Sebuah Kisah dari Launching School Rangers: Mendidik dan Berbagi Itu Asyik…


Peserta Urung Rembug Gerakan Sekolah Mandiri (GSM) berfoto usai kegiatan. (Foto: Dok. School Ranger)

Peserta Urung Rembug Gerakan Sekolah Mandiri (GSM) berfoto usai kegiatan. (Foto: Dok. School Ranger)

Alhamdulillah, acara talkshow sekaligus launching komunitas School Rangers di Salman ITB hari Jumat (27/07/2012) lalu berlangsung sukses. Cukup banyak peserta yang hadir. Umumnya, mereka berasal dari komunitas peduli pendidikan dan sekolah mandiri. Anissa Trisdianty, sang moderator yang juga guru SD IT Rabbani, berhasil menarik peserta untuk berbagi inspirasi di bidang pendidikan yang tengah dilakoni masing-masing.

Misalnya saja dengan Anna Musdalifah. Pendidik Taman Kanan-Kanak (TK) ini mengajarkan ilmu mengelola TK ke daerah-daerah di pelosok tanah air. “Jangankan Tasik yang jauh dari Bandung. Di wilayah 022 (Bandung) saja, saya masih menemukan ada daerah yang minim akses pendidikan,” ungkap Anna dalam sesi talkshow. Dia menceritakan sebuah daerah di bilangan Gunung Halu, Cililin, Kabupaten Bandung Barat.

Sarana transportasi untuk mencapai wilayah tersebut sangatlah minim. Selain hanya ada satu minibus, kondisi jalannya pun rusak dengan kontur yang naik-turun serta berkelok-kelok. Dia juga harus naik ojeg dengan biaya hingga 60 ribu Rupiah. “Saya bawa infokus sendiri dan peralatan seadanya. Meskipun capek, tapi ketika melihat masyarakat yang antusias untuk belajar, saya semangat lagi,” kisah Anna.

Tak disangka, ketika tiba di lokasi, Anna sudah ditunggu 200 orang pengajar TK yang tergabung dalam Persatuan Guru RA (Roudlotul Atfal, setingkat TK). Mereka adalah ibu rumah tangga yang ikhlas memberikan pelajaran meskipun minim ilmu. Namun, Anna mengkhawatirkan kondisi ini. Bagaimana pun,  ikhlas mengajar tanpa ilmu bisa menyebabkan salah kaprah. “Apalagi untuk pendidikan TK,” tandas Anna.

Lebih lanjut, ibu satu anak ini mengaku bahwa berbagi itu asyik. “Bila (sesuatu) yang kita punya langsung dibagikan, InsyAllah selalu ada jalan,” simpulnya. Anna sendiri bersama suaminya perlahan-lahan sedang mewujudkan TK di wilayah Bandung Selatan. Mereka mendanai sekolah tersebut dari hasil mengajar di Taman Kanak-Kanak di Bandung setiap bulannya. Hebatnya, TK ini gratis untuk masyarakat di sekitarnya yang relatif berasal dari keluarga pra-sejahtera.

Perjuangan membangun pendidikan di daerah juga sudah dilakoni oleh Justina Wahyu. Dia merasa miris melihat anak-anak di desa Cayur, Kecamatan Cikatomas, Kabupaten Tasikmalaya. Pasalnya, usai lulus Madrasah Ibtidaiyah (setingkat Sekolah Dasar), anak-anak perempuan langsung dinikahkan oleh orang tuanya. “Sedangkan anak laki-laki akan melakoni pekerjaan sebagai pembordir, penyadap karet, atau mengarit rumput,” cerita Justina.

Beruntung, kini dia sudah mampu membangun Madrasah Tsanawiyah (setingkat Sekolah Menengah Pertama) di Cikatomas. Sehingga anak-anak desa tersebut mampu melanjutkan sekolahnya. Meskipun begitu, kesadaran masyarakat terhadap pendidikan masih rendah. Anak-anak didiknya kerap memprioritaskan untuk menyadap pohon karet dan membordir dibandingkan sekolah.

Hesty Ambarwati, Kepala SD IT Rabbani dan Koordinator School Ranger (Foto: Dok. School Ranger)

Hesty Ambarwati, Kepala SD IT Rabbani dan Koordinator School Ranger (Foto: Dok. School Ranger)

Ke depannya, Justina masih harus mempertahankan perjuangannya ini. “Saya berharap masyarakat bisa merubah pandangannya terhadap pendidikan. Supaya anak-anaknya mampu menggapai keinginan dan cita-citanya,” tandas Justina.

Di sisi lain, Irman Meilandi, penggerak Desa Mandalamekar yang turut hadir, mengajak hadirin untuk mulai bermedia. Pasalnya, dengan bermedia, dunia bisa mengenal Mandalamekar. “Tidak hanya (terkenal di daerah) lokal, tetapi juga (sampai) internasional,” ungkap Irman.

Dalam kesempatan tersebut, Irman menceritakan perihal Mandalamekar yang berhasil membangun hutan dan menggaungkan nama desa tersebut. Menurutnya, bila berbasis produk seperti buah-buahan atau sayuran, tidak akan berhasil. Dirinya pernah mencoba menanam rambutan yang rasanya manis. Namun, ketika di tanam di Mandalamekar, justru buahnya masam dan kecut. Selain itu, pengenalan sebuah daerah berbasis produk, akan memakan waktu yang lama.

Sedangkan dengan menggunakan media berbasis internet, Mandalamekar hanya membutuhkan rentang waktu antara 2009 hingga 2011 saja untuk dikenal. Bagaimana pun, untuk mendapatkan perhatian dari pengambil kebijakan merupakan hal yang sulit. “Namun, berkat (membuat) media, kini Gubernur (Jawa Barat) langsung memberikan bantuan untuk mengaspal jalan dan Bupati (Kabupaten Tasikmalaya) memberikan bantuan perangkat komputer,” paparnya.

Kisah Anna, Justina, dan Irman, menurut Kikin Tarigan, merupakan capaian yang luar biasa dan tidak setiap orang mampu membuatnya. “Saya tertantang, kok ada ‘orang gila’ yang melakukan perbuatan seperti ini?” ungkap Kikin, penasaran. “Saya merasa harus menularkan semangat ini di Aceh Tenggara,” lanjut pemerhati pendidikan yang menyempatkan datang dari Jakarta.

Kikin yang berasal dari Medan dan kini tinggal di Aceh Tenggara ini, miris dengan keadaan masyarakat di tempatnya. Pasalnya, untuk melakukan sesuatu, masyarakatnya mensyaratkan uang terlebih dahulu. Menurutnya, penyebabnya adalah kesadaran terhadap pendidikan yang masih minim.

Kikin sendiri mulai menyukai kegiatan mendidik sejak 2004 silam, sejak tsunami memporak-poranda Serambi Mekah tersebut. Ketika itu, beliau mengajar di Aceh selama 3 tahun. Sejak itu pula, kecintaannya terhadap pendidikan tumbuh. Padahal, ketika itu, dirinya tidak mengenal dan mengerti istilah-istilah di lingkungan pendidikan. Namun, aktivitas mendidik akhirnya menjadi bagian dari hidupnya kini.

Mendidik Sebagai Gaya Hidup

Di akhir acara, Hesty Ambarwati, koordinator School Ranger yang juga penggagas Gerakan Sekolah Mandiri, menyampaikan bahwa mendidik harus mampu menjadi gaya hidup, seperti halnya berkebun di kota dan penghijauan. “Mari berhenti mengutuk pekerjaan, dan saatnya mulai berbuat. Minimal, dari hal-hal yang kecil terlebih dahulu,” ajaknya.

Gus Adhim (Foto: dok. School Ranger)

Gus Adhim (Foto: dok. School Ranger)

Kepala SD IT Rabbani ini juga berharap paradigma masyarakat berubah. Menurutnya, membangun pendidikan merupakan tanggung jawab masyarakat, bukan guru atau pemerintah semata. Masyarakat dalam hal ini bisa berkontribusi banyak hal, mulai dengan mengajar atau hanya menjadi tim pendukung.

Senada dengan Hesty, Basyirun Adhim dari Sumber Pendidikan Mental Agama Allah (SPMAA) Lamongan, Jawa Timur, juga menandaskan bahwa semua orang adalah pendidik. “Semua orang ditakdirkan untuk menjadi guru, terutama orang tua,” tandas Adhim yang datang langsung dari Jawa Timur. “Sedangkan rumah adalah madrasah sebagai pusat pendidikannya,” lanjutnya.

Gus Adhim, begitu beliau akrab disapa, juga mengungkapkan bahwa menyerahkan pendidikan kepada guru adalah paradigma yang salah. Di pesantrennya, Adhim mengajarkan semua santrinya untuk menjadi pendidik. “Bagaimana pun, puncak karir seorang profesor adalah mengajar, bukan mencari sertifikasi,” ungkapnya.

Adhim pun merujuk kepada sejarah nabi dan rasul dalam Islam. Menurutnya, mereka semua bertugas mengajari umatnya. “Allah mengajari kita semua dari tidak tahu menjadi tahu. Dan (hal) inilah yang menjadi penyemangat saya dan kita semua untuk berkumpul di sini,” simpul Adhim.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s