Karakteristik Jurnalis Media Online


Online Journalism by James C Foust (Foto: ecx.images-amazon.com)

Online Journalism by James C Foust (Foto: ecx.images-amazon.com)

Sikap apa yang harus dimiliki oleh seorang jurnalis, khususnya jurnalis media online? James C Foust dalam bukunya Online Journalism: Principles and Practices of News for The Web menyimpulkan 5 karakteristik jurnalis yang juga merupakan karakteristik jurnalis online, yaitu:

Keadilan (Fairness)

Karakteristik ini merujuk pada pendekatan jurnalis terhadap informasi yang tanpa prasangka, tidak berat sebelah, dan melaporkan setiap cerita dengan metode yang sama. Jika sebuah isu memiliki dua sisi, seorang jurnalis dituntut untuk melaporkan keduanya. Jika isu tersebut memiliki lebih dari dua sisi, seorang jurnalis juga harus mampu melaporkan dari berbagai sisi tersebut.

Karakteristik ini juga mensyaratkan bahwa seorang jurnalis harus mampu bersikap merdeka. Adalah sesuatu yang tidak pantas bila seorang jurnalis condong terhadap pandangan seseorang. Atau bahkan melakukan tindakan tawar-menawar atas sebuah fakta yang menarik.

Sebuah frase lama yang menyatakan, “Just the facts, Ma’am” (Hanya fakta, Bu) merupakan kesimpulan yang tepat berkaitan dengan tanggung jawab seorang jurnalis untuk menghilangkan pandangan yang berat sebelah atau mendominasi dalam sebuah cerita.

Meskipun begitu, belakangan ini, sebagian kalangan konservatif menilai bahwa jurnalisme tidak lebih dari prasangka yang bebas (liberal bias). Penilaian ini muncul seiring merebaknya sudut pandang yang berbeda dalam melaporkan sebuah fakta. Tak jarang, sebuah prasangka di media yang satu, menjadi fakta di media lain yang berseberangan.

Contohnya saja di Washington DC. The Washington Post merupakan media yang cenderung kiri. Sementara itu, The Washington Times merupakan media yang cenderung kanan. Bagaimana pun, kecenderungan ini memperlihatkan cerminan pembacanya.

Prasangka seperti itu terjadi juga di situs jurnalisme online. Tak heran, bila situs Washingtonpost.com lebih liberal dibandingkan situs Washingtontimes.com. Hal ini juga terjadi di situs jurnalisme onlie lainnya yang bisa melayani satu atau lebih pandangan politik. Secara tradisional, ada pengecualian untuk konsep “keadilan” ini. Jurnalis diperbolehkan menumpahkan pandangannya melalui kolom opini atau tajuk rencana di medianya.

Internet sendiri memang memberikan harapan terwujudnya pengecualian dari konsep “keadilan” ini, yaitu dengan jurnalis berkontribusi di blog. Bagaimana pun, pengelolaan blog lebih informal, dengan alur bercerita yang lebih bebas, dan memperbolehkan (bahkan mendorong) blogger untuk memberikan opini dan informasi secara merdeka, bahkan yang belum terverifikasi pun.

Dalam hal ini, saya pribadi lebih suka dengan konsepnya Bill Kovach yang ditulisnya dalam buku Elemen-Elemen Jurnalisme. Bill Kovach menyatakan bahwa tidak ada media yang mampu berlaku adil dan netral. Semua media berpihak. Dan seorang jurnalis dan medianya harus berpihak kepada kebenaran dan masyarakat.

Atribusi (Attribution)

Atribusi memiliki hubungan yang sangat erat dengan konsep keadilan. Atribusi sendiri bermakna bahwa jurnalis tidakhanya melaporkan fakta, tetapi juga sumber sebuah fakta. Hal ini memberikan kesempatan pembaca untuk mampu menakar kepercayaan kepada sebuah fakta.

Contohnya saja dengan penelitian telepon seluler. Penelitian yang didanai oleh perusahaan penyedia telepon seluler ini berkesimpulan bahwa penggunaan telepon seluler tidak menyebabkan kecelakaan mobil. Tentunya, pembaca akan memberikan bobot yang kecil terhadap informasi ini dibandingkan hasil penelitian yang didanai oleh lembaga yang tidak berkaitan dengan isu tersebut.

Internet sendiri sepenuhnya menyediakan dimensi yang baru terkait atribusi ini. Sebagai contoh, jika sumber informasinya berupa situs online, sang jurnalis bisa menyediakan tautan ke situs sumber informasi tersebut. Sehingga pembaca tidak hanya mengetahui sumber informasinya, tetapi juga bisa menilai kredibilitas sumber informasi yang bersangkutan.

Foto: blogspot.com

Foto: blogspot.com

Ketelitian (Accuracy)

Makna ketelitian cukup sederhana, yaitu mendapatkan fakta yang benar. Misalnya saja pada kasus kebakaran di dalam kota. Jurnalis harus mengetengahkan fakta-fakta yang benar secara teliti, seperti: alamat rumah yang terbakar, jumlah korban kebakaran, pernyataan kepala pemadam kebakaran berkaitan dengan penyebabnya atau mereka menyatakan masih meneliti penyebab berbagai kemungkinan dari kebakaran tersebut.

Seorang jurnalis yang baik harus selalu memerika berkali-kali sebuah fakta dengan cara mengkonfirmasinya ke banyak sumber. Bagaimana pun, masyarakat mengandalkan organisasi jurnalistik yang pasti, karena mereka percaya. Jika jurnalis mengkhianati kepercayaan tersebut dengan melaporkan informasi yang tidak teliti, maka pembacanya akan mencari media lain.

Internet sendiri memiliki banyak berita bohong (hoax) beserta informasi yang tidak akurat lainnya. Dalam hal ini, jurnalis memiliki tanggung jawab yang besar untuk memeriksa dan memeriksa berulang-ulang sebuah informasi, khususnya jika informasi tersebut berasal dari internet.

Lagi-lagi mengutip Bill Kovach, beliau bilang bahwa tugas jurnalis era baru adalah memverifikasi informasi-informasi yang beredar di masyarakat. Jurnalis adalah seorang moderator yang memediasi informasi-informasi yang berasal dari masyarakat.

Relevansi

Sebuah cerita jurnalistik harus memiliki makna untuk pembacanya. Seringkali, relevansi dibangun dengan menyediakan konteks sebuah informasi. Konteks sendiri berhubungan dengan informasi yang belum diketahui oleh kebanyakan orang. Contohnya saja dengan fakta perusahaan yang memenangkan hak untuk membangun stadion baseball kota yang baru. Padahal, hak tersebut masih berkonflik dalam hal tawar-menawar. Ternyata, pemilik perusahaan tersebut merupakan saudara ipar walikota.

Dalam hal ini, seorang jurnalis tidak hanya dituntut untuk mengetahui wawasan dunia dalam skala besar. Namun, seorang jurnalis juga harus memiliki wawasan berkaitan dengan komunitas dalam lingkungan tempat tinggal mereka beserta topik yang sedang hangat diperbincangkan. Kemampuan dan tanggung jawab untuk menyediakan konteks inilah yang merupakan sifat utama sekaligus membuat jurnalisme unik.

Foto: blogspot.com

Foto: blogspot.com

Konsep relevansi juga menunjukkan kepada kita untuk mengabaikan jenis pemberitaan yang disebut infotainment.Meskipun sebagian orang tertarik dengan kabar pertunangan bintang pop dengan seorang idola film, tetapi sangat sulit untuk menyatakan bahwa informasi tersebut memiliki relevansi terhadap kehidupan masyarakat.

Kebaharuan (Newsness)

Pada akhirnya, jurnalisme harus memiliki kebaharuan. Dengan kata lain, seorang jurnalis harus menyediakan informasi yang belum diberitakan sebelumnya. Kata “New” (baru) tentu saja merupakan kata dasar “News” (berita). Hal ini tidak berarti seorang jurnalis hanya bisa mengangkat cerita-cerita bertajuk “Breaking News” semata, tetapi juga menceritakan informasi yang mengandung kebaruan.

Peristiwa yang terjadi beberapa tahun lalu tetap bisa menjadi baru jika belum diketahui sebelumnya. Juga cerita yang membutuhkan waktu yang lama untuk mengembangkannya, bisa juga menjadi sesuatu yang baru. Bagaimana pun, jurnalis yang giat (enterprising journalist) selalu mengambil pendekatan baru terhadap cerita yang telah dilaporkan sebelumnya.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s