Posisi Baru, Amanah Baru, Tantangan Baru…


Foto: markosweb.com

Foto: markosweb.com

Bulan depan, saya akan menempati posisi baru sebagai Dewan Redaksi Salman Media, bersama dewan redaksi lainnya yang sudah ada. Dengan begitu, saya akan meninggalkan posisi saya saat ini sebagai Pemimpin Redaksi Salman Media (Salmanitb.com dan Salman Radio).

Saya pribadi belum mengetahui sosok yang akan menjadi Pemimpin Redaksi Salman Media berikutnya. Beberapa kandidat telah diusulkan, tetapi belum ada keputusan akhir. Semoga dia yang menjadi Pemimpin Redaksi Salman Media berikutnya merupakan sosok yang lebih baik dengan visi media yang lebih kuat dan cakap.

Dengan demikian, mulai bulan depan, saya sudah tidak lagi bertanggung jawab terhadap pengelolaan Salman Media secara langsung. Tugas saya di posisi baru ini lebih sebagai pengarah dan penasihat redaksi.

Posisi baru, tentu saja tantangan baru. Selain sebagai penasihat redaksi, saya juga akan bertanggung jawab terhadap proses kaderisasi reporter di Salman Media. Proses kaderisasi ini meliputi perekrutan reporter melalui program-program kerelawan Salman Media, pelatihan-pelatihan kejurnalistikan, serta penyusunan modul-modul kejurnalistikan.

Selain itu, ada juga amanah baru di luar Salman ITB. Saya ditugasi untuk menggerakan program pertanggungjawaban Salman terhadap pengembangan komunitas-komunitas sosial di masyarakat. Semacam Company Social Responsibility (CSR)-nya Salman ITB untuk masyarakat Jawa Barat. Karena Salman Media berbasis literasi media, sehingga saya akan fokus pada pengembangan kemampuan bermedia komunitas. Bahasa lainnya, pengembangan masyarakat berbasis media.

Program ini akan saya awali sekitar bulan September mendatang, usai Idul Fitri. Fokus pertama yang akan disapa oleh Salman ITB adalah lingkungan pesantren dan komunitas kepemudaan masjid di Jawa Barat. Kemudian fokus kedua adalah komunitas-komunitas berbasis kearifan lokal yang bervisi menumbuhkan kondisi-kondisi “Islami”. Makna “Islami” di sini bukanlah kearab-araban, tetapi lebih dimaknai sebagai keadilan atau sesuatu yang sesuai dengan proporsinya.

Contohnya saja dengan Desa Mandalamekar, Tasikmalaya. Menurut saya, desa ini adalah komunitas berbasis kearifan lokal yang bervisi menumbuhkan kondisi-kondisi Islami. Beberapa di antaranya dengan program membangun hutan, meningkatkan efektivitas pemerintahan desa melalui TIK, dan pembangunan ekonomi pedesaan berbasis produk lokal.

Contoh lain komunitas yang Islami menurut saya adalah Bandung Creative City Forum. Komunitas ini berusaha memberdayakan masyarakat kota untuk meningkatkan kualitas hidup melalui terobosan-terobosan yang kreatif dan tidak biasa. Contoh yang lainnya lagi adalah Jatiwangi Art Factory. Ini juga komunitas  berbasiskan kearifan lokal yang bervisi menumbuhkan kondisi-kondisi Islami.

Foto: inboundmarketingagents.com

Foto: inboundmarketingagents.com

Sedangkan fokus ketiga adalah cikal-bakal komunitas yang notabenenya diisi oleh pelajar dan mahasiswa. Ini juga menjadi salah satu sasaran program pengembangan masyarakat berbasis media. Meskipun prioritas untuk fokus ketiga ini agak belakang dibandingkan kedua fokus sebelumnya.

Adapun tahapan-tahapan programnya, saya berencana mengawalinya dengan menyelenggarakan semacam seminar singkat mengenai media, teknologi, dan pengembangan masyarakat. Seminar ini ditujukan untuk fokus pertama. Adapun penyelenggaranya akan saya coba sinergikan dengan teman-teman pesantren yang pernah terkoneksi dengan Salman ITB, seperti teman-teman dari Pesantren Cipasung Tasikmalaya dan Remaja Masjid Mandiri Informasi di Ciamis. Dari seminar ini saya akan mencoba melakukan pendekatan dengan mereka yang berminat untuk melakukan pelatihan-pelatihan kejurnalistikan.

Sedangkan untuk fokus kedua, terdapat perbedaan pendekatan. Saya akan mencoba melakukan pemetaan dulu melalui wartawan-wartawan di daerah. Kemudian, saya akan mengunjungi komunitas-komunitas tersebut satu per satu. Mungkin tidak akan semua komunitas akan saya kunjungi, melainkan mereka yang ingin memiliki media tetapi belum mampu mewujudkannya.

Kendala yang mungkin akan timbul dari masing-masing fokus adalah kemampuan membaca dan menulis masing-masing komunitas yang berbeda. Bagaimana pun, kemampuan membaca dan menulis ini berpengaruh terhadap kemampuan bermedia nantinya. Umumnya, mereka yang kemampuan membaca dan menulisnya minim, akan lebih sulit dilatih dibandingkan dengan mereka yang terbiasa membaca dan menulis.

Untuk kasus seperti ini, salah satu solusinya adalah dengan meningkatkan kemampuan membaca, sehingga memudahkan penerapan kemampuan menulis. Solusi lainnya, mereka diarahkan untuk bermedia melalui foto, suara, atau audio-visual (video).

Guna menggerakan program ini, saya tentunya tidak akan sendiri. Untuk program pelatihan kejurnalistikan di Salman ITB dan seminar untuk pelajar, mahasiswa, dan pesantren, saya akan dibantu oleh teman-teman dari Synersia Foundation. Untuk bantuan lokal, akan hadir insyAllah dari teman-teman pondok pesantren Cipasung Tasikmalaya dan teman-teman dari Remaja Masjid Mandiri Informasi Ciamis.

Dukungan yang lainnya juga insyAllah akan hadir dari media-media di Jawa Barat beserta jajarannya. Relawan TIK mudah-mudahan juga mau membantu mewujudkan program ini.

Akhir kata, mohon doa, dukungan, kritik, saran, dan usulan untuk membangun program dan gerakan ini. Semoga menjadi kebaikan untuk setiap orang, baik penyelenggara maupun teman-teman komunitas di daerah. Amin…***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s