Sedekah Berlalu-Lintas


Foto: cingciripit.wordpress.com

Foto: cingciripit.wordpress.com

Di jalanan Indonesia, ayam dan manusia menurut saya tidak ada bedanya. Keduanya bisa ditabrak, atau minimal disenggol, dengan mudah oleh kebanyakan kendaraan-kendaraan yang berlalu-lalang di jalanan. Bila seekor ayam atau seorang manusia akan menyeberang, pengendara mobil dan motor akan dengan mudahnya mempertahankan kecepatannya sembari menekan tombol klakson keras-keras.  “Awas, saya mau lewat. Jangan halangi saya!” begitulah lebih-kurang terjemahan dari perilaku tersebut.

Perilaku yang sama juga terjadi di area Zebra Cross. Padahal, area ini mewajibkan pengendara kendaraan bermotor untuk memperlambat, bahkan menghentikan, laju kendaraannya bila ada manusia yang akan melintasinya. Alih-alih memberikan kesempatan pengguna jalan untuk menyeberang, kebanyakan pengendara malah tidak menggubris keberadaan manusia yang sedang menyeberang.  Yang mereka tahu, jalanan adalah tempat untuk memacu kendaraan sekencang-kencangnya agar tiba di tujuan secepat-cepatnya.

Perilaku ini tentunya berbeda dengan budaya berlalu-lintas di kota-kota di negara-negara maju di Eropa. Pengendara umumnya akan memberikan kesempatan kepada pejalan kaki yang akan menyeberang di Zebra Cross. Para pengendara umumnya akan memperlambat, bahkan menghentikan, laju kendaraannya ketika melihat ada sosok yang akan melintasi Zebra Cross.

Bila ada pengendara yang memacu kendaraannya hingga tidak mempedulikan penyeberang jalan, hukumannya bisa sangat berat. Selain denda, lisensi mengemudi (driving license) milik pengendara juga akan dicabut. Sehingga dia terancam tidak diizinkan mengendarai kendaraan di jalanan publik.

Di Indonesia sendiri, selain budaya berlalu-lintas yang minim, hukum lalu lintas juga tidak berjalan dengan sempurna. Lisensi mengemudi bisa diperoleh dengan mudah. Kesadaran pengendara dalam berlalu lintas pun masih sangat minim. Hal ini diperparah dengan masih banyaknya pengendara yang tidak memahami aturan berlalu-lintas. Sebagai contoh, berapa banyak pengendara yang mengetahui kecepatan maksimum berkendara di dalam kota? Saya pikir, kurang dari 5 persen yang mengetahui hal tersebut.

Dalam hal ini, ada baiknya bila kita mencoba untuk membangun kesadaran berlalu-lintas. Minimal dengan menghargai pejalan kaki, baik yang menyeberang maupun yang berjalan di pinggiran jalan. Saya lebih senang dengan menyebutnya “Sedekah” dalam berlalu-lintas.

Sedekah sendiri bermakna memberikan kebaikan untuk orang lain. Kebaikan ini tentunya tidak hanya harus berupa uang, tetapi juga perilaku kita yang baik. Kita memberikan senyum ke orang lain, pun sudah sebagai sedekah.

Dalam konteks berlalu-lintas, sedekah bisa dimanifestasikan ke dalam perilaku-perilaku positif dalam berkendara. Misalnya saja, mengemudi dengan teratur, kecepatan kendaraan sesuai dengan aturan yang berlaku, memberikan kesempatan kepada pejalan kaki untuk menyeberang jalan, sabar menunggu lampu hijau di perempatan jalan, dan memberikan kesempatan kepada kendaraan yang akan berbelok.

Harapannya, bila sedekah dalam berlalu-lintas telah membudaya, lalu-lintas di Indonesia bisa menjadi lebih baik dan nyaman. Semoga.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s