Selamat Datang, “Satu Harapan”…


Bayi kami saat detik-detik awal tiba di alam dunia. (Foto: Yudha PS)

Malam baru saja berpijak di persimpangan hari ketika jarum jam baru saja bergeser sedikit dari angka 12. Sementara jarum jam pendek tampak bergeming di angka 12, jarum penunjuk menit sudah melangkah di angka 1. Sedangkan jarum penunjuk detik melanglang buana di angka 6, dan terus melangkah lebih cepat dari jarum lainnya.

Seperti biasa, tengah malam di Bandung penuh dengan keheningan. Berbalut dengan dinginnya udara lembah dataran tinggi tersebut. Namun, tidak di ruangan ini. Di ruang bersalin Rumah Sakit Al Islam (RSAI) di bilangan Soekarno-Hatta Bandung. Sebuah perjuangan melanjutkan hidup tengah berkecamuk.

Istri saya, dibantu seorang bidan dan beberapa perawat RSAI, berjuang mengeluarkan si kecil dari rahim yang kokoh dan nyaman. Erangan demi erangan istri saya, berbalut dengan peluh dan darah. Membuat suasana ruangan memanas dan mericuh dengan dorongan semangat dan motivasi.

Di setiap menit dan detik yang berdetak, selalu terbesit harapan si buah hati segera lahir. “Ayo, 3 tarikan nafas lagi,” seru sang bidan. “Ayo, kepala bayinya sudah mulai terlihat,” tamparnya lagi. Menyisakan segenap ruang tekad sang bunda untuk memperjuangkan nasibnya dan si buah hati.

Meski singkat, tetapi bukan perjuangan yang mudah. Sebuah kepala pada akhirnya muncul dengan perlahan tetapi pasti. “Sudah mulai keluar,” teriak seorang perawat gembira. Sebuah perjuangan yang hampir purna, tetapi belum usai. Dan kini dengan cekatan tangan-tangan terampil bidan dan para perawat menarik si bayi.

“Leher bayi tercekik (tali) ari-ari,” teriak perawat yang dengan cekatan memotong saluran makanan selama bayi dalam rahim tersebut. Meski bayi berhasil keluar, tetapi tangisnya belum merdeka. Tersisa sesak tapak lilitan yang membuat wajahnya membiru. Tubuhnya pucat kekurangan oksigen dan nafasnya begitu cepat terengah-engah.

“Langsung bawa ke ruangan (bayi) untuk observasi,” perintah dokter anak yang diamini langkah cekatan sang perawat. Selang oksigen segera melilit yang tertambat di hidung si kecil. Alat pemanas menyemburkan suhu hingga 35 derajat. Membantu membangun simpul-simpul kehidupan bagi dia yang baru saja tiba di alam jasadi.

***

Tengah malam lewat 52 menit adalah waktu bagi sebagian besar orang terhenyak menikmati mimpi indahnya. Namun, bagi sang pangeran kecil ini, tengah malam lewat 52 menit tanggal 10 Oktober 2012 adalah catatan sejarah pertamanya di alam jasadi. Menapaki bumi pertama kali dengan berat 3,3 Kilogram dan panjang 52 sentimeter adalah ukuran yang cukup besar dibandingkan bayi rata-rata di Bandung.

Entah unik atau sebuah kebetulan, keluarga barunya ini punya “tanda lahir” yang tidak biasa bagi beberapa anggotanya, termasuk si pangeran kecil. Bila dirinya memiliki tanggal dan urutan bulan yang sama, yaitu tanggal 10 bulan 10 (10 Oktober), ayah dan neneknya pun melabelkan cetak biru yang sama. Sang ayah bertanggal lahir 11 bulan 11 (11 Nopember). Sedangkan sang nenek bertanggal lahir 9 bulan 9 (9 September).

Entah mitos ataukah sebuah sugesti. Yang pasti, sang kakek si pangeran kecil ini punya kepercayaan bahwa identitas yang melingkupi waktu kelahiran akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Sebagai contoh adalah identitas tanggal dan bulan lahir yang sama ini.

Hal ini diwariskan oleh nenek si pangeran kecil kepada sang ayah, kemudian selanjutnya diwariskan kepada si pangeran kecil. Mungkin sangat tipis kemungkinannya, apalagi bila persalinan ketiganya dilakukan secara normal. Namun, si pangeran kecil, ayah, dan neneknya berhasil mendulang peluang ini.

***

Sebuah nama, itu yang sering orang tanyakan ketika mendapatkan kabar perihal kelahiran bayi kami. Meski telah kami tentukan jauh hari sebelum proses persalinan, tetapi kami masih belum beritahukan hingga tulisan ini dipublikasikan di blog saya. “Tunggu tanggal rilisnya saja,” begitu alasan saya kepada mereka yang menanyakan nama si bayi.


Satu Harapan Sunandar

Inilah nama yang akhirnya kami pilih untuk si buah hati. Sebagai sebuah doa untuknya agar mampu menjadi harapan terbaik bagi banyak orang di masa depan. Doa untuk dia mampu mendobrak kemandegan zaman di masa yang akan datang. Doa yang menyertainya agar mampu bermanfaat bagi orang-orang di sekitarnya. Lebih dari itu, semoga bisa bermanfaat untuk orang-orang di bumi ini.

Nama ini juga bermakna pengharapan kepada Yang Satu. Pengharapan akan bimbingan-Nya dalam menapaki lajur-lajur kisah kehidupan si kecil kelak. Serta pengharapan untuk mengenal diri dan Yang Satu serta visi dan misi hidupnya yang hakiki. Penggalan nama “Sunandar” sendiri merupakan pewarisan dari ayahnya.

Dibandingkan manusia lainnya, nama ini mungkin sedikit berbeda dan tidak lumrah, khususnya di Indonesia. Namun, itulah tujuan kami. Nama yang berbeda diharapkan mampu membangun identitas diri yang unik untuk anak pertama kami ini.

Penggunaan Bahasa Indonesia sendiri sebagai basis nama bayi kami didorong atas perenungan saya terhadap posisi Bahasa Indonesia saat ini. Perenungan ini muncul usai membaca sebuah berita di National Geographic yang menginformasikan punahnya satu bahasa di bumi setiap 14 hari sekali. Pada gilirannya, Bahasa Indonesia akan mengalami kepunahan serupa apabila orang Indonesia masih lebih suka menggunakan bahasa asing dibandingkan Bahasa Indonesia.

Sehingga, penggunaan Bahasa Indonesia untuk anak kami, diharapkan mampu menumbuhkan identitas dan kebanggaan terhadap Bahasa dan Bangsa Indonesia dalam diri si kecil. Kebanggaan yang dibuntuti semangat untuk memperjuangkannya menjadi lebih baik.

Akhir kata, kami berharap doa dari kawan-kawan semua agar anak pertama kami mampu menapaki setiap jengkal kehidupan ini dengan berpegang pada simpul-simpul bimbingan dan kebesaran-Nya. Serta mampu menorehkan pengabdian untuk masyarakat dan bangsanya. Amin.***

2 thoughts on “Selamat Datang, “Satu Harapan”…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s