Menyingkirkan Ketokohan dan Media Mainstream


Foto: xtimeline.com

Foto: xtimeline.com

Malam kian larut, dan kehidupan kian surut. Di Bandung sudah menjejak jam 22 malam lebih. Namun, di sini, di sebuah villa di desa Cimenyan, lebih dari 10 pemuda peduli pendidikan masih baur dalam diskusi hangat. Meskipun, di dataran tinggi ini, malam semakin dingin saja. Namun, gelora muda menghembuskan kehangatan ke dalam raga mereka.

Satu hal yang mereka bahas adalah tokoh dan media. “Kita harus punya tokoh agar gerakan kita dilihat oleh publik, sehingga diliput oleh media,” sahut seorang anggota diskusi. Obrolan pun menggelinding untuk menggaet tokoh pendidikan dan menarik minat media mainstream untuk meliput gerakan pendidikan ini.

Saya pribadi tidak setuju dengan ide ini. Semakin lama, dunia malah menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah gerakan tidak sepenuhnya bergantung pada tokoh dan media mainstream. Salah satu buktinya adalah Mandalamekar.

Bagi yang belum tahu Mandalamekar, silahkan baca tulisannya di sini. Secara sekilas, Desa Mandalamekar dinilai berhasil membangun ekologi hutan dan memperkuat ekonomi pedesaannya. Dalam hal ini, mereka berhasil menggerakan masyarakat melalui media, yaitu radio dan situs web.

Menurut saya, keberhasilan gerakan di Mandalamekar tidak bergantung pada ketokohan sosok besar dan media mainstream. Sosok yang awal-awal menggerakan adalah dua orang bersaudara yang saat itu bukan siapa-siapa. Mereka adalah Yana Noviadi dan Irman Meilandi. Yana sendiri, waktu itu masih warga masyarakat biasa, bukan kepala desa seperti saat ini.

Irman dan Yana mulai membangun desa sejak 2002 silam. Mereka bersama warga yang peduli ekologi hutan di Mandalamekar, mulai menanam pohon di hutan desa. Pada saat itu, di musim kemarau, air tidak pernah beranjak ke desa. Perihalnya hutan yang gundul tidak bisa menjamin kelangsungan air yang tercurah dari langit pada musim hujan.

Guna mensosialisasikan perihal penghijauan ini, pada 2007, Yana dan Irman sepakat untuk membangun radio komunitas di desanya. Sejak saat itu, gerakan penghijauan semakin masif. Alasannya, radio membantu mensosialisasikan program tersebut sekaligus membangun ikatan di antara warga. Karena dinilai memiliki kontribusi yang baik terhadap desa, Yana pun terpilih sebagai Kepala Desa Mandalamekar pada tahun yang sama.

Setelah 8 tahun berjalan, program ini mulai menampakkan hasil. Mata air yang dahulu kering karena ketiadaan hutan, lambat laun mulai membasahi sungai-sungai di Mandalamekar. Sawah pun akhirnya mulai terairi, baik pada musim hujan maupun musim kemarau.

Menjelang 2011, Yana dan Irman merasa bahwa prestasi ini perlu disampaikan ke masyarakat Mandalamekar yang berada di luar Tasikmalaya. Akhirnya, mereka pun membuat situs web dan mengisinya secara reguler dan konsisten. Tak disangka, situs web mandalamekar.or.id inilah yang menyebarkan inspirasi Yana dan Irman ke seluruh Indonesia, bahkan dunia.

Sejak saat itu, banyak orang yang menjadikan Mandalamekar sebagai model dalam membangun desa. Pemerintahan desa lain mulai melakukan perubahan secara berkala dengan merujuk ke Mandalamekar. Media mainstream pun mulai meliput Yana dan Irman beserta desanya. Tanpa sosok tokoh terkenal dan media mainstream, Mandalamekar berhasil membangun sebuah gerakan, yaitu Gerakan Desa Membangun.

Bandingkan dengan Indonesia Mengajar. Gerakan ini dinilai sukses lantaran ketokohan dari Anis Baswedan, seorang tokoh pendidikan nasional. Karena ketokohan ini, banyak media mainstream menceritakan perihal Indonesia Mengajar.

Namun, gerakan ini hanya gebrakan semata, tanpa ada dampak yang benar-benar jangka panjang terhadap pendidikan Indonesia. Malah, seorang pengajar muda yang saya kenal, ketika saya tanya kelanjutannya di dunia pendidikan, dia malah mengaku sedang melamar ke sebuah perusahaan otomotif ternama di Indonesia. Lalu, untuk apa dia ikut Indonesia Mengajar? Hanya untuk honornya yang konon katanya besar? Atau karena sebuah prestise semata?

Di era web 2.0 ini, ketika setiap orang mampu berkontribusi aktif dan positif terhadap dunia, kebutuhan terhadap ketokohan dan media mainstream bukanlah hal yang krusial. Sebaliknya, orang akan dinilai berdasarkan kontribusinya terhadap masyarakat.***

2 thoughts on “Menyingkirkan Ketokohan dan Media Mainstream

  1. BlackGerry berkata:

    baru tahu kalo indonesia mengajar honornya besar ya, oh iya desa mandalamekar memang menginspirasi. bukan hanya utk orang desa, utk orang kota yg merasa perlu kembali ke desa.šŸ™‚

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s