Mencicipi Shalat di Mushola dalam Kereta Api yang Melaju


Mushola di dalam kereta api Mutiara Selatan (Foto: Yudha PS)

Mushola di dalam kereta api Mutiara Selatan (Foto: Yudha PS)

Ketika menaniki kereta, biasanya saya tidak pernah mau diam. Hampir setiap jam, saya akan pergi ke toilet. Tidak benar-benar ke toilet. Karena sembari ke toilet, saya juga akan mondar mandir dari gerbong depan ke gerbong belakang, kemudian kembali ke tempat duduk saya. Tujuannya, selain meregangkan otot, saya juga kerap melihat-lihat seisi gerbong. Tidak hanya orangnya, tetapi fasilitas yang ada di dalam kereta.

Kebiasaan lainnya adalah shalat di mushola kereta. Mushola kereta ini terletak di gerbong restorasi. Ukurannya pun cukup mungil dengan panjang sekitar 150 centimeter dan lebar sekitar 75 centimeter. Sehingga hanya muat untuk shalat seorang saja.

Ada sensasi dan pengalaman yang tidak biasa ketika shalat. Tubuh kita bergoyang-goyang mengikuti irama laju kereta api. Beruntung, dalam perjalanan ke Surabaya hari ini, saya shalat ketika kereta sedang melaju di wilayah Tasikmalaya yang geografisnya datar. Sehingga saya bisa shalat dengan tenang. Rasanya seperti shalat di daratan yang diguncang gempa sebesar sekitar 3 – 5 Skala Richter, dari mulai takbir hingga salam.

Namun, sensasi shalat di atas kereta yang berbeda pernah saya alami ketika 2004 silam. Saat itu, saya hendak pergi ke Yogyakarta untuk mengikuti ujian masuk Universitas Gajah Mada. Adzan maghrib berkumandang ketika kereta sudah memasuki wilayah Garut. Geografis di wilayah ini berbukit-bukit dengan lembah-lembah cukup dalam di sela-selanya. Sehingga jalur kereta apinya pun naik-turun dengan belokan tajam ke kanan kemudian banting ke kiri. Hal ini membuat guncangan di dalam kereta lebih besar. Mungkin setara dengan gempa 7 – 9 Skala Richter. Untuk berjalan saja, rasanya sulit untuk stabil dan seringkali tersungkur ke kursi di kanan-kirinya. Sehingga harus berpegangan untuk berjalan tanpa terjatuh.

Waktu itu, usai waktu maghrib tiba, saya pun langsung mencoba mencicipi shalat di mushola di atas kereta. Semua masih berjalan lancar ketika saya menyelesaikan bacaan surat pilihan di rakaat pertama. Namun, ketika mulai ruku, tubuh saya tidak stabil. Kadang menukik ke depan, seringkali juga terbanting-banting ke kanan dan kiri. Hal yang sama saya alami juga saat usai ruku dan hendak sujud. Saya beberapa kali hampir terjatuh lantaran laju kereta yang tidak stabil. Tidak hanya ke depan, saya juga hampir terjatuh ke belakang.

Hal yang sama terjadi juga pada rakaat kedua dan ketiga, kemudian disambung dengan rakaat dalam shalat Isya yang ditarik ke Maghrib. Pada saat menjelang ruku hingga menjelang sujud, bisa dipastikan saya hampir selalu terjatuh akibat laju kereta api.

Kereta api waktu itu juga sempat berhenti ketika saya sedang shalat. Lucunya, ketika kereta berhenti dan mengerem cukup kencang, posisi saya sedang akan sujud. Dan tiba-tiba saja daya dari belakang mendorong saya sehingga jidat saya terdorong lebih keras ke sajadah. Kemudian, ketika kereta api berjalan kembali, tepat ketika saya hendak berdiri usai sujud. Saya pun hampir terjatuh ke belakang.

Ketika itu, saya benar-benar mengalami shalat yang menyita cukup banyak energi. Namun, pengalaman ini menurut saya mengasyikan dan menantang untuk dicoba kembali bila berkesempatan shalat di atas kereta api lagi.

Meskipun begitu, saya agak kurang nyaman dengan kebersihan sajadah yang disediakan. Agak berdebu dan bau. Saya mengusulkan untuk mencuci sajadah secara berkala, mungkin seminggu sekali. Sehingga diharapkan membuat nyaman penggunanya.

Lalu, bagaimana dengan anda? Punya pengalaman shalat di mushola dalam kereta api juga?***

One thought on “Mencicipi Shalat di Mushola dalam Kereta Api yang Melaju

  1. ninies berkata:

    Saya pernah juga sholat diatas kereta, tapi cuma di tempat duduk aja, tidak di mushola. Yang saya tahu, sholat di kereta dengan cara duduk juga dibenarkan koq. Yang jadi masalah, saya tidak yakin air yang ada di kereta, suci tidak ya, karena kamar mandinya bau nya minta ampun, bikin ga tahan. Akhirnya saya putuskan tayamum diatas kursi kereta. Sholat saya sah tidak ya?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s