Xenophanes, Tuhan, dan Ketauhidan Islam


Foto: wikimedia.org

Xenophanes, seorang filsuf Yunani yang hidup pada tahun 570 hingga 475 sebelum masehi, memberikan pernyataan yang menarik tentang Tuhan. Berikut terjemahan pernyataannya yang saya ambil dari buku Sejarah Filsafat karya Robert C Solomon:

Seandainya sapi, kuda, dan singa mempunyai tangan dan pandai menggambar seperti manusia, tentunya kuda akan menggambarkan dewa-dewi menyerupai kuda, sapi akan menggambarkan dewa-dewi menyerupai sapi, dan dengan demikian mereka akan menggambarkan tubuh dewa-dewi serupa dengan tubuh mereka.

Apa yang disampaikan oleh Xenophanes merupakan sebuah kritik dari cara pandang orang-orang Yunani terhadap dewa-dewi mereka. Menurut Xenophanes, manusia selalu menaruh sifat-sifat manusia kepada dewa-dewinya sesuai dengan kehendak mereka. Misalnya saja dengan konsep dewa-dewi dilahirkan, mereka memakai pakaian, bersuara, serta memiliki rupa seperti manusia.

Xenophanes membuktikan pernyataannya ini dengan mengambil contoh dewa-dewi orang Etiopia dan Thrake. Pada orang-orang Etiopia, dewa-dewinya digambarkan berkulit hitam dan berhidung pesek. Sedangkan orang-orang Thrake menggambarkan dewa-dewi mereka bermata biru dan berambut merah. Penggambaran-penggambaran ini sesuai dengan kondisi fisik mereka.

Pernyataan Xenophanes ini bukan tanpa dasar. Dia telah melakukan perjalanan ke berbagai tempat di dunia dan melihat berbagai kepercayaan pagan yang intinya menyembah dewa-dewi dengan rupa sesuai dengan apa yang ditemui manusia.

Hal yang membuat saya geger dan tercengang, adalah konsep Tuhan ideal yang dipaparkan Xenophanes. Dia bilang, bahwa Tuhan adalah tidak dilahirkan dan tidak memiliki akhir alias bersifat kekal. Lebih lanjut, Xenophanes juga mengungkapkan bahwa Tuhan tidak menyerupai makhluk duniawi mana pun, baik manusia maupun binatang. Tuhan juga tidak memiliki organ seperti manusia, tetapi mampu melihat, berpikir, dan mendengar.

Apa yang Xenophanes sampaikan benar-benar menggugah saya tentang Tuhan Yang Tidak Terjangkau oleh inderawi manusia. Namun, yang membuat saya benar-benar terpukau, adalah kesamaan konsep Tuhan Xenophanes dengan konsep Tuhan dalam Islam. Padahal, Xenophanes hidup seribu tahun lebih awal sebelum Muhammad lahir.

Bila kita melihat 20 sifat Allah, terdapat setidaknya 7 sifat yang sama seperti yang Xenophanes paparkan. Ketujuh sifat tersebut adalah: Qidam (Terdahulu), Baqo’ (Kekal), Mukhollafatuhu lil hawaadits (Tidak Serupa dengan MakhlukNya), Qiyamuhu Binafsihi (Berdiri dengan sendirinya), Ilmu (Mengetahui, dalam hal ini saya samakan dengan ‘berpikir’), Sama’ (Mendengar), dan Bashor (Melihat).

Kemudian, bila coba menengok 99 Asma’ul Husna, atau yang biasa disebut Nama Baik untuk Allah, juga akan ditemukan konsep yang sama seperti yang Xenophanes temukan, seperti Yang Maha Awal (Al Awwal), Yang Maha Akhir (Al Aakhir), Yang Maha Kekal (Al Baaqii), Yang Maha Mandiri (Al Qayyuum), Yang Maha Melihat (Al Bashiir), dan Yang Maha Mendengar (Al Samii`).

Foto: Blogspot.com

Pemaparan saya tentang Xenophanes dalam tulisan ini belum mampu mendalam. Hal ini disebabkan pengetahuan saya yang masih minim, baik pengetahuan tentang para filsuf maupun pengetahuan tentang ketauhidan dalam Islam.

Meskipun begitu, bila berbicara filsuf dan pandangan mereka tentang Tuhan, seringkali saya menemukan berbagai pandangan yang sama dengan konsep-konsep ketauhidan dalam Islam. Seperti yang pernah saya temukan dalam kitab Dao De Jing (dibaca: Tao Te Ching) karya Laotzu, seorang filsuf China yang hidup pada abad keenam sebelum masehi. Pemaparan lebih lengkap, mudah-mudahan bisa saya tuliskan juga di blog ini.

Kesimpulan sementara yang bisa saya ambil, meskipun para filsuf ini berada di lingkungan yang ekstrim bagi mereka, seperti Xenophanes yang masyarakatnya memuja dewa-dewi, tetapi mereka mampu menyadari tentang entitas keilahian seperti yang tersirat dalam 3 agama samawi: Yahudi, Kristen, dan Islam. Ada kesadaran dalam diri mereka tentang realitas yang lebih besar dan nyata dibandingkan dengan mitos dewa-dewi. Meskipun tak termaktub dalam Alquran, tetapi saya percaya Allah telah membukakan ilmu tentang Dia pada para filsuf-filsuf ini. Tinggal tugas kitalah yang harus memaknainya dengan bijak.

2 thoughts on “Xenophanes, Tuhan, dan Ketauhidan Islam

  1. Amal berkata:

    Karen Armstrong dalam “Sejarah Tuhan” meletakkan monoteisme sebagai atribut yang penting dalam bab tentang Yahudi, yang barangkali sebagai sesuatu yang tercatat secara antropologi, dalam perjalanan sejarah rasul. Pengaruh Yahudi ini juga sampai pada kebudayaan Yunani. Dengan demikian tidak mengherankan jika ada pendapat seperti yang dikemukakan Xenophanes di atas.

    Tentang Laotzu atau Lao Tse, ada yang mengaitkan dengan Lut, dilihat dari penulisan namanya. Kendati belum ada keterangan yang cukup resmi dari sisi catatan sejarah atau dalil naqli, anggapan ini secara praktis sudah diperkuat dengan pemilihan nama masjid etnis Cina di Indonesia.🙂

    Al akhiru: kembali pada keyakinan kita sebagai umat Islam bahwa semua rasul membawa ajaran tauhid, tidak perlu disangsikan bahwa sejak kedatangan Adam, manusia pertama di muka bumi, tentulah sudah membawa dan menyebarkan Islam, dengan demikian ajaran tauhid sudah didakwahkan sejak kedatangan manusia di muka bumi.

    • Yudha P Sunandar berkata:

      terima kasih atas komentarnya, mas Amal. saya belum rampung2 juga membaca buku Karen Amstrong yang satu itu. sehingga ndak terpikir tentang pengaruh Yahudi hingga ke Yunani. Namun, saya juga tidak begitu mengenal ajaran Yahudi. jadi, tidak bisa secara gamblang menyatakan bahwa Xenophanes memiliki pengaruh dari ajaran Yahudi. Tapi, ini bisa jadi Pekerjaan Rumah untuk saya mencoba mencuil lagi fakta2 sejarah dari para filsuf Yunani.

      mengenai penamaan Laotzu, atau dikenal juga sbagai Lao Tse, untuk masjid etnis Tionghoa di Indonesia, sebenerny tidak ada kaitanny dengan Lao Tse secara personal. Kebetulan, pada saat pendirian Yayasan Haji Karim Oei (yayasan yang menaungi masjid Lao Tse) di jakarta, berada di jalan Lao Tse. kemudian, ketika ada masjid berdiri di situ, dikenal masjid tersebut dengan nama masjid Lao Tse, karena berada d jalan Lao Tse. kemudian nama ini digunakan untuk membuat masjid2 Lao Tse lainny d kota2 besar lainnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s