Produktivitas vs. Internet dan Komputer


Foto: worcesterk12.com

Foto: worcesterk12.com

Pada acara penutupan tahun ajaran dan pelepasan santri menuju rumahnya masing-masing, pesantren SPMAA Lamongan melarang santri-santrinya untuk menggunakan komputer, mengakses internet, dan membawa ponsel. Hal ini berlaku untuk seluruh santri, mulai dari santri Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA), hingga alumni yang mengabdi di pesantren.

Keputusan ini bukan tanpa sebab. Pasalnya, beberapa tahun lalu, seluruh santri dan alumni yang mengabdi di SPMAA dibebaskan membawa komputer jinjing. Akses internet di lingkungan pesantren pun dibuka lebar-lebar. Tanpa kata kunci (password), bandwith besar, dengan jangkauan wi-fi yang mencakup seluruh komplek pesantren.

Alih-alih, waktu mereka justru tidak produktif. Mereka seringkali menghabiskan waktu dengan internet dan komputer jinjing masing-masing. Bila akses internet padam, waktu mereka habis hanya untuk mendengarkan musik atau menonton film.

Akhirnya, pihak pengurus pesantren pun sepakat untuk menutup akses internet untuk santri. Adapun komputer jinjing yang mereka bawa, dikembalikan kepada walinya masing-masing.

Meskipun saya bukanlah santri atau alumni SPMAA Lamongan, tetapi mendengar keputusan tersebut saya sadar bahwa banyak waktu yang saya buang di hadapan komputer jinjing dan internet. Produktivitas saya justru rendah dengan adanya internet dan komputer.

Ini jadi bahan evaluasi saya juga, bahwa saya harus meningkatkan produktivitas dan membatasi diri dengan akses internet dan komputer jinjing berlebihan. Bila menganggur dan hanya berjejaring sosial tanpa tujuan yang jelas, sebaiknya matikan internet, matikan komputer, kemudian melakukan hal-hal produktif seperti membaca buku, membantu istri di rumah, mengurusi kebun, dan memelihara ikan.

Terkait akses internet dan komputer jinjing terhadap anak-anak, Jepang pun memberlakukan hal yang sama dengan SPMAA Lamongan. Pernah ketika saya berbincang-bincang dengan Sang Pakar yang waktu itu baru pulang dari Jepang. Dia menceritakan bahwa pelajar Jepang baru diajari komputer dan internet ketika sudah duduk di bangku SMA. Padahal, negeri ini terdepan dalam hal teknologi di dunia.

Lebih lanjut, Sang Pakar juga menjelaskan bahwa pelajar di bangku SD dan SMP semaksimal mungkin diarahkan untuk berkegiatan fisik dan di luar ruangan. Hal ini bertujuan memaksimalkan kemampuan motorik dan sosial mereka.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s