Menakar Kebenaran, Bagaimana?


Foto: Salmanitb.com

Foto: Salmanitb.com

Pernah suatu ketika saya mengikuti kelas Filsafat Pak Bambang Sugiharto. Ketika itu, beliau menerangkan perihal fenomena-fenomena seputar perubahan pemikiran filsafat di pertengahan abad 20. Salah satu yang beliau singgung adalah Fenomenologi.

Fenomenologi sendiri merupakan salah satu aliran Filsafat yang digawangi oleh GWF Hegel dan Edmund Husserl. Husserl berusaha melakukan pendekatan filsafat dengan memilah antara objek dan subjek guna mencari makna kebenaran.

Pak Bambang menjelaskan dengan pencarian makna hakiki Air. Untuk mendapatkan makna hakiki air, Husserl berusaha memilah-milah sifat-sifat yang disematkan oleh manusia kepada air. Misalnya saja: bersifat cair, menghilangkan dahaga, dan membersihkan.

Alih-alih menemukan kebenaran hakiki, Husserl malah berkesimpulan bahwa objek tidak akan lepas dari subjek. Dengan kata lain, segala hal yang ada di sekitar manusia, tidak akan lepas dari pengalamannya, termasuk kebenaran.

Yah, kebenaran. Kebenaran merupakan hasil dari pengalaman manusia. Lalu, bagaimana kita menilai bahwa apa yang kita pahami adalah sebuah kebenaran?

Misalnya saja seorang pemeluk Islam Sunni. Besar kemungkinannya dia akan menolak ajaran Islam Syiah karena pengalaman menyatakan bahwa ajaran tersebut bertolak belakang dengan Islam Sunni.

Pun demikian dengan pemeluk Islam Syiah. Pengalamannya juga menyatakan bahwa ajaran Islam Sunni adalah salah karena bertolak belakang dengan keyakinannya. Lalu, mana yang benar? Karena semua orang pasti akan mengklaim apa yang diyakininya sebagai kebenaran.

Lalu, bagaimana dengan saya? Bagaimana saya tahu apa yang saya yakini saat ini adalah sebuah kebenaran hakiki?

Kegoncangan ini akhirnya terjawab juga. Saya langsung teringat pepatah Kang Alfathri Adlin, seorang pembelajar filsafat. Dia pernah mengutip ucapan Ali bin Abi Thalib: “Jangan lah mencari kebenaran dari seseorang. Carilah kebenaran, maka kau akan tahu siapa yang berjalan di atas kebenaran.”

Pepatah inilah yang selalu terngiang di benak saya. Pepatah ini juga yang selalu saya pegang ketika saya menjaja berbagai pengalaman di luar sana.

Dan yang membuat saya cukup merasa nyaman ketika berpetualang, kang Alfathri pun pernah bilang bahwa Tuhan tidak pernah iseng menyesatkan orang-orang yang mencari-Nya. “Dia akan menuntun orang-orang yang mencari-Nya menuju kebenaran,” simpul kang Alfathri.

2 thoughts on “Menakar Kebenaran, Bagaimana?

    • Yudha P Sunandar berkata:

      “Fenomenologi merupakan salah satu aliran Filsafat yang digawangi oleh GWF Hegel dan Edmund Husserl. Husserl berusaha melakukan pendekatan filsafat dengan memilah antara objek dan subjek guna mencari makna kebenaran.”

      kurangny seperti itu. kalo lebihnya, silahkan coba baca buku2 fenomenologi.😀

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s