Mendefinisikan Ulang Jurnalisme


Foto: thames2thayer.com

Foto: thames2thayer.com

Berbicara jurnalisme, pikiran setiap orang umumnya langsung terbang pada lembaga pers dan perusahaan media. Tidak salah memang. Bagaimana pun, secara sosiologis, Sahala Tua Saragih mendefinisikan bahwa pers merupakan lembaga sosial yang menerima mandat dari masyarakat. Mandat tersebut berisi hak mengetahui dan hak memberitahukan kepada masyarakat.

Namun, bila melihat ke belakang, jurnalisme sendiri lahir dari dorongan hati manusia yang mendasar untuk mengetahui apa yang terjadi di luar pengalaman langsung diri mereka sendiri (Harvey Molotch – 1974). Dengan mengetahui informasi ini, membuat manusia merasa aman, nyaman, tenang, dan dapat mengontrol diri dan lingkungan sekitarnya. Dengan kata lain, jurnalisme adalah sistem yang dilahirkan masyarakat untuk memasok berita (Bill Kovach – 2001).

Sistem ini sendiri lahir bertepatan dengan keberadaan manusia pertama di bumi. Sistem ini kemudian berubah seiring semakin mapannya cara berkomunikasi manusia dari waktu ke waktu. Dalam hal ini, Bill Kovach (2001) menyimpulkan bahwa setiap generasi menciptakan jurnalismenya sendiri.

Setiap manusia dari setiap masa memiliki bentuk jurnalismenya masing-masing. Setidaknya ada 3 era bentuk jurnalisme, yaitu gosip, literasi, dan multimedia.

Pada era gosip, berita disampaikan dari mulut ke mulut. Mediumnya bisa melalui pembicaraan, syair, atau nyanyian yang  disampaikan oleh pengamen yang mengembara dari satu kampung ke kampung lainnya. Berita juga disampaikan melalui simbol-simbol khusus. Contohnya saja pada masyarakat Indian kuno di Amerika yang menyampaikan berita bahaya melalui asap.

Umumnya, masyarakat yang menerapkan berita melalui medium gosip adalah masyarakat pra-sejarah dan pra-literasi. Mereka belum mengenal huruf, sehingga berkomunikasi hanya melalui lisan.

Era kedua adalah literasi. Pada tahap ini, manusia sudah mengenal huruf dan berkomunikasi menggunakan tulisan. Di Yunani, pada masa Julius Caesar, manusia mulai menggunakan tulisan sebagai sarana menyebarkan informasi. Mediumnya berupa batu dengan tulisan terpahat di dalamnya. Batu ini diletakan di depan gedung tempat berkumpulnya para senat serta berisikan agenda kegiatan, hasil sidang senat, dan pengumuman penting lainnya.

Foto: markpack.org.uk

Foto: markpack.org.uk

Batu ini disebut Acta Diurna yang berarti Catatan Harian (Acta = catatan, Diurna = harian). Konon, Acta Diurna merupakan surat kabar pertama yang muncul di dunia. Kata “diurna” belakangan disebut-sebut sebagai asal dari kata “jurnal” yang merupakan akar kata dari “jurnalisme” dan “jurnalistik”.

Seiring ditemukannya kertas dan mesin cetak, budaya literasi pun semakin berkembang. Begitu pun dengan bentuk jurnalisme berbasis literasi. Awalnya berupa selebaran, kemudian berkembang menjadi koran yang diterbitkan setiap hari. Dalam tahap ini pula lah muncul lembaga pers. Lembaga pers sendiri merupakan organisasi yang melakukan kegiatan jurnalisme.

Kemudian tahap ketiga adalah era multimedia yang ditandai dengan munculnya gelombang radio pada akhir abad 19. Teknologi ini mampu memancarkan medium suara dengan jangkauan yang lebih luas dan cepat dibandingkan teknologi cetak.

Selang beberapa dekade setelahnya, manusia mulai menemukan televisi. Tidak hanya audio, teknologi ini mampu menampilkan gambar bergerak. Melalui televisi, berjurnalisme pun memiliki tingkat yang lebih mapan. Tidak hanya lebih cepat dan menarik, televisi juga menawarkan berjurnalisme dengan lebih akurat.

Meskipun teknologi komunikasi semakin mapan, tetapi keberadaan jurnalisme semakin jauh dari nilai dasarnya sebagai cara untuk menyampaikan informasi. Jurnalisme terperangkap pada industri, sehingga nilai independensinya semakin dipertanyakan. Lebih dari itu, lembaga pers mulai menunjukkan arogansinya dengan memonopoli informasi dan memposisikan masyarakat sebagai pihak yang tidak mengetahui apa-apa.

Menginjak era milenium ketiga, manusia berkenalan dengan teknologi berjuluk Internet. Internet semakin berkembang seiring perkembangan teknologi data yang semakin kompleks. Perbedaan dengan teknologi komunikasi lainnya, internet memiliki kemampuan untuk menciptakan komunikasi 2 arah dengan cepat dan masif. Dengan kemampuannya ini, internet membawa angin segar bagi jurnalisme.

Lebih dari itu, internet mengantarkan jurnalisme kembali ke pangkuan si empunya, yaitu masyarakat. Secara masif, masyarakat kembali melakukan praktek jurnalisme yang haknya mereka mandatkan kepada lembaga pers sejak beberapa abad lalu.

Foto: artofhosting.org

Foto: artofhosting.org

Chaordic, begitu gambaran jurnalisme era 2.0 abad ini. Chaordic sendiri merupakan istilah yang dipopulerkan oleh David C Korten dalam buku The Post-Corporate World. Merupakan gabungan dari Order (tertata) dan Chaos (kacau). Chaordic merujuk pada hal yang bersifat acak, tetapi tetap tertata rapih, seperti jurnalisme di era 2.0 ini.

Mendefinisikan jurnalisme baru seiring perkembangan teknologi internet sama dengan mendefinisikan kembali peranan masyarakat untuk melakukan praktek jurnalisme. Adapun peran jurnalis era baru tidak lagi memutuskan apa yang seharusnya diketahui publik. Tetapi tugas pertama jurnalis era baru adalah memverifikasi apakah sebuah informasi bisa dipercaya, lantas meruntutkannya sehingga warga bisa memahaminya secara efisien (Bill Kovach – 2001).

Seeley Brown menyebutnya jurnalisme dua arah. Jurnalis menjadi pemimpin diskusi atau mediator daripada menjadi guru atau pengajar semata. Sedangkan audiens, yang dalam hal ini adalah masyarakat, tidak hanya menjadi konsumen, melainkan pro-sumen, sebuah peranakan dari konsumen dan produsen (Tom Rosenstiel – 2001).

One thought on “Mendefinisikan Ulang Jurnalisme

  1. Obyektif Magazine berkata:

    Tulisannya bagus Mas. Inilah era dimana Citizen Journalism lahir, dan warga atau rakyat menjadi agen-agen pers itu sendiri, yang juga bebas bersuara sesuai dengan hati nuraninya. Selama ini betul Anda, mereka hanya “dijejali” saja dengan berbagai informasi, dan tidak mampu menolaknya. Mari kita sambut era yang menggembirakan ini. Salam kenal, selamat dan sukses selalu untuk Anda. Salam kompak

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s