjalan terhenti lantaran hembusannya yang cukup kencang, sekitar 40 – 50 Kilometer per jam.

Iklim Kansas City terbilang sedang, tidak hangat tetapi juga tidak dingin. Salju jarang terjadi di kota ini. Meskipun begitu, suhunya berkisar antara 0 hingga 7 derajat Celcius pada saat musim dingin. Cukup dingin untuk orang Indonesia yang terbiasa dengan cuaca beriklim tropis.

Saya sendiri menghabiskan 4 hari di sini, sedari tanggal 9 hingga 13 Februari 2013. Beruntung kamar hotel yang saya tempati cukup luas dengan fasilitas televisi kabel yang cukup besar dan akses internet yang super kencang. Fasilitas ini membuat saya merasa betah berdiam diri di kamar hotel. Sehingga tidak terjanggal bosan karena kota Kansas City yang sepi.

Usai Kansas City, kami menuju Seattle di Washington. Butuh 4 jam perjalanan menggunakan pesawat hingga kota tujuan. Senangnya, kami meninggalkan Kansas City. Sedihnya, kami semakin dekat dengan waktu untuk meninggalkan Amerika.***

Iklan

11 thoughts on “Orang Tua Asuh di Kansas City

  1. FRANSISCA NATALIA berkata:

    Dear all,
    saya sedang mencari orang tua asuh untuk membiayai kuliah saya
    saya sekarang bekerja part time sambil kuliah di Universitas Mercu Buana Bekasi, saya sudah semester 4 dan nilai IPK dan IPS saya lumayan bagus yaitu 3.8
    Mohon bantuannya agar saya bisa melanjutkan pendidikan saya
    bisa diinfo di nfransisca96@gmail.com
    Terimakasih
    Tuhan memberkati

  2. Trias berkata:

    Hai,, saya sudah membaca postingan Anda. Saya anak berusia 23 tahun dan saat ini saya di Indonesia, bagaimana saya bisa menemukan orang tua angkat di USA, saya ingin tinggal di sana. Terima kasih banyak sebelumnya. Saya sangat butuh bantuannya. Terima kasih. GBU

  3. meidanal berkata:

    Saya meudanal, kuliah jurusan peternakan universutas sebelas maret surakarta. Mohon bantuannya untuk mencarikan orangtua / kakak asuh untuk membiayai perkuliahan saya. Mohon sangat bantuannya. Ayah saya hanya buruh n ibu kerja serabutan, mohon bantuannya (085842048835)

  4. Audrey Hutuely berkata:

    halo . aku audrey umur 19thn .aku sedang mencari orangtua angkat yg mau membiayai kuliah ku.aku lulusan smk perhotelan dan sekarang sedang bekerja di hotel . terima kasih Gbu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s