Singgah di New York City


New York City (Foto: Yudha PS)

Pada Sabtu (2/2) lalu, saya menginjakkan kaki di New York City. Orang mengenal kota ini sebagai pusat perdagangan dunia. Dan di kota ini pula, sebuah tragedi kemanusiaan untuk Amerika terjadi pada 2011 silam. Ketika dua buah pesawat jet komersial menabrak dua menara kembar World Trade Center pada 11 September 12 tahun silam. Tragedi ini menewaskan ribuan orang dan menumbangkan gedung lambang perdagangan dunia tersebut. Orang menyebut tragedi tersebut sebagai 911.

Usai lepas landas 45 menit dari Washington DC, saya tiba di New York pada tengah hari. Cuaca di kota ini sama dinginnya dengan Washington DC, sekitar -2 derajat Celcius saat itu. Namun, bagi saya yang sudah seminggu berada di cuaca musim dingin Amerika Utara, sudah mulai mampu beradaptasi. Seringkali, bila suhu naik 2 derajat Celcius di atas nol, kami bisa merasakan bahwa udara cukup hangat.

Sesaat sebelum pesawat mendarat di Bandara Laguardian, ada pengalaman yang cukup berkesan sekaligus mendebarkan. Sebelum mendaratkan rodanya di run way, pesawat umumnya akan berbelok tajam sekitar 90 derajat lebih dengan ketinggian cukup rendah, yaitu sekitar 50 – 100 meter dari permukaan tanah. Padahal, jarak antara titik pesawat berbelok dengan ujung landasan pesawat sudah cukup dekat, mungkin sekitar 1 – 2 Kilometer. Bagi saya yang seringkali bermain flight simulator, membelokan pesawat besar untuk mendarat dengan radius cukup dekat seperti ini sangat sulit. Salut untuk para pilot yang berhasil mendaratkan pesawatnya di bandara Laguardia New York City.

Usai tiba di hotel dan makan siang, saya langsung berpamitan untuk menjelajahi New York City berbekal peta yang disediakan di hotel. Saya sendiri di New York City menginap di W 36th Street, antara 8th Street dan 9th Street. Ternyata, hotel saya cukup dekat dengan pusat keramaian New York City. Beberapa di antaranya adalah Times Square dan Broadway.

Sore itu, saya menyempatkan diri untuk mengunjungi toko buku Barnes and Noble di bilangan 5th Street. Karena, buku yang saya cari tidak selalu ada di Washington DC. Ternyata, ketika saya mengunjungi Barnes and Noble di New York City pun belum tentu menemukan buku yang saya cari. Apalagi untuk buku-buku berkaitan dengan media dan jurnalisme yang jarang sekali dikonsumsi masyarakat Amerika.

Hasilnya, saya dirujuk untuk pergi ke toko buku Barnes and Noble yang khusus menyediakan buku-buku untuk keperluan perkuliahan. Letaknya di daerah down town, sekitar persimpangan antara 18th Street dan 5th Street. Meskipun lebih lengkap, tetapi saya hanya berhasil mendapatkan 3 buku yang saya inginkan. Padahal di daftar belanja buku saya, ada sekitar 10 buku yang ingin saya beli.

Karena malam sudah begitu larut dan saya harus berkumpul dengan teman-teman peserta lainnya jam 7 malam hari itu juga, akhirnya saya memutuskan untuk langsung kembali ke hotel. Agenda malam itu adalah menonton teater di bilangan Broadway.

Broadway di area Times Square (Foto: Yudha PS)

Broadway adalah jalan yang cukup terkenal di New York City. Di persimpangan antara Broadway dan 7th Street adalah areal terbuka yang dikelilingi gedung-gedung pencakar langit yang disebut sebagai Times Square. “Biasanya, pada malam pergantian tahun, orang akan berkumpul di sini dan menyaksikan bola raksasa dijatuhkan dari puncak gedung itu,” terang mas Hengky Chiok, entrepreter program IVLP, sembari menunjuk sebuah gedung yang cukup tinggi di Times Square.

Hanya sekitar 20 menit kami menikmati kerumunan orang dari segala penjuru dunia di Times Square. Layar-layar berukuran ratusan inchi, terpasang di beberapa gedung dan menampilkan berbagai iklan dan multimedia lainnya. Beberapa layar menyajikan interaktivitas dengan pengunjung Times Square. Misalnya saja sebuah layar berukuran 1/2 lapangan bulu tangkis yang memperlihatkan pengunjung Times Square di depannya. Para pengunjung kemudian bergaya sesuka hati mereka. Gaya yang paling ekstrem, akan diperbesar di layar.

Mendekati jam 20, kami langsung menuju teater Winter Garden yang terletak di jalan Broadway, tak jauh dari Times Square. Sedianya, kami akan menonton pertunjukan Mamma Mia. Naskah ini sudah 10 tahun lebih dipentaskan di teater tersebut. Bahkan, pada 2008 silam, naskah ini dibuat film dengan judul yang sama, Mamma Mia.

Mamma Mia sendiri merupakan teater musikal yang berkisah tentang Sophie Sheridan, seorang anak yang mencari ayah aslinya menjelang hari pernikahannya. Pasalnya, ibunya tidak pernah memberitahukan identitas ayahnya tersebut. Melalui buku harian ibunya, Sophie mulai mencari tahu identitas orang yang membuat ibunya mengandung dirinya. Kemudian, ditemukanlah 3 nama teman kencan ibunya selagi muda.

Sophie kemudian menyurati ketiga teman kencan ibunya ketika muda tersebut, yang besar kemungkinan telah membuat sang ibu mengandungnya. Di luar dugaan, ternyata ketiga pria tersebut hadir pada waktu yang bersamaan.

Puncak konflik terjadi ketika ketiga mantan teman kencan ibunya tersebut mengaku sebagai ayahnya. Berbalut tarian dan nyanyian, pementasan ini menjadi pertunjukkan teater yang tidak pernah bisa dilupakan penontonnya, khususnya saya. Sayangnya, saya tidak bisa mengambil gambar selama pertunjukkan karena hal tersebut dilarang oleh penyelenggara.

Menurut mas Hengky, pementasan Mamma Mia sendiri salah satu yang masih dipentaskan sejak lebih dari 10 tahun lalu, meskipun bukan yang terlama. Di teater lainnya di bilangan Broadway, naskah Lion King bahkan sudah dipentaskan selama 25 tahun, dan masih tetap menarik hingga saat ini, meskipun sudah dibuatkan film kartunnya. Naskah pertunjukkan populer lainnya yang masih juga dipentaskan di Broadway adalah Spiderman dan Batman.

Keesokan harinya, saya tidak banyak beraktivitas. Hanya saja berjalan-jalan di sekitar Central Park kemudian kembali ke hotel dan beristirahat. Sejujurnya, saya tidak terlalu suka dengan New York. Pemandangannya monoton hanya gedung, gedung, dan gedung. Pohon dan tumbuhan serta danau bisa kita temui di beberapa taman kota, yang sebenarnya jarang sekali ditemukan.

Meskipun begitu, New York City masih jauh lebih baik dari kota-kota besar di Indonesia. Di kota ini, pemerintahnya masih merawat taman-taman untuk paru-paru kota. Taman terbesar di kota ini adalah Central Park. Ukurannya lebih kurang setara dengan 480 lapangan sepak bola. Di dalamnya terdapat hutan dan danau serta ruang terbuka hijau lainnya yang berseling dengan tempat duduk untuk melepas penat.

https://i2.wp.com/farm9.staticflickr.com/8187/8449949114_1dcfbb30d8_n.jpg

Central Park, New York City (Foto: Yudha PS)

New York City juga memberlakukan sistem satu arah untuk lalu lintas di dalam kotanya. Hal ini, menurut saya efektif guna menekan angka kemacetan di New York.

Pejalan kaki juga memiliki hak yang sama dengan di Washington DC. Ketika lampu lalu lintas berubah merah dan pejalan kaki berhak untuk melintas, kendaraan yang akan berbelok umumnya berhenti dan memberi kesempatan kepada para pejalan kaki. Namun, pejalan kaki di sini sering juga sembrono. Ketika lampu masih hijau tetapi lalu lintas sedang sepi atau mobil masih agak jauh, mereka sering menyeberang jalan.

Di New York City sendiri, tidak banyak pengalaman yang menarik bagi saya. Bahkan, saya ingin cepat-cepat keluar dari kota ini dan pindah ke kota lain. Hal ini berbeda dengan Washington DC. Saya suka sekali dengan ibu kota Amerika tersebut dan berharap bisa tinggal lebih lama di sana. Namun di New York City, saya lebih senang bila bisa cepat-cepat ke luar. Mungkin karena jarang pohon dan pemandangannya hanya didominasi dengan gedung saja.

Untungnya, di New York City hanya 4 hari. Dan kini, saya sudah berada di Austin, Texas. Secara tata kota, Austin lebih ramah. Kota yang cukup kecil dengan banyak ruang terbuka hijau dan bangunan yang tidak terlalu tinggi. Review tentang kota ini akan saya coba dalam beberapa hari ke depan.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s