Peta Gerakan LSM di Indonesia


Foto: indiabook.biz

Foto: indiabook.biz

Ketika sedang mencari slide presentasi, tidak sengaja menemukan arsip materi-materi pelatihan Kuncup Padang Ilalang (KAIL). Arsip ini merupakan bahan-bahan pelatihan KAIL waktu memberikan pelatihan peta masalah sosial di Surabaya sekitar 2006 silam. Waktu itu, saya ikut sebagai mentor yang tugasnya mendampingi kelompok ketika melakukan simulasi.

Salah satu materi yang saya suka adalah mengenai Peta Gerakan LSM di Indonesia. Materi ini diadopsi dari buku Mansour Fakih tahun 1996 yang berjudul Masyarakat Sipil untuk Transformasi Sosial; Pergolakan Ideologi LSM Indonesia.

Dalam buku tersebut, Mansour Fakih membagi aliran gerakan LSM (Lembaga Swadaya Masyarakat) menjadi 3, yaitu: Konformisme, Reformasi, dan Transformasi. Hal ini berkaitan dengan pandangan beberapa aspek masalah sosial, seperti penyebab, tipe perubahan, program, dan tipe kepemimpinan.

Mengenai pandangan terhadap sebab-sebab masalah, Konformisme melihat bahwa masalah sosial terjadi karena memang sudah takdir yang harus diterima oleh sebuah masyarakat. Misalnya saja dengan kondisi alam yang buruk dan bencana alam. Atau bisa juga menyalahkan keadaan masyarakat yang sudah dari sananya.

Sedangkan Reformasi menuduh kepada terbatasnya atau hilangnya kesempatan masyarakat terhadap kesejahteraan. Misalnya saja kurangnya akses, lemahnya pendidikan, dan jumlah penduduk yang berlebihan.

Adapun aliran Transformasi memandang bahwa pemerintah yang harus bertanggung jawab atas semua masalah yang terjadi di masyarakat. Misalnya saja, terjadi eksploitasi, struktur yang tidak adil dan timpang, dan hegemoni kekuasaan di masyarakat.

Tipe perubahan yang diaplikasikan pun tentunya berbeda. Bila aliran Konformisme dan Reformasi lebih menekankan pada aspek fungsional dan keseimbangan, sedangkan pada aliran Transformasi lebih menekankan pada kritik struktural.

Mansour Fakih (Foto: Blogspot.com)

Mansour Fakih (Foto: Blogspot.com)

Dari segi program, Konformisme umumnya membuat kegiatan yang fokusnya mengurangi penderitaan, mendoakan, dan mengharapkan, seperti bantuan kelaparan, klinik, dan mendermakan harta kepada yang miskin.

Program aliran Reformasi biasanya fokus untuk meningkatkan produksi, membantu rakyat menolong dirinya sendiri, membuat struktur yang ada bisa berjalan, dan mengubah nilai-nilai masyarakat. Contoh implementasi dari program ini adalah pelatihan teknis, kredit untuk usaha kecil, dan pengembangan masyarakat.

Sedangkan aliran transformasi, fokus pada menentang eksploitasi dan membangun sistem alternatif, seperti penyadaran, pembangunan alternatif, serikat buruh, dan koperasi.

Terakhir, dari pandangan mengenai tipe kepemimpinan, aliran Konformisme percaya pada pemerintah dan konsultatif. Sedangkan Reformasi, lebih kepada tipe kepemimpinan yang partisipatif dan memiliki tanggung jawab bersama. Adapun Tranformasi menekankan pada fasilitator partisipatif dan disiplin yang kuat.

Pemetaan aliran-aliran LSM Indonesia ini berguna mempermudah mendefinisikan masalah, merancang program, dan mengaplikasikannya di masyarakat. Persoalan mana yang lebih baik, saya rasa semuanya baik. Tinggal bagaimana menemukan masyarakat yang cocok dengan gerakan LSM tersebut, mungkin ini yang harus dijawab.

One thought on “Peta Gerakan LSM di Indonesia

  1. Iman Purnama berkata:

    Itu ditulis tahun 1996, zaman sebelum Soeharto turun. Kalau di zaman sekarang, kira-kira petanya gimana ya? Berubah nggak? :p

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s