Mengajari Nenek-Nenek Cibungur Bermedia


Suasana pelatihan bermedia untuk ibu-ibu di Cibungur, Batujajar (Foto: Yudha PS)

Suasana pelatihan bermedia untuk ibu-ibu di Cibungur, Batujajar (Foto: Yudha PS)

Mengajari mahasiswa dan anak SMA bermedia mungkin biasa. Namun, mengajari nenek-nenek untuk mulai menuliskan santapan informasi untuk buletin warga, mungkin sebuah petualangan dan tantangan yang luar biasa, setidaknya bagi saya. Apalagi mereka baru bisa membaca dan menulis kurang dari sebulan sebelumnya.

Hal inilah yang belakangan ini saya lakukan di Desa Cibungur, Batujajar, Bandung Barat. Setiap hari Minggu, sekitar 10 hingga 15 ibu-ibu berusia antara 50 hingga 80 tahun belajar membuat media warga berupa buletin 4 halaman. Meskipun sebuah petualangan dan tantangan yang luar biasa, saya pribadi sempat kebingungan ketika mendapatkan tawaran ini awal September lalu.

Pasalnya, saya khawatir materi yang akan saya sampaikan terlalu jauh di luar pemahaman mereka. Belum lagi, saya diminta berbicara menggunakan Bahasa Sunda. Meskipun saya tinggal di Jawa Barat, tetapi bahasa Sunda saya tidak lebih baik dari bahasa Inggris saya. Boleh dikata, saya lebih fasih berbicara bahasa Inggris daripada bahasa Sunda. Meskipun begitu, akhirnya saya nekad juga untuk mencicipinya. Beruntung Onnay yang cukup fasih berbahasa Sunda mau membantu. Sehingga kekhawatiran saya bisa diminimalisir.

Tibalah hari yang dinanti-nanti itu. Tepat jam 16.30 hari Minggu, 16 September 2012 lalu, saya tiba di desa Cibungur. Di sana, selusin ibu-ibu sudah menanti di ruang Karang Taruna seluas seperempat lapangan bulu tangkis. Meskipun dalam hitungan detik saya akan menyampaikan materi, saya dan Onnay tidak tahu apa yang harus kami sampaikan. Akhirnya, saya membisiki Onnay untuk memutar video-video yang dia punya berkaitan dengan media. Meskipun tidak nyambung, tapi hal ini lebih baik dari pada tidak ada sama sekali.

Di sela-sela pemutaran video, saya dan Onnay memberikan komentar terkait video yang baru saja diputar. Komentar ini guna membantu ibu-ibu untuk memahami konteks pelatihan yang sedang saya dan Onnay bangun ketika itu. Intinya, kami mencoba menyadarkan ibu-ibu ini untuk mulai bermedia.

Selain memutar video, saya dan Onnay pun lebih banyak berbagi pengalaman tentang dunia media dan menulis, tentunya dengan kapasitas yang disesuaikan. Adapun inti dari materi yang kami sampaikan saat itu bahwa menulis itu tidak harus sesuatu yang megah, melainkan sesuatu yang sederhana dan menceritakan segala yang kita temui dan kerjakan sehari-hari. Menulis dan bermedia juga membantu kita berkomunikasi dengan orang banyak. Sehingga interaksi antar warga bisa lebih intens. Selain itu, menulis juga bisa menghubungkan kita dengan dimensi waktu masa lalu, masa kini, dan masa depan. Hal ini kami sampaikan dengan bahasa yang sesederhana mungkin.

Meskipun berjalan menegangkan bagi saya, beruntung peserta merasa senang disuguhi pelatihan membuat media cetak warga. Sebenarnya tidak sepenuhnya pelatihan. Saya menyebutnya lawakan berbalut pelatihan. Karena, seringkali cara saya berbahasa Sunda yang dibumbui logat Jawa, membuat mereka tertawa, atau setidaknya tersenyum geli. Bahkan Onnay beberapa kali tertawa terpingkal-pingkal sembari melihat muka saya yang keheranan terkait penyebabnya tertawa. Apakah memang saya salah memilih kata dalam berbahasa Sunda, atau memang konten yang saya sampaikan lucu? Dan memang, ketika pulang, Onnay mengakui bahwa cara saya berbahasa Sunda yang berbalut logat Jawalah yang membuatnya seringkali tertawa terpingkal-pingkal.

Kembali ke pelatihan bermedia ibu-ibu. Sebagai oleh-oleh untuk dibawa pulang, saya dan Onnay menantang peserta untuk menuliskan aktivitas mereka di rumah. Dari wajah-wajah mereka yang berkerut, beberapa di antaranya terlihat tertantang. Namun, beberapa yang lainnya justru mengkerut dan menilainya sebagai “pekerjaan tambahan” yang harus dipikulnya di sela-sela profesi sebagai ibu rumah tangga.

Pada pekan berikutnya, yaitu pada Minggu, 23 September 2012, saya kembali ke hadirat pelatihan bermedia ibu-ibu Cibungur. Tanpa diingatkan, Mak Tati, seorang nenek berusia sekitar 60 tahun, menyodorkan hasil pekerjaan rumahnya. Saya lupa memotret hasil pekerjaan rumahnya berupa tulisan dengan gaya tegak bersambung sepanjang tiga perempat halaman kertas buku tulis. Dia menuliskannya dalam bahasa Sunda.

Dengan semangat, saya mulai membacanya kata demi kata dengan suara yang cukup nyaring. Kata-katanya tersusun cukup rapih, sederhana, dan bersahaja. Di dalam tulisannya, Mak Tati bercerita tentang aktivitasnya dalam mengurus rumah, kebun, dan kambingnya. Secara kronologis, Mak Tati bercerita mengenai kebunnya yang belum bisa digarap lantaran penghujan belum juga tiba. Dia juga bercerita tentang masakan yang ia masak, kambing-kambingnya yang ia beri makan, dan keadaan rumahnya yang selalu ia bersihkan setiap hari. Meskipun hanya seorang yang mengerjakan, mudah-mudahan, dengan saya membacakannya di depan peserta yang lain, mereka juga mau menulis.

Dalam pelatihan pekan ini, saya mulai mengajari mereka tentang bentuk buletin. Peserta juga mulai dibagi menjadi kelompok-kelompok kecil yang masing-masing bertanggung jawab atas rubriknya di buletin warga. Buletin warga yang saya persiapkan untuk tahap pertama ini pun terbilang sederhana. Hanya termuat di sebuah kertas A4 yang dibagi menjadi 4 halaman. Mirip buletin-buletin Jumat yang kerap saya temui di masjid-masjid ketika akan menunaikan Shalat Jumat.

Kelompok-kelompok kecil ini pun mulai mendiskusikan tema yang ingin mereka ceritakan di buletin warga. Sayangnya, saya belum melihat hasil cerita mereka dalam bentuk tulisan. Pasalnya, 2 pekan terakhir ini saya belum bisa menyambangi mereka lagi. Satu pekan karena ada tugas ke luar kota. Pekan lainnya, saya masih berbeda kota dengan mereka karena ada keperluan keluarga. Sehingga praktis tidak bisa berkunjung ke Batujajar. Mudah-mudahan, pekan ini atau pekan depan saya sudah bisa menyapa mereka kembali. Amin.

Perihal pelatihan ini, sang penggagas adalah Wildan Awaludin, ketua Karang Taruna Cibungur, Batujajar. Wildan mengaku terinspirasi dengan majalah Pasinaon asal Ungaran, Semarang, Jawa Tengah. Pasalnya, Tirta Nursari, sang pengelola majalah Pasinaon, mengajarkan baca-tulis kepada ibu-ibu di sekitar rumahnya di Semarang kemudian mewadahinya melalui majalah tersebut. Capaian Tirta Nursari inilah yang coba Wildan aplikasikan di desanya.

Wildan sendiri merupakan pemuda di penghujung akhir kuliahnya di STKIP Pasundan Cimahi. Bersama teman-temannya di Batujajar, dia membangun perpustakaan sebagai sarana belajar masyarakat di sekitarnya. Setiap harinya, perpustakaan ini diisi banyak aktivitas warga. Untuk ibu-ibu, Wildan menyediakan sarana belajar baca-tulis. Untuk remaja SMA, Wildan mewadahi aksi kreativitas mereka. Sedangkan di tingkat pelajar SD, Wildan menyajikan bimbingan belajar.

Hebatnya, penggerak aktivitas sosial ini adalah mahasiswa-mahasiswa asal desa tersebut. Sayangnya, mereka belum mencapai kata sepakat untuk menyusul ibu-ibu mereka belajar bermedia. Doakan saja semoga dapat hidayah untuk belajar bermedia secepatnya. Hehehe.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s