Sepeda Lipat, Oh Sepeda Lipat…


Sepeda lipat pinjaman teman yang saya potret di sebuah bumi perkemahan di bilangan Lembang, Bandung. (Foto: Yudha PS)

Sepeda lipat pinjaman teman yang saya potret di sebuah bumi perkemahan di bilangan Lembang, Bandung. (Foto: Yudha PS)

Kemarin saya benar-benar sedang merasa bahagia. Pasalnya saya telah melewati perjalanan Lembang menuju Salman ITB menggunakan sepeda dengan cara yang sedikit “aneh”. Bila tidak setuju dengan kata tersebut, saya mengusulkan padanan kata “tidak biasa”. Bila tidak setuju juga, silahkan cari kata sendiri-sendiri saja.

Nah, ceritanya sendiri berawal ketika saya dan kawan-kawan kampus mendapatkan tugas kuliah membuat video. Tempat pengambilan gambar harus di sebuah bumi perkemahan di daerah Lembang. Kami menyepakati bahwa cerita yang diambil memiliki properti sepeda di dalamnya. Sehingga, mau tidak mau, haruslah membawa sepeda.

Akhirnya, sayalah yang bertugas membawa sepeda lipat milik seorang anggota tim. Saya membawanya menggunakan motor bersama rekan satu tim lainnya. Tentu saja, karena sepeda lipat dengan ukurannya yang cukup mungil, tidak terlalu menyulitkan saya dan teman membopongnya dari bilangan Cihampelas ke bilangan Lembang yang jaraknya mencapai 20 Kilometer.

Singkat cerita, shooting selesai jam 13 WIB dan kami bersiap-siap pulang ke Bandung. Namun, tidak disangka, kami tersangkut masalah dengan pengelola bumi perkemahan. Sehingga kami pun tertahan hingga 1 jam lamanya.

Meskipun begitu, tampaknya hanya saya saja yang memungkinkan untuk pergi setelah 1 jam itu berlalu. Alasannya, karena saya memang harus cepat-cepat berada di Salman ITB lantaran ada kunjungan dari teman-teman anggota komunitas Anak Tangga jurusan Jurnalistik Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati (SGD) Bandung.

Teman-teman yang lain memilih untuk bertahan di lokasi bumi perkemahan. Karena tidak ada tebengan motor, akhirnya saya meminjam sepeda lipat milik teman saya. Alasannya supaya saya bisa sampai di Salman ITB lebih cepat dibandingkan naik angkutan umum. Hal ini mengingat Bandung yang kerap dilanda kemacetan ketika akhir pekan.

Begitu dapat lampu hijau, saya langsung mengayuh sepeda menuju jalan Tangkuban Parahu. Beruntung jalannya menurun. Sehingga saya tidak perlu repot-repot mengayuh sepeda agar bisa melaju kencang.

Meskipun begitu, ternyata saya tidak bisa melaju lebih dari 20 Kilometer per jam. Alasannya, sepeda terlalu kecil dan rapuh untuk bisa melewati batas kecepatan tersebut. Karena sepeda lipat, saya khawatir bila dipacu lebih kencang, malah membuat sepeda ini rontok. Belum lagi dengan kondisi jalan yang tidak rata. Membuat saya harus ekstra hati-hati. Karena bila terlalu cepat, bisa membahayakan diri saya pribadi.

Karena saya harus tiba di Salman secepatnya dan saya juga melihat 2 tanjakan berat yang akan saya hadapi di depan, akhirnya saya memutuskan untuk menghentikan sepeda dan melipatnya kemudian menaikkannya ke dalam angkot.

Bravo, ada mikro-bus menuju Bandung yang melintas sesaat setelah saya melipat sepeda. Saya langsung menghentikan mikro-bus tersebut dan menaikinya.

Sepeda lipat tidak benar-benar simpel ternyata. Saya tidak bisa memasukan seluruh badan sepeda ke dalam mikro-bus karena masih terlalu besar. Akhirnya, saya sangkutkan di pintu mikro-bus. Sedangkan saya, bergelantungan di pintu sepanjang Lembang hingga Ledeng.

Jalur menanjak dan jalan menurun yang tidak rata akhirnya bisa saya lewati dengan gemilang. Saya pun bisa lebih cepat hingga 5 kali lipatnya bila dibandingkan dengan menggunakan sepeda.

Satu Kilometer menjelang Ledeng, antrian kendaraan mulai terlihat. Mobil pun harus berjalan dengan kecepatan kurang dari 5 Kilometer per jam. Segera saya turun dari mikro-bus, menggelar sepeda lipat, dan menaikinya melewati sela-sela kemacetan kota Bandung.

Ini juga yang membuat saya senang. Ketika orang lain merasa jenuh menunggu di dalam kendaraannya karena kemacetan yang sangat menjemukan, saya bisa lebih cepat dari mereka hingga 5 kali lebih cepat. Bolehlah disebut bersenang-senang di tengah kemacetan orang lain. Belum lagi karena jalanan Ledeng hingga Salman ITB yang menurun, membuat saya tidak perlu capek-capek mengayuh sepeda.

Ternyata, kemacetan tidak hanya terjadi di Ledeng saja. Kemacetan juga terjadi di jalan Setiabudhi, Bandung. Penyebabnya, tentu saja Factory Outlet yang berjajar di jalan Setiabudhi. Kemacetan yang sama juga saya temui di jalan Cihampelas Bandung dengan sumber kemacetan adalah sebuah mall yang terletak di jalan tersebut.

Untuk kemacetan di jalan Setiabudhi, saya melewatinya dengan menaiki trotoar dan mengambil sedikit badan jalan antara mobil dan trotoar. Sedangkan ketika menghadapi kemacetan Cihampelas, saya memilih untuk melewati gang yang sejajar dengan jalan Cihampelas.

Sampai di sini runutan perjalanan masih nyaman dan asyik. Namun semua berubah ketika saya memutuskan untuk berbelok ke jalan yang menurun tajam di sebelah tempat bekas pemandian Cihampelas guna mempercepat perjalanan.

Jalan menurun yang cukup tajam ini hanya berupa tangga yang tersusun dengan bebatuan besar dan dirangkai oleh beton. Hasilnya, saya harus mengangkat sepeda setinggi kepala dan pelan-pelan menuruni satu per satu anak tangga sepanjang hampir 50 meter jauhnya. Hingga saya tiba di jembatan yang menghubungkan antara daratan yang terpisah oleh sungai Cikapundung.

Dari sini, ke Masjid Salman ITB sebenarnya hanya berjarak kurang dari 1 Kilometer. Namun, karena jalanan menanjak, membuat saya harus mengeluarkan tenaga ekstra guna mendorong dan menaiki sepeda.

Belum lagi di depan Kebun Binatang Bandung. Saya harus menghadapi tangga menaik yang cukup tinggi. Sehingga lagi-lagi harus mengangkat sepeda untuk melewati tangga yang menanjak. Kali ini tidak terlalu tinggi mengangkat sepeda, karena energi saya benar-benar hampir habis.

Kurang dari 10 menit, saya tiba di Salman ITB dengan tubuh penuh keringat. Kacaunya, saya langsung menemui tamu saya dari UIN SGD. Dengan keadaan seperti itu, saya langsung memberikan presentasi mengenai kajian-kajian di bidang jurnalisme warga.

Namun, lupakanlah tentang perjalanan dari Cihampelas ke Kebun Binatang yang penuh peluh itu. Karena saya hanya ingin mengingat perjalanan dari Lembang hingga tiba di Cihampelas.

Hal yang membuat senang dalam perjalanan tersebut, saya bisa mengaplikasikan ide saya kalau punya sepeda lipat: naik sepeda bila jalanan menurun, dan lipat sepeda kemudian naikan ke angkot bila jalanan menanjak. Yah, pesepeda abangan sekali kesannya. Namun, dengan kontur Bandung yang naik-turun seperti ini, bisa menghemat biaya transportasi hingga 50 persen.

Hal lainnya, saya benar-benar menikmati ketika bersenang-senang di atas penderitaan orang lain yang harus rela menunggu kemacetan di dalam mobilnya. Rasanya, pesepeda benar-benar meraja ketika itu. Jarak bisa ditempuh dengan lebih cepat dan tanpa polusi.

Namun, semua itu akan berakhir hari ini. Karena sebentar lagi saya harus mengembalikan sepeda lipat tersebut ke teman saya. Jadi, kalau ada yang berminat memberikan kado ulang tahun ke saya, berilah saja sepeda lipat yang praktis dan mudah dibawa ke mana-mana. Kalau bisa, sepeda lipatnya bisa disakuin di kantong baju. *ngarep*

6 thoughts on “Sepeda Lipat, Oh Sepeda Lipat…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s