Menakar Pemimpin Bangsa


Yudi Latif (Foto: perspektifbaru.com)

Yudi Latif (Foto: perspektifbaru.com)

Bagaimana rumusan mencari seorang pemimpin yang baik dan berkualitas? Tampaknya, pertanyaan inilah yang kini sedang menggelayut di benak setiap orang di Indonesia. Mereka berlomba-lomba merumuskannya agar segera mendapatkan pilot untuk negara berjuluk Negeri Auto-Pilot ini. Harapannya, kehidupan di Indonesia bisa menjadi lebih baik lagi.

Berkaitan dengan rumusan pemimpin bangsa ini, analisis yang cukup baik menurut saya datang dari Yudi Latif, sang pakar kebangsaan dan kenegaraan di Indonesia. Dalam tulisannya di koran Kompas pada Selasa (17/07/2012). Yudi mengawali tulisannya dengan mengangkat fenomena Jokowi yang kini sedang naik daun di Jakarta. Pasalnya, meskipun seorang cagub “pendatang”, Jokowi mampu menghimpun suara terbanyak pada Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Gubernur DKI Jakarta putaran pertama beberapa waktu silam.

Menurut Yudi Latif, modal utama Joko Widodo melaju di Pilkada DIK Jakarta praktis hanya mengandalkan rekam jejaknya sebagai Wali Kota Solo, yang juga merupakan salah seorang wali kota terbaik di dunia. Kondisi ini, lanjut Yudi, bersahutan dengan sikap kejiwaan sejumlah besar warga Jakarta, yang terdidik dan melek informasi, yang bisa memilih dengan timbangan nalar objektif tanpa terlalu terbebani dengan sentimen primordial. “Jakarta dengan segala keruwetannya … perlu pemimpin dengan bukti prestasi,” tulis Yudi Latif.

Namun, seberapa besar kontribusi jaminan prestasi ini terhadap keberhasilan seorang pemimpin dalam memimpin sebuah pemerintahan? Saya cukup senang dengan paparan Yudi Latif yang bijak perihal ini, “Rekam jejak memang tidak bisa memastikan masa depan, tetapi itulah satu=satunya kepastian yang bisa jadi ukuran dalam menakar kualitas calon pemimpin.”

Dalam paragraf selanjutnya, Yudi Latif menggadang-gadang bahwa pencapaian Jokowi bisa menjadi model penyusunan institusi dan perilaku demokrasi. Menurutnya, dalam desain institusi pemilihan ke depan, pencalonan pejabat negara harus diambil dari mereka yang telah menunjukkan prestasi dan kontribusinya kepada bangsa dan negara. “Bupati/wali kota yang telah berhasil menunaikan tugasnya di suatu tempat bisa direkrut menjadi calon gubernur di mana saja di semua provinsi di Indonesia,” terang Yudi Latif.

Yudi juga mencontohkan dengan tradisi yang terjadi di lingkungan Bugis-Makassar. Di sana, krisis kepemimpinan yang dialami oleh suatu kerajaan bisa diatasi dengan meminang seorang raja dari kerajaan lain yang terbukti keberhasilannya. “Dan penyusunan institusi demokrasi Indonesia saat ini tidakbisa lebih terbelakang dari itu,” ungkap Yudi Latif.

Meskipun begitu, Yudi Latif juga mensyaratkan peran serta warga dalam memilih dan berperilaku politik. Warga negara harus mampu memilih dengan akal sehat pemimpinnya. Selain itu, pun tersedia sarana untuk menghukum pemimpin yang mengabaikan amanat rakyat. Contohnya dengan tidak memilihnya kembali pada pemilu berikutnya.

Lebih lanjut, berkaitan dengan peran serta masyarakat ini, Yudi Latif meminjam penggarisan Robert Dahl mengenai lima kriteria minimum warga agar suatu negara bisa demokratis. Kelima kriteria tersebut adalah:

  • Partisipasi Efektif (Effective Participation), yaitu setiap warga harus memiliki kesempatan setara dan efektif untuk membuat pandangan-pandangannya diketahui oleh warga lain.
  • Kesetaraan Memilih (Voting Equality), yaitu setiap warga harus memiliki kesempatan yang setara dan efektif untuk memilih dan semua pilihan harus dihitung secara setara.
  • Pemahaman Tercerahkan (Enlightened Understanding), yaitu setiap warga harus memiliki kesempatan yang setara dan efektif untuk mempelajari alternatif kebijakan yang relevan serta kemungkinan akibat-akibatnya.
  • Pengendalian Agenda (Control of The Agenda), yaitu setiap warga harus memiliki kesempatan untuk menentukan cara dan hal yang harus ditempatkan dalam agenda kebijakan.
  • Pelibatan Orang Dewasa (Inclusion of Adults), yaitu setiap warga yang dewasa harus diberi hak secara penuh untuk keempat kriteria tersebut di atas.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s