Tionghoa, Islam, dan Indonesia


Foto: wayneranney.com

Foto: wayneranney.com

Berbicara tentang Islam dan komunitas muslim di Indonesia, tidak akan lepas dari jasa orang-orang Tionghoa masa lalu, khususnya Tionghoa Muslim. Pasalnya, Islam tersebar dan diterima oleh masyarakat dengan baik, salah satunya berkat usaha Tionghoa Muslim untuk berasimilasi dengan penduduk Indonesia yang kala itu masih menganut Hindu dan Budha.

Perihal ini, Widyo Nugrahanto, dosen jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Sastra Universitas Padjadjaran yang juga penulis buku Bertahan di Perantauan; Peranan Tionghoa Muslim dalam penyebaran Islam di Pulau Jawa pada abad ke 15 serta awal kesultanan Demak dan Cirebon, pernah menyampaikan langsung kepada saya.

Menurutnya, Islam dibawa ke Indonesia pertama kali memang oleh orang-orang Arab dan Persia. Namun pihak yang paling berjasa adalah orang-orang Tionghoa Muslim, khususnya mereka yang tergabung dalam ekspedisi Laksamana Cheng Ho. Mereka menyebarkan agama dengan berdagang dan melakukan pernikahan dengan pribumi.

Proses penyebaran ini diperkuat kembali oleh peran Wali Songo. Pasalnya, sebagian pihak berpendapat bahwa mereka adalah Tionghoa. Meskipun begitu, pendapat ini masih diperdebatkan dan belum menemukan titik terang.

Lalu, ke mana kah Tionghoa Muslim tersebut berada kini? Adakah komunitas Tionghoa Muslim yang masih bertahan di Indonesia? Jawabannya, tidak ada satu pun jejak keberadaan mereka di Indonesia hari ini. Andai pun ada Tionghoa yang beragama Islam, besar kemungkinan merupakan mualaf, bukan yang muslim secara turun temurun.

Mengenai hal ini, Afthonul Alif punya jawabannya dalam bukunya berjudul Identitas Tionghoa Muslim Indonesia. Dalam buku tersebut, Afthonul menceritakan bahwa gelombang kedatangan orang-orang Tionghoa Muslim dalam jumlah besar terjadi pada awal abad 15, tepatnya ketika Laksamana Cheng Ho beserta pengikutnya melakukan muhibah ke Nusantara atas perintah Kaisar Yung-lo dari Dinasti Ming. Muhibah tersebut merupakan bagian dari ekspedisi perdagangan Dinasti Ming ke Asia Tenggara.

Dalam ekspedisi tersebut, Cheng Ho menyaksikan banyak pemukiman Tionghoa Muslim di berbagai pelabuhan yang disinggahinya. Bagaimana pun, sebelum kedatangan Cheng Ho, sudah banyak orang-orang Tionghoa Muslim yang menjejakan kaki di pesisir Nusantara. Umumnya, mereka adalah imigran laki-laki yang datang bergelombang dalam kelompok-kelompok kecil. Motif kedatangan mereka sederhana: memperbaiki taraf hidup dan menghindarkan diri dari konflik-konflik politik di negeri asal mereka.

Umumnya, mereka datang dari daerah Zhangzhou, Quanzhou, dan Guangdong. Kehadiran mereka di Nusantara disambut baik oleh penduduk asli. Lebih dari itu, terjalin interaksi yang memicu perkawinan antara Tionghoa Muslim dengan perempuan-perempuan pribumi. Hasilnya, lahirlah keturunan baru yang berjuluk generasi Tionghoa peranakan.

Foto: Blogspot.com

Foto: Blogspot.com

Kembali ke kisah Laksamana Cheng Ho. Saat armadanya tiba di pesisir pantai utara Jawa, salah satu pembantu setia Cheng Ho bernama Wang Jing Hong sakit keras. Laksamana Cheng Ho pun memerintahkan armadanya singgah di Pelabuhan Simongan, Semarang. Selama pendaratan, mereka menemukan sebuah gua yang dijadikan tempat peristirahatan sementara untuk mengobati Wang Jing Hong.

Setelah kondisi pembantu setianya membaik, Cheng Ho memutuskan untuk melanjutkan pelayaran ke barat. Dia meninggalkan sepuluh awak kapal untuk menemani Wang sekaligus sebuah kapal dan sejumlah perbekalan.

Sepeninggalan Cheng Ho, Wang bersama 10 awak kapal memanfaatkan kapal pemberian Sang Laksamana sebagai sarana dagang di sepanjang pantai. Dalam setiap pelayaran, mereka singgah di beberapa Bandar. Tak hanya itu saja, awak kapal pun ada yang menikah dengan perempuan setempat.

Selang beberapa waktu, kawasan sekitar gua akhirnya berkembang menjadi kawasan yang ramai dan makmur. Banyak orang Tionghoa dan penduduk setempat yang datang dan bertempat tinggal serta bercocok tanam di wilayah sekitar gua. Dalam hal ini, Wang berjasa mengajari waga bercocok tanam. Lebih dari itu, Wang juga menyebarkan agama Islam di kalangan masyarakat Tionghoa dan penduduk setempat yang tinggal di wilayah dekat gua. Berkat jasanya ini, Wang kemudian diberi gelar Kiai Juru Mudi Dampo Awang.

Secara terpisah, perjuangan menyebarkan agama Islam di tanah Jawa dilanjutkan pula oleh Wali Songo yang juga berdarah Tionghoa. Kisah Wali Songo ini memang tidak termaktub dalam buku Afthonul. Namun, wawancara saya dengan Widyo Nugrahanto membuka secercah titik koneksi terkait darah Tionghoa para Wali Songo. Cerita mengenai Wali Songo ini, akan saya paparkan dalam postingan yang lain.

Singkat cerita, hubungan antara identitas Muslim dan Tionghoa berubah ketika Belanda menginjakkan kaki di Indonesia. Lebih lanjut, Afthonul memaparkan bahwa ketika Belanda berkuasa di Indonesia, mereka menerapkan politik pecah belah (devide et impera).

Belanda membagi penduduk Indonesia menjadi tiga golongan. Golongan pertama adalah masyarakat Eropa. Mereka menempati kelas sosial tertinggi dan berhak atas fasilitas publik yang paling baik. Di golongan kedua adalah orang-orang Timur Asing, yaitu Tionghoa, Arab, dan Indonesia. Sedangkan golongan ketiga dan paling rendah adalah orang pribumi (inlander). Kebijakan ini membuat etnis Tionghoa berangsur-angsur terpisah dari orang-orang Indonesia pada umumnya.

Sebagi masyarakat kelas kedua, oorang-orang Tionghoa menunjukkan kecenderungan merapat kepada penguasa dengan maksud mengamankan kepentingan ekonomi dan posisi sosial mereka. Pasalnya, sikap ini salah satunya terpicu trauma tragedi 1740. Ketika itu, 10 ribu orang Tionghoa dibantai secara massal oleh VOC di Batavia. Jumlah yang sangat besar untuk ukuran zaman itu.

Karena mulai merapat dengan Belanda, secara sistematis, mereka mulai melakukan mobilitas sosial seperti orang-orang Eropa pada umumnya. Misalnya dengan mengikuti pendidikan ala Eropa, mengenakan pakaian yang biasa digunakan orang-orang Eropa, serta memeluk agama Kristen dan Katolik yang notabenenya agama mayoritas Eropa.

Pengelompokan penduduk Indonesia ini kemudian disusul dengan keluarnya larangan bagi orang Tionghoa untuk mempraktikkan hal-hal yang berhubungan dengan masyarakat pribumi, baik itu tradisi, adat istiadat, maupun agama. Peraturan ini membuat orang-orang Tionghoa yang memeluk Islam secara otomatis mengalami penurunan derajatnya menjadi sama dengan penduduk pribumi.

Foto: Wikimedia.org

Cheng Ho, Foto: Wikimedia.org

Peraturan tersebut menghasilkan kecenderungan di kalangan orang-orang Tionghoa non-Muslim untuk tidak mengakui anggota keluarga mereka yang memeluk Islam. Bagi mereka saat itu, Islam dianggap identik dengan penduduk pribumi yang miskin, bodoh, dan terbelakang. Kondisi ini membuat semakin merenggangnya hubungan antara masyarakat pribumi dengan golongan Tionghoa, juga membangun pola yang cenderung antagonistik.

Dampak lainnya, saya menyimpulkan bahwa Tionghoa Muslim lambat-laun tersingkir dari komunitas Tionghoa. Mereka lebih memilih berasimilasi dengan warga pribumi. Lambat-laun, identitas Tionghoa mereka pun hilang. Berganti dengan identitas sebagai pribumi. Generasi-generasi sesudahnya pun melabelkan diri sebagai pribumi dengan kesadaran identitas yang berbeda: mereka bukan Tionghoa, tetapi seorang pribumi. Hanya saja, secara fisik, mereka memiliki kulit yang putih, mata yang sipit, dan cara bicara yang seperti Tionghoa.

Meskipun zaman telah berubah dan Belanda telah lama meninggalkan Indonesia, tetapi diskriminasi terhadap Tionghoa dan pribumi oleh masing-masing pihak masih cukup kental. Di kalangan Tionghoa sendiri, masih menujukkan resistensi terhadap Islam. Mereka masih melihat bahwa Islam adalah agama pribumi yang penganutnya adalah miskin, intoleran, pemalas, dan terbelakang. Kebanyakan dari mereka juga masih mengusir anggota keluarganya yang masuk Islam.

Di kalangan pribumi juga demikian. Masih terdapat diskriminasi terhadap Tionghoa. Tidak saja Tionghoa yang non-Muslim. Tionghoa yang beragam Islam pun kerap kali mendapatkan perlakukan diskriminatif.***

Iklan

One thought on “Tionghoa, Islam, dan Indonesia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s