Sekolah dan Kontribusi Masyarakat


Foto: Blogspot.com

Foto: Blogspot.com

Sudah menjadi rahasia umum, bahwa sekolah-sekolah di pelosok-pelosok desa pastinya memiliki sarana dan prasarana belajar yang buruk dan terbatas. Tembok bilik dihiasi lubang-lubang hasil “kreasi” binatang pengerat dengan atap yang bolong, menjadi fitur standar sebuah sekolah di pedesaan. Belum lagi dengan meja dan bangku reotnya serta buku yang kurang, membuat sekolah di desa semakin mengkhawatirkan saja.

Pagi kemarin (15/7) saya diajak oleh bu Elly Priyatni, Direktur Rumah Amal Salman ITB, dan mba Jama’ah Halid, Manajer Lembaga Pengembangan Pendidikan (LPP) Salman ITB ke beberapa sekolah madrasah di Kabupaten Bandung Barat. Jarak tempuhnya memang terbilang dekat dari Bandung, hanya sekitar 1,5 jam dari Salman ITB ke arah Barat. Namun, kondisinya sangat jauh berbeda dengan sekolah pada umumnya di Bandung.

Kali ini, kami merencanakan untuk mengunjungi Desa Ciroyom, Kecamatan Cipendeuy, Kabupaten Bandung Barat. LPP Salman ITB hendak menengok keadaan 3 sekolah madrasah di sana sembari mendaftar kebutuhan apa yang bisa dibantu oleh Salman ITB.

Usai melewati rimbunan kebun dan bentangan sawah yang luas, akhirnya kami tiba di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Muslim Ciroyom 2, sekolah berbasis Islam setingkat SD. Luas tanahnya lebih kurang hanya sebesar 2 kali lapangan Voli. Di atasnya, terdapat 3 ruang kelas untuk kegiatan belajar-mengajar murid. Masalah fasilitas, sebagian ruangannya masih bertembok bilik seadanya dengan lubang tikus di beberapa bagiannya.

Guru yang tersedia di sekolah ini hanya 7 orang jumlahnya. Sedangkan total muridnya dari kelas 1 sampai 6, hanya 82 orang. “Kemarin kami baru meluluskan 8 orang siswa,” tutur bu Aminah, kepala sekolah MI Muslim Ciroyom 2.

Bila waktu belajar tiba, biasanya satu ruangan kelas dibagi menjadi 2 bagian. Guru pun mengajar bergantian. Pertama-tama sang guru menerangkan untuk kelas yang satu, kemudian setelah selesai dan memberikan tugas, menerangkan untuk kelas yang lainnya.

Meskipun begitu, jumlah siswa di sekolah ini lambat laun meningkat. Bila tahun lalu sekolah ini hanya mendapatkan 10 orang siswa, tapi tahun ini jumlah yang mendaftar sudah lebih dari 10 anak. “Biasanya mereka (calon siswa) mendaftar akhir-akhir (menjelang penutupan pendaftaran),” ungkap bu Aminah.

Mengenai masih buruknya sarana dan prasarana sekolahnya, Aminah banyak terbantu oleh donasi dari masyarakat. Elly merupakan salah satu pihak yang pernah membantu sekolah ini. Ketika 5 tahun lalu beliau mengunjungi sekolah ini, bangkunya sudah tidak layak untuk digunakan. Selain itu, sekolah ini pun ketika itu tidak memiliki toilet sama sekali. Sehingga ketika ada anak yang ingin buang air, harus pergi ke rumah warga, atau bahkan harus pergi ke rumahnya sendiri.

Beruntung ketika itu bu Elly dan rekan-rekan pengajiannya memiliki rezeki berlebih. Sehingga bangku dan meja yang tidak layak digunakan, digantikan dengan meja dan bangku yang kokoh. Selain itu, dibangun juga kamar mandi untuk kebutuhan pendukung kegiatan belajar-mengajar di sekolah tersebut.

Foto: klubguru.com

Foto: klubguru.com

Ketika disinggung tentang peran pemerintah, bu Aminah mengaku pernah mendapatkan bantuan Departemen Agama melalui program Gebyar MI. Pihaknya mendapatkan dana sebesar 180 juta Rupiah untuk membangun sarana dan prasarana sekolah. Dengan dana tersebut, sekolah berhasil membangun 2 kelas baru berdinding tembok dan berlantai keramik.

Meskipun begitu, bu Aminah tidak mampu menggunakan dana tersebut dengan maksimal. Pasalnya, setelah dananya tiba di tangannya, semua pengadaan sarana dan prasarana harus menggunakan perusahaan yang ditunjuk oleh pemberi dana, termasuk pembangunan gedung kelas baru.

Bu Aminah sejujurnya sangat menyayangkan sikap ini. Karena beberapa sarana dan prasarana tidak bisa digunakan secara maksimal oleh siswa. Bu Aminah mencontohkan dengan pengadaan buku. Dana yang dianggarkan untuk buku mencapai 50 juta Rupiah. Meskipun begitu, buku-buku yang diberikan lebih cocok untuk orang dewasa, dan tidak untuk siswanya. “Padahal bila dikelola oleh kami (pihak sekolah), dananya bisa kami gunakan untuk membangun ruang kelas baru dan membelikan buku-buku yang sesuai untuk siswa,” ungkap Bu Aminah.

Dalam hal ini, Bu Aminah lebih senang donasi dari masyarakat. Pasalnya, masyarakat mendonasikan sarana dan prasarana yang benar-benar dibutuhkan oleh pihaknya.

LPP Salman ITB sendiri sebelumnya pernah mengirimkan alat bantu peraga untuk belajar siswa. Tidak hanya alat bantu, LPP Salman ITB juga memberikan pelatihan untuk menggunakannya.

Mba Jim, begitu mba Jama’ah Halid biasa disapa, menyampaikan bahwa pihaknya akan membantu menyediakan buku-buku yang dibutuhkan oleh siswa MI Muslim Ciroyom 2. Meskipun begitu, tidak semua buku akan disediakan oleh pihak LPP Salman ITB karena keterbatasan sumber daya.

Selain itu, pihak LPP Salman ITB melalui mba Jim juga menawarkan pelatihan Teknologi Informasi dan Komnikasi (TIK) untuk guru. Harapannya, guru mampu menggunakan TIK untuk membuat kegiatan belajar-mengajar menjadi kreatif dan menyenangkan.

***

Sekolah lainnya yang kami kunjungi adalah madrasah Karya Mandiri. Madrasah ini terdiri dari 2 sekolah, yaitu Madrasah Tsanawiyah (MTs) yang setingkat SMP, dan Madrasah Aliyah (MA) yang setingkat SMA. Keduanya dikelola oleh Yayasan Karya Mandiri.

Foto: ensemblememo.com

Foto: ensemblememo.com

Bu Elly pernah membantu mengajar di madrasah ini. Beliau bercerita bahwa sebelum sekolah ini dibangun, banyak anak-anak yang memilih tidak bersekolah. Umumnya mereka membantu orang tuanya untuk membuat genting.

Meskipun sama-sama berada di pelosok desa, sekolah ini terbilang baik dari segi kualitas bangunannya. Temboknya sudah kokoh karena merupakan tembok permanen. Ruang kelas pun sudah cukup banyak untuk menampung siswanya belajar. Wajar, karena sekolah ini dibangun atas kesadaran pencetusnya untuk mencerdaskan bangsa dan mempersempit kesenjangan sosial yang ada.

Di tempat ini, mba Jim menawarkan bantuan berupa pelatihan ICT untuk guru. Selain itu, mba Jim juga menawarkan bantuan pendampingan siswa kelas 3 MA Karya Mandiri untuk bisa berkuliah di PTN. Meskipun sekolah ini terbilang bagus dari segi bangunan, tetapi lulusannya belum banyak yang meneruskan ke perguruan tinggi. Selain masalah biaya, dari segi prestasi belajar juga dinilai masih di bawah rata-rata.

***

Pendidikan memang hak setiap warga negara. Dalam Islam, seorang muslim juga diwajibkan untuk menuntut ilmu mulai dari buaian ibu hingga liang lahat. Namun, akses pendidikan di negara ini tidak semulus jalan tol yang kami lalui hari ini. Keterbatasan sarana dan prasarana, mahalnya biaya pendidikan, hingga sulitnya akses buku-buku pelajaran, membuat pendidikan tidak bisa dinikmati oleh kalangan menengah ke bawah.

Saya rasa, pelajaran yang dapat diambil dari perjalanan pagi ini adalah mengenai kontribusi masyarakat terhadap dunia pendidikan. Pendidikan ternyata lebih membutuhkan peran serta masyarakat ketimbang pemerintah. Meskipun kecil kontribusi yang diberikan masyarakat terhadap dunia pendidikan, tetapi manfaatnya sangat besar.

Semoga di saat-saat ke depan semakin banyak orang yang berkontribusi di bidang pendidikan untuk Indonesia yang lebih baik lagi. Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s