Austin oh Austin…


Bendera Texas dan Amerika bersanding di bandara Austin. (Foto: Yudha PS)

Bendera Texas dan Amerika bersanding di bandara Austin. (Foto: Yudha PS)

Kota ketiga yang saya singgahi adalah Austin, Texas. Di Amerika, Austin termasuk kota menengah, yaitu tidak rame, tidak juga sepi. Di kota ini, stamina saya dan teman-teman lainnya sudah mulai melemah. Contohnya saja, di pertemuan pagi hari, kami lebih sering menguap dan menggosok mata dibandingkan fokus pada pertemuan. Usai pertemuan pun, umumnya kami berada di kamar untuk sekedar menonton televisi atau langsung tidur.

Austin sendiri berada di wilayah selatan Amerika. Texas yang merupakan negara bagian tempat Austin berada, berbatasan langsung dengan Meksiko. Tak heran, bila di negara bagian ini banyak orang yang berasal, atau minimal bernenek moyang, orang Meksiko.

Karena berada di wilayah selatan, Austin jauh lebih hangat dari pada New York dan Washington. Di sini, salju tidak pernah turun. Di musim dingin, suhu paling rendahnya cuman sekitar 12 – 18 derajat Celcius, hampir sama dengan suhu di Bandung. Kami, orang-orang yang berasal dari Indonesia, memanfaatkan cuaca ini untuk berjemur dan merasakan hangatnya matahari.

Saya pribadi, tidak banyak berkeliling di Austin. Alasannya, kota ini tidak banyak tempat yang bisa saya kunjungi layaknya Washington DC. Meskipun begitu, di tempat inilah saya mengirimkan kartu pos ke teman-teman saya di Indonesia. Kebetulan, kantor pos cukup dekat dari hotel. Sehingga saya bisa mencuri-curi waktu untuk mengunjunginya.

Ada satu cerita lucu ketika saya mengunjungi kantor pos di Amerika. Usai saya membeli sejumlah perangko untuk mengirimkan kartu pos ke Indonesia, saya pun bertanya tempat lem berada. Sang petugas pos lalu menunjuk ke pojok kiri saya. Di tempat yang ditunjuk memang ada banyak amplop beserta kotak surat. Kemudian, saya mencari-cari lem di tempat yang ditunjuk petugas, tetapi tetap tidak menemukannya.

Saya akhirnya menanyakan kembali ke petugas pos dengan penekanan pada kata “Lem”, beserta penjelasan bahwa saya membutuhkan lem untuk menempelkan perangko. Dia terkejut sekaligus memandang agak sinis sembari bertanya, “Di Indonesia kamu masih membutuhkan lem untuk menempelkan kartu pos?” Dengan suara pelan saya menjawab “Yes” sambil mengangguk ragu. Kemudian, sang petugas pos mencontohkan cara menempelkan perangko kepada saya. Duh, bikin malu. hahahaha

Ternyata, perangko di Amerika tidak perlu lagi menggunakan lem. Layaknya stiker, perangko sudah dilengkapi lem di bagian belakangnya. Untuk menempelkannya, tinggal melepaskan bagian pelindung belakangnya kemudian menaruhnya di tempat yang diinginkan, dan menekannya guna memastikan perangko tertempel dengan baik.

Suasana usai menghabiskan sepiring salad dan salmon. Pertama dari sebelah kiri adalah Lillian Simmons, sang tuang rumah. (Foto: Yudha PS)

Suasana usai menghabiskan sepiring salad dan salmon. Pertama dari sebelah kiri adalah Lillian Simmons, sang tuang rumah. (Foto: Yudha PS)

Kenangan lainnya berkenaan dengan Austin adalah kesempatan untuk makan malam bersama sebuah keluarga di Amerika. Saya mengunjungi rumah ibu Lillian Simmons di kota Round Rock, tak jauh dari Austin. Ibu Lillian sendiri seorang wanita berusia 70-an tahun. Aslinya, beliau berasal dari Kuba yang pindah ke Amerika menjelang berkuasanya Fidel Castro. Kini, di usia senjanya, beliau mengajar Bahasa Spanyol dan Piano.

Ketika kami berkunjung, beliau tidak sendiri di rumahnya. Kami juga bertemu Sandy dan suaminya yang saya lupa namanya. Rumah Sandy hanya terpaut beberapa rumah dari tempat kami makan malam. Suaminya adalah seorang asisten dokter hewan yang bekerja paruh waktu. Sandy sendiri berusia sekitar 45 tahun, sedangkan suaminya sekitar 50 tahun. Mereka berdua kerap traveling ke beberapa negara, salah satunya adalah Jepang. Namun, mereka berdua belum pernah sekalipun berkunjung ke Indonesia. “May be next travel,” ucap Sandy.

Dalam makan malam tersebut, kami bercerita banyak soal Indonesia dan Amerika. Kami bertanya soal Amerika, mereka pun bertanya soal Indonesia. Umumnya yang mereka tanya soal Indonesia berkenaan dengan masyarakat Indonesia, kasus diskriminasi, dan umat beragamanya. Kami berbincang-bincang sekitar 2 jam, sebelum akhirnya harus berpisah.

Meskipun kecil, Austin adalah kota yang Indah. Satu hal, Austin adalah kota yang memiliki pemerintahan kota terbaik di Amerika. Tiga kali dalam sebulan, masyarakat dan pemerintahan kotanya berkumpul  di Balai Kota untuk membahas undang-undang kota yang akan disahkan. Pertemuan ini bertajuk Austin City Council Meeting. Dari jajaran pemerintah, hadir ketujuh dewan kota (City Council), Walikota (Major), dan Manajer Kota (City Manager).

Jembatan Congress Avenue. Pada musim tertentu, jembatan ini akan penuh dengan orang yang menyaksikan jutaan kelelawar terbang mencari makan di sore hari. (Foto: Yudha PS)

Jembatan Congress Avenue. Pada musim tertentu, jembatan ini akan penuh dengan orang yang menyaksikan jutaan kelelawar terbang mencari makan di sore hari. (Foto: Yudha PS)

Forum ini secara official digelontorkan oleh pemerintahan kota. Pun bukan pertemuan yang asal diselenggarakan. Setiap minggunya, pertemuan ini bisa menghabiskan waktu dari jam 10 pagi hingga jam 11 malam. Selain undang-undang kota yang akan disahkan, dalam pertemuan ini masyarakat juga bisa mengajukan usulan atau mengeluhkan permasalahan yang terjadi di Austin. Malah, seringkali, usulan dan keluhan yang disampaikan masyarakat pada akhirnya menjadi undang-undang kota. Untuk mengeksplorasi lebih jauh tentang kota ini, silahkan menggalinya di situs kota.

Hal menarik lainnya dari kota Austin adalah kulinernya yang berupa barbeque atau daging sapi panggang. Penduduk yang berasal dari Austin akan menyatakan bahwa barbeque yang dimiliki kotanya adalah yang terbaik di Amerika. Tentunya, bukan tanpa protes dari kota lain. Orang dari Kansas City juga mengklaim hal yang sama, bahwa barbeque mereka yang terbaik dibandingkan Austin. Wajar saja, kedua daerah ini memang daerah kantong produsen sapi. Sehingga persediaan daging sapi mereka berlebih dan murah serta bisa mengeksplorasi sajian panganan dari daging sapi.

Saya mencoba sajian barbeque Austin melalui restoran Iron Works di bilangan jalan Red River. Banyak yang bilang, daging di sini adalah yang terbaik di kota Austin. Dari segi porsi, sangat berlimpah. Tanpa nasi pun, saya sudah kenyang makan barbeque dari restoran ini. Harganya pun cukup mahal untuk ukuran Amerika, yaitu hanya 8 dollar saja. Di sini, harga segitu adalah harga rata-rata makanan menengah. Dan dengan harga yang menengah, Iron Works menyajikan barbeque dengan rasa istimewa.

Austin juga punya pemandangan alam yang selalu dinantikan oleh banyak orang di ibu kota negara bagian Texas ini. Setiap tahunnya, jutaan kelelawar bermigrasi ke dan dari kota ini. Setiap tahunnya pula, ribuan orang duduk di sungai dan bersiaga di atas jembatan pada sore hari untuk melihat kelelawar-kelelawar ini keluar mencari makan. Umumnya, lokasi yang sering dijadikan orang-orang untuk menyaksikan fenomena ini adalah jembatan Congress Avenue.

Bahkan, untuk melindungi kelelawar ini, semua jembatan yang dibangun pemerintah di Austin dan sekitarnya menyediakan jeruji tepat di bawah jembatan yang dipasang mendatar. Jeruji ini berfungsi sebagai tempat bergantungnya kelelawar pada siang hari. Sehingga mereka bisa menikmati waktu migrasinya selama di Austin.

Persinggahan di Austin, membawa kami juga pergi ke San Antonio, kota sebelah selatan Austin. Perjalanan menuju kota ini dari Austin membutuhkan waktu sekitar 1,5 jam dengan mobil pribadi. Di sana, panitia program memperkenalkan kami dengan objek wisata bersejarah benteng Alamo. Di tempat ini, pada 23 Februari hingga 6 Maret 1836 terjadi pertempuran Alamo. Ketika itu, 200 pasukan negara bagian Texas mempertahankan benteng Alamo dari serbuan 1800 pasukan Meksiko yang dipimpin oleh Antonio López de Santa Anna.

San Antonio River Walk. Tempat ini cocok untuk menikmati sore hingga petang di San Antonio, Texas. (Foto: Yudha PS)

San Antonio River Walk. Tempat ini cocok untuk menikmati sore hingga petang di San Antonio, Texas. (Foto: Yudha PS)

Malangnya, pasukan bantuan dari negara bagian lain tidak kunjung datang. Dengan teknologi pertempuran pada zaman itu, 1 orang melawan 9 orang adalah sesuatu yang sulit. Sehingga kekalahan pun tak terelakan. Dalam peristiwa tersebut, 200 pasukan negara bagian Texas gugur. Sedangkan 600 orang dari pasukan Meksiko tewas dalam pertempuran.

Tak jauh dari benteng Alamo, terdapat San Antonio River Walk, sebuah sungai yang kanan dan kirinya berdiri restoran-restoran. Tempat ini menjadi salah satu tujuan wisata di San Antonio. Pengunjung bisa menikmati sore dan sungai dengan duduk sembari menikmati hidangan yang tersedia. Bagi yang ingin menyusuri sungai, ada 2 cara, bisa dengan berjalan kaki atau naik perahu yang disediakan oleh pengelola. Sekali naik perahu, pengunjung harus merogoh kocek sekitar 8 Dollar. Sedangkan untuk berjalan kaki, pengunjung harus berjibaku dengan lelah dan keringat. hahaha

Beberapa kawan Indonesia peserta program yang turut berkunjung sering menggelontorkan candaan bahwa San Antonio River Walk adalah Ciliwung masa depan. Meskipun candaan, tetapi kami berharap pengelola kota di Indonesia mau dan mampu menata sungai-sungai di Indonesia menjadi lebih bersih, lebih baik, dan enak dikunjungi.

Meskipun tidak seberkesan Washington DC, tetapi kota ini tetap saya kenang. Terima kasih Austin, terima kasih San Antonio, terima kasih Texas, terima kasih Amerika. Semoga saya bisa berkunjung ke kota ini lagi lain waktu. Amin…***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s