Bercerita Melalui Tulisan*


Foto: Blogspot.com

Foto: Blogspot.com

Banyak orang percaya bahwa menulis bisa mengubah dunia. Menulis juga konon merupakan sarana berbagi ide untuk selanjutnya bersama-sama dengan mereka yang sependapat untuk mengubah dunia. Dan sialnya, itu benar!

Founding Father kita sendiri adalah orang yang senang membaca dan senang menulis. Sukarno contohnya, yang memproduksi banyak buku dan koran di era-era masa menjelang dan awal-awal kemerdekaan. Beliau juga yang pertama kali meluncurkan media bernama Pikiran Rakjat –sebuah nama koran yang tidak asing lagi untuk masyarakat Jawa Barat. Juga buku-bukunya yang kini masih bisa kita temui di penjual buku lawas, seperti Sarinah dan Di Bawah Bendera Revolusi. Juga dengan Bung Hatta yang mengisi masa pensiunnya dengan menulis.

Di tingkat personal, menulis membantu penulis untuk mengenal dirinya. Membantu merenungi pemaknaan kehidupan dan keberadaan dirinya. Percaya atau tidak, menulis juga merupakan sarana untuk penulis mencari semangat hidup, mengobati kegalauan, dan solusi dalam menghadapi permasalahan hidup –meskipun tulisannya hanya ditulis di Buku Harian.

Lebih jauh lagi, proses menulis adalah proses mengeksplorasi wawasan dan pengetahuan. Menulis membuat kita akan bertanya, dengan menulis kita akhirnya haus membaca, dan dengan menulis kita tertuntut untuk mencari jawaban atas kehausan pertanyaan-pertanyaan kita.

Menulis sendiri adalah sebuah proses berkomunikasi antara penulis dan pembaca. Komunikasi sendiri berasal dari kata latin Communis yang berarti sama. Artinya, menulis adalah proses penyampaian pesan-pesan dari penulis kepada pembaca dengan tujuan keduanya memiliki persamaan makna.

Seringkali orang terjebak dengan istilah menulis. Banyak orang mengindentikan menulis sebagai proses yang rumit, formal, dan harus keren. Keluarlah dari identitas seperti itu. Karena, seperti kata Islaminur Pempasa (wartawan senior Pikiran Rakyat Bandung), pekerjaan intelektual kita bukan menulis, tetapi bercerita. Yah, kita sedang bercerita melalui bahasa tulis.

Meskipun begitu, tidak semua orang merasa tidak bisa menulis. Banyak faktor. Namun yang pasti, mereka menghadapi hambatan menulis.

Hambatan menulis sendiri terbagi menjadi 3, yaitu hambatan teknis, hambatan motivasi, dan hambatan persepsi.

  • Hambatan teknis umumnya karena kita tidak menemukan alat dan lingkungan yang tidak cocok untuk menulis. Contohnya, ketiadaan kertas atau alat tulis yang patah. Bisa jadi kita berada di dalam sebuah bus yang melaju dan berguncang cukup kencang, sehingga tidak bisa menulis.
  • Hambatan motivasi berkaitan dengan ketidakmampuan seseorang menginternalisasi kebutuhan menulis. Dalam hal ini, tidak ada orang yang malas, tetapi orang yang tidak memiliki motivasi. Salah satu solusinya adalah menginternalisasi kegiatan menulis ke dalam diri kita, seperti membiasakan menulis setiap hari. Sehingga ketika tidak menulis dalam sehari, kita merasa ada yang hilang dalam hidup kita.
  • Hambatan paradigma biasanya berkaitan dengan mitos orang-orang bahwa sebuah tulisan itu harus hebat, menggugah, dan ilmiah. Orang-orang terlalu tinggi menerapkan standar pada tulisan. Padahal, setiap orang memiliki keunikan tersendiri dalam menulis. Tulisan yang baik pun bukan tulisan yang hebat, menggugah, dan ilmiah, tetapi tulisan yang mencerminkan keunikan diri kita.

Dalam menulis, ada teknik yang dikenal dengan Brain Based Writing. Dalam hal ini, kita harus mengenal fungsi otak kita.

Pada dasarnya, otak kita terbagi menjadi 2, yaitu otak kanan dan otak kiri. Otak kanan umumnya berpikir secara acak atau lateral dan berfungsi mengolah seni, estetika, keindahan, dan lain sebagainya. Sedangkan otak kiri umumnya berpikir secara runut atau linear dan berfungsi mengolah logika, pengukuran, perhitungan, dan lain sebagainya.

Brain Based Writing merupakan teknik menyusun tulisan dengan mengkombinasikan kedua fungsi otak kita. Caranya, mempersilahkan terlebih dahulu otak kanan untuk menulis bebas (free writing). Tulislah tentang apa yang kita tahu. Biarkan saja kalimat-kalimat terus mengalir, walaupun mungkin kalimatnya tidak bagus, belum urut, atau pun tidak akan terpakai sama sekali. Tulislah semua yang ada di mulut, pikiran, dan perasaan kita.

Foto: myshrink.com

Foto: myshrink.com

Kemudian, gunakan otak kiri untuk menyunting tulisan. Pertama-tama, tentukan fokus tulisan yang akan kita buat. Pilih kalimat-kalimat yang saling berkaitan dan membentuk sebuah fokus tulisan. Setelah itu, susun kalimat-kalimat tersebut secara runut, logis, dan beraturan. Kemudian tambahkan fakta-fakta untuk memperkuat penulisan, seperti statistik, angka, referensi, analogi, testimoni, dan contoh.  Terakhir, perbaiki ejaan, ekonomi kata dan kalimat, dan kesalahan penulisan huruf. Baca kembali sebelum dipublikasikan.

Media publikasi pun beragam –dan lebih variatif di era media online seperti sekarang ini. Ada banyak media yang bisa dipilih, mulai dari notes Facebook , blog, sampai menulis artikel di media massa. Satu hal yang harus diperhatikan, bersabarlah dan lalui proses menulis secara bertahap

Mulai lah dari menulis di blog dan notes Facebook sebelum mengirimkan tulisan artikel di media massa. Bagaimana pun, jarang sekali ada penulis yang langsung mampu menorehkan namanya di media massa. Karena penulis dilahirkan bukan hanya dari bakat, tetapi dari proses yang panjang untuk terus menulis, menulis, dan menulis.

Satu hal yang perlu dicamkan, bahwa menulis merupakan proses berkarya. Tidak ada tulisan yang salah dan tidak ada yang benar, juga tidak ada tulisan yang baik dan tidak ada yang buruk. Maksimalkan hati dan pikiran untuk menghasilkan karya terbaik.

Selamat menulis, Kawan’s…

* Tulisan pengantar untuk Pelatihan Menulis Gerakan Mahasiswa Pendidikan Nasional (GEMA PENA) di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada Minggu, 1 April 2012

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s