Memetik Tiga Pelajaran Kehidupan dari Steve Jobs


Tak ada seorang pun yang ingin mati. Meskipun orang yang ingin pergi ke surga, tidak ingin mati untuk menuju ke sana. Dan sampai sekarang, kematian adalah tujuan yang kita semua akan alami. Tidak ada seorang pun yang bisa lolos dari kematian. – Steve Jobs

Steve Jobs ketika memberikan pidato di hadapan wisudawan Stanford University pada 2005 silam. (Foto: ecdn2.hark.com)

Steve Jobs ketika memberikan pidato di hadapan wisudawan Stanford University pada 2005 silam. (Foto: ecdn2.hark.com)

Penggalan pidato tersebut disampaikan Steve Jobs ketika memberikan sambutan kepada wisudawan di Stanford University 6 tahun silam. Ketika itu, pendiri Apple Inc ini bercerita perihal kanker pankreas yang telah dideritanya sejak setahun sebelumnya. Hal yang dilakukannya ketika itu, mengingatkan kepada wisudawan untuk selalu mempergunakan waktu yang sangat terbatas guna membuat sebuah karya dalam hidup.

Jatah waktu Steve Jobs untuk berkarya telah habis di dunia ini. Rabu, 5 Oktober 2011, pada usianya yang ke-56 tahun, mantan CEO Apple Inc tersebut menghembuskan nafas terakhir karena kanker yang telah dideritanya sejak 2004 silam.

Dunia telah kehilangan sosok besar kelahiran 24 Februari 1955 ini. Bagaimana tidak, Steve Jobs memiliki 3 kualifikasi sekaligus dalam dirinya yang diakui dunia: manajer, penemu, dan seniman.

Sebagai seorang manajer, Steve Jobs  berhasil membawa Apple menjadi perusahaan yang paling dikagumi versi majalah Fortune pada 2008 hingga 2010. Pendapatan tahunan perusahaan ini pun mencapai 65,23 Milyar Dollar Amerika pada 2010 dengan 49.400 pegawai. Atas prestasinya ini pula, Steve Jobs dianugerahi sebagai CEO terbaik dalam 20 tahun terakhir versi situs Businessinsider.com.

Dari sisi penemu dan seniman, deretan produk Apple menjadi buktinya. Merujuk situs Nytimes.com, Steve Jobs mencatat 313 paten atas namanya. Paten-paten ini melingkupi rancangan Desktop Computer, iOS Based Devices, Laptop, sistem operasi, hingga monitor, keyboard, mouse, dan pengemasan. Bahkan iMac, iPod, dan iPhone yang notabenenya sebagai produk papan atas Apple, tak lepas dari sentuhan rancangannya juga.

Tak heran bila Barack Obama dalam pernyataannya di Blog Gedung Putih, menyampaikan bahwa Steve Jobs merupakan salah satu inovator Amerika terbesar. “Cukup berani untuk berpikir berbeda, cukup tidak malu untuk percaya bahwa dia bisa merubah dunia, dan cukup bertalenta untuk melakukannya,” ungkap Obama, seperti yang tertulis di whitehouse.gov/blog.

Steven Spielberg, salah satu pendiri Pixar dan sutradara ternama Amerika, memberikan penghargaan, “Steve Jobs adalah penemu terbesar sejak Thomas Edison. Dia menaruh dunia di ujung jari kita.”

Steve Jobs ketika muda (Foto: annamcglynn.wordpress.com)

Steve Jobs ketika muda (Foto: annamcglynn.wordpress.com)

Di balik segala kesuksesannya, ada kisah menarik terkait Steve Jobs yang ternyata penuh dengan usaha untuk keluar dari keputusasaannya. Kisah ini dia ceritakan ketika memberikan pidatonya dihadapan wisudawan Stanford University pada 12 Juni 2005 silam.

Ada 3 pelajaran kehidupan berharga yang Steve Jobs sampaikan, yaitu: menghubungkan titik (connecting the dots), cinta dan kehilangan (love and loss), dan kematian (death).

Pelajaran pertama, mengenai hubungan antar titik. Steve Jobs menyimpulkan bahwa masa lalu memiliki hubungan erat dengan masa depan. Dia mencontohkan dengan kisah masa lalunya ketika memutuskan berhenti kuliah di Reed College setelah melewati 6 bulan pertamanya.

Saat itu, penganut Budha ini tetap mengikuti perkuliahan di kelas-kelas yang dia suka. Namun, dia harus menebusnya dengan sesuatu yang dinilainya tidak romantis. Yah, Steve Jobs harus rela tidur di lantai kamar temannya, mengembalikan botol Coke agar mendapatkan uang 5 sen untuk membeli makanan, dan berjalan 11 Km lebih setiap Minggu malam ke kuil Khrisna Hare untuk mendapatkan makanan bergizi.

Salah satu kelas yang diikutinya adalah kaligrafi. Di kelas tersebut, Steve Jobs mempelajari jenis-jenis huruf dan kombinasinya untuk membuat seni kaligrafi terbaik. “Pelajaran ini sangat mengasyikan,” ungkapnya.

Ketika itu, anak kandung seorang muslim asal Syria ini tidak merasakan bahwa pelajaran kaligrafi mampu diaplikasikan dalam hidupnya. Hingga 10 tahun kemudian, ketika merancang komputer Macintosh pertama, boleh jadi Macintosh merupakan komputer pertama di dunia yang memiliki tipografi yang indah.

“Jika saya tidak pernah keluar (dari kuliah), saya tidak akan pernah ada di kelas kaligrafi, dan komputer pribadi mungkin tidak akan memiliki tipografi yang indah,” papar Steve Jobs menerangkan hubungan antar titik.

Dari cerita ini, bapak 4 anak ini berpesan bahwa kita harus percaya pada suatu titik dalam suatu fase kehidupan yang akan terkoneksi dengan masa depan. Bagaimana pun, sebuah kisah di masa lalu, akan menciptakan dan berguna di masa datang. Dan, pendekatan ini tidak akan menjatuhkan, justru akan membuat hidup kita menjadi lebih berbeda.

Steve Jobs dan Macintosh 1984 (Foto: thenextweb.com)

Steve Jobs dan Macintosh 1984 (Foto: thenextweb.com)

Pelajaran kedua, temukanlah aktivitas yang dicintai. Ketika dipecat dari Apple pada 1985, Steve Jobs benar-benar merasa terpuruk. Dia mengaku telah melakukan kesalahan publik dan merasa bahwa apa yang telah dibangunnya hancur berkeping-keping tanpa menyisakan apa pun.

Namun, perlahan-lahan timbul rasa cinta terhadap apa yang telah dilakukan sebelumnya. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk membangun semuanya dari awal. “Keadaan berat untuk menjadi sukses telah tergantikan dengan keringanan untuk menjadi pemula kembali. Ini membebaskan saya untuk masuk ke satu periode yang paling kreatif dalam hidup saya,” ungkap Steve Jobs berusaha meyakinkan dirinya kala itu.

Hasilnya, dalam 5 tahun, kakak novelis Mona Simpson ini, berhasil menjalankan perusahaan komputer barunya bernama NeXT, mengakuisisi Pixar, dan jatuh cinta pada seorang wanita yang kelak menjadi istrinya. Pixar sendiri berhasil membuahkan film animasi komputer pertama di dunia dan menjadi studio animasi paling sukses di dunia. Sedangkan NeXT, diakuisisi Apple yang mengantarkan Steve Jobs menjadi CEO perusahaan berlogo apel digigit tersebut.

Steve Jobs menyimpulkan bahwa terkadang hidup penuh dengan kepedihan. Pada saat-saat seperti itu, lanjut Steve Jobs, jangan sampai kehilangan iman dan cintailah apa yang sedang dilakukan. “Jalan satu-satunya untuk melakukan pekerjaan terbesar adalah mencintai apa yang kamu lakukan. Jika kamu belum menemukannya, tetaplah mencari,” nasihat suami Laurene ini.

Dan pelajaran ketiga adalah menyoal kematian. Steve Jobs mengenang ketika dokter memvonisnya dengan kanker pankreas pada 2004. Dokter memprediksikan bahwa umur Steve Jobs tidak akan lebih dari 6 bulan dan menyarankannya untuk segera berpamitan kepada keluarga dan kerabat.

Foto: st.gsmarena.com

Foto: st.gsmarena.com

Meskipun begitu, ketika dokter mengambil sel-sel kanker dari pankreasnya di waktu yang lain, Steve Jobs dinyatakan bisa sembuh dengan operasi. Dan akhirnya pun dia menjalani operasi dan merasa sehat.

Kejadian ini membuat Steve Jobs sadar dan berpesan bahwa waktu yang dimiliki setiap manusia sangat terbatas. Lebih lanjut, penerima National Medal of Technology ini mengingatkan untuk tidak hidup dalam dogma dan pikiran orang lain serta tidak membiarkan opini orang lain mempengaruhi suara di dalam diri.

“Dan yang paling penting, miliki keberanian untuk mengikuti hati dan intuisimu. Bagaimana pun, mereka lebih tahu apa yang sebenarnya kamu inginkan. Sedangkan yang lainnya adalah berikutnya,” pesan Steve Jobs.

Tiga hal yang disampaikan Steve Jobs dalam pidatonya ini memang tampak sederhana. Namun, siapa sangka, ketiga hal inilah yang akhirnya menelurkan tokoh fenomenal ini. Selamat jalan, Steve Jobs. Dunia akan merindukanmu.

Dipublikasikan di Kolom Jejaring Rubrik Opini HU Pikiran Rakyat Bandung pada Senin, 10 Oktober 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s