16 Agustus 2007 – Sebuah Renungan Menulis


HU Pikiran Rakyat Bandung (Foto: Nano Estananto)

HU Pikiran Rakyat Bandung (Foto: Nano Estananto)

Tepat 4 tahun lalu, Kamis 16 Agustus 2007. Ketika itu pukul 10 pagi, dan seperti biasa saya baru saja terbangun dari tidur. Sebuah SMS dari seorang teman tiba-tiba menyapa, “Yudha, tulisanmu dimuat di PR hari ini.” Tanpa pikir panjang, saya langsung mencari penjual koran di sekitar kostan saya di bilangan Cikutra Bandung.

Karena hari sudah terlalu siang, tak satu pun tukang koran masih menjajakan korannya saat itu. Tanpa pikir panjang lagi, saya langsung menuju kantor LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) tempat saya beraktivitas. Waktu itu, mereka memang berlangganan Pikiran Rakyat Bandung.

Setibanya di kantor LSM, saya langsung menuju tempat penyimpanan koran dan mengambil koran terbesar di Jawa Barat tersebut. Saya langsung membuka suplemen Cakrawala, halaman yang memuat tulisan saya. Benar saja, di pojok kanan atas halaman tiga, tulisan beserta nama saya bertengger.

Saya langsung menghela nafas dan tersenyum senang. Saya juga tidak bosan-bosannya membaca tulisan pertama saya yang dimuat di koran itu. Maklum, selama 6 tahun sebelumnya, saya kerap mengirimkan tulisan ke PR, dan selama itu pula tulisan saya tidak pernah dimuat.

Kemunculan tulisan saya pertama kali ini tidak lepas dari jasa wartawan PR yang mewawancarai saya tentang Linux sebulan sebelumnya. Dewi Irma namanya, dan dia merupakan kontributor suplemen Kampus Pikiran Rakyat. Ketika itu, saya sempat bertanya tentang peluang untuk mengirimkan tulisan ke PR, dan dia pun menyarankan untuk saya menghubungi kang Muhtar Ibnu Thalab, redaktur Cakralawa waktu itu.

Oleh beliau, saya dipersilahkan menulis tentang open source dan Linux. “Kalau memang bagus, nanti saya muat,” begitu pesan beliau.

Beberapa hari setelah berkomunikasi dengan kang Muhtar, saya mengirimkan tulisan berjudul “FLOSS, Pilihan Cerdas Bangsa Cerdas”. Sela beberapa hari, cita-cita menulis di Pikiran Rakyat pun tercapai, dan tulisan tersebut jadi tulisan pertama saya.

Sejak saat itu, menulis di koran menjadi salah satu aktivitas dan kegemaran saya. Bahkan, pernah beberapa bulan saya hidup menggantungkan diri dari honor menulis saya di PR.

Banyak pengalaman yang saya dapat seiring semakin banyaknya tulisan saya bertengger di koran. Salah satunya ketika saya menulis “Asyiknya Belajar dengan Linux Edubuntu”. Gara-gara tulisan tersebut, Dr. Benhard Sitohang, dosen Sekolah Tinggi Elektro dan Informatika (STEI) ITB, mengundang saya untuk berbincang-bincang mengenai sosialisasi Open Source di dunia pendidikan. Ketika itu, beliau menjabat sebagai Ketua Pusat Pengembangan Open Source Software (POSS) ITB.

Pengalaman lainnya ketika saya hampir putus asa gara-gara tulisan-tulisan saya tidak pernah dimuat dan tidak pernah ada kabarnya. Saya pun berinisiatif untuk menyunting dan mengirimkan kembali tulisan-tulisan tersebut, tapi tetap saja tidak dimuat dan tidak ada kabarnya.

Saat itu saya benar-benar merasa bahwa kemampuan menulis saya tampaknya sudah dinilai buruk oleh orang. Saya juga merasa bahwa orang menilai tema-tema yang saya ajukan sudah tidak menarik lagi. Saya benar-benar merasa jatuh dan terpuruk ketika itu.

Namun, di tengah keputusasan itu, di Kamis pagi tanggal 13 Maret 2008, bos saya waktu itu mengirimkan SMS, “Wah, PR hari ini, semuanya tulisan Yudha!” Dimaksud bos saya itu bukan berarti semua halaman PR, tapi hanya suplemen Cakrawala saja. Itu pun bukan semuanya tulisan saya, tapi sebagian besar adalah tulisan saya.

Logo Suplemen Cakrawala HU Pikiran Rakyat Bandung

Logo Suplemen Cakrawala HU Pikiran Rakyat Bandung

Yah, tulisan-tulisan saya yang tidak kabarnya itu, dimuat semuanya hari itu. Empat tulisan saya mewarnai 3 halaman suplemen Cakrawala. Satu tulisan memenuhi halaman pertama, satu tulisan memenuhi 1/2 halaman kedua, dan dua tulisan memenuhi 2/3 halaman ketiga. Sebagai rasa syukur, saya langsung membelikan ponsel untuk orang tua saya yang waktu itu belum memiliki ponsel.

Mengenai ketiadaan kabar tulisan ini, pernah saya alami juga di awal 2011 ini. Saya berusaha optimis dengan belajar dari pengalaman yang lalu. Namun, ketika ditunggu-tunggu, tulisannya tidak kunjung dimuat. Sang redaktur waktu itu menilai tulisan saya terlalu banyak memaparkan konsep dan kurang praktis. Hal ini tidak cocok dengan konten Cakrawala yang berkonsep praktis dan ditujukan untuk khalayak umum.

Akhirnya saya pun mengirimkannya ke kolom Jejaring di rubrik Opini koran Pikiran Rakyat. Hasilnya, tulisan saya pun dimuat. Beberapa tulisan yang lebih konseptual dan beralirankan opini pun, saya coba kirimkan juga ke kolom Jejaring dan dimuat.

Dari segi tema, tulisan saya lambat laun berubah mengikuti bidang dan aktivitas yang saya geluti. Awal-awal menulis, tema tulisan saya lebih banyak mengenai Linux dan Open Source. Hal ini berkaitan dengan aktivitas saya di komunitas Klub Linux Bandung (KLuB).

Namun selepas saya meninggalkan komunitas ini, tema tulisan saya banyak berubah. Saya lebih banyak menulis tentang internet dan teknologi informasi yang lebih populer. Terakhir, di rubrik Opini, saya lebih banyak mengeksplorasi mengenai online citizen journalism.

Meskipun tulisan saya banyak dimuat di media massa cetak, tetapi tidak jarang juga ditolak. Selain tulisan yang tidak sesuai segmentasinya, banyak tulisan ditolak karena tidak ada keterkaitan antara tema yang ditulis dengan aktivitas saya.

Salah satu tulisan saya di kolom Jejaring rubrik Opini HU Pikiran Rakyat Bandung (Foto:  Fauzan Alfi Agirachman Mudaram)

Salah satu tulisan saya di kolom Jejaring rubrik Opini HU Pikiran Rakyat Bandung (Foto: Fauzan Alfi Agirachman Mudaram)

Contohnya sewaktu saya menulis opini tentang gempa ditinjau dari ketidakpedulian masyarakat terhadap bencana. Redaktur Opini tidak meloloskannya karena melihat aktivitas saya tidak berkaitan dengan topik. Dengan kata lain, tulisan saya tidak sesuai dengan konsep intelektual publik. Mengenai konsep intelektual publik ini, insyAllah akan saya paparkan lebih lanjut dalam tulisan lainnya.

Oh, iya. Bila ada yang bertanya, mengapa kebanyakan tulisan saya dikirimkan ke Pikiran Rakyat? Karena saya menilai bahwa Pikiran Rakyat menyediakan banyak ruang untuk masyarakat mengekspresikan dirinya melalui tulisan. Setidaknya, ada 5 ruang yang saya ketahui, yaitu: forum pendidikan (untuk guru dan praktisi pendidikan), Cakrawala (berkaitan dengan sains dan teknologi praktis), Kampus (untuk mahasiswa dan dosen), Khazanah (berkaitan dengan sastra), dan Opini. Pembahasan mengenai ruang-ruang di media massa koran ini, insyAllah akan saya paparkan lebih lanjut dalam tulisan lainnya.

Berbicara tentang menulis di koran dan pengalaman-pengalaman menarik yang mengikutinya tidak akan pernah habis dibahas. Namun, kepopuleran dan kesempatan menambah uang saku, bukan tujuan utamanya. Berkontribusi untuk masyarakat dan mampu memperbaiki kesadaran mereka melalui tulisan, menurut saya hal inilah yang harus dibangun oleh setiap penulis. Tidak hanya berkontribusi terhadap wawasan masyarakat, tetapi juga kesadaran masyarakat untuk bergerak melakukan kebaikan dari hari ke hari.

One thought on “16 Agustus 2007 – Sebuah Renungan Menulis

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s