SD IT Rabbani, Sekolah Dhuafa Berbasiskan Mahasiswa dan Masyarakat


Guru dan siswa SD IT Rabbani berfoto di depan sekolah (Foto: Hesty A)

Guru dan siswa SD IT Rabbani berfoto di depan sekolah (Foto: Hesty A)

Sekolah rusak dan kekurangan guru adalah berita biasa. Namun, sebuah sekolah untuk dhuafa yang hampir bangkrut kemudian diselamatkan oleh sekelompok mahasiswa, menurut saya ini baru luar biasa.

Sekolah Dasar Islam Terpadu (SD IT) Rabbani namanya. Pada pertengahan 2010 lalu, sekolah ini hampir bubar. Pasalnya, pihak yayasan memindahkan kepala sekolah sebelumnya ke daerah lainnya terkait konflik antara keduanya. Guru-guru yang notabenenya setia pada sang kepala sekolah pun ikut pindah. Hasilnya, sekolah ini resmi tanpa guru.

“Kami datang ke sekolah ini pertengahan 2010. Saya ingat waktu itu hari Kamis. Hari Sabtunya pihak sekolah akan membagikan raport siswa sekaligus mengumumkan bahwa sekolah ini akan ditutup,” tutur Hesty Ambarwati (22), sang kepala sekolah saat ini, mengisahkan kepada Salmanitb.com.

Hesty beserta teman-temannya yang tergabung dalam Gerakan Mahasiswa Pendidikan Nasional (Gema Pena) langsung mengajukan diri untuk mengambil alih sekolah, dan disetujui. Sejak saat itu, sekolah ini berada di bawah manajemen Hesty dan kawan-kawannya.

Ketika itu, Hesty sebenarnya datang dengan beberapa kawan mahasiswanya. Namun, yang bertahan kini hanya Hesty dan kawannya, Anissa Trisdianti (22). Pasalnya, seiring meningkatnya kesibukan masing-masing “mahasiswa pejuang” ini, satu per satu memutuskan untuk berhenti mengajar di SD IT Rabbani.

Padahal, Hesty dan Anissa pun tak kalah sibuknya. Terlebih lagi ketika memasuki masa skripsi dan semester akhir. Meskipun begitu, kecintaannya terhadap murid-murid di SD IT Rabbani membuat mereka rela menunda kelulusannya.

“Kami tahu sekarang kenapa Bu Muslimah begitu ingin mempertahankan anak muridnya,” ungkap Anissa seperti dilansir dari Salmanitb.com.

Hesty sendiri adalah mahasiswi jurusan Tata Boga Universitas Pendidikan Indonesia (UPI). Sedangkan Anissa Trisdianti merupakan mahasiswi jurusan Bahasa Inggris di perguruan tinggi yang sama. Di SD IT Rabbani, Anissa menjadi wali kelas 3 dan mengajar beberapa mata pelajaran, yaitu Bahasa Inggris, Matematika, dan Bahasa Indonesia.

Saya saat memberikan ucapan terima kasih kepada kedua inspirator pendidikan Bandung (Foto: Fery AP - Salmanitb.com)

Saya saat memberikan ucapan terima kasih kepada kedua inspirator pendidikan Bandung (Foto: Fery AP - Salmanitb.com)

Setelah membaca kisahnya di situs, saya pun akhirnya bertemu dengan kedua inspirator pendidikan di Bandung itu. Awal Februari 2012 lalu, Salman Media berkesempatan mengundang keduanya untuk menularkan pengalamannya di Masjid Salman ITB. Keduanya pun mengundang saya untuk berkunjung ke SD IT Rabbani. Dan berselang 3 hari dari pertemuan tersebut, saya pun berkesempatan menginjakkan kaki di SD IT Rabbani.

Sekolah ini tidak terlalu jauh dari Kota Bandung. Letaknya hanya sekitar 5 Kilometer dari Saung Angklung Udjo di Bilangan Padasuka, Bandung. Terletak di kabupaten Bandung, jaraknya hanya sekitar 2 Kilometer dari perbatasan Kota Bandung yang merupakan Ibu Kota provinsi Jawa Barat. Namun, siapa sangka bahwa pendidikan di sini cukup tertinggal dibandingkan di Kota Bandung?

Tidak sulit untuk sampai di lokasi SD IT Rabbani di Kampung Balong, Kecamatan Cimenyan, Kabupaten Bandung. Hanya sekitar 15 menit bila ditempuh menggunakan ojeg dengan 6 tanjakan curam. Jalannya pun cukup mulus. Namun, sekitar 500 meter menjelang lokasi, saya harus melewati jalanan bertanah dengan hutan berselang kebun di kanan-kirinya.

Konon, ketika musim hujan, motor akan kesulitan untuk melewatinya. Bahkan akan mengalami selip. Tak heran bila pada musim hujan anak-anak biasanya hanya menggunakan sendal ke sekolah. Mereka khawatir sepatunya akan berlumuran tanah sehingga bisa cepat rusak.

Namun, meski letaknya di tengah hutan dan kebun, SD IT Rabbani terbilang cukup baik dari segi bangunan. Tiga ruang kelas dan sebuah ruang guru yang seluruhnya berdinding beton dan berlantai keramik. Benar-benar jauh dari imajinasi saya yang menautkannya dengan sekolah di kisah Laskar Pelangi.

Begitu tiba, saya disambut oleh murid-murid kelas 1 beserta sang Kepala Sekolah, Hesty. Di pagi hari yang lumayan terik, mereka sedang membuat kotak-kotak di tanah dengan menggunakan kapur tulis. Saya kira mereka akan bermain. Ternyata itulah cara Hesty mengajarkan kelima murid kelas satunya tersebut.

Seorang siswa SD IT Rabbani tengah menggambar kotak untuk media belajar berhitungnya. (Foto: Yudha PS)

Seorang siswa SD IT Rabbani tengah menggambar kotak untuk media belajar berhitungnya. (Foto: Yudha PS)

“Kami sedang belajar berhitung,” terang Hesty. Setelah susunan kotaknya selesai, satu per satu anak murid Hesty melewati kotak-kotak yang telah diberi angka berurutan. Ketika tiba di sebuah bilangan, sang murid diminta menjumlahkan angka-angka yang telah dilewatinya tersebut dan menuliskannya di kotak lainnya yang telah disediakan.

Hesty dan kawan-kawan guru SD IT Rabbani memang memiliki pendekatan lain dalam mengajar. Menurutnya, anak-anak sedini mungkin diperkenalkan bahwa belajar adalah hal menyenangkan, bukan menakutkan. Sehingga tak heran bila cara mengajarnya pun sedikit berbeda dengan sekolah pada umumnya. “Kami mengajak mereka (siswa SD IT Rabbani) untuk belajar, bukan dipaksa belajar,” papar Hesty.

Cara yang sama tampak ketika saya bertemu bertemu Anissa yang tengah mengajar di kelas 3. “Kami baru saja bermain drama,” tutur Anissa yang diamini keenam muridnya dengan wajah sumringah. Drama adalah salah satu aktivitas yang disenangi warga kelas 3 SD IT Rabbani.

Menurut Anissa, anak usia SD umumnya menyenangi aktivitas fisik. Sehingga dalam belajar pun harus bersifat nyata agar menarik. “Kalau (belajar) di kelas saja, mereka akan diam dan malah mengantuk,” simpulnya.

Anissa mencontohkan dengan pelajaran Bahasa Inggris tentang rasa makanan. Dirinya menggunakan media makanan yang memiliki rasa berbeda satu sama lain. Sehingga mereka ikut merasakan dan bergerak. Harapannya, mereka belajar dan memahami hal-hal yang diajarkan oleh gurunya.

Hal unik lainnya dalam belajar di SD IT Rabbani adalah siswa yang belajar di lantai beralaskan karpet. Padahal, ruangan mereka juga memiliki kursi dan meja layaknya ruang kelas sekolah lainnya.

“Biasanya pada jam pertama siswa belajar di atas (kursi). Bila sudah jam istirahat, mereka senang (belajar) di bawah (lantai beralaskan karpet),” papar Anissa. Menurutnya, dengan sistem belajar seperti ini, anak-anak lebih mudah dikondisikan karena mereka merasa nyaman.

Di kelas lainnya, saya bertemu dengan guru lainnya. Berbeda dengan Hesty dan Anissa yang merupakan mahasiswa, guru lain yang saya temui berusia paruh baya. Mereka adalah warga masyarakat di sekitar SD IT Rabbani. Mereka umumnya merupakan ibu rumah tangga yang memiliki waktu senggang dan memiliki wawasan pelajaran siswa sekolah dasar.

Salah satunya adalah Susilawati (27), seorang ibu rumah tangga yang tinggal tidak jauh dari sekolah. Setiap harinya Ibu Uci, begitu dia akrab disapa anak-anak, meluangkan waktu dari pagi hingga siang hari untuk mengajar di kelas 1.

Kemandirian memang menjadi nafas sekolah ini sejak 2010 silam. Hesty menyebutnya Sekolah Berbasis Mahasiswa dan Masyarakat. Karena elemen penggeraknya benar-benar mahasiswa dan masyarakat. Mereka saling bergotong-royong mengelola SD IT Rabbani tanpa pamrih dan tanpa digaji sepeser pun.

Selain nyaman belajar di bawah, siswa pun akan lebih dekat dengan guru dan tidak segan-segan bertanya. (Foto: Yudha PS)

Selain nyaman belajar di bawah, siswa pun akan lebih dekat dengan guru dan tidak segan-segan bertanya. (Foto: Yudha PS)

Untuk biaya operasional pun, Hesty dan kawan-kawan di SD IT Rabbani mengumpulkan dana dari Gerakan Kakak Asuh (GKA). Gerakan ini digagas oleh salah seorang kawan mahasiswa yang pernah menjadi relawan pengajar SD IT Rabbani dari Gerakan Mahasiswa Peduli Pendidikan (Gema Pena). Meskipun belum menutupi seluruh biaya operasional, tetapi bantuan ini sangat membantu perjuangan Hesty dan kawan-kawan dalam menghidupi SD IT Rabbani.

Bila ada yang bertanya tentang goal sekolah ini, Hesty hanya ingin mereka merdeka dan menemukan dirinya yang ternyata luar biasa. “Saya ingin membuat mereka mencintai ilmu dan menjadi pembelajar sejati,” papar Hesty yang saya temui jawabannya di Catatan Facebook-nya.

Satu hal yang Hesty, Anissa, dan guru-guru lainnya khawatirkan bila siswanya lulus sekolah dasar. Pada umumnya, orang tua mereka tidak terlalu memperdulikan pendidikan. Sehingga besar kemungkinannya para siswa tidak akan meneruskan ke jenjang lebih tinggi.

Meskipun begitu, Hesty berharap di tahun-tahun mendatang, dirinya bisa mewujudkan SMP dan SMA yang konsepnya serupa dengan sekolah yang sedang dikelolanya saat ini. Tujuannya, agar siswanya ini bisa meneruskan pendidikannya dan menjadi investasi untuk masa depan bangsa ini.

Berbicara tentang siswa di sekolah ini, seluruhnya berjumlah 31 orang. Mereka berasal dari keluarga dhuafa di sekitar lokasi sekolah. Dalam sebuah catatannya di Facebook, Hesty bercerita tentang keunikan masing-masing siswanya ini. Seorang anak ada yang tidak mengetahui siapa orang tuanya. Ada juga seorang anak yang ditinggal pergi ayahnya dan tak kunjung kembali. Bahkan ada satu anak yang akan dijual oleh ibunya.

Meskipun begitu, ada banyak hal positif dari mereka. Hesty meneruskan dalam paragraf yang lain, “31 anak yang sangat senang bermain, berlebihan tenaga, terkadang jahil, namun sangat peduli pada teman dan adiknya. Cinta sekolahnya namun tidak betah belajar. 31 anak dengan tawanya yang riang, celetukan-celetukannya yang ringan, dengan kecerdasan alami yang menawan.”

Saya juga sempat bertemu dengan Sinta, siswa kelas 3 yang terindikasi autis. Memang sulit mengajaknya belajar. Namun, ketika saya melihat tatapan matanya, anak ini memiliki potensi besar. Selama ini, untuk menangani Sinta, Hesty dan Anissa berusaha dengan kemampuan seadanya yang mereka miliki. Namun, beberapa kawannya yang seorang psikolog, sudah bersedia membantu. Tinggal menunggu kecocokan jadwal untuk datang ke sekolah.

Meskipun tampak banyak memiliki kekurangan, tetapi Hesty dan Anissa melihat banyak potensi anak muridnya. “Secara individu bagus. Ada yang pandai dalam matematika, tapi ada juga yang pandai dalam semua hal,” tutur Anissa. “Mereka hanya perlu diajak untuk melihat dunia di luar kampungnya,” sambung Hesty dalam kesempatan yang lain.

Karena keterbatasan ruangan, akhirnya beberapa siswa harus rela berbagi dengan siswa dari kelas lainnya. (Foto: Yudha PS)

Karena keterbatasan ruangan, akhirnya beberapa siswa harus rela berbagi dengan siswa dari kelas lainnya. (Foto: Yudha PS)

Di sekolah ini jumlah kelasnya tidak genap 6, hanya ada kelas 1 hingga kelas 5. Pasalnya, ketika tidak memiliki manajemen dan guru, membuat SD IT Rabbani terombang-ambing tidak menentu. Sehingga praktis tidak menerima murid baru ketika itu.

Masing-masing kelas diisi tidak lebih dari 7 orang siswa. Karena hanya ada 3 ruang kelas, tidak dapat dihindarkan satu ruang kelas dihuni oleh 2 kelas. Saya sendiri sempat mengunjungi ruang yang dihuni kelas 4 dan 5. Ketika saya masuk, kelas 4 sedang belajar agama dan kelas 5 sedang belajar matematika.

Sekat pemisahnya hanya sebuah rak buku yang kedua sisinya terbuka. Sehingga siswa kelas 4 dan 5 bisa saling berpandangan. Selain kelas 4 dan 5, kelas 1 dan 2 pun berada dalam satu ruangan yang sama. Hanya kelas 3 yang memiliki ruang kelas sendiri.

Dengan kondisi yang tidak biasa ini, seringkali terjadi peristiwa lucu. Salah satunya ketika seorang guru sedang mengajar di kelas 4 dan mengajukan pertanyaan. Lama tak terdengar jawabnya, seringkali siswa kelas 5 yang menjawab pertanyaannya. Begitu pun sebaliknya. Namun, kondisi ini tidak pernah menjadi beban bagi mereka. Kondisi ini adalah warna dari perjuangan untuk mengenyam pendidikan agar mampu menjadi manusia seutuhnya.

Jam pelajaran di SD IT Rabbani selesai hingga jam 11 siang setiap harinya. Meskipun begitu, anak-anak masih ingin tetap berada di sekolah. “Bu, saya mah mau nginep aja di sekolah,” seru salah seorang murid dengan semangatnya.

Seringkali sang guru harus benar-benar mengusir pulang murid-muridnya agar mereka mau benar-benar pulang. Biasanya, saat melangkah pulang, sang murid akan melambai-lambai sembari berteriak, “Sampai ketemu lagi besok yah, bu!”

Tak kalah semangatnya, guru pun tersenyum dan balas berteriak, “Hati-hati di jalan. Sampai bertemu besok!” Meskipun mereka seringkali memaksa agar murid-muridnya segera pulang ke rumah, seringkali juga mereka bergumam kepada guru lainnya, “Sedih kalau mereka pulang. Sepi rasanya sekolah ini.”

Iklan

2 thoughts on “SD IT Rabbani, Sekolah Dhuafa Berbasiskan Mahasiswa dan Masyarakat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s