Sikapi dengan Kreatif Positif Bermedia


Salman Rusdhie (Foto: jabarmedia.com)

Salman Rusdhie (Foto: jabarmedia.com)

Lagi-lagi, umat Islam dihadapkan pada propaganda anti-Islam. Kali ini, film berjudul Innocent of Muslim (IoM) menyulut aksi protes muslim di berbagai belahan dunia. Film garapan Nakoula Bacile, warga Amerika keturunan Mesir, dituduh telah menghina Muhammad SAW.

Belum reda protes terhadap film ini, sebuah televisi Indonesia menyebutkan bahwa proses rekruitmen teroris masuk melalui program ekstra kurikuler masjid di sekolah yang populer disebut Rohani Islam (Rohis). Hal ini kembali menuai protes, khususnya dari mereka yang pernah aktif di dalamnya. Aksi protes ini mereka layangkan melalui Facebook dan Twitter.

Propaganda anti Islam memang bukan sekali ini terjadi. Sayangnya, umat Islam cenderung bersikap reaktif menanggapinya. Sebagai contoh, ketika Salman Rusdhie mempublikasikan novel berjudul Ayat-Ayat Setan pada 1988 silam. Buntutnya adalah aksi unjuk rasa yang berujung pada kerusuhan di India dan Pakistan.

Menginjak milenium ketiga, semakin banyak orang yang menyiarkan propaganda serupa. Pada 2004, hadir film Submission karya pembuat film Belanda, Theo van Gogh. Selang setahun, sebuah surat kabar di Denmark mempublikasikan kartun Muhammad SAW. Akibatnya, gelombang protes muslim terjadi di hampir seluruh dunia dan menyebabkan belasan orang meninggal dunia. Belum cukup sampai di situ, pada 2008, Politikus Belanda, Geert Wilders merilis film Fitna yang kembali menuai protes dari muslim penjuru dunia.

Meskipun setiap propaganda selalu disambut gelombang protes di seluruh dunia, anehnya propaganda serupa tidak menyurut. Bahkan, semakin meningkat. Citra Islam pun tidak juga terangkat. Sebaliknya, malah semakin terpuruk. Terlebih lagi bila muncul aksi kekerasan dan kerusuhan yang menyebabkan jatuhnya korban jiwa.

Di tengah aksi protes terkait film IoM, aksi sekelompok muslim di London, Inggris, dari The Discover Islam Society patut diacungi jempol. Alih-alih berdemo dan protes, mereka malah membagikan 110 ribu Alquran terjemahan Bahasa Inggris dan biografi Muhammad SAW ke warga non-muslim London. Foto-foto aksi mereka ini tersebar di Facebook.

Sebagian pengguna Facebook Indonesia menilai aksi mereka cerdas dan menunjukkan intelektualitas Islam. Bagaimana pun, propaganda anti Islam memang sebaiknya disambut dengan keterbukaan, senyuman, dan aksi nyata. Kuncinya adalah beraksi kreatif dan positif serta mempublikasikannya di media.

The Discover Islam London menyebarkan 110 ribu Alquran dan biografi Muhammad SAW kepada non-muslim di London, Inggris (Foto: islampeace1.wordpress.com)

The Discover Islam London menyebarkan 110 ribu Alquran dan biografi Muhammad SAW kepada non-muslim di London, Inggris (Foto: islampeace1.wordpress.com)

Aksi kreatif dan positif dijabarkan dengan aktivitas yang merujuk perilaku terpuji Muhammad SAW. Kreatif sendiri dijabarkan melakukan aksi yang tidak biasa dan menggugah ketertarikan publik. Sehingga publik peduli dan pesan tersampaikan.

Misalnya saja, ketika Muhammad dihina di depan sahabat-sahabatnya. Muhammad waktu itu hanya diam saja, sedangkan para sahabatnya marah. Heran melihat sikap Muhammad, para sahabat pun mempertanyakannya. Dan nabi hanya menjawab, “Sesungguhnya marah lebih dekat kepada perbuatan setan.”

Dari cerita tersebut, aksi yang paling dekat dengan perilaku terpuji Muhammad adalah aksi muslim Inggris di atas. Yaitu, dengan membagikan Alquran dan biografi Muhammad, bukan dengan marah-marah hingga bakar-bakaran. Apalagi sampai berujung pada kekerasan.

Adapun bermedia dimaksudkan untuk membangun komunikasi positif dan timbal-balik serta saling pengertian antara umat Islam dengan publik. Contoh bermedia sendiri diejawantahkan melalui situs web, jejaring sosial, maupun media mainstream.

Dalam hal ini, media harus mampu memainkan dua fungsi dasarnya. Pertama, sebagai corong relasi publik (public relation), bukan perang kata-kata dan klaim. Relasi publik erat kaitannya dengan pencitraan positif melalui pengabaran aksi-aksi positif. Aksi positif ini tidak hanya melekat visi umat, tetapi juga identitas dan perilaku individunya. Sehingga menghasilkan citra positif yang menyeluruh terhadap Islam.

Kedua, media harus mampu menjadi corong ilmu pengetahuan, khususnya bagi umatnya sendiri. Islam sendiri memiliki khazanah ilmu pengetahuan yang luas, mulai dari sejarah, fikih, tauhid, hingga perilaku dalam kehidupan. Khazanah ilmu pengetahuan ini bila diunggah ke media, akan memberikan kontribusi pemahaman yang baik dan positif untuk publik. Sehingga publik memiliki pemahaman yang luas terhadap Islam dan penganutnya.

Foto: site_screenshot.pressabout.us

Foto: site_screenshot.pressabout.us

Salah satu contoh organisasi Islam yang menjunjung keterbukaan adalah Masjid Salman ITB. Melalui situsnya di salmanitb.com, Masjid Salman ITB selalu mempublikasikan aksi-aksi positifnya. Tidak hanya itu, mereka pun mengunggah hasil ceramah dan kajian keislamannya yang bisa diakses publik. Sehingga publik bisa belajar sekaligus mengaudit ajaran-ajaran yang disampaikan Masjid Salman ITB.

Publik yang pernah menaruh curiga terhadap Masjid Salman ITB, lambat laun mulai berubah dan berpandangan positif. Bahkan, publik luar negeri pun mulai datang dan bersilaturahmi ke Masjid Salman ITB. Beberapa di antaranya adalah staf dari Kedutaan Besar Amerika dan beberapa peneliti media dari Australia, Jepang, dan Belanda. Mereka mengaku mengetahui pandangan Masjid Salman ITB dari situs web.

Masih dari Bandung, beberapa siswa SMA yang tergabung dalam Himpunan Rohis Kota Bandung (Hirokoba) juga mulai menggunakan internet sebagai media dakwah. Beberapa bulan lalu, mereka meluncurkan sebuah situs untuk merangkum Rohis se-Indonesia. Situs beralamat di rohis.net ini, diharapkan dapat menjadi ajang silaturahmi dan berbagi ilmu antar pelajar Rohis di Indonesia. Lebih jauh lagi, situs ini juga mampu menunjukan transparasi gerakan aktivis Rohis. Sehingga bisa mengurangi kecurigaan publik terhadap gerakan Islam.

Sayangnya, belum banyak umat Islam Indonesia yang menjawab propaganda negatif Islam dengan aksi kreatif positif dan bermedia. Umumnya, hanya hujatan dan protes yang bernada marah lah yang terjadi ketika ada propaganda yang menyinggung keyakinannya.

Semoga penyikapan umat Islam yang kreatif positif dan bermedia terhadap propaganda negatif mampu mengantarkannya menjadi masyarakat yang madani dan arif.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s