Jalur “Manis” Menuju Desa Mandalamekar


Jembatan Sasak Gantung merupakan salah satu akses menuju Desa Mandalamekar. Jembatan ini memiliki panjang 80 meter dengan kedalaman 20 meter. Melewatinya menggunakan sepeda motor, menjadi tantangan tersendiri. (Foto: Yudha PS)

Jembatan Sasak Gantung merupakan salah satu akses menuju Desa Mandalamekar. Jembatan ini memiliki panjang 80 meter dengan kedalaman 20 meter. Melewatinya menggunakan sepeda motor, menjadi tantangan tersendiri. (Foto: Yudha PS)

Waktu maghrib baru saja tiba ketika saya menginjakkan kaki di terminal Cibalong, Kabupaten Tasikmalaya. Di seberang jalan, sudah menunggu sepeda motor Honda berwarna putih. “Saya pake motor plat merah ,” pesannya via pesan singkat (SMS) ketika menunggu kedatangan saya.

Dengan sekali pandangan, saya mampu mengenali penjemput saya. Seorang pria berkacamata, duduk di sebuah sepeda motor Jupiter MX berwarna putih di seberang terminal. Berpadu kontras dengan ciri khas kendaraan pemberian Gubernur Jawa Barat. Matanya sibuk memperhatikan mini bus publik yang lalu-lalang di hadapannya. Berusaha menemukan orang yang sejak jam 15 tadi ia tunggu.

Dari kejauhan, saya melambaikan tangan tinggi-tinggi. “Halo, saya Yudha. Saya adalah sosok yang Anda tunggu-tunggu.” Begitulah sapaan non-verbal yang saya kirimkan padanya. Dengan cepat, dia memahaminya, menyalakan motor, lalu menghampiri saya.

“Maaf, sudah menunggu lama,” sambut saya sembari bersalaman. Roni Jatnika (27), penjemput saya, membalas dengan senyuman. “Mangga naik, kang,” ajaknya. Segera saya duduk, mengencangkan pijakan, dan motor pun memasuki lintasan pemberangkatan selanjutnya: Mandalamekar.

Tanpa basa-basi, jalanan menyambut kami dengan hiburannya. Sebuah jalur dengan hutan dan ladang di kanan-kirinya. Jalur berbatu dengan 2 lajur beton untuk motor. Tentu tak semulus beton jalan tol di Bandung. Di antara keduanya, tersisa lajur yang dihiasi batu sebesar kepalan tangan orang dewasa. Tentunya, lajur ini tidak pernah menjadi pilihan siapa pun yang melintasinya.

Menapakinya dengan motor, rasanya seperti naik kuda. Kuda yang bersemangat berlari dalam sebuah pacuan kuda. Setiap jengkal jalannya, kami harus terloncat dari jok sepeda motor. Namun, dengan cepat pula posisi kami kembali seperti sedia kala.

Pun motor kami. Dia harus bekerja ekstra keras. Kami yang menumpanginya, harus dia buat senyaman mungkin. Caranya, kurangi gonjangannya semaksimal mungkin. Tak heran, sepanjang perjalanan, mesinnya meraung, menahan beratnya kami sembari harus terus berjalan maju.

Roni begitu sigap menjelajahi jalanan menuju desanya ini. Mendaki, kemudian berbelok ke kanan, turun, berbelok ke kiri. Lajur sebelah kiri adalah pilihan prioritasnya, sama seperti berkendara di jalan raya. Namun, tak jarang juga dia menempatkan motornya di sebelah kanan jalan. Tujuannya satu: menggapai jalan yang lebih mulus.

Kiri, kemudian kanan. Kemudian kiri lagi, dan sekali-kali kanan. Begitu bapak satu anak ini memainkan stir motornya. Mulutnya terus berkomat-kamit menjawab pertanyaan yang saya lontarkan tanpa henti.

“Saya kembali ke desa ini 3 tahun lalu,” Roni memperkenalkan diri lebih lanjut. “Alasannya karena saya di PHK oleh perusahaan saya di Lampung,” lanjutnya.

Sebelum kembali ke Mandalamekar, Roni memang sempat melanglang buana keluar dari desanya. Setamat Sekolah Dasar, Roni melanjutkan sekolahnya di Subang. Memasuki jenjang SMA, takdir membawanya ke Lampung, bagian paling tenggara pulau Sumatera. Hingga ia pun memutuskan bekerja di sana.

Sebuah sepeda motor berpapasan di jalan desa Mandalamekar. Di kanan-kirinya merupakan hutan dan kebun milik masyarakat Mandalamekar. (Foto: Yudha PS)

Sebuah sepeda motor berpapasan di jalan desa Mandalamekar. Di kanan-kirinya merupakan hutan dan kebun milik masyarakat Mandalamekar. (Foto: Yudha PS)

Pada 2009, Roni memutuskan untuk menikah. Tak jauh-jauh, gadis yang dipinangnya adalah warga Mandalamekar pula. “Tiga bulan saya tinggal bersama istri di Lampung, hingga akhirnya saya di PHK. Padahal saya baru saja menikmati kehidupan membangun berumah tangga,” paparnya di tengah-tengah raungan motor dan senyapnya hutan.

Kami merajut jalan desa yang sepi dengan raungan suara motor kami. Hijaunya daun dan cokelat tanah, lambat laun menggelap warnanya. Menggelap diselimuti malam yang lambat-laun berangsur-angsur menyisihkan cahaya.

Kunang-kunang mulai menampakkan cahayanya. Suara jangkrik dan katak serta kodok, ikut meramaikan suasana. Tak hanya itu saja. Kodok pun kerap terlihat sedang menyeberang jalanan. Juga siput, yang membuat saya beberapa kali berteriak, “Hati-hati, kang! Ada hewan nyeberang!”

Tak mau kalah, Rorongo pun mewarnai perjalanan kami. Beberapa kali, mata saya kelilipan serangga ini. “Di situ ada peternakan sapi, sih, kang. Makanya banyak Rorongo,” keluh Roni, menjelaskan penyebab kemunculan serangga tersebut.

Di seberang kiri, aliran sungai Ciwulan menemani perjalanan kami menuju desa Mandalamekar. Sebuah sungai yang lebarnya pada beberapa titik, sama dengan panjang lapangan sepak bola.

“Airnya biru. Masih bagus alamnya ya, kang,” komentar saya. “Kalau kemarau, warnanya memang seperti itu (biru berpadu hijau), kang,” sambut Roni. Hal tersebut menurutnya tidak berlaku ketika musim hujan datang. Air berubah warna menjadi cokelat dengan lumpur yang ikut serta dalam alirannya.

Sungai ini merupakan perbatasan langsung antara kecamatan Cibalong dengan desa Mandalamekar. Di ujung perjalanan kami di desa Cibalong, terbentang jembatan Sasak Gantung. Panjangnya sekitar 2/3 panjang lapangan bola. Dua puluh meter di bawahnya, mengalir dengan deras sungai yang menemani perjalanan kami, sungai Ciwulan.

Jembatan Sasak Gantung sendiri dibuat pada awal 1980-an. Pemrakarsa sekaligus sponsornya adalah Ajengan Satibi. Satu hal yang ia wasiatkan, bahwa jembatan ini harus digunakan untuk kepentingan publik. Untuk itulah, warga secara swadaya memeliharanya hingga saat ini. Pun tidak ada pungutan bayaran untuk penggunanya.

Keinginan saya untuk melihat matahari senja di Sasak Gantung pupus sudah. Mentari sudah 10 menit lalu tenggelam. Hanya temaram pohon dan sungai yang hanya bisa saya saksikan. Meskipun begitu, melewati jembatan berusia 32 tahun ini sungguh eksotis sekaligus mendebarkan. Eksotis melihat keindahan alamnya, mendebarkan memandangi aliran sungai deras di bawahnya.

Sasak Gantung sendiri lebarnya lebih kurang hanya 1,5 meter saja. Motor harus melewatinya saling bergantian. Sangat dilarang untuk 2 motor atau lebih melewatinya dalam waktu yang bersamaan.

Keempat kawat yang menjulur terbuat dari baja. Tebalnya hampir sama dengan tebal batu baterai ukuran D. Di antara kawat atas dan bawah di kedua sisinya, melintang kawat-kawat yang lebih kecil lagi. Tebalnya kira-kira ½ dari batu baterai AAA. Fungsinya untuk meminimalisir kemungkinan pengendara bermotor terjatuh ke sungai apabila kehilangan keseimbangan.

Alasnya sendiri terbuat dari bilah bambu. Bambu ini berdiameter sama dengan kaki orang dewasa. Kemudian dibelah menjadi 8 bagian. Bambu-bambu ini disulam satu sama lain, sehingga terbangun jaringan yang kokoh dan kuat. Saking kuatnya, mampu menahan beban motor beserta 2 penumpang di atasnya. “Trakatakatakatakatak,” suara bambu beradu akan terdengar bila sebuah motor melaju di atasnya.

Tak kurang dari 1 menit menyeberang, kami sudah menginjakkan kaki di Desa Mandalamekar. Ucapan selamat datang lagi-lagi hadir dari lajur yang harus kami telusuri. Kali ini lebih lantang dan berkesan. Karena kami tidak hanya harus melewati jalan yang lebih berbatu, tetapi juga lebih terjal.

Tidak banyak berkelok memang lajur di Mandalamekar. Namun, sebuah tanjakan curam bersudut sekitar 50-60 derajat, menjamu kami sepanjang sekitar 700 meter. Di kanan-kirinya, kokoh berdiri pepohonan dari hutan-hutan yang telah ditanam warga sekitar.

Sudut tanjakan semakin lama berkurang, kemudian bertahan di sekitar 30 derajat. Namun, sepanjang perjalanan, tidak sedikit pun kami sempat memandang perjalanan yang datar. Hingga tiba di sebuah pertigaan. Di sini, jalanan relatif datar dan mulai banyak rumah penduduk.

Jelang 3 menit sebelum tiba di rumah Kepala Desa Mandalamekar, saya menengok ke atas. Polusi cahaya relatif sedikit di sini. Sehingga langit dengan jelas terlihat bertabur bintang. “Itu selatan, yah?” tunjuk saya ke ekor rasi layang-layang. Roni pun menganggukan kepalanya, “Yah, itu selatan.”

Saya hanya tersimpul puas. Karena, hanya itulah yang saya kenali. Dan saya bisa mengaplikasikannya di sini, di sebuah desa yang penuh potensi pemeliharaan kearifan lokal berbasis ekologis dan teknologi informasinya.***

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s