Ketika Pagi Itu Datang…


Foto: designdazzling.com

Foto: designdazzling.com

“Menikah itu seperti pagi, tidak bisa dipercepat atau pun diperlambat.” Begitulah sebuah kata-kata bijak yang meluncur dari ibu seorang teman dulu. Dan kini, bagi saya, pagi itu telah tiba. Pada 1 Januari 2012 lalu, saya resmi beristrikan Fathonah Fitrianti yang akrab dengan panggilan Ine. Hal yang menakjubkan bagi saya, pagi itu datang tiba-tiba tanpa ada yang menduga, termasuk saya dan istri.

Saya dan istri sendiri sudah saling mengenal kira-kira sejak setahun sebelumnya. Meskipun sering melihatnya beredar di Salman ITB, tetapi saya mengenalnya justru di Facebook. Baru beberapa bulan setelahnya, kami bertegur sapa di ranah nyata. Itu pun tak lebih dari 30 detik. Hanya bertegur sapa sambil berkata, “Hai!” atau bertanya, “Apa kabar?”

Mengenai hati, namanya manusia yang berlainan jenis kelamin, tentunya memiliki perasaan suka. Namun, bagi saya ketika itu, hanya sebatas suka dan tidak berani lebih. Karena saya menilai bahwa istri saya tidak akan bisa saya raih untuk ke jenjang yang lebih serius. Jujur, saya tidak terlalu percaya diri.

Bagaimana pun, manusia hanya bisa berencana, Tuhan pula lah yang akan menentukan.

Pada awal Desember 2011, istri menghubungi saya untuk sebuah pekerjaan mengedit buku. Kakaknya yang seorang dokter adalah seorang penulis buku tentang Parenting. Ketika itu, sang kakak ipar membutuhkan editor untuk buku terbarunya yang akan segera terbit Januari 2012 ini.

Dulu saya pernah menjadi editor untuk buku teman saya. Karena berbagai kemalasan saya, akhirnya buku tersebut baru selesai setelah setahun. Hal inilah yang sebenarnya membuat saya menimbang-nimbang untuk menerima tawaran dari istri saya. Khawatirnya, kemalasan saya akan berulang yang menjadikan buku itu tidak pernah saya kerjakan.

Meskipun sempat bimbang, akhirnya saya terima juga tawaran sebagai editor buku berjudul “Time Out” yang ditulis kakak ipar saya. Alasannya, saya ingin mencoba untuk melawan kemalasan saya sekaligus menambah jam terbang dalam hal penyuntingan buku. Kami pun sepakat untuk bertemu pada 7 Desember 2011 di rumah kakak ipar saya di bilangan Cikadut. Agendanya pun jelas profesional: membahas pekerjaan penyuntingan buku “Time Out”.

Pada hari itu juga, saya pertama kalinya mengobrol dengan istri lebih dari 30 detik. Kami mengobrol cukup lama sembari menunggu kakak ipar saya yang sedang rehat sebentar usai pulang bekerja. Obrolannya pun seputar keseharian kami. Dan saya pun menilai tidak ada yang istimewa dari pertemua itu selain akhirnya bisa mengobrol lama dengan istri saya. Juga berkenalan dengan kakak sulungnya.

Usai berbincang-bincang bertiga dengan istri dan kakak ipar saya, kemudian shalat maghrib dan makan malam, saya pun pamit pulang. Dan tanpa saya ketahui, ternyata kakak ipar saya ini juga berprofesi sebagai comblang. Tanpa saya ketahui juga, dia  memperhatikan saya sepanjang pertemuan pembahasan kerjaan penyuntingan buku terbarunya tersebut.

Singkat cerita, kakak ipar saya ini menghubungi kembali pada malam 10 Desember 2011, 4 hari setelah kami pertama kali bertemu. Isi obrolannya pun seputar aktivitas saya. Obrolan ini bersambung hingga keesokan harinya sekitar jam 5-an. Isinya pun semakin mengerucut, yaitu tentang status saya yang belum menikah.

Akhirnya, tanpa saya duga, kakak ipar menembak saya. “Kalau nih misalnya calonnya Neng Ine, Yudha kira-kira cocok nggak?” tanyanya melalui messenger. “Feeling saya, sih. Kayaknya Ine cocok sama profilnya Yudha,” lanjutnya.

Mendapatkan terkaman seperti itu, saya paniknya bukan main. Dan dengan asyiknya kakak ipar saya hanya menanggapi dengan berkomentar, “Santai saja, lah. Cuma nikah.” Bingung harus jawab apa, saya pun mengajukan usulan untuk kakak ipar dan istri saya melihat biodata saya terlebih dahulu. Alasannya, agar mereka bisa melihat saya lebih menyeluruh. Dan kakak ipar pun setuju.

***

Gambar untuk keperluan undangan di Facebook

Gambar untuk keperluan undangan di Facebook

Malamnya, kami bertiga plus adik saya berkumpul di rumah kakak ipar saya di bilangan Cikadut. Niat awalnya pun hanya mengajari istri saya perangkat lunak grafis sekaligus mengantarkan adik saya untuk periksa di kakak ipar saya. Namun, yang terjadi lebih dari itu.

Yah, kakak ipar saya melanjutkan perbincangan mengenai tawaran menikah yang dia sampaikan paginya. Muka saya langsung merah padam dan suhu ruangan saya rasakan mendadak naik. Istri saya pun mengalami hal serupa.

Arah perbincangan pun mulai mengerucut pada tanggal pernikahan. Saya sendiri mengusulkan Maret 2012. Alasannya, saya benar tidak punya apa-apa ketika itu. Uang tabungan yang pada 4 bulan sebelumnya cukup untuk membayar kuliah semester depan, menjelang akhir taun hampir mendekati nol Rupiah. Jangankan berencana, bermimpi untuk menikah dalam waktu dekat pun tidak.

Namun, kakak ipar saya menawarkan tanggal yang lebih ekstrim, yaitu 1 Januari 2012. Hanya berselang 3 minggu dari hari tersebut. Ada beberapa alasan kuat yang dia paparkan mengenai tanggal ini. Setelah mempertimbangkannya, saya pun menyetujuinya. Sedangkan untuk biaya pernikahan, kami Bismillah saja.

Hari-hari berikutnya, proses demi proses pun saya dan istri lalui. Mulai dari beraudiensi ke kakak kedua istri, bertemu mertua, kunjungan keluarga istri ke keluarga orang tua saya, hingga lamaran tiba pada 22 Desember 2011. Alhamdulillah semua prosesnya lancar.

***

Foto: technorati.com

Foto: technorati.com

Agenda selanjutnya adalah pernikahan. Mengenai biaya pernikahan, Alhamdulillah sudah tersedia menginjak acara lamaran. Datangnya pun tak terduga. Hal yang membuat lega, semua dana tersedia tanpa harus meminjam sedikit pun.

Mengenai konsep pernikahan sendiri, saya dan istri sepakat hanya akad saja, tanpa resepsi. Untuk undangan, kami mengandalkan Facebook dan Layanan Pesan Singkat (SMS). Hal ini juga sesuai dengan yang saya cita-citakan pada 2005 silam. Waktu itu, saya hanya ingin membuktikan bahwa pernikahan itu tidak harus mahal, tetapi bisa dengan sederhana dan berbiaya murah.

Untuk konsumsi, bagi undangan kami sediakan 200 kotak snack. Sedangkan untuk keluarga, kami suguhi makan siang. Tempatnya pun tidak jauh-jauh dari lokasi akad nikah, yaitu kantin Salman ITB.

Untuk rasa makanan, orang-orang yang kami tanyai menilai enak dan cukup puas. Menu yang kami suguhkan adalah ayam kecap, sayur capcay jamur, kerupuk udang, buah, lalap dan sambal. Satu porsinya kantin memberi harga 10 ribu Rupiah.

Jumlah keluarga yang mencapai 100 orang pun, ternyata tertampung di ruangan kantin yang hanya seluas lapangan voli tersebut. Memang, jauh hari sebelum hari-H, kami pernah menghitung jumlah kursi yang tersedia di kantin Salman ITB. Jumlahnya mencapai 120 kursi. Sehingga kami cukup tenang menjadikan kantin Salman ITB sebagai tempat makan keluarga yang hadir.

***

Ada banyak pelajaran yang saya syukuri dari jenjang kehidupan bernama pernikahan ini. Pertama dan paling penting, bahwa manusia boleh berencana, tetapi Tuhan jualah yang menentukan. Dalam hal ini, kuncinya adalah bersabar dan berserah diri pada-Nya.

Sejak 2008, saya gencar mencoba peruntungan untuk menikah. Pertama dengan seorang gadis asal Sumatera. Namun, apa daya, kandas di restu orang tua sang gadis. Selanjutnya saya menargetkan gadis-gadis Jawa yang relatif lebih dekat. Namun, lagi-lagi ganjalan restu para orang tua gadis membuatnya terasa mustahil.

Hingga akhirnya saya sudah cukup putus asa dan kehilangan kesabaran. Bahkan, saya pernah bilang dalam hati, “Ya Allah, terserah, deh. Saya mau nikah atau nggak. Saya benar-benar sudah pasrah.” Ternyata Allah punya kehendak lain. Dan pada waktunya, semua itu akan terwujud dengan cara yang sempurna.

Foto: Blogspot.com

Foto: Blogspot.com

Bukan juga berarti manusia berserah diri tanpa berbuat. Hanya saja, ketika sudah berusaha, berserah dirilah menunggu hasilnya dan bersabarlah menerima apa yang terpapar kemudian.

Pun jangan memaksakan bila hasilnya tidak sesuai dengan keinginan kita. Percayalah bahwa Allah memiliki pasangan yang lebih baik untuk kita.

Dalam hal ini, berkehidupanlah seperti air yang mengalir mengikut lekuk dataran. Ketika sebuah aliran air tidak bisa melalui sebuah rintangan, dia akan mencari jalan lain menuju dataran yang lebih rendah. Bagi saya, hal ini menimbulkan ketenteraman dalam diri.

Pelajaran kedua, pernikahan itu bukan masalah cepat atau lambat. Pernikahan juga bukan masalah pilihan yang tepat atau salah. Bukan juga tentang sebuah kesempurnaan atau kecacatan. Penikahan itu seperti menunggu pagi. Dia akan terwujud dalam kadar yang tepat. Tepat di sini melingkupi banyak aspek, mulai dari aspek waktu, tempat, pekerjaan, pasangan, hingga umur dan tingkat kedewasaan.

Meskipun saya meyakini filosofi ini, tapi memanas-manasi orang untuk cepat menikah, tetap akan saya lakukan. Rasanya asyik. hehe😀

Ketiga, percayalah, setiap keinginan pasti akan terwujud. Hal inilah yang terjadi dalam pernikahan kami. Setiap keinginan yang saya dan istri sampaikan jauh-jauh hari sebelumnya, lambat laun terwujud. Misalnya saja tentang konsep pernikahan, sifat, dan karakteristik pasangan. Semua yang kami inginkan di masa lalu, terwujud semuanya kini. Tentunya, dengan cara yang indah dan menakjubkan.

Keempat, selalu ada jalan untuk sebuah kebaikan yang telah menjadi hak kita. Jangan takut untuk menjalaninya, meskipun tampak banyak rintangan terpapar di hadapan kita. Bagaimana pun, Allah akan selalu memberi bimbingan dan pertolongan di setiap detak-nafas kita.

Kelima dan yang paling penting, jangan lama-lama menentukan waktu antara keputusan menikah dengan hari-H. Karena proses menikah menghabiskan banyak sumber tenaga, baik fisik maupun psikis. Kedua calon pengantin umumnya dalam keadaan stress (tertekan). Saya saja sampai jatuh sakit 5 hari sebelum pernikahan. Teman saya malah sedikit gendut lantaran stress-nya disalurkan dengan makan.

Menurut saya, waktu 2 – 4 minggu cukup untuk mempersiapkan pernikahan. Persiapan ini meliputi perkenalan kedua calon mempelai dengan orang tua dan keluarga, perkenalan antar keluarga, lamaran, administrasi ke KUA, persiapan pernikahan, dan hari H pernikahan.

***

Dalam kesempatan ini, saya dan istri juga ingin menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada:

  1. Keluarga yang telah membantu proses terwujudnya pernikahan kami. Teh Zulaeha, mas Aji, teh Noor, kang Cepi, Adi, Ami, para orang tua kami, serta keluarga besar kami. Tanpa dukungan mereka, kami tidak ada apa-apanya.
  2. Mas Agung Wiyono dan ibu Yani yang telah banyak membantu proses pernikahan kami, mulai dari lamaran hingga hari-H pernikahan.
  3. Kang Budhiana yang telah banyak membantu saya pribadi hingga saat ini. Terima kasih banyak juga atas nasihat-nasihat menjelang pernikahannya, kang.
  4. Panitia pernikahan yang telah secara sukarela menyumbangkan waktu, pemikiran, dan tenaganya demi terwujudnya pernikahan kami. Maya, Fery, Irfan, Nono, Eko, Aul, Okky, Iis, Adul, Fenny, Ardi, Silvi, Widi, Siti, Mila, Erma, Anita, Rena, Tristia, Yuli, Anis, Mamaw, dan Kamil (nama diurutkan acak, tidak alphabetis atau pun urutan kontribusi).
  5. Mas Hermawan (penceramah), Pak Moh. Arief (MC), kang Awang (qari), kang Hendy (operator sound system) yang telah bersedia membantu mensukseskan acara pernikahan kami.
  6. Prof. Thomas Djamaluddin, Dr. Syarif Hidayat, pak Rana Akbari, kang Islaminur Pempasa, kang Sufyan, bu Rena Venus, dan pak Zaki. Terima kasih banyak sudah menyempatkan waktu untuk hadir.
  7. Rekan-rekan Batagor.net (ci Shasya, mba Enggar, mas Koen), BdgFlickr (Fenny, Nina, Rifi, mas Amal), Salman Media, dan Aksara. Terima kasih banyak untuk kalian. Maaf tidak disebutkan secara detail. Nanti saya lihat dulu daftar undangan😀
  8. Serta rekan-rekan kami semuanya yang tidak bisa kami sebutkan satu per satu, baik yang berkesempatan hadir maupun berhalangan. Terima kasih banyak atas doa-doanya untuk kami.

Kami hanya mampu mengucapkan terima kasih banyak dan menghaturkan doa semoga Tuhan membalas kebaikan kalian semua. Amin…

14 thoughts on “Ketika Pagi Itu Datang…

  1. Mustika Suci Jungjunan berkata:

    Assalamu’alaikum. salam kenal Kang yudha. Wah, terima kasih telah berbagi. saya sedang menanti pagi juga nih. Subhanallah, konsep pernikahannya sesuai banget dengan yg saya impikan, InsyaAllah pagi saya datang dalam waktu dekat. mohon doanya. makasi

    • Monika Oktora berkata:

      salam kenal mas Yudha, barakallah atas pernikahannya,, eh baca2, ada nama ibu dan bapak mertua saya di ucapan terima kasihnya mas Yudha, hahaa..🙂 Saya yakin pasti Bapak salah satunya yg mendukung besar niat mas Yudha untuk menikah ^^

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s