Radio 2.0: From OnAir to OnLine


Foto: static.howstuffworks.com

Ketika kemunculannya pertama kali pada 1920, media massa penyiaran radio langsung menjadi primadona di masyarakat. Pasalnya, media ini menawarkan penyebaran informasi yang lebih luas, lebih cepat, lebih interaktif, dan lebih menghibur. Sebuah penawaran yang tidak mampu disuguhkan koran dan media massa cetak lainnya ketika itu.

Delapan puluh tahun kemudian, radio masih tetap dikonsumsi masyarakat. Namun, jumlah pendengarnya semakin menurun saja saat ini. Sebabnya, budaya masyarakat dalam mengakses informasi berubah. Generasi muda yang berusia antara 13 hingga 40 tahun, lebih memilih internet untuk mendapatkan informasi dan melakukan interaksi sosial melalui media. Padahal generasi muda merupakan elemen yang paling banyak dalam struktur sosial masyarakat. Bisa dipastikan, kehilangan antusias generasi muda, kehilangan konsumen media.

Buntutnya, karena kehilangan konsumen, radio juga kehilangan penghasilan iklan. Sebuah survei yang dilakukan Nielsen, dari total belanja iklan media di dunia yang mencapai 504 milyar Dollar Amerika, belanja iklan radio hanya 7,8 persennya saja, yaitu 39 milyar Dollar Amerika.

Jumlah yang lebih kecil lagi terjadi di Indonesia. Dari total belanja iklan media di Indonesia yang mencapai 48,5 triliun Rupiah, belanja iklan radio hanya sebesar 1,3 persen saja, atau sebanyak 630 milyar Rupiah.

Sebuah pepatah datang dari Clay Shirky, seorang penulis, konsultan, dan dosen tentang dampak sosial dan ekonomi dari teknologi internet. Dia bilang, bahwa sebuah revolusi tidak akan terjadi ketika masyarakat mengadopsi peralatan (teknologi) baru, tapi itu akan terjadi ketika masyarakat mengadopsi kebiasaan baru.

Dari pepatah ini, Hemat Dwi Nuryanto, Chairman e-Broadcasting Institute, kepada penulis menyimpulkan bahwa saat ini telah terjadi perubahan kebiasaan di semua stakeholder radio. Dari sisi pendengar misalnya. Selain mendengarkan radio secara konvensional, mereka juga ingin menikmati program radio secara online dan on demand, eksposure radio melalui sosial media, dan bisa diakses dari mana saja dan kapan saja serta melalui perangkat apa saja. Dengan kata lain, pendengar ingin akses konten audio melalui satu pintu, yaitu internet.

Harley Prayudha (Foto: Blogspot.com)

Harley Prayudha (Foto: Blogspot.com)

Dengan adanya kebiasaan baru dalam menggunakan teknologi, pemasang iklan dan regulator pun berharap radio mampu meningkatkan jaminan kepercayaan. Dari segi pemasang iklan, mereka ingin mengetahui profil pendengar dan respon terhadap program acara secara tepat, sehingga mampu menentukan dengan jitu segmentasi iklannya di radio. Sedangkan regulator, mampu memonitor siaran dengan lebih baik.

Sedangkan dari sisi kru radio, mereka mampu bekerja sama menyiapkan program acara dari mana saja dan kapan saja serta dengan usaha yang efektif dan efisien.

Tak heran bila Harley Prayudha, seseorang pengamat radio dan peneliti radio 2.0 di Indonesia, menandaskan bahwa radio harus bertransformasi bila tak ingin mati. Lebih lanjut, Harley menuturkan bahwa radio harus mulai menggunakan internet sebagai saluran penyampai pesan, dan tidak boleh hanya bergantung pada gelombang radio analog semata. Sehingga mampu memenuhi tuntutan pendengar yang memiliki kebiasaan baru dalam mengakses informasi.

Adapun karakteristik Radio 2.0 yang membuatnya berbeda dengan radio analog adalah saluran penyampai pesan suaranya yang menggunakan internet. Hal ini menjadikan radio 2.0 mampu membuat inovasi bisnis yang tidak bisa dilakukan radio konvensional.

Ana Supriatna, manajemen radio Klite FM, menuturkan kepada penulis bahwa radio 2.0 idealnya memiliki 3 inovasi proses, yaitu: automasi radio 2.0 , situs web radio 2.0 , dan kolaborasi radio 2.0.

Automasi radio 2.0 merujuk pada proses kerja radio yang dibantu komputer sehingga mampu mengefisienkan dan mengefektifkan waktu dan sumber daya radio serta memperbaiki sistem kerjanya. Dalam hal ini, kru radio bisa mengagendakan program radio secara rinci hingga dalam hitungan menit dan memonitor siaran yang telah berlangsung setiap saat dan di mana saja.

Foto: Blogspot.com

Foto: Blogspot.com

Melalui situs web radio 2.0 , pendengar dapat mengakses siaran radio secara realtime. Tidak hanya melalui komputer, siaran radio bisa didengarkan juga melalui perangkat bergerak berakses internet, seperti smartphone dan Tablet. Lebih dari itu, pendengar bisa mengakses musik dan siaran radio yang telah berlangsung.

Inovasi yang terakhir adalah kolaborasi radio 2.0 yang merupakan gabungan (agregasi) konten berbasis suara dari berbagai radio yang bermitra di seluruh Indonesia. Sehingga ada banyak konten yang bisa diakses oleh masyarakat secara cuma-cuma.

Inovasi ini mampu berimplikasi pada perubahan model bisnis radio. Salah satunya adalah pendapatan berbasis iklan lokal. Pendapatan iklan lokal ini berasal dari masyarakat dan perusahaan yang ada di wilayah radio tersebut berada.

Model bisnis lainnya yang bisa dikembangkan adalah sistem iuran anggota. Anggota yang membayar dengan besaran tertentu untuk jangka waktu tertentu, dapat mengakses konten-konten premium.

Radio 2.0 juga bisa mengadakan kerjasama dengan operator telepon seluler. Contohnya saja PR FM 107,5 News Channel yang bekerjasama dengan salah satu operator CDMA Indonesia. Untuk mendengarkan siaran PR FM, pendengar yang berada di luar jangkauan gelombang radio hanya perlu menghubungi nomor tertentu dari operator CDMA tersebut. Adapun pendapatan berasal dari pulsa pendengar.

Selain model bisnis yang dipaparkan di atas, ada banyak inovasi bisnis lainnya yang bisa dikembangkan dari radio 2.0. Sehingga mampu menumbuhkan ekonomi lokal di Indonesia.

Dimuat di rubrik Opini kolom Jejaring Harian Umum Pikiran Rakyat Bandung pada Senin, 20 Juni 2011.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s