Mensyukuri Keberadaan


Foto: Flickr.com

Foto: Flickr.com

Dalam sebuah pelatihan menulis, salah satu peserta mengeluhkan terkait peralatan untuk menulis di situs web. Pasalnya, tidak semua peserta memiliki komputer yang terhubung ke internet. “Tentu saja hal ini berbeda dengan Anda yang memiliki laptop (komputer jinjing), itu pun sekelas Macintosh,” tuding peserta.

Saya tercengang sekaligus tertawa geli yang dibumbui sikap menyengir. Saya tidak menyangka mereka menyampaikan keluhan seperti itu juga. Saya jadi teringat masa beberapa tahun ke belakang. Saya pernah menuding dalam hati hal yang sama ke teman-teman saya yang punya fasilitas teknologi lengkap: notebook Macintosh, gadget canggih pada masanya, akses internet bebas, dan tentu saja uang berlebih sehingga bebas bepergian tanpa khawatir tidak memiliki uang.

Kini, setelah 5 tahun berlalu, semua berubah. Fasilitas yang dulu saya idam-idamkan, alhamdulillah lambat-laun terwujud. Satu hal yang saya pelajari dalam 5 tahun itu adalah: tetaplah berkarya, meskipun dengan keterbatasan. Lebih dari itu, keterbatasan malah mendorong kita untuk lebih produktif dan berkembang.
Saya pribadi, 5 tahun yang lalu, hanya memiliki ponsel jadul dengan layar monokrom serta sebuah PC yang sangat lambat. Berinternet pun kerap saya lakukan di warnet. Namun, hal itu tidak membuat saya surut untuk menulis, menulis, dan menulis.

Saya mengawali karir menulis sebagai penulis freelance tentang Linux dan aplikasi open source. Bagi saya, waktu itu tidak mudah untuk menjalankan berbagai aplikasi Linux di komputer saya yang hanya memiliki memori RAM 256 MB dengan prosesor Intel Pentium 4. Selain lambat, kerap kali aplikasi Linux dan open source tidak berjalan sebagaimana mestinya.

Belum lagi bila harus mengambil screen shot aplikasi. Benar-benar mensyaratkan kesabaran yang ekstra. Komputer menjadi sangat lamban karena harus menjalankan banyak aplikasi sekaligus. Apalagi bila yang dibuka merupakan aplikasi grafis. Saya bisa menunggui komputer sembari membuat teh atau kopi.

Meskipun begitu, banyak karya muncul dari komputer jadul saya itu. Dulu, dalam sebulan, 2 – 4 tulisan saya bisa dimuat di koran lokal Jawa Barat. Honornya bisa digunakan untuk membayar kostan dan biaya hidup selama sebulan. Menggunakan komputer jadul saya itu pula, saya berhasil menjadi pemenang lomba blog, meskipun bukan juara umum atau juara pertama. Namun, hadiahnya sangat banyak untuk saya ketika itu. Selain hadiah berupa perangkat teknologi, juga hadiah uang tunai.

Keinginan untuk memperbaharui perangkat teknologi ketika itu juga menggebu-gebu. Beberapa kali saya mencoba menyicil komputer jinjing, tetapi gagal. Alasannya, tentu saja masalah mobilitas. Ketika itu, saya memprediksikan bahwa produktivitas akan meningkat dan mampu menghasilkan lebih banyak produk bila memiliki komputer jinjing dan akses internet tak terbatas.

Selang beberapa waktu, keinginan itu lambat laun terpenuhi. Saya bisa membeli komputer jinjing milik adik saya dengan harga yang cukup murah. Saya juga mampu membeli modem yang memungkinkan untuk mengakses internet di mana pun dan setiap saat.

Namun, hitung-hitungan saya terkait produktivitas ternyata hanya angan-angan. Alih-alih, waktu saya malah banyak tersita oleh jejaring sosial dan kegiatan tak bermakna lainnya di internet. Aktivitas menulis saya pun banyak berkurang.

Tanpa internet, saya lebih mampu memaksimalkan waktu untuk membaca dan mengulik-ngulik. Sehingga kualitas dan kuantitas tulisan saya tetap terjaga. Namun, keberadaan internet telah memalingkan saya dari aktivitas tersebut.

Tak mau kalah dengan melemahnya produktivitas, saya berusaha berjuang untuk mengoptimalkan perangkat yang ada. Komputer jinjing saya maksimalkan untuk bekerja dan berproduksi. Sedangkan keberadaan internet, saya sikapi untuk mencari data dan menambah wawasan. Lambat laun, mulai menunjukkan hasil yang lumayan. Saya bisa tetap produktif dengan menjaga interaksi dengan teknologi agar tidak berlebihan dan melampaui batas.

Satu hal yang menurut saya masih kurang dari komputer jinjing sebelumnya adalah ketahanan daya baterainya. Karena baterainya sudah tidak berfungsi, mensyaratkan suplai listrik untuk komputer jinjing saya bisa menyala. Saya pun punya keinginan untuk memiliki komputer jinjing yang mampu menyala dengan baterainya.

Foto: betterwritinghabits.com

Foto: betterwritinghabits.com

Alhamdulillah, melalui lomba menulis blog, akhirnya saya memiliki MacBook Air. Satu hal yang perlu digarisbawahi, bahwa tulisan saya diketik menggunakan komputer jinjing yang saya beli dari adik saya. Sebuah komputer jinjing dengan merek tak jelas dengan kualitas menengah ke bawah. Bukan menggunakan komputer jinjing dengan merek ternama dengan kualitas atas.

Meskipun begitu, produktivitas saya dengan MacBook Air tidak serta merta membaik. Justru, saya banyak menghabiskan waktu untuk sekedar berinternet, mendengarkan lagu, dan menonton film. Waktu-waktu saya malah terbuai dengan kehandalah berinternet serta kecanggihan audio dan grafis yang ditawarkan oleh MacBook Air.

Sampai titik ini, satu hal yang saya sadari, bahwa sesuatu yang hanya didasari oleh keinginan dan ambisi, belum tentu membawa perubahan yang baik. Sebaliknya, malah berpotensi menjerumuskan orang ke lubang kelalaian dan kesia-siaan.

Untuk itu, syukurilah segala yang telah diberikanNya kepada kita. Manfaatkanlah dengan sebaik-baiknya dan jangan pernah berangan-angan untuk memiliki sesuatu yang lebih atas segala yang telah kita miliki.

Jangan jadikan keterbatasan sebagai alasan untuk tidak melakukan sesuatu. Namun, jadikan keterbatasan sebagai media untuk belajar menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Fokuslah pada keberadaan titipan Tuhan yang ada pada kita saat ini. Ingatlah selalu bahwa ada jutaan, bahkan milyaran orang, yang tidak memiliki fasilitas seperti kita. Untuk itulah, maksimalkan dan gunakan dengan baik dan bijak. Bagaimana pun, ketika Tuhan memberikan kelebihan kepada kita, datang juga tanggung jawab yang lebih untuk mengoptimalkan dan memanfaatkannya dengan baik.***

3 thoughts on “Mensyukuri Keberadaan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s