IVLP, Amerika, dan Inspirasi Demokrasi


IVLP (Foto: photos.state.gov)

IVLP (Foto: photos.state.gov)

Dalam hitungan pekan, insyAllah saya dan 6 orang lainnya dari Indonesia akan berkunjung ke Amerika sebagai peserta International Visitor Leadership Program (IVLP). Selama 3 pekan, saya diajak oleh USA Department State untuk mengenal Amerika dengan fokus Young Leaders Working for Peaceful Change and Democratic Societies.

Peserta program akan diajak untuk mengenal keberagaman etnis dan agama di Amerika serta sistem politik yang dibangun pemerintahannya untuk mengakomodasi keberagaman ini. Peserta juga akan diajak untuk mengenal partisipasi masyarakat dan kaum muda Amerika dalam ranah demokrasi dan pengambilan kebijakan oleh negara.

International Visitor Leadership Program (IVLP) sendiri merupakan program pertukaran profesional yang berada di naungan U.S. Department of State’s Bureau of Educational and Cultural Affairs. Program ini dirancang untuk membangun saling pengertian antara Amerika dan negara lainnya melalui kunjungan yang merefleksikan minat dari peserta profesional dan sasaran kebijakan luar negeri Amerika. Adapun pesertanya adalah pembuat opini dalam pemerintahan, kebijakan publik, media, pendidikan, ketenagakerjaan, seni, dan bidang kunci lainnya di negara asalnya. Peserta sendiri dipilih oleh kedutaan besar Amerika yang tersebar di seluruh dunia.

Saya sendiri mewakili Salmanitb.com dalam program ini. Sedangkan peserta lainnya berasal dari berbagai organisasi di seluruh Indonesia, seperti Muhammadiyah; Sekretariat Jawatan Keadilan, Perdamaian, dan Keutuhan Ciptaan Fransiskan Papua (SKPKCFP); Komisi Nasional Pemuda Indonesia (KNPI); Forum Komunikasi Lintas Iman (Forkasi) Gorontalo; Jaringan Perempuan Fakfak (JPF); dan Human Rights Working Group Indonesia.

Selama di Amerika, saya akan melakukan dialog dengan masyarakat Amerika yang berkecimpung dalam organisasi politik dan kemasyarakatan. Ada 5 kota dari 5 negara bagian yang berbeda yang akan saya dan teman-teman dari Indonesia kunjungi, yaitu: Washington DC, New York City di New York, Austin di Texas, Kansas City di Missouri, dan Seattle di Washington.

Washington DC (Foto: cheapdcinternhousing.com)

Washington DC (Foto: cheapdcinternhousing.com)

Perjalanan saya di Amerika rencananya akan dimulai dari Washington DC. Di ibu kota Amerika tersebut, peserta akan diajak berdiskusi mengenai federalisme di Amerika, Pemerintahan Amerika dan masyarakat sipil, dan El Pluribus Unum yang artinya lebih-kurang: meski beragam, tetap satu.

Beberapa lembaga dan tokoh yang akan kami temui di Washington DC adalah Eric Bjornlund, Georgetown University’s Masters Program in Democracy and Governance; Dr. Jeremy Mayer; US Department of State; US Department of Justice; White House Office of Public Engagement; Ms. Luisa Boyarski dari Georgetown Center for Public and Nonprofit Leadership (CPNL); National Endowment for Democracy; Dr. Sue Gunawardena dari Freedom House; dan Ms. Ginny Thornbugh dari Interfaith Disability Advocacy Coalition (IDAC).

Selain itu, kami juga rencananya akan mengunjungi beberapa museum di Washington. Selain melakukan tur di museum bersangkutan, peserta juga akan melakukan diskusi dengan staf museum berkenaan dengan proses demokrasi di Amerika. Beberapa museum yang akan kami kunjungi adalah National Museum of American Indian dan Newseum.

Di National Museum of American Indian, peserta diajak berdiskusi berkenaan isu masyarakat asli Amerika dan Hawai serta proses integrasi mereka dengan pemerintahan federal Amerika. Sedangkan di Newseum, peserta diajak berdiskusi dengan Freedom Forum yang akan mengusung tema hubungan media sebagai “wasit” antara pemerintah dan masyarakat sipil serta dampak perkembangan media baru terhadap hubungan ini.

Selesai dari Washington DC, peserta akan mengunjungi New York City. Di kota terbesar di negara bagian New York ini, peserta akan diajak berdiskusi mengenai peran organisasi antar keyakinan (interfaith) dalam mempromosikan perubahan demokrasi. Selain itu, peserta juga akan diajak berdiskusi berkenaan pemuda dalam mengarahkan inisiatif antar keyakinan.

Kami diagendakan bertemu dengan Imam Shamsi Ali dari Islamic Cultural Center of New York. Di New York, beliau juga memegang amanah sebagai anggota Dewan Penasihat untuk beberapa organisasi antar keyakinan. Bersama beliau, kami akan mendiskusikan perihal misinya dalam menyatukan media, organisasi kepemudaan, dan komunitas lainnya untuk mengirimkan pesan toleransi dan tanggung jawab sosial ke kalangan organisasi antar keyakinan di New York.

Tokoh agama lain yang akan kami temui adalah Rabbi Arthur Scneier dari Appeal of Consciense Foundation. Yayasan yang dibangun beliau merupakan organisasi antar keyakinan yang memadukan koalisi antara sektor bisnis dan pemimpin religius untuk mempromosikan resolusi perdamaian, toleransi, dan konflik etnis. Bersama beliau, peserta diajak berdiskusi tentang pentingnya merangkul stakeholder di luar organisasi komunitas religius untuk mengefektifkan promosi terkait dialog dan resolusi perdamaian.

Di New York City kami juga berencana bertemu dengan organisasi kepemudaan antar keyakinan yang memiliki fokus untuk menumbuhkan inisiatif di komunitas lokal. Dengan mereka, kami akan berdiskusi perihal dampak organisasi kepemudaan dalam pengembangan masyarakat sipil yang kuat.

Kota Austin, Texas. (Foto: johnrrogers.com)

Kota Austin, Texas. (Foto: johnrrogers.com)

Setelah New York City, hari berikutnya kami akan berkunjung ke Austin, Texas. Pemerintah kota Austin termasuk unik di Amerika. Pasalnya, mereka sudah mempersiapkan generasi penerus dalam aktivitas politiknya sejak di bangku SMA.

Di kota ini, saya dan kawan-kawan lainnya akan diperkenalkan tentang akuntabilitas organisasi pemerintahan, kebebasan berekspresi, dan pemimpin muda dalam kelas di sekolah menengah. Adapun lembaga dan tokoh yang akan kami temui, antara lain: Eddie Rodriquez dari Texas State Representative, Texas Sunset Commision, Leadership Austin, dan Dr. James Henson dari University of Texas di Austin.

Kami juga diagendakan untuk bertemu dengan pelajar Amerika dari Westwood High School International Baccalaureate Program. Rencananya, kami akan berdiskusi dengan pelajar sekolah menengah terkait kepemimpinan. Para pelajar akan berbagi pandangan tentang kepemimpinan, peluang kepemimpinan untuk pemuda Amerika, serta pandangan mereka terkait tanggung jawab dan peran pelajar sekolah menengah di masyarakat.

Kami juga akan diajak melihat langsung musyawarah Austin City Council antara masyarakat dan pemerintah lokal. Dalam pertemuan ini, masyarakat memiliki peluang untuk mengungkapkan segala hal terkait isu lokal kepada pemerintah lokal, termasuk protes atau ekspresi dukungan terhadap kebijakan pemerintah lokal.

Kota selanjutnya yang akan kami kunjungi adalah Kansas City, Missouri. Di kota ini, kami akan menggali lebih banyak tentang inisiatif pemerintah lokal untuk membantu pengembangan masyarakat, kerjasama publik dan swasta dan pembuatan LSM yang sukses, dan penyatuan pelayanan masyarakat. Fokus belajar kami di kota ini adalah kerjasama antara LSM dengan pemerintah negara bagian dan pemerintah kota untuk mencapai hasil yang positif dalam masyarakat.

Adapun lembaga dan tokoh yang akan kami temui, antara lain: Chamber of Commerce melalui Centurion Program for Young Business Professionals, Mid-America Regional Council, Kansas City Youth Advocacy Office untuk pembahasan terkait Kansas City Youth Commision, Kansas City Local Initiatives Support Corporation (LISC), Kansas City Indian Center, dan Youth Volunteer Corp.

Kami juga akan mengunjungi The Negro Leagues Baseball Museum, sebuah museum yang didedikasikan untuk mengenang perjuangan persamaan atlit Afrika dan Amerika. Pasalnya, orang-orang kulit hitam saat itu dilarang bermain dalam Major League Baseball karena ras mereka.

Seattle, Washington (Foto: starbasejet.com)

Seattle, Washington (Foto: starbasejet.com)

Kota terakhir yang akan kami kunjungi sekaligus sebagai penutup IVLP adalah Seattle di negara bagian Washington. Negara bagian Washington bukanlah Washington DC sang ibu kota negara Paman Sam. Kedua tempat ini kebetulan memiliki nama yang sama. Perbedaannya tampak dari lokasi geografisnya.Washington DC sendiri terletak di kawasan Pantai Timur, sedangkan negara bagian Washington justru terletak di Pantai Barat.

Di Seattle, kami akan diajak untuk mengeksplorasi tentang pengaruh lobi organisasi terhadap proses pengambilan keputusan, hukum negara lawan hukum federal, dan pemanfaatan media dalam pesan politik dan aktivitas akar-rumput. Beberapa tokoh dan lembaga yang akan kami kunjungi adalah: New Approach Washington, Prof. John McKay, Uplift International, Center for Women and Democracy, dan Our American Generation.

Di kota ini juga ada 2 lembaga yang akan mendiskusikan tema yang saya sukai dan tunggu-tunggu, yaitu New Media dan Citizen Journalism. Kedua tema itu akan didiskusikan oleh 2 lembaga yang berbeda, yaitu Fuse Washington dan Crosscut.com.

Fuse Washington sendiri adalah kelompok advokasi online yang bekerja untuk menyediakan kanal komunikasi dan pengorganisasian untuk negara bagian Washington. Caranya dengan memadukan antara alat komunikasi dan pengorganisasian online dengan model tradisional penyatuan masyarakat. Adapun capaiannya adalah peningkatan partisipasi masyarakat dalam proses politik dan demokrasi di Washington.

Bersama Fuse Washington, kami akan berdiskusi menyoal media baru dan aktivitas akar-rumput. Fuse Washington selaku narasumber akan memaparkan pengorganisasian dan komunikasi masyarakat yang inovatif berbasis internet.

Sedang Crosscut.com merupakan media penuntun (guide) harian masyarakat untuk mengkonsumsi berita-berita lokal, khususnya untuk kawasan Barat Laut Amerika yang mencakup negara bagian Washington, Oregon, Idaho, dan Montana. Posisi yang diambil Crosscut.com berangkat dari masyarakat Barat Laut Amerika yang kesulitan untuk membaca 2 atau 3 koran dalam sehari untuk mendapatkan informasi lantaran kesibukannya. Dalam hal ini, Crosscut.com membantu menemukan jurnalisme dan komentar lokal terbaik dari berbagai media dan blog di Amerika.

Crosscut.com (Foto: dlcache.com)

Crosscut.com (Foto: dlcache.com)

Selain sebagai penuntun, Crosscut.com juga berperan sebagai forum untuk penulis dan masyarakat untuk melaporkan dan mendiskusikan berita lokal. Cakupan berita Crosscut.com pun cukup luas, meliputi politik, bisnis, seni, dan gaya hidup.

Pun tidak sembarang jurnalisme yang diusung Crosscut.com. Media nirlaba ini berusaha menyajikan berita yang mendalam dan mendorong resolusi jangka panjang dari sebuah isu, bukan hanya sekedar konflik dan jalan buntu. Selain itu, media yang bermarkas di Seattle ini juga sangat terbuka terhadap ide dan cara baru dalam melihat masalah.

Rencananya, bersama Crosscut.com, kami akan mendiskusikan perihal masyarakat yang mengarahkan jurnalisme di era media baru. Tentang jurnalisme yang berada dalam area ketertarikan publik (public interest). Bagaimana pun, ide ini tengah berkembang dalam era media baru dan memiliki peran penting untuk memfungsikan demokrasi.

Terkait program ini, saya akan mempublikasikan kegiatan selama di Amerika di blog ini, baik dalam bentuk tulisan, foto, maupun video. Harapannya, semoga banyak inspirasi-inspirasi positif untuk membangun masyarakat di Indonesia dari kunjungan singkat selama di Amerika. Amin.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s