Pesantren Harus Terbuka


Foto: newsimg.bbc.co.uk

Foto: newsimg.bbc.co.uk

Saat Launching dan Talkshow School Rangers pada Jumat (27/07/2012) lalu, saya bertemu dengan Basyirun Adhim. Beliau merupakan salah satu pengelola Yayasan Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) Lamongan. Adhim diundang oleh Justina untuk ikut serta memberikan motivasi dan inspirasi untuk rekan-rekan komunitas dan sekolah di Gerakan Sekolah Mandiri.

Di sela-sela acara, saya cukup panjang berbincang-bincang dengan beliau. Alumni jurusan jurnalistik sebuah perguruan tinggi di Surabaya ini langsung sumringah ketika mengetahui bahwa saya adalah seorang citizen journalist. Bahkan, dia sempat curhat mengenai labelisasi yang dilakukan media terhadap pesantren-pesantren di Jawa Timur. Pasalnya, usai peristiwa bom bali pada 2001 silam, pesantren dicap sebagai sarang teroris.

Labelisasi ini berakibat sangat fatal untuk Adhim dan kalangan pesantren di Lamongan, Jawa Timur. Seringkali, ketika akan naik pesawat, petugas mencurigainya, bahkan menggeledah serta menginterogasinya. Salah satu kejadian yang dia ingat ketika berkunjung ke Bali beberapa tahun silam. Ketika tiba di Banyuwangi dan bersiap menyeberang, petugas bertanya tentang asal dan tempat tinggalnya. Kontan, setelah dia menjawab Lamongan, Adhim langsung di tanya macam-macam hingga digeledah.

Padahal, dandanan Adhim tidak seperti kalangan pesantren kebanyakan. Kepalanya pelontos dan dibiarkan terbuka tanpa penutup kepala seperti peci atau sorban. Pakaian yang digunakan pun seperti orang Indonesia pada umumnya, setidaknya ketika saya dan dia bertemu. Kemeja batik berlengan pendek dengan warna gelap yang berpadu dengan celana katun berwarna senada. Benar-benar seperti pemuda pada umumnya.

Lamongan sendiri merupakan kota asal pelaku Bom Bali 2001. Mereka belajar dan besar di salah satu pesantren di provinsi Jawa Timur tersebut. Hasilnya, sejak peristiwa 11 Oktober 2011, Lamongan dicap sebagai gudangnya teroris. Tanpa pandang bulu, orang-orang yang mengaku dari Lamongan langsung dicurigai, diinterogasi, dan digeledah, termasuk Gus Adhim.

Saya pribadi langsung menyarankan bahwa pesantren harus terbuka. Caranya dengan membuat media online sendiri dan mengunggah kehidupan masyarakat di pesantren bersangkutan. Tujuannya, agar masyarakat mengetahui bahwa pesantren adalah pusat ilmu pengetahuan, bukan gudang teroris. Selain itu, pesantren juga diharapkan mengunggah konten-konten ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Sehingga masyarakat punya perpustakaan digital terkait tema-tema keagamaan.

Saran saya ini diamini oleh Adhim. Mungkin karena dia lulusan jurnalistik, dia pun memiliki solusi serupa. Gus Adhim pun langsung mengundang saya untuk berkunjung ke pesantrennya di Lamongan, Jawa Timur. Tanpa pikir panjang, saya pun bersedia memenuhi undangannya.

Dan insyAllah pada Senin, 6 Agustus 2012, saya dan teman-teman School Ranger akan berangkat dari Bandung menuju Lamongan. Tujuan keberangkatan saya pribadi untuk memetakan potensi pesantren Gus Adhim sekaligus membicarakan pelatihan jurnalisme warga di sana. Sedangkan teman-teman School Ranger ingin melihat contoh sekolah mandiri yang telah dibangun oleh keluarga Gus Adhim.

SPMAA sendiri menurut saya merupakan lembaga pendidikan yang sangat unik. Setiap santrinya diberi domba masing-masing satu ekor. “Sebelum memimpin umat, seorang santri harus bisa menggembala domba-dombanya,” tandas Adhim. Menurutnya, menggembalakan ternak merupakan salah satu aktivitas nabi dan rasul. Hal ini merupakan ajang melatih mental kepemimpinan seseorang.

Hebatnya pula, SPMAA tidak memungut bayaran sepeser pun kepada santrinya. Semua fasilitas pendidikannya gratis, malah diberi domba. Ayah Gus Adhim yang merupakan pendiri SPMAA, mengarahkan semua santrinya untuk menjadi TPU PGA yang merupakan singkatan dari Tenaga Penyayang Umat Pegawa Gaji Akhirat.

Selain mandiri secara finansial, mereka pun mandiri secara kurikulum dan pengelolaan. Benar-benar percontohan sekolah mandiri. Untuk itulah, teman-teman School Ranger merasa wajib untuk berkunjung ke sana. Mohon doanya teman-teman.***

3 thoughts on “Pesantren Harus Terbuka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s