Berlabuh di School Ranger


Peserta Urung Rembug School Ranger berfoto bersama usai kegiatan pada Sabtu, 28 Juli 2012 silam. (Foto: dok. School Ranger)

Peserta Urung Rembug School Ranger berfoto bersama usai kegiatan pada Sabtu, 28 Juli 2012 silam. (Foto: dok. School Ranger)

Di masa-masa transisi usai pensiun dari Salman Media, tanpa diduga saya jadi berkecimpung di dunia pendidikan. Padahal, saya tidak mengerti sama sekali terkait dunia pendidikan. Apalagi kalau sudah berbincang-bincang soal sistem pendidikan nasional. Rasanya, saya bukan orang yang tepat berada di sini. Karena saya tidak punya latar belakang sama sekali terkait dunia pendidikan.

Namun, apa boleh dikata, Tuhan menakdirkan lain. Bersama teman-teman School Ranger, saya disuruh belajar tentang makna mendidik dan belajar. Bahwasannya, mendidik itu adalah tanggung jawab setiap anggota masyarakat, dan belajar adalah kewajiban setiap insan. Lebih-kurang, itulah yang saya simpulkan kini.

Meskipun berkecimpung di organisasi pendidikan, tetapi saya tidak berperan sebagai guru atau pun aktivis pendidikan. Tugas saya lebih ke penyedia dukungan media untuk komunitas School Ranger. Bagaimana pun, media bagi sebuah gerakan sosial dewasa ini adalah sebuah hal yang penting dan krusial. Media membantu mempublikasikan tahapan demi tahapan gerakan sekaligus ajang untuk menangkap perhatian masyarakat agar mau terlibat secara aktif.

Di School Ranger, selain dua fungsi di atas, ada juga fungsi lainnya dari media yang tidak kalah penting, yaitu: menggalang wawasan dan pengetahuan seputar aktivitas membangun sekolah mandiri. Bahasa kerennya adalah Knowledge Management. Karena fokus School Ranger saat ini adalah membangun Modul dan Model. Modul ini merupakan kumpulan solusi dari berbagai permasalahan yang terjadi ketika membangun sekolah mandiri.

Modul ini nantinya bisa diakses oleh setiap orang yang ingin membangun sekolah mandiri. Diharapkan, ketika orang mengaplikasikan modul ini di lingkungannya, Gerakan Sekolah Mandiri akan semakin masif dan luas. Seperti bola salju yang menggelinding dari atas bukit. Semakin lama, semakin besar dan siap menghantam halangan demi halangan yang merintang.

Modul ini juga berfungsi untuk membangun model, minimal oleh School Ranger sendiri. Nantinya, mereka yang ingin membangun sekolah serupa, bisa menduplikasi model-model yang sudah ada. Sehingga memudahkan masyarakat yang ingin membuatnya. Bahkan, School Ranger sendiri nantinya yang akan mendampingi pembangunan sekolah mandiri tersebut.

Lebih jauh lagi, School Ranger diharapkan juga mampu meningkatkan kapasitas manajemen sekolah-sekolah mandiri. Caranya, bisa melalui pelatihan, kursus singkat, hingga pembuatan buku tentang sekolah mandiri. Sehingga sekolah mandiri berbasis masyarakat mampu memberikan pendidikan yang berkualitas dengan jangkauan yang luas.

Dalam School Ranger ini, saya berusaha menanamkan konsep 4 Literasi yang digagas oleh Kang Budhiana Kartawijaya, Pemimpin Redaksi Pikiran Rakyat Bandung. Merujuk kepada beliau, untuk menjadi agen perubahan (agent of change), seseorang harus menguasai 4 kemampuan dasar, yaitu: Culture Literacy, Media Literacy, Technology Literacy, dan Network Literacy.

Konsep 4 Literasi

Konsep 4 Literasi

Dalam konteks Gerakan Sekolah Mandiri, seorang pejuang pendidikan harus menguasai keempat literasi tersebut. Untuk Culture Literacy, dia harus punya wawasan mengenai keadaan ekonomi, politik, sosial, dan budaya di sebuah daerah. Hal ini mempermudah pergerakan dan pendekatan ke masyarakat. Sehingga bisa mendorong dan mengembangkan masyarakat. Mereka yang memiliki Culture Literacy juga akan mudah diterima oleh masyarakat. Karena dia mampu menyesuaikan cara berkomunikasinya dengan bahasa dan etika yang ada di masyarakat setempat.

Selanjutnya, adalah Media Literacy yang mencakup kemampuan dan wawasan untuk membuat dan memelihara media berbasis komunitas seperti radio, buletin, atau situs web. Media memudahkan komunikasi antar masyarakat. Dengan terwujudnya komunikasi yang baik, maka akan terjalin paradigma yang baik juga di masyarakat. Selain itu, media juga berkontribusi pada penguatan masyarakat di tingkat lokal. Sehingga mempermudah seorang pejuang pendidikan untuk menggerakan massa. Dalam konteks Gerakan Sekolah Mandiri, masyarakat bisa digerakan untuk mengajar dan mendukung sekolah berbasiskan komunitas masyarakat.

Ketiga adalah Technology Literacy. Dalam hal ini, seorang agen perubahan harus mampu menguasai teknologi-teknologi yang dibutuhkan untuk melancarkan gerakannya. Konteksnya di masa kini, teknologi ini merujuk kepada teknologi digital, seperti komputer dan internet yang meliputi: keahlian menggunakan situs web, situs jejaring sosial, email, layanan instant messenger, dan forum online. Kemampuan ini tentunya mempermudah memperluas isu dan pengaruh serta inspirasi ke belahan dunia lainnya.

Sedangkan yang terakhir adalah Network Literacy yang merujuk pada kemampuan mengembangkan jaringan pertemanan, baik di dunia maya maupun di dunia nyata. Baik di tingkat lokal maupun global. Hal ini akan semakin mempermudah pergerakan, seperti pencarian dana dan pengentasan masalah.

Semoga, tahapan-tahapan yang kami usahakan mampu meraih capaian yang diharapkan. Mohon doanya, kawans….***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s