Mari Apresiasi Supir Angkot yang Tidak Mengetem


Foto: pilarwawasan.blogspot.com

Foto: pilarwawasan.blogspot.com

Salah satu hal yang paling membuat saya bete ketika menggunakan sarana transportasi Angkutan Kota (Angkot) adalah kebiasaan mengetemnya. Soalnya, saya harus menunggu bukan hanya 1 – 2 menit saja, tetapi bisa sampai 15 menit, bahkan lebih.

Selain membuat waktu saya terbuang, seringkali angkot yang sedang mengetem ini menyebabkan berbagai kemacetan di beberapa ruas jalan kota Bandung. Beberapa di antaranya yang kerap saya temui adalah perempatan Merdeka – RE Martadinata dan depan RS Boromeus.

Di satu sisi, saya benar-benar kesal menaiki angkot yang kerap mengetem karena menghabiskan waktu di perjalanan saya. Namun, di sisi lain, saya juga merasa kasihan kepada mereka. Pasalnya, dengan semakin mudah masyarakat mencicil sepeda motor, pengguna jasa transportasi Angkot semakin lama semakin sedikit. Hal ini berimbas pada semakin kecilnya pendapatan supir Angkot.

Seiring dengan hal tersebut, tuntutan penghasilan para supir Angkot kian hari pun kian besar. Tidak saja untuk operasional kendaraan dan setoran kepada majikannya, tetapi juga berkaitan dengan kebutuhan dapur dan keluarganya yang semakin hari semakin besar pula.

Tak heran bila segala cara pun dikerahkan oleh supir Angkot untuk memperbanyak pendapatannya, seperti: mengetem agar angkotnya penuh, mengebut dan ugal-ugalan berlomba dengan supir angkot lainnya guna memperebutkan penumpang, hingga menekan biaya suku cadang Angkot dan kadang membuatnya menjadi tidak nyaman untuk ditumpangi.

Menunggu peran pemerintah pun tampaknya hanya mimpi belaka. Mereka hanya peduli dengan masyarakat menjelang pemilihan umum. Setelah terpilih, mereka langsung lupa dengan rakyat dan sibuk dengan urusan politiknya saja. Belum lagi dengan solusi-solusi pemerintahan saat ini yang tidak pernah solutif dan malah menambah masalah baru.

Sebagai masyarakat, mari kita bergerak secara mandiri untuk meningkatkan layanan Angkot di Bandung. Caranya, salah satunya dengan mengapresiasi para supir Angkot yang santun, ramah, murah senyum, tidak mengetem, dan tidak ugal-ugalan selama mengemudikan kendaraannya.

Bentuk apresiasinya pun bisa bermacam-macam. Mulai dari yang paling sederhana dengan mengucapkan terima kasih kepada supir Angkot. Bentuk lainnya, melebihkan ongkos Angkot sebesar seribu hingga 2 ribu Rupiah. Bila kita ikhlas memberi, insyAllah akan menjadi amalan yang akan dibalas dengan kebaikan lainnya oleh Tuhan di kemudian hari.

Semoga percikan ide solusi ini bisa memberikan dorongan untuk supir Angkot agar meningkatkan pelayanannya kepada penumpang dan masyarakat Bandung.

6 thoughts on “Mari Apresiasi Supir Angkot yang Tidak Mengetem

  1. Asop berkata:

    Waduh, di Bandung ya… memang menjengkelkan ulah angkotnya.😦
    Dulu saya suka benci ama angkot yang ngetem lama begitu, baik ketika saya menjadi penumpangnya atau ketika saya mengendarai motor (berada di belakang angkot sungguh menjengkelkan).
    Tapi lama-lama saya pikirkan, yah sudahlah, biarkan saja, namanya juga sopir angkot.😦
    Saya malah merasa kasihan. Mereka kerja seperti itu untuk memenuhi setoran. Saya yakin, dalam hati mereka pasti gak mau merepotkan pengendara jalan yang lain (mobil, motor). Tapi apa daya, karena kalau nggak main ngetem dan “sruduk-sana-sruduk-sini”, batas setoran mungkin gak tercapai (karena begitu banyaknya angkot di Bandung).😐

  2. martabakspesial berkata:

    kirain ada ide lain..hehehe
    ide lain dari saya
    – naiklah angkot yg tdk sedang ngetem
    – naiklah angkot di halte
    – naiklah angkot tdk di tempat yg ada tanda dilarang berhenti
    – turun angkot, jgn asal ngomong kiri, tp liat keadaan jln, jgn di prempatan yg sdg macet, jgn di jln sempit, kelewatan 10-15mtr kan ga masalah, dll

    • Yudha P Sunandar berkata:

      hmm…
      belum sempat sampai wawancara. hehe

      biasanya, dalam sehari, mereka harus menyetor ke majikannya 60 – 100 ribuan per hari. belum biaya bensin yang kisarannya bisa mencapai 30 – 50 ribu Rupiah per hari. kalo lagi rame, mungkin mereka bisa dapet 50 – 100 ribuan. kalo lagi sepi, yah kurang dari itu. mungkin, kisarannya 30 – 60 ribu Rupiah penghasilan mereka per hari.

      kalo tembak rata2 50 ribu Rupiah dan mereka bisa penuh narik penumpang tiap hari selama sebulan, kira2 1,5 juta Rupiah sebulan ada d tangan, lah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s