Mengapa Jurnalisme Warga?


Foto: stat.ks.kidsklik.com

Foto: stat.ks.kidsklik.com

Dalam satu dasawarsa terakhir, istilah jurnalisme warga (citizen journalism) mulai populer di kalangan masyarakat pengguna internet Indonesia. Kepopuleran ini salah satunya ditunjang dengan merebaknya blog dan situs jejaring sosial (social networking site) seperti Facebook dan Twitter.

Dengan adanya internet, orang bebas menyampaikan informasi apa pun ke masyarakat luas. Berita dan informasi bukan lagi monopoli jurnalis di lembaga pers, tetapi juga masyarakat umum. Melalui tulisan, foto, dan video, masyarakat menjadi pemegang kuasa atas arus informasi dunia.

Secara istilah, jurnalisme warga memang baru populer setelah adanya internet. Namun secara konsep, jurnalisme warga telah ada sejak manusia mengenal tulisan.

Jurnalisme sendiri merupakan proses mengumpulkan, memproses, dan menyampaikan informasi atau berita kepada khlayak. Bill Kovach dalam buku Elemen-Elemen Jurnalisme menyebutkan bahwa orang-orang primitif dari sekelompok suku di Afrika sampai pulau yang paling terpencil di Samudra Pasifik memiliki definisi yang sama tentang berita. Mereka memilih orang-orang yang mampu berlari cepat melintasi bukit, mengumpulkan informasi secara akurat, dan menceritakan ulang dengan memikat sebuah berita.

Berita merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia, lanjut Bill Kovach. Mengetahui peristiwa yang tidak bisa disaksikan mata kepala sendiri, ternyata menghadirkan rasa aman, kontrol diri, dan percaya diri. Ketika membangun hubungan sosial pun, sebagian manusia memulainya berdasarkan pada reaksi terhadap informasi. Dalam jangka panjang, berita mempengaruhi kualitas hidup, pikiran, dan budaya manusia. Untuk memasok berita, lahirlah jurnalisme yang merupakan sistem yang dilahirkan masyarakat.

Pada zaman primitif, kegiatan jurnalisme dilakukan oleh masyarakat. Sebelum adanya aksara, manusia berjurnalisme dengan lisan. Proses penyebaran berita dilakukan dari mulut ke mulut dan dari generasi ke generasi dalam bentuk yang bermacam-macam, seperti cerita dan lagu.

Ketika manusia memasuki fase sejarah (saat manusia mengenal tulisan), jurnalisme disebarluaskan melalui media tulis. Salah satu yang terkenal adalah Acta Diurna, pengumuman tentang sistem pertanggungjawaban harian senat dan kehidupan sosial serta politik Romawi.

Bentuk jurnalisme tulis kian berkembang setelah ditemukannya mesin cetak. Berita perkapalan, gosip, dan argumen politik dari kafe, dicetak di atas kertas kemudian disebarkan ke khalayak umum. Jurnalisme tulis berkembang seiring berjalannya waktu dan teknologi percetakan. Pada tahap ini jugalah, kegiatan jurnalisme mulai terlembagakan menjadi organisasi pers dan bidang keilmuan jurnalistik.

Bill Kovach (Foto: blog.guiasenior.com)

Bill Kovach (Foto: blog.guiasenior.com)

Tahap setelah jurnalisme oral dan tulis adalah jurnalisme multimedia. Kemunculan jurnalisme ini ditandai dengan kemunculan radio pada awal abad 20. Beberapa dasawarsa setelahnya, televisi muncul. Jurnalisme berkembang tidak hanya melalui tulisan, tetapi juga mencakup suara dan gambar bergerak. Di sisi lain, masyarakat pun sudah tidak lagi secara langsung terlibat dalam kegiatan jurnalisme. Mereka berada di posisi sebagai konsumen.

Tak ada gading yang tak retak. Jurnalisme di era modern mulai “terkontaminasi” kemurniannya. Sebagian besar pelaku jurnalisme—dalam hal ini lembaga pers—tidak lagi bekerja untuk manusia dan kemanusiaan, tetapi lebih karena pertimbangan politik dan ekonomi. Media menjadi alat untuk pencitraan politik dan meraih keuntungan.

Meskipun begitu, Bill Kovach berprinsip, “Setiap generasi menciptakan jurnalismenya sendiri.” Memasuki era informasi di abad 21, jurnalisme kembali dilakoni oleh masyarakat sendiri melalui jurnalisme warga. Julukan lainnya adalah Jurnalisme 2.0 dengan internet sebagai salurannya.

Di era ini, masyarakat disebut Pro-Sumen. Mereka tidak hanya sebagai konsumen informasi, tetapi juga produsen informasi. Adapun karakteristik jurnalisme ini adalah dua arah. “… Ini adalah jurnalisme yang menyerupai percakapan, sangat mirip dengan jurnalisme pertama yang berlangsung di kedai minum dan kafe 400 tahun lalu,” simpul Bill Kovach.

Budi Putra, mantan jurnalis yang juga pendiri Asia Blogging Network, menyimpulkan ada 4 hal yang mendorong terwujudnya fenomena jurnalisme warga ini. Dari sisi teknologi, merupakan respon dari kemajuan teknologi internet yang memungkinkan orang dengan mudah berbagi informasi. Sedangkan dari sisi sosial, merupakan bentuk partisipasi warga masyarakat di tingkat akar rumput.

Adapun dari aspek politik, jurnalisme warga merupakan bentuk perlawanan terhadap media-media besar yang sarat akan kepentingan. Selain itu, jurnalisme warga juga merupakan pengisi kekosongan negara di level masyarakat akar-rumput (grass root society).

Terakhir dari aspek jurnalisme, merupakan suara alternatif media massa mainstream yang memiliki jangkauan lebih luas dan dalam serta mengakar.

Meskipun tampak sepele, banyak peristiwa penting justru terekam oleh aktivitas jurnalisme warga ini. Salah satu contohnya adalah peristiwa jatuhnya pesawat Airbus A320 milik US Airways pada 15 Januari 2009 di Sungai Hudson, di Kota Newyork, Amerika. Rangkaian kejadian, mulai dari jatuhnya pesawat hingga evakuasi korban, tersampaikan ke publik melalui Twitter, Flickr, dan Youtube. Masyarakat yang berada di sekitar tempat kejadian merekam setiap kejadian menggunakan smartphone-nya.

Budi Putra (Foto: mahadaya.com)

Budi Putra (Foto: mahadaya.com)

Peristiwa ini digadang-gadang mengalahkan berita-berita yang disiarkan langsung di media mainstream. Bahkan, fenomena ini merupakan salah satu tonggak mulai berjayanya sosial media dan jurnalisme warga di dalam arus informasi global, khususnya di Amerika.

Di Indonesia, peran jurnalisme warga terlihat dalam kasus Mie Instant produk Indonesia yang tidak diperbolehkan beredar di Taiwan beberapa waktu silam. Peristiwa ini pertama kali ditulis oleh seorang blogger Indonesia yang sedang berada di Taiwan. Merujuk pada laporan jurnalis warga inilah akhirnya media massa konvensional memverifikasi dan menyebarkannya ke khalayak yang lebih luas lagi.

Dari aspek kebutuhan masyarakat akan informasi yang berimbang dan berpihak kepada kebenaran, jurnalisme warga boleh jadi salah satu solusinya. Contohnya ketika invansi Amerika ke Irak pada 2003 silam. Ketika itu, masyarakat Amerika rela mengumpulkan dana guna mengirimkan blogger-blogger kepercayaannya memberikan informasi yang benar tentang Perang Irak. Hal ini mereka lakukan karena media-media konvensional Amerika dinilai telah menjadi alat propaganda Amerika untuk membenarkan perang Irak.

Dengan adanya evolusi jurnalisme ini, tidak lantas jurnalis menganggur dan tidak memiliki pekerjaan sama sekali. Bill Kovach berkomentar bahwa jurnalis era baru tidak lagi memutuskan apa yang seharusnya diketahui publik. Jurnalis era baru memverifikasi informasi untuk selanjutnya meruntutkannya ,sehingga warga mampu memahaminya secara utuh.

Keberadaan jurnalisme dan kebutuhan informasi yang benar tidak akan lepas dari manusia, dalam hal ini masyarakat. Seiring berkembangnya zaman, jurnalisme selalu berevolusi dari generasi ke generasi untuk menyampaikan kebenaran. Kemurnian jurnalisme akan selalu terjaga dalam masyarakat, dan jurnalisme warga merupakan salah satu wujudnya.***

2 thoughts on “Mengapa Jurnalisme Warga?

  1. Ageung berkata:

    tulisan yang menarik… senang membacanya… saya juga senang menulis warga dengan dasar-dasar jurnalisme warga ini meskipun belum jago-jago amat.. hehe…

    Salam, dari Parungkuda, Sukabumi
    Ageung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s