Berkeliling Washington DC


Puncak Capitol Building samar-samar terlihat dari kawasan sekitar Hotel Washington. (Foto: Yudha PS)

Aktivitas saya di Washington DC pada Minggu, 27 Januari 2013 adalah jalan-jalan mengelilingi pusat kota. Disebut jalan-jalan, memang karena saya berjalan kaki mengelilinginya. Lengkap dengan kaki yang gempor karena sudah lama tidak terlatih dan kaki yang gatal-gatal lantaran dingin yang menerpa.

Saya memulai aksi berkeliling Washington DC pada jam 10 waktu sini. Udara yang menerpa sudah minus 2 derajat. Di mana-mana, sisa-sisa salju masih tampak. Cuaca cerah yang terus menerpa Washington DC terus menerus, tidak merubah suhu udara menjadi lebih hangat. Tetap saja dingin menyelimuti tubuh ini.

Pada 3 jam pertama, saya berkeliling Washington DC bersama rekan-rekan peserta International Visitor Leadership (IVLP) yang lainnya. Tiga jam pertama ini memang merupakan agenda yang disediakan mas Hengky dan mas Irawan selaku pendamping peserta. Sedangkan yang menjadi tour guide melancong kali ini adalah Monica, seorang mahasiswa yang saya lupa mencatat jurusan dan kampus tempat dia berkuliah. Hehe

Menurut Monica, perjalanan berwisata ini penting untuk mengetahui sejarah Amerika. “Kalian bisa merasakan bagaimana Amerika di bangun dengan melihat dan merasakan apa yang terpapar di tempat-tempat (monumen) yang akan kita kunjungi ini,” sambut Monica.

Tempat pertama yang kami kunjungi adalah Gedung Putih, tempat presiden Amerika berkantor dan berdiam diri. Gedung ini dibangun pada masa presiden George Washington. “Meskipun di bangun olehnya, tapi George Washington tidak pernah menempati gedung ini,” papar Monika. Gedung ini juga pernah dibakar oleh tentara Inggris pada 1814. Pembakaran ini membuat Gedung Putih berwarna hitam. Setelah direnovasi, gedung ini kemudian dicat putih, sehingga orang menyebutnya Gedung Putih. Gedung Putih terletak di utara George Washington Monumen.

Tak jauh dari Gedung Putih terletak Hotel Washington, hotel pertama di Washington DC. Kami berjalan sedikit untuk kembali ke mobil yang terparkir tak jauh dari Hotel Washington dan melanjutkan perjalanan ke Capitol Building, tempat bertemunya anggota kongres dari seluruh penjuru Amerika. Tempat ini berada di sayap timur National Mall.

Bila Gedung Putih merupakan tempat bagi eksekutif beraktivitas, Capitol Building adalah tempat beraktivitasnya legislatif. Secara topografi, letak Capitol Building lebih tinggi daripada Gedung Putih. “Ini melambangkan bahwa legislatif lebih tinggi dari pada eksekutif. Rakyat lebih tinggi dari pemerintah,” papar Monica. Banyak tempat di Washington DC yang memiliki makna-makna simbolis seperti ini. Simbol-simbol ini umumnya menceritakan tentang sejarah Amerika.

Patung Alysses S. Grant, presiden ke-18 Amerika. Di belakang patung tersebut berdiri kokoh Capitol Building. (Foto: Yudha PS)

Di depan Capitol Building terdapat patuh Ulysses S. Grant, presiden ke-18 Amerika. Patung ini menghadap ke Lincoln Memorial di sebelah barat National Mall, membelakangi Capitol Building. Patung Grant digambarkan menggunakan kuda sambil lurus menghadap depan. Hal ini menggambarkan bahwa Grant merupakan sosok yang memiliki ikatan dengan Abraham Lincoln, presiden ke-16 Amerika. Karena, ketika Lincoln menjadi presiden, Grant merupakan jenderalnya, bahkan pernah menjadi wakil presidennya. Mungkin, posisi ini memperlihatkan bahwa Lincoln banyak mempengaruhi Grant. Posisi Grant yang membelakangi Capitol Building juga menyimbolkan bahwa presiden ini kerap membangkangi kongres pada masanya. Sehingga posisi patungnya dibuat menghadapi Lincoln dan membelakangi Capitol Building.

Destinasi selanjutnya adalah Martin Luther King Memorial. Menuju tempat berikutnya, kami melewati Jefferson Memorial yang berada tepat di selatan George Washington Monument. Thomas Jefferson lengkapnya, adalah presiden ke-3 Amerika. Dia merupakan salah satu pendiri Amerika dan penulis prinsip Declaration of Independence.

Jefferson Memorial sendiri merupakan bangunan berbentuk lingkaran dengan banyak pilar di sekelilingnya. Di dalamnya terdapat patung perunggu Jefferson setinggi 5,8 meter. Patung ini menghadap gedung putih yang terletak tepat di depannya. Kami memang tidak sempat masuk ke sana, sehingga hanya melihatnya dari kejauhan.

Tiba di Martin Luther King Memorial, Monica langsung menceritakan terkait tokoh pejuang persamaan hak kulit hitam ini. Dari sekitar 19 memorial utama yang ada di Washington DC, hanya Martin Luther King yang bukan presiden. “Hal ini menunjukkan bahwa Martin memiliki andil besar dalam membentuk bangsa ini,” tandas Monica.

Dalam memorial ini, terdapat sebuah patung Martin Luther King berwarna putih yang keluar dari Mountain of Despair. Di belakang patung Martin ini menempel sebuah batu yang disebut Stone of Hope. Hal ini, menurut Monica, menggambarkan bahwa Martin merupakan sosok yang mampu membawa masyarakat kulit berwarna, lebih spesifik lagi kulit hitam, dari Mountain of Despair ke Stone of Hope.

Di kanan-kiri Mountain of Despair terdapat kutipan-kutipan pidato-pidato Martin Luther King terkait persamaan hak antara kulit hitam dan kulit putih. Kutipan-kutipan pidato ini terpahat di tembok sepanjang 140 meter.

Monica kemudian memperlihatkan bahwa ada garis khayal antara Jefferson Memorial, Marting Luther King Memorial, dan Lincoln Memorial. Garis khayal ini disebut Human Right Line. Pasalnya, “Ketiga orang ini (Jefferson, Martin, dan Lincoln) adalah pejuang-pejuang hak asasi manusia,” papar Monica. Martin sendiri adalah pejuang hak asasi kulit berwarna, sedangkan Jefferson pejuang hak asasi kemerdekaan, dan Lincoln adalah pejuang hak asasi yang menyerukan pembebasan perbudakan.

Situs selanjutnya adalah Lincoln Memorial. Bangunan persegi panjang ini mirip seperti kuil Partenon, Yunani. Di dalamnya terdapat patung Abraham Lincoln yang terbuat dari pualam berwarna putih. Patung Abraham Lincoln setinggi 5,8 meter ini tengah duduk memandang ke arah Capitol Building. Tangan kanannya terbuka, sedangkan tangan kirinya tertutup. Menurut Monica, hal ini menggambarkan bahwa Lincoln merupakan sosok yang memiliki dualisme. Di satu sisi, dia orang yang tegas, yang disimbolkan dengan tangan kiri tertutup. Sedangkan di sisi lain dia adalah sosok yang fleksibel, yang disimbolkan dengan terbukanya tangan kanan Lincoln.

Lincoln Memorial. (Foto: Yudha PS)

Lincoln Memorial yang berbentuk seperti Kuil Partenon di Yunani. (Foto: Yudha PS)

Di sekeliling bangunan terdapat 36 pilar. Pilar-pilar ini menyimbolkan terdapat 36 negara bagian yang bergabung dengan Amerika ketika Lincoln wafat. Sedangkan di bagian atas bangunan tertulis 48 negara bagian ketika monumen ini dibangun. Sedangkan 2 negara bagian lagi, tertulis di lantai depan Lincoln Memorial ini.

Tepat di depan Lincoln Memorial terdapat Reflecting Pool. Kolam ini mampu menampilkan bayangan Lincol Memorial bila dilihat dari sebelah timur memorial. Bila melihat ke arah timur dari Lincoln Memorial, kolam ini akan memperlihatkan George Washington Monument. Kolam ini juga sebagai lokasi film Gump Forrest yang dibintangi oleh Tom Hank.

Tak jauh dari Lincoln Memorial, kami menyempatkan diri berkunjung ke Vietnam Veteran Memorial. Memorial ini didedikasikan untuk 50 ribu tentara yang gugur  dan hilang di perang Vietnam. Vietnam Veteran Memorial ini terdiri dari 3 bagian, yaitu patung tentara Amerika, Vietnam Women Memorial, dan dinding Vietnam Veteran Memorial.

Dinding Vietnam Veteran Memorial sendiri berisi 50 ribu nama tentara Amerika yang gugur dan hilang di perang Vietnam. Dinding ini berbentuk huruf “V” sepanjang 75 meter. Dinding ini dimulai dengan tinggi 20 Sentimeter dan yang terdalam adalah 3 meter, tepat di tengah huruf “V”. Kemudian dinding ini akan mengecil kembali setinggi 20 meter. Nama-nama tentara yang gugur dan hilang ini dimulai dari tengah huruf “V” bagian kanan, kemudian menjalar hingga dinding terpendek di sebelah kanan. Nama-nama tentara kemudian berlanjut ke dinding terpendek di sebelah kiri, dan berakhir kembali di tengah huruf “V”.

Di depan Dinding Vietnam Veteran Memorial terdapat 3 tentara Amerika yang masih menenteng senjata jenis M-16. Mereka memandang teman-teman mereka yang sudah wafat di perang Vietnam. Vietnam Veteran Memorial sendiri berada di area barat National Mall.

Semua patung dan memorial utama yang ada di Washington DC berpusat di George Washington Monument. Tugu setinggi 167 meter ini berdiri kokoh tepat di pusat National Mall. Selesai dibangun pada 1884, dan didedikasikan untuk presiden pertama Amerika, George Washington.

George Washington Monument mulai dbangun pada 1848. Pembangunannya tertunda pada 1854 hingga 1877 lantaran perang saudara tengah melanda Amerika ketika itu. Penundaan pembangunan ini menjadikan George Washington Monument memiliki warna batu pualam yang berbeda pada ketinggian 46 meter, atau 27 persen dari total ketinggian saat ini.

Monica menyampaikan pengunjung bisa menaiki puncak teratas. Namun, hal ini tidak bisa dilakukan sejak gempa 2010 silam yang membuat kerusakan di beberapa struktur utama gedung. Saat ini, George Washington Monument tengah direnovasi untuk membaiki struktur gedung yang rusak.

George Washington Monument saat matahari akan terbenam. (Foto: Yudha PS)

George Washington Monument saat matahari akan terbenam. (Foto: Yudha PS)

George Washington Monument sendiri ada tugu yang paling dihormati oleh masyarakat Washington DC. Hal ini sebagai ungkapan terima kasih masyarakat Amerika terhadap mendiang presiden pertama Amerika, George Washington. Bentuk penghormatan ini, menurut Monica, salah satunya adalah ketinggian gedung-gedung di Washington DC tidak boleh lebih tinggi dari George Washington Monument. Dan hal ini benar-benar ditaati benar oleh masyarakat Washington DC.

George Washington Monument juga menjadi pusat dari National Mall. “Bila dilihat dari atas, National Mall ini berbentuk salib,” papar Monica. Sisi terpanjang salib berujung di Capitol Building. Sedangkan sisi atas salib adalah Lincoln Memorial. Adapun sisi kanan dan kiri salib masing-masing Gedung Putih dan Jefferson Memorial. Mungkin bentuk salib pada National Mall merupakan pengejawantahan dari dasar pendirian Amerika yang berdasarkan Tuhan.

Menjelang jam 13 waktu setempat, tur mengelilingi Washington DC berakhir. Selepas itu adalah acara bebas. Sehabis makan siang, saya sendiri langsung berpamitan. Berbekal peta yang saya cetak di Bandung, saya mengelilingi Washington DC untuk berjalan kaki. Target utama saya adalah museum dan toko buku.

Saya mulai rangkaian perjalanan menuju museum National Geographic di perempatan antara M St NW dan 17th St NW. Di depan museum, antrian pembeli tiket cukup panjang. Namun, setelah saya melihat harga tiketnya yang mencapai $8, saya langsung mengurungkan diri. Harga tiket segitu, setara dengan makanan termurah di Washington DC yang bisa saya temui. Akhirnya saya mencoba berjalan ke tempat lain.

Saya mengarahkan diri menuju Dupont Cicle. Tujuannya adalah toko Book A Million. Di tempat ini saya hendak mencari beberapa buku tentang Media dan Jurnalisme. Namun, buku dengan tema tersebut cukup langka di toko kecil tersebut.

Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke toko buku Barnes and Noble yang terletak di perempatan antara 12th St NW dan E st NW. Toko buku ini cukup besar dan memiliki kafe untuk orang duduk dan membaca buku. Di toko ini, orang boleh membaca buku di kafe tanpa membeli bukunya. Beberapa orang juga terlihat tengah membacanya di lantai yang diselimuti karpet tebal. Tidak hanya membaca, mereka juga mencatat isi buku yang mereka perlukan. Dan kegiatan ini legal dilakukan.

Satu hal yang saya senangi dari pelayan-pelayan di Washington DC adalah keramahan mereka dalam melayani pengunjung. Ketika saya ke kasir untuk menanyakan buku yang saya cari, mereka langsung melayani dengan ramah, berusaha mencarikan barang yang saya punya, dan sebisa mungkin memberikan informasi yang saya butuhkan dengan lengkap.

Dalam melayani pengunjung, umumnya mereka lakukan seorang demi seorang, dan itu sangat ketat sekali. Sang kasir tidak segan-segan menyampaikan bahwa dirinya tengah melayani pengunjung dan belum bisa melayani pengunjung lainnya. “Saya sedang melayani pengunjung, silahkan menunggu hingga selesai,” begitu tandas sang kasir.

Pun ketika saya sedang bertanya dan ada pengunjung lainnya yang hendak bertanya pula, sang kasir pun menyuruh sang pengunjung setelah saya untuk menunggu sebentar. Ketika mendapatkan peringatan untuk menunggu pun, pengunjung bukannya marah, tetapi meminta maaf kemudian menunggu. Benar-benar menakjubkan toleransi mereka.

Yudha Was Here at National Mall Pool, USA. (Foto: Yudha PS)

Ada satu hal lagi yang berkesan untuk saya ketika di toko buku. Saya adalah orang yang tidak suka didekati pelayan yang menanyakan keperluan saya ketika saya sedang melihat-lihat barang. Nah, ketika di toko buku Barnes and Noble, saya tengah melihat-lihat tablet yang dijual untuk membaca buku. Kemudian, seorang pelayan datang dan bertanya, “Ada yang bisa saya bantu?” Kemudian saya menjawab bahwa saya sedang melihat-lihat saja. Yang membuat saya terkesan, sang pelayan kemudian bilang maaf, mempersilahkan saya meneruskan aktivitas “melihat-lihat” dan meninggalkan saya.

Hal ini tentunya berbeda dengan di Indonesia. Umumnya, pelayan di Indonesia akan memandang sinis kepada orang yang hanya “melihat-lihat” saja, kemudian mengawasinya terus. Atau bahkan sang pelayan di Indonesia akan memulai percakapan untuk menjerumuskan orang yang sedang “melihat-lihat” agar membeli produk tersebut. Meskipun begitu, saya jadi ingin mencoba mengembangkan pelayanan a la pelayan Washington DC di Indonesia. Semoga ada waktunya.

Kembali ke tur keliling Washington DC dengan berjalan kaki. Di toko buku Barnes and Noble pun saya tidak menemukan buku yang saya cari. Akhirnya saya memutuskan untuk mengunjungi beberapa museum yang letaknya tak jauh dari toko buku. Meskipun begitu, ketika sudah di depan museum, saya cenderung mengurungkan niat untuk berkunjung. Alasannya, museum yang saya kunjungi semuanya berbayar. Adapun museum yang saya kunjungi tetapi mengurungkan diri untuk masuk adalah Ford’s Theatre, International Spy Museum, dan National Museum of Crime and punishment.

Akhirnya, saya memutuskan untuk pergi ke National Air and Space Museum. Museum ini memang gratis dan berada di bawah pengelolaan yayasan pendidikan Smithsonian Institute. Hampir 1 jam saya berkeliling di museum dan melihat-lihat berbagai perkembangan kedirgantaraan Amerika. Namun, saya agak tidak terlalu menikmati. Alasannya, museum sudah hampir tutup, dan saya tidak bisa menikmati sesuatu yang cukup tergesa-gesa.

Menjelang matahari terbenam, saya akhirnya memutuskan untuk kembali ke hotel. Cukup jauh saya berjalan, sekitar 15 Kilometer. Hitung-hitung olah raga sambil mencari keringat yang pada musim dingin ini tidak tampak sedikit pun.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s