Budi is Different…


Sinta Ridwan (kiri) dan Budi (kanan), di sela-sela ulang tahun pertama IM Books. Buku yang dipegang oleh Sinta adalah buku kumpulan puisi yang di dalamnya terdapat puisi Budi. (Foto: Yudha PS)

Sinta Ridwan (kiri) dan Budi (kanan), di sela-sela ulang tahun pertama IM Books. Buku yang dipegang oleh Sinta adalah buku kumpulan puisi yang di dalamnya terdapat puisi Budi. (Foto: Yudha PS)

Mendung menggelayut pekat di atas kota Bandung. Sore itu, Mukti Mukti menggaungkan dendangnya di kafe Gedung Indonesia Menggugat (GIM) Bandung. Im Books, sebuah toko buku di GIM, tengah merayakan ulang tahunnya yang pertama. Sekitar 20 orang undangan hanyut mendengarkan nyanyian Mukti.

Begitu juga dengan Budi Pramono (25). Dia duduk di samping kanan panggung menyaksikan pertunjukan musik akustik sore itu.

Ada yang membedakan Budi Pramono dari undangan lainnya. Kedua tangannya tidak bisa bergerak bebas. Jari-jarinya terkuncup kaku. Persendian di sikunya membentuk sudut sekitar 60 derajat dan tidak bisa diluruskan.

Begitu pun dengan kakinya. Persendian di lututnya membentuk sudut sekitar 120 derajat dan tidak bisa diluruskan. Bila berjalan, tampak pincang.

Perbedaan ini juga melanda organ di kepalanya. Nafasnya tersenggol-senggol untuk bicara. Untuk menyampaikan sebuah kalimat berisi 5-7 kata pun, butuh usaha yang besar. Beberapa kali saya harus mendekatkan telinga saya ke mulutnya. Hal ini saya lakukan agar mampu menangkap apa yang Budi sampaikan.

Kebetulan di dekatnya ada Sinta Ridwan, sastrawan sekaligus peneliti naskah kuno. “Om Yudha, kenalkan, ini Budi. Sastrawan, lho,” sahut Sinta kepada saya. Saat itu, Budi memang sedang memperlihatkan puisi-puisinya kepada Sinta. Puisinya berhasil masuk dalam buku Wirid Angin, kumpulan puisi Majelis Sastra Bandung. Ada tiga puisi jumlahnya.

Saya dan Sinta bersama-sama langsung membaca puisi Budi. Kami berdua terenyuh sekaligus terpesona. Kata-katanya begitu merdeka dan positif. Pilihan katanya tepat dan mengesankan.

Budi kemudian menyodorkan kartu namanya kepada saya. Sebuah kartu nama berwarna biru-putih dengan nama Muhammad Budi Pramono, sang pemiliknya. Di sudut kirinya tertera logo bertuliskan Bilic. Bilic sendiri singkatan dari Bandung Independent Living Center, merupakan lembaga non-pemerintah yang mendorong kemandirian orang-orang berkebutuhan khusus.

***

Terik matahari sore itu, menemani saya menyusuri jalan Murtamad, Cipaera, di bilangan Kosambi, Bandung. Padahal, cuaca baru saja hujan dan waktu ashar akan segera tiba. Namun, sengatannya tidak juga berkurang, setidaknya membuat saya merasa kepanasan.

Jalanan yang hanya muat satu mobil itu dipenuhi anak-anak yang bermain bola. Maklum, daerah ini termasuk kawasan padat penduduk. Tidak ada lapangan, jalanan pun jadi tempat bermain. Sebuah fenomena yang biasa di perkotaan.

Akhirnya saya tiba di jalan Murtamad nomor 22. Rumah ini adalah kantor Bilic, tempat saya dan Budi berjanji untuk bertemu sore itu. “Biar akang juga membiasakan dengar suara aku yang nggak jelas,” papar Budi ketika mengajukan pertemuan ini melalui layanan pesan singkat.

Saya memang tersentak dengan alasan Budi. Awalnya saya memintanya menceritakan perihal dirinya via surat elektronik. Namun, di luar dugaan saya, Budi menolak. Akhirnya, saya sadar, tampaknya Tuhan ingin membuat saya lebih dekat dan mengenal Budi. Dan saya pun setuju.

Rumah ini di kelilingi pagar setinggi 2 meter dengan gerbang geser berwarna hijau. Ada 2 jendela di kedua sisinya dengan pintu ganda yang bertengger di tengah-tengahnya. Saya agak ragu-ragu untuk masuk. Di depan rumah, tidak ada plang penunjuk bahwa bangunan ini adalah kantor Bilic. Bahkan, rumah ini sepi dari aktivitas, benar-benar bukan ciri sebuah kantor LSM yang biasa saya kunjungi. Saya ketuk pintunya pun, tidak ada orang yang menggubris.

Satu-satunya yang meyakinkan saya tempat ini merupakan kantor Bilic hanyalah sebuah motor beroda tiga yang terpakir di depannya. Sebuah motor yang bentuknya sudah dimodifikasi untuk mereka yang berkebutuhan khusus.

Segera saya mengirimkan pesan ke Budi yang dibalas dengan sambutannya di depan pintu rumah. “Ayo, masuk,” ajaknya. Budi kemudian membawa saya ke sebuah ruangan berukuran 4 x 4 meter. Di dalamnya, 2 meja setinggi ½ meter berhimpit di tengah-tengah ruangan. Di sekelilingnya, 3 orang pengurus Bilic lainnya sedang duduk sembari mengerjakan sesuatu di notebook-nya masing-masing. Mode lesehan rupanya kantor ini.

“Inilah kantor kami, hanya ruangan ini,” sapa Yati Suryati, ketua Bilic, menjawab keheranan saya. Sedangkan ruangan lainnya adalah kamar-kamar kostan. Yah, kantor Bilic hanyalah satu dari sekian banyak kamar kostan di rumah jalan Murtamad 22 ini. “Kami baru beberapa bulan pindah ke sini, tapi nanti akan pindah lagi. Mungkin ke jalan Soekarno-Hatta,” sahut Budi.

***

Budi sendiri hidup dengan Cerebral Palsy (CP) atau Lumpuh Otak. CP membuat saraf motoriknya terganggu. Sehingga tidak mampu mengoptimalkan gerak anggota badannya. Meskipun begitu, kemampuan intelektual orang dengan CP tidak terganggu sedikit pun.

“Lalu, kenapa mereka kerap berpikir lambat,” tanya Yati. “Karena mereka tidak pernah diajak berkomunikasi dengan baik oleh orang tuanya. Mereka selalu dianggap anak kecil yang tidak tahu apa-apa,” sambungnya. Menurutnya, orang dengan CP akan berhasil mengoptimalkan kemampuannya bila diperlakukan dengan baik. Hal ini, terbukti dengan beberapa teman Yati yang mendapatkan dukungan dari orang tuanya sejak kecil.

Pikiran saya langsung terbang ke sosok Genie, seorang gadis berusia 13 tahun dari Kalifornia, Amerika Serikat. Sejak kecil, ayahnya mengikat Genie di sebuah tempat duduk yang ketat. Malam harinya, Genie ditempatkan dalam kurungan besi.

Dia tidak pernah diajak berkomunikasi dan berbicara. Ketika kakaknya memberi Genie makan, harus dilakukan diam-diam tanpa suara. Genie pun tidak pernah mendengar orang bercakap-cakap.

Pada 1970, ketika kasus Genie terbongkar, Genie tidak menunjukan perilaku seperti layaknya anak berusia 13 tahun. Tubuhnya bungkuk, kurus kering, kotor, dan tidak pernah berbicara sedikit pun. Ketika di bawa ke rumah sakit, dokter menyatakan bahwa kepandaiannya tidak ubahnya seperti seorang anak berusia 1 tahun.

Dalam dunia psikologi komunikasi, sosok Genie sungguh fenomenal. Pasalnya, ketika seorang anak tidak mendapatkan asupan komunikasi yang cukup, mereka tidak bisa berkembang layaknya seorang anak manusia pada umumnya.

Hal inilah yang menimpa orang-orang yang hidup dengan CP. “Mereka tidak pernah diajak berkomunikasi layaknya orang dewasa,” aku Yati.

Celakanya, Sekolah Luar Biasa (SLB) pun berlaku sama. Kurikulum kebanyakan SLB tidak pernah menganggap orang yang hidup dengan CP layaknya manusia pada umumnya. Kemampuan dan bakat anak CP tidak tergali dengan baik.

Yati mencontohkan dengan kemampuan menulis anak. Bila anak CP tidak mampu menulis menggunakan alat tulis konvesional berupa pulpen atau pensil, seharusnya pihak SLB mencarikan alternatif lain. Misalnya saja dengan alternatif teknologi.

Kenyataannya, yang terjadi justru sebaliknya. Yati mencontohkan seorang anak CP pernah meminta komputer. Si gurunya malah bilang, “Ngapain kamu minta komputer? Emang kamu bisa apa dengan komputer?”

Dari segi pemegang kebijakan, program yang dibuat pemerintah perspektifnya masih ditujukan kepada orang berkebutuhan khusus yang mampu dididik dan mampu dilatih. Bidangnya pun tidak jauh-jauh dari urusan domestik, seperti menjahit dan memasak.

Tak heran bila yang masuk program ini adalah mereka yang berkebutuhan khusus dalam skala ringan. Tidak untuk orang dengan CP. “Nggak ada tuh program pemerintah untuk pelatihan menulis sastra,” tandas Yati, yang juga penyandang polio ini. Padahal, banyak orang berkebutuhan khusus yang punya pontensi di bidang tersebut.

***

Saya begitu takjub ketika tahu bahwa Budi juga kerap memberikan pelatihan motivasi. “Boleh Budi peragakan kepada saya pelatihan motivasinya?” usul saya. Budi kemudian memberikan saya sebuah spidol. Saya disuruh menulis kata “kaya” di selembar kertas, kemudian kata “miskin” di bawah kata pertama.

“Pilih mana, ‘kaya’ atau ‘miskin’?” tanya Budi sembari menunjukkan kata-kata yang saya tulis sebelumnya. “Kaya mungkin, yah,” jawab saya diikuti senyuman Budi. “Sekarang, tulis kata ‘cacat’,” titah Budi lagi kepada saya sembari menunjukkan sebuah ruang kosong di bawah kata “miskin”.

“Sekarang, pilih mana, ‘miskin’ atau ‘cacat’?” tanyanya lagi. Perasaan bingung langsung menyergap. Saya sebenarnya memilih untuk tidak menjawab. Namun, karena saya yang mengusulkan simulasi ini, akhirnya dengan suara agak pelan dan ragu, saya memilih kata “miskin”. “Jadi, lebih memilih miskin yah daripada cacat?” tanyanya, menegaskan. Saya pun hanya menyeringai tanpa jawaban.

Belum usai sampai di situ, Budi menyuruh saya memilih lagi. Kali ini antara spidol berwarna cokelat dan spidol dengan tekstur berwarna-warni. Saya pun memilih spidol berwarna-warni dengan alasan karena lebih berwarna dan menarik.

“Lalu, untuk apa spidol ini (spidol cokelat) ada? Kalau nggak berguna, yah kita buang aja,” tandas Budi. Dia langsung membuang spidol itu ke sembarang arah. Sontak, saya agak kaget. Tanpa saya sadari, saya berkeringat dan jantung saya berdetak cukup kencang dan keras.

“Begitu pun dengan orang cacat. Untuk apa mereka ada? Bila tidak berguna, kenapa tidak dibuang saja?” tanya Budi, kali ini dengan nada yang agak tajam dan tinggi. Saya pun semakin gelisah.

“Mau kaya, miskin, atau cacat, yang penting kita tahu untuk apa kita hidup,” simpulnya, kali ini dengan nada yang lebih ramah. Saya, yang sebelumnya terhanyut dengan simulasi motivasi Budi, mulai bisa bernafas lega dan tenang.

“Bagaimana pun, Allah menciptakan manusia berbeda-beda. Jadi, gunakanlah hidup kita secara baik,” nasihatnya penuh kebijakan.

“Tidak perlu dipermasalahkan. Orang kaya, hiduplah dengan kekayaannya. Orang miskin, hiduplah dengan kemiskinannya. Dan orang cacat, hiduplah dengan kecacatannya. Allah menciptakan semuanya dengan baik,” lanjutnya.

Kali ini, saya benar-benar terpukau. Budi benar-benar mampu menorehkan kata-kata sakti tersebut di hati saya, meskipun ini hanyalah simulasi.

Apa yang Budi sampaikan, memang tidak semudah dia mengucapkannya kini. Butuh bertahun-tahun untuk dirinya memahami apa yang telah terjadi dalam hidup.

Pernah, pada 2008 silam, selama 6 bulan lamanya Budi mengurung diri di rumah. Ketika itu, dia hanya mampu menghina dan mempertanyakan alasan Tuhan menciptakan dirinya yang berbeda dengan orang kebanyakan.

Bagaikan gayung bersambut. Ketika hinaan tersebut terlontar, terbesit pula jawabannya kemudian. “Engkau diciptakan begitu bukan untuk menyerah pada keadaanmu, melainkan untuk membuktikan pada langit dan bumi dan pada makhluk lainnya bahwa engkau mampu, engkau bisa bersaing dengan yang lain.”

Begitulah bisikan hatinya menjawab. Bisikan ini Budi tuangkan dalam puisi pertamanya berjudul Takdir. Dari sini pula lah Budi mulai menulis sosok yang belum pernah dia kenal sebelumnya, puisi. Melalui puisi pula lah Budi akhirnya bergabung dengan Bilic dan mengambil bagian dalam tim advokasinya.

Hal ini berawal dari perkenalan Budi dengan Opick. Sama seperti Budi, Opick pun hidup dengan CP. Sebelum Budi mengenal Puisi, Opick sudah lebih dulu berkarya di bidang sastra. Bahkan, Opick sudah membuat sebuah buku kumpulan puisinya yang bertajuk Isi Otakku.

Pada 2010, Opick mengajak Budi bergabung dengan Bilic. Pertemuan ini juga membuat Budi jatuh cinta dengan bidang advokasi. Rasa jatuh cinta inilah yang membuat Budi akhirnya bercita-cita merubah perspektif orang terhadap orang berkebutuhan khusus. Budi juga bertekad merubah kawan-kawannya untuk bangkit, mendapatkan pendidikan, dan bisa ke luar rumah.

Puisi juga membawa angin segar untuk Budi berkarya dan berekspresi. Tanpa ragu, dia berguru mengikat makna dan kata kepada Rahmat Jabaril, seniman sekaligus sastrawan Bandung. Dua bulan lamanya Budi berguru di bilangan Dago Pojok Bandung.

Sejak saat itu, ratusan puisi Budi terlantunkan di layar notebook-nya. Sebelum menerbitkannya menjadi sebuah buku, Budi ingin mengujinya terlebih dahulu. Hasilnya, 3 puisi Budi berhasil masuk kumpulan puisi Majelis Sastra Bandung 2012 bertajuk Wirid Angin. Dengan hasil ini, memantapkan langkah Budi untuk membukukan puisinya yang lain.

Kini, dengan kemampuan menulisnya yang semakin berkembang, Budi mulai mencoba menulis artikel tentang kehidupan manusia.  Menurutnya, tulisan membantunya memahami hak dan kehidupan orang-orang berkebutuhan khusus.

***

Bilic boleh dibilang sebagai “Kawah Chandra Dimuka”-nya orang-orang berkebutuhan khusus. Sebuah “kawah” yang bervisi mendorong orang-orang berkebutuhan khusus untuk mampu memahami dirinya sendiri. Untuk menggapai visi tersebut, Yati dan timnya selalu menanamkan rasa percaya diri kepada mereka yang bergabung dengan Bilic.

Untuk mengembangkan rasa percaya diri ini, memang bukan perihal yang mudah bagi Yati. Butuh kesabaran ekstra. Bahkan, dirinya kerap memarahi orang-orang dengan CP lantaran mereka selalu merasa tidak bisa apa-apa. “Padahal mereka punya banyak potensi,” tandasnya.

Selang beberapa waktu, usaha Yati dan kawan-kawan Bilic mulai memberikan hasil. Kini, Budi dan kawan-kawan CP-nya mampu membuat laporan kegiatan. Bahkan, mereka pun kini sudah bisa menggunakan internet sebagai sarana berkomunikasi dan berekspresi. “Saya paksa mereka untuk mengirim laporan lewat email,” tutur Yati.

Lebih dari itu, kawan-kawan dengan CP ini sedang mengikuti ujian persamaan. Pasalnya, ketika bergabung dengan Bilic, mereka merasa tertipu. Kurikulum yang diajarkan di tingkat SMA di SLB, ternyata setara dengan kurikulum SD di sekolah umum. Tentu saja, mereka tidak puas. Sehingga kawan-kawan CP kini bertekad mengikuti ujian persamaan untuk mendapatkan gelar SMA sekolah umum.

Kunci dari keberhasilan ini menurut Yati adalah keluarga dan diri orang-orang berkebutuhan khusus. Namun, sayangnya, menurut Yati, “Keluarga seringkali memandang mereka yang berkebutuhan khusus sebagai objek, bukan manusia.” Seringkali, mereka disimpan dan disembunyikan di rumah oleh keluarga. Tak heran, bila kemampuan dan kemandirian orang-orang berkebutuhan khusus tidak pernah berkembang.

Hal yang sama juga terjadi pada Aden Ahmad, koordinator program Bilic. “Dulu juga saya ke mana-mana selalu dikawal oleh keluarga,” komentar Aden. Aden sendiri penyandang Amputee, ketiadaan anggota gerak kaki sejak lahir. Sehingga harus menggunakan kursi roda sebagai alat bantu aktivitasnya.

Keluarganya seringkali melindungi secara berlebihan (over protective) dan penuh ketakutan. “Pengawalan ini tidak memandirikan, bahkan bisa membuat si orang berkebutuhan khusus tidak bisa mandiri,” simpul Aden.

Untuk itu, Yati dan teman-temannya di Bilic selalu mensosialisasikan kepada keluarga dan diri orang berkebutuhan khusus bahwa mereka bisa mandiri. “Bagaimana pun, kemampuan untuk mandiri pada orang berkebutuhan khusus itu bukan kelebihan, tetapi dilatih,” tandas Yati.

Contohnya adalah seorang rekan Bilic yang merupakan penyandang tuna netra berusia 14 tahun. Ketika itu, dia takut keluar pintu rumahnya. Aktivitas sehari-harinya pun hanya di rumah saja.

Bilic pun mengajaknya untuk pergi ke Wiyata Guna, Padjadjaran, Bandung. Lokasi ini merupakan SLB untuk penyandang tuna netra. Di tempat ini pula, rekan Bilic tersebut belajar orientasi tempat, penciuman, pendengaran, dan lain sebagainya.

Selain itu, Bilic pun rutin memotivasi si anak dan keluarganya. Hasilnya, beberapa bulan kemudian, rekan Bilic ini sudah bisa pulang-pergi sendirian.

Hal yang sama pernah juga terjadi pada Budi. Yati mengisahkan bahwa orang tua Budi kerap mempertanyakan anaknya yang selalu keluar rumah. “Ngapain sih ke luar rumah? Ngabisin uang aja,” cerita Yati menirukan pandangan negatif orang tua Budi.

Selang beberapa waktu beraktivitas di Bilik dan memperlihatkan perkembangannya dalam berkarya, akhirnya bapaknya memandang Budi sebagai orang dewasa.

Di sela-sela kesibukannya bekerja di Bilic sebagai anggota tim advokasi, Budi pun kerap menjadi motivator. Dari aktivitasnya ini, Budi mampu membeli notebook dan ponsel sendiri, tanpa sepeser pun uang dari orang tuanya.

***

Different, not less,” begitulah perjanjian dalam film Temple Grandin antara Eustacia Grandin (Julia Ormond), ibu Temple Grandin, dan Dr. Carlock (David Strathairm), guru sains sekaligus mentor Temple Grandin di sekolah berasrama. Saat itu, Eustacia merasa putus asa karena menilai Temple Grandin tidak akan diterima di sekolah berasrama tersebut. Namun, Dr. Carlock melihat bahwa Temple punya potensi di bidang sains dan berjanji untuk mengarahkannya.

Film Temple Grandin sendiri bercerita tentang seorang penyandang autis bernama Temple Grandin. Tentang pemenuhan hak asasi manusia seorang penyandang disabilitas. Film ini diangkat dari kisah nyata sosok yang memiliki nama serupa. Hebatnya, Temple berhasil meraih gelar doktor dan profesor di bidang ilmu peternakan. Dia juga menjadi penulis buku laris dan konsultan industri peternakan dalam bidang perilaku hewan ternak.

Pada akhir film (bukan bermaksud spoiler), Temple bercerita bahwa dia tidak pernah sembuh dari autis. “Saya selalu menjadi autis,” ungkapnya. Meskipun begitu, ibu dan orang-orang di sekitarnya selalu bekerja keras untuk meyakinkan dirinya bahwa dia mampu.

“Mereka tahu saya berbeda, tetapi bukan cacat. Kau tahu? Saya punya kelebihan. Saya bisa melihat dunia dengan cara yang berbeda. Saya bisa melihat detail yang orang lain tidak mampu melihatnya,” papar Temple.

“Berbeda, bukan cacat.” Itulah juga Budi dan kawan-kawan di Bilic. Mereka berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya. Perbedaan ini terletak dari tekadnya yang lebih kuat, mentalnya yang lebih membaja, dan perjuangannya yang lebih tidak mengenal lelah. ***

14 thoughts on “Budi is Different…

  1. yuyunberakhiranyuningsih berkata:

    Assalamu’alaikum
    Alhamdulillah sekarang yun punya blog baru kang,niatnya ingin mengasah kemampuan menulisnya dan mau mulai banyak menulis. saya baca ulang tulisan ini untuk kembali belajar.. mohon bimbingannya yah..semangat ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s