Mengukur Kualitas Jurnalisme Sebuah Situs Web


Foto: ecx.images-amazon.com

Foto: ecx.images-amazon.com

Dengan semakin mudah membuat dan mengembangkan media sendiri di internet, meningkatkan jumlah situs online di dunia ini. Meskipun begitu, tidak semua situs online mengungkapkan fakta dengan baik dan benar. Untuk itu, tak salah bila Anda mencoba untuk mengevaluasi situs tersebut guna menakar dan membangun pengertian terkait kualitas jurnalisme masing-masing media online.

James C Foust, dalam bukunya berjudul Online Journalism: Principles and Practices of News for The Web, mengemukakan 5 ukuran guna menakar kualitas jurnalisme sebuah media online. Foust mengajukannya dalam 5 pertanyaan, yaitu:

Siapa yang Memproduksi Situsnya (Who is Producing the Site)?

Pertama yang harus Anda pertanyakan adalah pihak yang memproduksi atau memiliki situs tersebut. Apakah situs tersebut ditulis oleh organisasi pers atau oleh perusahaan? Atau oleh firma relasi publik (public relation firm)? Atau kah dari kelompok politik tertentu? Terkadang, jawaban dari pertanyaan ini akan sangat jelas. Namun, di lain waktu, Anda harus menggali lebih dalam untuk menemukan jawaban sebenarnya.

Secara sederhana, untuk mengetahui pemilik sebuah situs, mulailah dengan membuka halaman “About Us”. Namun, terkadang sebuah organisasi tidak ingin publik mengetahui pihak-pihak yang berada di belakang situs tersebut.

Sebagai contohnya, sebuah situs yang disponsori oleh kelompok pendukung senjata, umumnya menginginkan agar publik berpikir bahwa informasinya tidak memihak. Padahal, kenyataannya sebaliknya.

Ketika Anda memiliki jawaban atas pertanyaan ini, pertimbangkanlah bahwa pemilik dan pengelolanya memiliki sebuah agenda pendek atau motif personal. Misalnya saja, agenda agar publik membeli sesuatu, atau mempercayai dan memilih jalan tertentu. Jika jawabannya begitu, Anda sebaiknya tidak disarankan membaca jurnalisme seperti ini.

Di Indonesia sendiri, kepemilikan media memperlihatkan sikap politik pemiliknya. Banyak politisi memiliki televisi yang berdampak pada kecenderungan mengarahkan pemirsanya agar bersimpati kepada pemiliknya ketika sebuah partai politik tengah memilih ketuanya.

Apa Konten Situsnya (What is the Content of the Site)?

Sebelum menjawab pertanyaan ini, ingatlah bahwa jurnalisme biasanya menyampaikan isu yang penting untuk publik. Isu yang akan berdampak pada kehidupan orang, baik langsung maupun tidak langsung. Tentunya, sulit untuk mempercayai bahwa situs koleksi Teddy Sang Beruang merupakan sebuah karya jurnalisme, meskipun sebagian orang mungkin akan sangat tertarik.

Jika sebuah situs mengenai olah raga dan hiburan, bisa jadi situs tersebut mengetengahkan isu yang licik. Dalam hal ini, kita harus menimbangkan konten tersebut antara promosi secara alami dan mencoba membangun dukungan terhadap tim dan atlit atau artis dan pemain film, atau konten tersebut adalah sesuatu yang tidak memihak.

Foto: markfaseldesign.com

Foto: markfaseldesign.com

Apakah situs tersebut berisi konten yang semata-mata hanya cerita halus seperti pemenang pertandingan tadi malam? Atau tentang isu yang lebih substantif seperti penggunaan obat-obatan di antara atlit atau kekerasan dalam film yang mempengaruhi anak? Apakah situs tersebut semata-mata hanya sebagai alat promosi untuk mendorong kita menonton sebuah berita di stasiun televisi tertentu? Atau memang mengandung informasi yang berguna?

Bagaimana pun, kita harus mewaspadai hal ini. Karena secara alami, konten sebuah situs web merupakan pertanda yang sangat jelas bagi sebuah niat jurnalisme.

Apakah Informasinya Akurat (Is the Information Accurate)?

Menjawab pertanyaan berikut tampaknya akan sedikit sulit. Karena, kita tidak pernah benar-benar tahu tentang kebenaran konten sebuah situs web. Meskipun begitu, kita bisa melihat beberapa kesalahan teknis sebagai tanda ketidak profesionalan sebuah situs web. Hal ini misalnya tampak dari kesalahan pencetakan huruf, kesalahan pengejaan, dan keterbatasan tata bahasa.

Bagaimana pun, kita harus ingat bahwa jurnalisme harus memperjuangkan akurasi dan faktualitas isu, baik yang besar maupun yang kecil. Hal inilah yang menjadikan satu-satunya alasan untuk organisasi pers memiliki penyunting yang bertugas memeriksa pekerjaan reporternya.

Meskipun begitu, tidak ada orang yang benar-benar sempurna. Kesalahan akan tetap tercipta. Namun, semakin banyak kesalahannya mengindikasikan bahwa media yang kita baca bukanlah jurnalisme, setidaknya bukan jurnalisme yang baik.

Foto: blogspot.com

Foto: blogspot.com

Seberapa Sering Informasinya Diperbaharui (How Often is the Information Updated)?

Jurnalisme selalu berbicara tentang perihal yang baru. Dalam hal ini, situs menyediakan kemampuan untuk memperbaharui informasinya secara terus-menerus. Untuk itu, jika sebuah situs web tidak memperbaharui informasinya dalam jangka waktu tertentu atau mengandung informasi basi, bisa dipastikan bahwa yang kita baca bukanlah jurnalisme yang baik.

Sebuah situs koran atau televisi harus diperbaharui minimal sehari sekali. Lebih sering akan lebih baik. Sebuah situs yang berasosiasi dengan publikasi seminggu atau sebulan sekali atau media publikasi yang berdiri bebas seperti Slate.com, biasanya diperbaharui kurang dari sehari sekali. Namun, mereka relatif selalu memperbaharui situsnya.

Bagaimana Penampakan Situs Tersebut (What Does the Site Look Like)?

Perlu disadari bahwa kita bisa menyampaikan banyak hal tentang sebuah situs dengan melihatnya. Situs yang dikelola secara profesional, cenderung memperlihatkan desain yang bersih dan nyaman. Desain yang tidak menyerang perasaan dengan berteriak, “Look at me!”.

Kebanyakan organisasi berita profesional ingin agar situs mereka merefleksikan karakter dari organisasinya. Situs mereka tidak dihiasi oleh logo yang bergerak-gerak secara sia-sia, animasi yang rumit, atau penambahan yang tidak diperlukan.

Kebanyakan situs koran, terlihat seperti cetakan koran. Situs yang lebih menekankan penampilan untuk mendapatkan perhatian atau bermanuver secara berlebihan, umumnya sulit dibaca, bahkan tidak disukai untuk mendapatkan informasi. Dengan demikian, integritas jurnalisme mereka harus dipertanyakan.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s