Hai, Sumatera Barat… ^_^


Kelokan alur jalan ini memang tidak asing bagi saya yang warga pulau Jawa. Namun, ini bukan Jawa, ini Sumatera. Ada suguhan lainnya yang dihidangkan kepada saya pagi itu. Seperti sajian selamat datang dari alam Sumatera yang baru saya tapaki pagi itu.

Di kanan-kirinya berdiri kokoh hutan lebat yang menyejukkan mata. Menghampar mengikuti bentangan alam yang umumnya merupakan daerah pegunungan. Bersambut dengan liku sungai berair jernih nan deras selebar lapangan tenis. Sesekali tampak Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) yang sedang bermain di lantai hutan dan Elang Hitam (Ictinaetus malayensis) terbang rendah menyusuri sungai. Hidangan dari alam yang tak henti-hentinya mengajarkan arti kehidupan kepada manusia.

Keelokan alam Sumatera memang sudah menyilaukan mata saya sejak berada di atas pesawat. Di sela-sela tumpukan awan yang bertumpuk rapat, pegunungan Bukit Barisan berdiri kokoh lengkap dengan hamparan hutan yang lebat dan luas. Menemani perjalanan saya tanpa putus. Dari atas sini, saya menebak-nebak lokasi yang tengah saya lewati. Berkali-kali juga saya bertanya-tanya nama gunung yang tampak menjulang dan danau-danau yang terobservasi dari atas sini. Namun, tetap tidak menemukan jawabannya.

Di tengah perjalanan dari Padang ke Bukit inggi, kami berhenti sejenak untuk sarapan. Sebuah restoran pinggir hutan menyambut kami dengan panganan khas Sumatera Barat. Saya langsung memesan Soto Padang dan Teh Taluang sebagai pembuka petualangan kami di Tanah Minang. Meski restoran ini hanya berdinding kayu dan beratap seng, tetapi rasa makanannya tidak sesederhana bangunannya. Rasanya sungguh luar biasa dan mewah bagi saya yang sudah kelaparan sejak dari Jakarta tadi.

Soto Padang sendiri terbuat dari racikan daging sapi kering yang dicampur bihun dibanjiri air kuah hangat. Nasi hangat bertabur bawang goreng menemani panganan saya pagi itu. Sesekali suara “krauk-krauk” di mulut terdengar begitu renyah. Tanda bahwa daging sapi kering tengah dilumat oleh gigi-gigi saya.

Kemewahan sarapan ini semakin lengkap dengan sajian Teh Taluang. Bukan teh biasa. Namun, rasa Teh Taluang di sini masih kalah dengan di Payakumbuh. Meskipun begitu, hidangan sarapan pagi yang sederhana ini, melampirkan cita rasa yang begitu mewah dan menggemaskan.

Tiba di kota Padang Panjang, pemandangan mulai berganti menjadi deretan rumah-rumah penduduk. Satu hal yang unik adalah bentuk atapnya yang menyerupai tanduk kerbau. Atap yang satu ini disebut Gonjong, sebuah atap yang melengkapi bangunan Rumah Gadang.

Di sebelah kiri saya, menjulang Gunung Singgalang. Begitu tinggi, hingga puncaknya tertutup awan. Sedangkan di sebelah kanan saya berdiri Gunung Marapi yang diapit oleh rentetan pegunungan yang turut membangun Pegunungan Bukit Barisan.

Satu hal yang saya kagumi dalam perjalanan di Sumatera Barat ini adalah kualitas jalannya. Meskipun jauh dari Jakarta, secara keseluruhan kualitas jalan di sini cukup baik. Mulus sekali. Andaikan pun ada gelombang atau lubang, jumlahnya pun masih bisa dihitung dengan jari tangan saya. Padahal, jarak yang kami tempuh cukup jauh, 100 Kilometer. Sama seperti jarak dari Bandung ke Cirebon yang jumlah jalan bergelombang dan lubangnya sudah tak terhitung lagi jumlahnya.

***

Teh Taluang yang disajikan dengan tetesan air jeruk nipis. Hangat sekaligus menyegarkan. (Foto: Hesty A)

Sepanjang perjalanan dari Padang menuju Payakumbuh, saya disuguhi potret kebudayaan yang sedikit berbeda dengan di Jawa. Namun, saya tidak merasa seperti di Sumatera. Alasannya, semua yang saya lihat tampak seperti di Jawa. Atap-atap rumah sudah dibuat modern, jarang sekali berbentuk Gonjong. Tata kota pun hampir mirip dengan di Jawa, khususnya Jawa Tengah. Apakah ini potret Indonesia atau Sumatera sudah terbawa potret kebudayaan Jawa? Atau jangan-jangan Jawa yang sudah terpengaruhi Sumatera?

Ketika orang berbicara bahasa Padang pun, bagi saya terdengar biasa. Ketika melihat masakan Sumatera Barat yang selalu tersaji di Rumah Makan Padang pun, saya rasa biasa saja. Untuk yang satu ini, tampaknya karena interaksi saya dengan bahasa dan makanan Sumatera Barat cukup sering di Bandung. Kita bisa mendengarkan orang berbicara bahasa Sumatera Barat dengan pergi ke pasar. Untuk makanannya, tentunya cukup dengan mengunjungi Rumah Makan Padang.

Hal ini berbeda ketika saya mengunjungi Makassar dan Bali beberapa waktu silam. Saya terkagum-kagum dengan budaya, makanan, dan bahasa di sana. Mungkin karena semuanya baru bagi saya, sehingga rasa penasaran saya terpancing. Meskipun begitu, bila diselami, Sumatera Barat tetap menyimpang khazanah kebudayaan yang menyentil rasa penasaran saya.

Ada banyak makanan dan minuman yang tidak tersaji di Jawa. Misalnya saja Teh Taluang yang saya cicipi di Payakumbuh, lebih enak dibandingkan yang saya cicipi di hari sebelumnya. Minuman ini berbahan dasar kuning telur bebek yang dikocok bersama gula putih hingga berbuih. Kemudian dicampur susu kental manis dan teh panas. Untuk menghilangkan bau amis, biasanya disediakan jeruk nipis. Rasanya tidak hanya gurih dan manis legit, tetapi juga asam nan segar. Meski dihidangkan panas, tetapi minuman ini cocok untuk berbagai suasana dan kondisi cuaca.

Khazanah kuliner Payakumbuh lainnya adalah Air Aka. Kalau di Jawa, khususnya di Sunda, namanya adalah Cincau. Panganan mirip agar-agar ini dibuat dari daun Cincau Hijau (Cylea barbata Myers). Bedanya, Cincau Sumatera disajikan dengan air jeruk nipis atau air santan. Pengunjung bebas memilih dan memesan. Saya sendiri memilih Cincau yang dicampur dengan air jeruk nipis. Rasanya, asam segar bercampur manis menghiasi lidah saya saat menyantapnya.

Satu makanan yang menjadi kesukaan saya, dan teman-teman Bandung yang turut serta, adalah Martabak Mesir yang dijajakan di setiap sudut Kota Payakumbuh. Di Bandung, Martabak Mesir ini berjuluk Martabak Asin. Ukurannya sama, tetapi martabak ini lebih tebal. Bila di Bandung, Martabak Mesir ini asyik di makan ramai-ramai. Namun, di Payakumbuh, satu porsi Martabak Mesir diperuntukan hanya untuk satu orang.

Kelebihan lainnya, Martabak Mesir di Payakumbuh taburan dagingnya lebih banyak dan tebal. Ketebalan dagingnya ini bercampur dengan racikan bumbu khas Sumatera Barat yang lebih gurih dan variatif. Memakannya membuat saya benar-benar dimabuk cinta. Saya dan teman-teman merasakan euforia berkepanjangan usai menikmati Martabak Mesir khas Payakumbuh. Bahkan, kami memesan lagi. Padahal, perut ini sudah penuh dengan hidangan masakan khas Sumatera Barat saat waktu makan satu jam sebelumnya.

Saya juga sempat mencicipi Sate Padang khas Payakumbuh. Namun, tampaknya saya dan kawan-kawan kurang beruntung. Pasalnya, Sate Padang yang tersaji tidak begitu menyenggol lidah kami. Kami pun tidak menemukan pedagang Sate Padang yang hidangannya mampu membuai kami, seperti pedagang Martabak Mesir. Hasilnya, kali ini kami melewatkan mencicipi Sate Padang di Payakumbuh. Mungkin lain waktu.

Air Aka merupakan Cincau Hijau yang disajikan dengan air jeruk nipis. (Foto: Hesty A)

Pejual Air Aka yang mangkal di Pasar Payakumbuh. (Foto: Hesty A)

Pejual Air Aka yang mangkal di Pasar Payakumbuh. (Foto: Hesty A)

***

Dua rekan saya berfoto di antara pintu masuk dan keluar gua. (Foto: Yudha PS)

Dua rekan saya berfoto di antara pintu masuk dan keluar gua. (Foto: Yudha PS)

Sumatera, khususnya Sumatera Barat, memiliki karakteristik geografi berupa perbukitan yang memanjang dari Barat Laut hingga Tenggara. Perbukitan ini berjuluk Bukit Barisan, yang merupakan hasil dari aktivitas zona patahan sepanjang pulau Sumatera. Selain berpotensi besar bencana, Bukit Barisan juga menyimpan banyak sekali pesona bentangan alam yang indah.

Di Payakumbuh, saya berkesempatan mengunjungi 2 tempat wisata geologis. Pertama adalah Gua Ngalau Indah di Payakumbuh, Sumatera Barat. Gua alam ini terbentuk dari aktivitas aliran air bawah tanah. Di dalamnya, pengunjung bisa menemukan batu Stalagmit dan Stalagtit yang terbentuk dari endapan kapur yang berlangsung selama ratusan, bahkan ribuan tahun.

Posisi Gua Ngalau terletak di punggung Bukit Simarajo di kota Payakumbuh. Kawasan ini merupakan hutan lindung. Jaraknya lebih-kurang hanya 1 Kilometer dari kantor Walikota Payakumbuh. Untuk sampai di lokasi, saya menumpang angkutan kota yang sengaja diminta untuk mengantarkan ke lokasi Gua Ngalau. Jalanan menanjak dan berkelok, membuat angkutan kota berjalan cukup lambat. Khawatir ada kendaraan dari arah berlawanan.

Sesampainya di lokasi, saya harus meniti tangga sepanjang 50 meter menuju mulut gua. Seorang anak laki-laki tiba-tiba menghampiri saya. Dayat (15) namanya, dia langsung menawarkan diri sebagai pemandu perjalanan selama di dalam gua. Untuk jasanya pun terbilang murah, hanya 25 ribu Rupiah saja. Saya dan beberapa rekan langsung mengiyakan. Dengan semangat, Dayat langsung mencabut senter yang berada di pinggangnya.

Di dalam Gua Ngalau, Dayat berkisah banyak batu-batu yang menyerupai objek tertentu. Pertama menginjakkan kaki di mulut gua, Dayat langsung menunjuk batu berbentuk bel. “Bisa berbunyi lagi,” terang Dayat sambil memukul sekeras-kerasnya batu tersebut. “Beb… Beb…” begitu batu itu berbunyi lantaran ada rongga kosong di dalamnya.

Dayat kemudian mengantarkan saya dan kawan-kawan lebih dalam lagi memasuki gua. Jeritan kelelawar berbareng penjelasan Dayat mengenai Gua Ngalau,  mengantarkan langkah kami. Meski sudah tersedia lampu, tetapi keadaan gua tetap saja gelap. Seringkali Dayat harus menyorotkan senternya ke jalan yang akan kami lalui. “Hati-hati, licin. Lewat sisi yang satu lagi, Bang,” seru Dayat sembari terus memandu kami.

Jalur di dalam gua memang sangat lembab dan licin. Rembesan air masih tampak di beberapa sisi gua. Hal ini diperparah dengan kotoran kelelawar yang masih basah, sehingga membuat kami harus jalan ekstra hati-hati. Beruntung, jalur di dalam gua sudah dibangun berbentuk tangga lengkap dengan pegangan tangan di kedua sisinya. Sehingga saya dan kawan-kawan tidak khawatir terjatuh atau terpeleset.

Pelangi di salah satu air terjun di Lembah Harau (Foto: Hesty A)

Pelangi di salah satu air terjun di Lembah Harau (Foto: Hesty A)

Tontonan lainnya adalah stalagmit dan stalagtit di beberapa bagian gua. Beberapa masih memancarkan air, sedangkan yang lainnya sudah berhenti berproses. Namun, yang cukup disayangkan, stalagmit yang kami lihat banyak di antaranya terjamah tangan-tangan usil manusia. Umumnya, banyak goresan-goresan iseng tangan manusia terbubuh di stalagmit.

Perjalanan kami di Gua Ngalau tidak lebih dari 30 menit. Jalur yang kami lalui pun tampak tidak terlalu jauh, hanya sekitar 300 meter. Hanya saja, pengunjung harus siap dengan jalur di dalam gua yang naik dan turun. Pintu keluar tidak jauh dari pintu kami masuk. Mungkin hanya sekitar 10 meter. Dengan kata lain, perjalanan di dalam gua hanya berputar, bukan menembus gunung.

Tempat wisata geologis lainnya yang sangat kunjungi adalah Lembah Harau yang terletak di Kabupaten Limapuluh Koto. Tempat ini merupakan deretan tebing yang menjulang tinggi hasil aktivitas tektonik. Di sela-sela tebing, ada air terjun yang meluncur dari ketinggian 50 sampai 90 meter. Jumlah keseluruhannya ada 7 air terjun yang terbagi di beberapa lokasi. Umumnya, pengunjung yang berwisata ke lokasi ini, menikmati Lembah Harau dengan mandi dan bermain air.

Saya pergi ke Lembah Harau bersama kawan-kawan dari Payakumbuh. Jaraknya hanya 18 Kilometer dari Payakumbuh, atau sekitar 30 menit menggunakan motor. Memasuki kawasan Lembah Harau, tebing-tebing merah dengan ketinggian 150 sampai 200 meter menjulang menyambut kedatangan kami. Tegak mendatar dan menjulang. Tampaknya cocok bila mau mencoba keterampilan memanjat tebing.

Lembah Harau sendiri terbagi menjadi 2 lokasi. Pertama adalah Aka Barayun. Di sini terdapat air terjun yang penampungannya sudah terbuat dari kolam. Cocok untuk orang dewasayang ingin berenang dan bermain air. Lokasi kedua adalah kawasan Sarasah Bunta. Di lokasi ini, terdapat 4 kolam air terjun yang bisa dicicipi pengunjung, yaitu Sarasah Aie Luluih, Sarasah Bunta, Sarasah Murai, dan Sarasah Aie Angek. Kolam penampungan air terjun di kawasan ini masih alami. Kedalamannya pun tak lebih dari 50 sampai 150 Sentimeter. Sehingga cocok untuk berenang bersama keluarga.

Air terjun mengalir dari sungai di atas tebing-tebing Lembah Harau. (Foto: Hesty A)

Air terjun mengalir dari sungai di atas tebing-tebing Lembah Harau. (Foto: Hesty A)

Untuk Sarasah Aie Angek, airnya memiliki suhu yang lebih tinggi dan terasa hangat. Namun, kawasan ini belum dibuka sepenuhnya, sehingga tak banyak orang yang berkunjung.

Sedangkan dua air terjun sisanya, terdapat di kawasan Lembah Ngalau. Saya sendiri tidak tahu lokasi kedua air terjun sisanya. Namun, ketika memasuki kawasan Lembah Harau, dari kejauhan tampak 2 air terjun yang tidak termasuk ke dalam dua wilayah yang saya sebutkan di atas.

Saya menghabiskan hampir 2 jam di tempat ini. Air yang mengalir begitu jernih. Saking jernihnya, ikan-ikan dan dasar kolam serta sungai tampak oleh mata telanjang. Wajar saja, toh di atasnya merupakan kawasan Cagar Alam Lembah Harau. Sehingga kecil kemungkinannya tercemar tangan manusia.

Meski airnya jernih, tetap saja saya khawatir ada benda yang jatuh bersamaan dengan air terjun. Bisa saja berupa batangan pohon, ranting, atau bisa saja ular atau harimau yang sedang berenang kemudian terbawa hanyut. Namun, kekhawatiran saya itu tidak terjadi sepanjang saya bermain-main di air terjun.

Lembah Harau sendiri, khususnya air terjun Sarasah Bunta, sudah dibuka untuk publik sejak 14 Agustus 1926 oleh Asisten Residen Lima Puluh Koto F Rinner bersama Tuanku Laras Datuk Kuning Nan Hitam dan asistennya Demang Datuk Kodoh Nan Hitam. Adapun penetapannya sebagai taman wisata oleh pemerintah Indonesia baru pada 1979 dengan lahan seluas 27,5 hektar. Taman wisata ini menyuguhkan 4 air terjun, gua, celah alam, dan tebing terjal.

Sedangkan penetapannya sebagai Cagar Alam Lembah Harau baru pada 10 Januari 1993 dengan cakupan areal seluas 270,5 hektar. Di dalamnya, terdapat spesies tanaman hutan hujan tropis dataran tinggi beserta sejumlah binatang langka asli Sumatera. Beberapa satwa yang menjadi khazanah tersembunyi di Cagar Alam Lembah Harau antara lain Siamang (Hylobates syndactylus), Simpai (Presbytis melalopos), Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrensis), Beruang (Helarctos malayanus), Tapir (Tapirus indicus), Kambing Hutan (Capriconis sumatrensis), dan Landak (Proechidna buijnii).

***

Selain menyimpan wisata alam, Sumatera Barat juga menyimpan tempat-tempat buatan manusia yang eksotik. Sebelum saya mengunjungi Lembah Harau, saya diajak terlebih dahulu mengunjungi Kelok Sembilan. Meskipun bukan tempat wisata, tetapi saya pikir lokasi ini eksotik. Indah, mengesankan, sekaligus menakjubkan. Alasannya, jarang sekali saya melihat di Indonesia jembatan bertingkat lebih dari 2 dengan ketinggian yang hampir menyaingi gedung lantai 20.

Kelok Sembilan sendiri merupakan ruas jalan sekaligus jembatan yang menghubungkan provinsi Sumatera Barat dan provinsi Riau sekaligus penghubung Lintas Tengah Sumatera dan Pantai Timur Sumatera. Lokasinya berada di antara Kilometer 146 dan 148 dari Kota Padang.

Awalnya, jalur ini dibangun oleh pemerintah Hindia-Belanda pada 1932. Saat itu, karena memiliki sembilan belokan ke kiri dan kanan, masyarakat kerap menyebutnya sebagai Kelok Sembilan.

Seiring perkembangan zaman dan semakin cepatnya laju kendaraan, Kelok Sembilan kerap memakan banyak korban. Umumnya, kecelakaan terjadi antara angkutan berat seperti truk dengan kendaraan yang lebih ringan seperti mobil dan motor. Ketika kendaraan angkutan berat tidak kuat menanjak dan berada di kelokan, kendaraan yang lebih kecil sedang melaju dengan kecepatan tinggi. Karena berada di kelokan, pengemudi kendaraan yang lebih kecil tidak melihat kendaraan berat sedang terhenti lantaran kehabisan nafas. Sehingga, tabrak belakang pun seringkali tidak bisa dihindari.

Untuk itulah, pada 2003, pemerintah mulai mengembangkan pembangunan jembatan sekaligus ruas jalan baru di lokasi Kelok Sembilan. Ruas jalan dan jembatan ini dibangun sepanjang 2.537 meter. Kelok Sembilan yang baru ini dibangun dalam dua tahap. Tahap pertama pembangunan 4 jembatan sepanjang 720 meter dengan jalan penghubung sepanjang 1.950 meter. Sedangkan tahap kedua akan fokus pada pembangunan 2 jembatan sepanjang 250 meter dan jalan penghubung sepanjang 1.000 meter.

Pembangunan tahap pertama sendiri sudah selesai. Kini, di lokasi sedang dilaksanakan pembangunan tahap kedua. Ke depannya, setelah semua tahapan selesai, ruas jalan lama akan difungsikan sebagai obyek wisata.

Hanya 15 menit saya berada di lokasi ini. Kawan saya memberhentikan motor tepat di sisi jembatan teratas. Sehingga saya bisa dengan leluasa memotret ke arah bawah. Antrian kendaraan yang berkelok-kelok dari bawah hingga atas tampak mengular bersama hamburan debu dari pekerja yang tengah mengejar masa tenggat. Lengkap dengan kendaraan berat dan rangkaian baja yang siap untuk diisi semen bercampur pasir dan air.

Jam Gadang di ujung jari saya. (Foto: Yudha PS)

Objek wisata hasil karya manusia lainnya yang saya kunjungi adalah Jam Gadang di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Boleh jadi, Jam Gadang adalah landmark Bukit Tinggi, sehingga dijadikan titik “Nol Kilometer” Bukit Tinggi.

Jam Gadang sendiri dibangun pada 1926 dengan biaya 3 ribu Gulden. Monumen ini merupakan hadiah dari Ratu Belanda kepada Rook Maker, sekretaris atau contreleur Fort de Kock saat itu. Fort de Kock sendiri merupakan nama Bukit Tinggi ketika masa pemerintahan Hindia Belanda. Adapun arsitekturnya adalah Yazin Sutan Gigi Ameh.

Atap Jam Gadang sudah 3 kali diganti. Aslinya, atap jam gadang berbentuk melonjong. Seperti kubah masjid, tetapi lebih tajam dan lonjong. Perubahan kedua terjadi ketika masa kependudukan Jepang. Atap Jam Gadang dirubah seperti atap kelenteng. Sedangkan perubahan ketiga terjadi di era kemerdekaan Indonesia. Atapnya merupakan atap Gonjong seperti yang tampak saat ini.

Salah satu hal yang menarik, Jam Gadang dibangun tanpa menggunakan besi penyangga dan adukan semen. Melainkan hanya campuran kapur, putih telur, dan pasir putih. Meskipun begitu, bangunan ini masih kokoh berdiri, meskipun beberapa gempa besar pernah melanda Bukit Tinggi. Keunikan lainnya, jam ini didatangkan langsung dari Rotterdam, Belanda. Adapun mesinnya hanya dibuat 2 unit di dunia. Selain Jam Gadang, mesin ini juga digunakan di London, Inggris. Tepatnya di menara Big Ben. Meskipun begitu, bukan berarti jam ini tanpa kesalahan. Angka Romawi Empat, ditulis IIII, bukan IV. Namun, kesalahan ini tetap menjadi keunikan tersendiri bagi monumen ini.

Jam Gadang sendiri memliki denah dasar seluas 13 x 4 meter dengan tinggi mencapai 26 meter. Di keempat sisinya, terdapat 4 jam dengan diameter masing-masing 80 Sentimeter. Pada bagian lonceng, tertera nama pabrik pembuatnya, yaitu Vortmann Recklinghausen. Vortmann sendiri merupakan nama belakang pembuatnya, yaitu Benhard Vortmann. Sedangkan Recklinghausen merupakan nama kota di Jerman yang menjadi lokasi pembuatan produksinya pada 1892.

Pengunjung bisa memasuki Jam Gadang dengan tiket seharga 20 ribu Rupiah. Bagi saya, nilai segitu terlalu tinggi dibandingkan naik menara Masjid Agung Bandung yang hanya 2 ribu Rupiah saja. Namun, bila dipikir-pikir lagi, nilai sebesar itu untuk melindungi Jam Gadang agar tidak cepat rusak lantaran terlalu banyak orang yang naik ke atas Jam Gadang.

Di Bukittinggi, saya juga mengunjungi Jenjang 44. Lokasi ini merupakan jalanan penghubung antara wilayah lembah dan bukit yang konon memiliki 44 anak tangga. Letaknya tak jauh dari lokasi berdirinya Jam Gadang. Mungkin sekitar 300 meter.

Eri (50) beserta lukisannya. (Foto: Hesty A)

Eri (50) beserta lukisannya. (Foto: Hesty A)

Di Jenjang 44, tak sengaja mata saya terpaku melihat seorang bapak yang tengah melukis. Satu hal yang membuat saya tertarik, lukisannya tampak hidup. Warnanya cerah dan tampak menonjol keluar dari media gambarnya. Penasaran dengan sang bapak, saya pun menghampirinya. Eri namanya, usianya sudah 50 tahun. Mendengar logatnya yang medok, saya langsung tahu bahwa beliau bukan berasal dari Sumatera. Benar saja, Eri memang berasal dari Jawa Tengah, tepatnya Solo. Sejak 1987, Eri mengais rezeki di Bukit Tinggi dengan melukis. Setiap 3 bulan sekali, dia pulang ke Solo untuk menemui anak dan istrinya.

Lukisan Eri memang tidak biasa. Dia melukis menggunakan kain beludru. “Butuh teknik khusus untuk melukis di atas kain beludru seperti ini,” papar Eri. Menurutnya, komposisi antara cat dan minyak tidak boleh terlalu pekat, juga tidak boleh terlalu encer. Bila tidak begitu, bisa dipastikan cat tidak akan mampu menempel di kain beludru. Umumnya, Eri menampilkan kondisi alam dan budaya Minangkabau sebagai tema lukisannya.

Untuk menghasilkan sebuah lukisan dengan ukuran seperempat lapangan tenis meja, Eri membutuhkan waktu 2 hari. “Kalau yang lebih kecil, bisa sehari selesai dan siap dijual,” tandasnya. Satu lukisan dengan ukuran seperempat lapangan tenis meja, Eri hargai 350 ribu Rupiah. Sedangkan untuk ukuran yang lebih kecil, harganya bervariasi antara 75 ribu hingga 150 ribu Rupiah.

Meski keberadaan saya di Sumatera Barat hanya 5 hari, tetapi saya sudah cukup dibuat jatuh cinta. Jatuh cinta dengan logat dan bahasanya, jatuh cinta dengan makanan dan minumannya, dan jatuh cinta dengan objek wisatanya. Semoga, saya berkesempatan lagi mengunjungi alam Sumatera.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s