Perlunya Wawasan Kejurnalistikan untuk Blogger


Anggara Suwahju (Foto: flickr.com/photos/antonemus)

Mas Anggara Ketika Memaparkan materi "Ancaman Kriminal pada Blogger" di ASEAN Blogger Conference lalu. (Foto: flickr.com/photos/antonemus)

Saat ASEAN Blogger Conference lalu, salah satu materi yang dibahas adalah permasalahan hukum yang kerap membayangi Blogger untuk berkarya. Hal ini disampaikan oleh mas Anggara, seorang Blogger yang merupakan lulusan dari Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (UNPAD) Bandung.

Beberapa nama yang disebut oleh mas Anggara adalah mas Iwan Pilliang dan Prita Mulyasari. Keduanya memang sempat terganjal Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) pasal 27 tentang pencemaran nama baik.

Saya sendiri dalam sesi tanya-jawab memberikan usulan agar Blogger memiliki wawasan kejurnalistikan. Tujuannya lebih untuk pencegahan terhadap kemungkinan terjerat “Pasal Karet” yang masih berlaku di Indonesia. Namun, jawabannya di luar dugaan. Sang pembawa materi justru menganggap wawasan kejurnalistikan, dalam hal ini beliau memandangnya sebagai etika jurnalistik, malah akan mengukung kebebasan Blogger dalam berekspresi.

Lebih lanjut, beliau mencontohkan bila seorang Blogger akan menulis tentang daerah timur Indonesia, tentunya sang Blogger harus memverifikasi jauh hingga ke daerah timur. Hal ini, ungkapnya, justru akan memberatkan si Blogger sendiri.

Ketika mendapatkan tanggapan seperti ini, saya bingung juga. Pandangan beliau terhadap wawasan jurnalistik dimaknai sangat sempit. Untuk berdebat pun, rasanya bukan waktu yang tepat lantaran antara saya dan beliau memiliki perbedaan pandangan yang terlalu jauh. Dan saya biarkan hal ini berlalu.

Singkat cerita, saya pulang pada Kamis, 17 Nopember 2011. Bersama rombongan Blogger dari Jakarta dan Jawa Barat, saya menaiki sebuah pesawat komersial lokal menuju bandara Soekarno-Hatta.

Foto: cdn.verboselogging.com

Foto: cdn.verboselogging.com

Di tengah perjalanan, seorang Blogger di belakang saya mengeluarkan kamera dan memotret kegiatan pramugari di pesawat. Dua kali jepretan menggunakan lampu flash. Kontan, hal ini membuat pramugrari menegurnya, memberi peringatan, dan meminta untuk menghapus hasil jepretannya tersebut. Di tegur pun bukannya menyadari kesalahannya, sang Blogger pun malah menggerutu, seperti apa yang dilakukannya adalah benar.

Abaikan pramugarinya dan fokus terhadap Bloggernya. Saya melihat kejadian ini sebagai dampak dari kurangnya wawasan kejurnalistikan sang Blogger, dalam hal ini etika jurnalistik. Andai saja sang Blogger memiliki wawasan kejurnalistikan, dia akan memenuhi hal-hal yang harus dipatuhi sebelum berkarya dengan kameranya.

Bila etika dipandang Blogger sebagai kungkungan terhadap aktivitas berkarya, saya ingin menganalogikannya dengan pembunuh.

Seringkali, beberapa pembunuhan didasari alasan bahwa sang pelaku benar-benar puas melakukan kegiatan tersebut. Sang pelaku melihat bahwa membunuh adalah sebuah ajang dia berkreasi. Bila tidak ada etika atau hukum, tentunya kegiatan ini akan mengancam orang-orang di sekitarnya.

Hal yang sama juga berlaku dengan Blogger. Apakah semua kebebasan berekspresi dan berkarya harus dimaknai dengan melanggar privasi atau kenyamanan orang lain dalam beraktivitas? Bahkan sebenarnya etika kejurnalistikan yang dipadu dengan nilai empati, bisa menghasilkan karya yang baik. Kebebasan dalam berkarya pun bukan hal yang dihambat bila dibenturkan dengan nilai-nilai etika.

Ada satu contoh menarik datang dari Sang Pakar ketika meliput ke Irak pada saat perang Irak berkecamuk tahun 2003 lalu. Saat itu, Sang Pakar mendampingi seorang fotografer senior dari BBC yang saya lupa namanya. Mereka dan banyak jurnalis lainnya sedang meliput acara pemakaman seorang wartawan lokal yang tewas dalam perang Irak.

Ketika rombongan penghantar jenazah mengusung jasad sang wartawan yang tewas ke pemakaman, fotografer lainnya sibuk memotret. Namun, hal ini tidak dilakukan oleh sang fotografer senior. Dia terus mengamati, mengamati, dan terus mengamati.

Foto: ootp.wordpress.com

Foto: ootp.wordpress.com

Di pemakaman pun sang fotografer masih tetap tenang sambil mengamati suasana. Sedangkan fotografer lainnya, semakin sibuk saja mengabadikan momen ketika jenazah diturunkan ke liang lahat dan perlahan-lahan ditimbun oleh tanah.

Usai acara pemakaman, barulah sang fotografer mendekati istri almarhum yang tengah menangis di nisan sang wartawan yang terbunuh tersebut. Sang fotografer mengucapkan bela sungkawa dan berusaha menunjukan empatinya. Dia juga meminta izin mengambil beberapa foto untuk dimuat di medianya. Hasilnya, menurut Sang Pakar, sangat luar biasa. Fotonya penuh dengan makna.

Meskipun tidak lengkap, mudah-mudahan cerita tersebut bisa menunjukan bahwa wawasan kejurnalistikan bukan membuat Blogger tidak mampu berekspresi secara bebas dan maksimal. Justru sebaliknya, wawasan kejurnalistikan membantu seorang Blogger untuk menghasilkan karya yang lebih nyata, lebih hidup, dan berdampak secara sosial. Tidak percaya? Silahkan coba sendiri.

7 thoughts on “Perlunya Wawasan Kejurnalistikan untuk Blogger

  1. 37degree berkata:

    hmm.. klo objeknya tak bergerak pun harus minta ijinkah?
    misal kita ngejepret rumah orang? atau mobil orang? atau sekedar bunga yg ada d pekarangan rumah orang lain, itu gimana dha?😀

  2. Anggara berkata:

    wawasan jurnalistik itu kira2 apa ya lalu apakah ada hubungannya dengan kode etik jurnalistik? IMHO, dalam pendapat saya kemarin dan di berbagai tempat saya memang selalu menekankan soal blogger tidak terlampau harus mengikuti kode etik jurnalistik atau 9 elemen jurnalisme karena blogger bukan jurnalis. bahwa penting untuk memahami kode etik jurnalistik, imho, perlu tapi mempraktekkannya dalam menulis tentu hal yang lain.
    Saya kasih contoh gampang saja mas, blogger pada umumnya melakukan 3 hal
    1. Melaporkan fakta yang ditemui (dan jarang melakukan verifikasi ulang)
    2. melakukan opini atas fakta yang ditemui
    3. melakukan opini atas opini
    dari sini sebenarnya saya berpendapat blogger tidak selalu melakukan apa yang dikenal dengan jurnalisme bahkan yang paling dasar sekalipun.

    • Yudha P Sunandar berkata:

      wawasan jurnalistik adalah segala hal mengenai kejurnalistikan, termasuk etika jurnalistik. dalam hal ini, saya merujuk pendapat Bill Kovach, bahwa setiap generasi memiliki bentuk jurnalismenya masing2. dari pernyataan ini saya menarik kesimpulan bahwa blogger adalah bentuk jurnalisme dari generasi digital native.

      kaitanny dengan contoh yang mas sampaikan, saya paparkan berikut:
      1. melaporkan fakta yang ditemui. ini bentuk dasar dari kegiatan berjurnalisme, memaparkan fakta.
      2. melakukan opini atas fakta yang ditemui. ini juga bentuk jurnalisme. seorang blogger memberikan penilaian terhadap sebuah fakta. dan pandangan (view) adalah salah satu produk jurnalisme.
      3. melakukan opini atas opini. ini juga merupakan produk jurnalisme.

      sedangkan masalah verifikasi, tentunya secara dasar seorang blogger juga melakukan verifikasi. misalnya, ada pohon tumbang. kemudian sang blogger bertanya kepada temanny tentang kebenaran pohon tumbang. ini juga salah satu bentuk verifikasi. atau dengan dia langsung melihat k lapangan, atau sekedar hanya membaca d media massa tentang kebenaran sebuah berita, ini juga masuk verifikasi.

      dan yang saya tekankan di sini adalah memahami wawasan jurnalisme, bukan menguasai keterampilan jurnalistik. sehingga sang blogger boleh memilih untuk menggunakannya atau tidak. misalny, dia mau menyampaikan opini terkait opini seseorang. bila dia tahu wawasan jurnalisme, tentunya dia bisa menghindari kata2 mana yang bisa menjerumuskanny k dalam ranah hukum. bila memilih untuk menggunakanny, dia tau apa yang setidakny terjadi pada dirinya.

  3. Anggara berkata:

    pandangan saya sempit ya mas? saya cuma tidak ingin mencampur adukkan blog dengan pers, blogger dengan jurnalis itu saja. tapi kalau ada blogger yang kebetulan jurnalis silahkan gunakan kode etik jurnalistik yang berlaku🙂

    • Yudha P Sunandar berkata:

      begitulah penilaian saya dan beberapa teman yang kebetulan menghadiri ASEAN Blogger Conference di Bali kemaren. ^_^

      anw, scara filosofis, blogger sendiri melakukan kegiatan berjunalisme. mereka mengumpulkan, mengolah, kemudian mempublikasikan fakta, baik sbagai entitas tunggal atau untuk memperkuat opininya. memang berbeda dengan lembaga pers dan jurnalis. tapi, berangkat dari filosofi itulah saya mengusulkan bahwa blogger sebaiknya memahami wawasan jurnalisme, bukan menguasai praktik jurnalistik. tujuannya, salah satunya mengantisipasi pasal2 karet di Indonesia.

      terima kasih sudah berkunjung k blog saya, mas🙂

  4. Rina Amalia berkata:

    “Di tengah perjalanan, seorang Blogger di belakang saya mengeluarkan kamera dan memotret kegiatan pramugari di pesawat. Dua kali jepretan menggunakan lampu flash. Kontan, hal ini membuat pramugrari menegurnya, memberi peringatan, dan meminta untuk menghapus hasil jepretannya tersebut. Di tegur pun bukannya menyadari kesalahannya, sang Blogger pun malah menggerutu, seperti apa yang dilakukannya adalah benar.”

    Jadi, apa yang salah disini? maaf, kurang menangkap poinnya🙂

    • Yudha P Sunandar berkata:

      untuk memotret pada kondisi tertentu (misalny: ruangan yg punya privasi) harus izin pada yang berwenang.

      jangankan d kabin pesawat. ketika d pasar yang jelas2 tempat umum, kalo mau motret, harus izin dulu sama yang punya wajah.

      begitulah kira2🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s